
Selama menunggu kepulangan Raihan membawa Zain, aku menyibukkan diri melakukan aktifitas apa saja yang bisa aku lakukan di apartemen Raihan. Aku tidak ingin berdiam diri lalu melamun memikirkan Zain dan berujung menangis. Aku pikir dengan caraku menyibukkan diri bisa membuat aku berpikir lebih positif karena Raihan sendiri sudah berjanji padaku bahwa dia akan membawa pulang Zain dalam keadaan selamat.
Setelah selesai membersihkan semua ruangan, aku melirik pada jam yang menempel di dinding sudah menunjukan pukul sepuluh pagi, artinya sudah dua jam Raihan mencari Zain dan belum kembali. Aku terdiam, pikiran negatif pun hinggap lagi di otak ku, aku takut terjadi apa apa dengan mereka. Namun kemudian aku segera menepis pikiran negatif itu.
"Lebih baik aku masak yang enak seperti permintaan Raihan. Siapa tau setelah selesai masak mereka datang."Aku bermonolog.
Aku memperhatikan isi kulkas dua pintu dan berukuran besar yang sudah penuh dengan bahan makanan mentah mulai dari lauk pauk hingga sayur mayur. Rasanya aku ingin masak daging rendang tapi Raihan tidak menyediakan rempah lengkap di dapur cantiknya karena masak rendang harus menggunakan bumbu rempah yang lengkap. Karena tidak ada bumbu yang lengkap aku akan masak ikan bakar oven, cumi saos tiram, sup salmon, tumisan dan sambal saja karena selain tidak membutuhkan bumbu lengkap juga prosesnya lebih cepat.
Butuh satu jam setengah untuk menyelesaikan semua masakan itu. Setelah semua terhidang di atas meja aku melirik lagi pada jam dinding sudah menunjukan pukul setengah dua belas siang tapi Raihan belum juga datang.
Aku berpikir untuk menelpon nya kembali dan berharap kali ini di angkat namun ketika aku menghubunginya masih saja tidak di angkat olehnya. Sempat terlintas di pikiranku terjadi hal hal buruk tapi aku segera menepis pemikiran itu. Aku harus berpikir positif dan yakin jika Raihan dan anak ku akan baik baik saja.
Untuk menghilangkan rasa jenuh dan pikiran negatif aku menyetel TV berukuran besar itu dengan harapan acara di TV mampu menghiburku dan melupakan tentang kecemasanku pada mereka. Di tengah menonton TV pun ku lirik lagi jam sudah menunjuk kan pukul satu siang. Perasaanku tidak tenang, aku gelisah sekali memikirkan mereka.
Hati ku gelisah namun pikiranku masih waras. Aku berpikir lebih baik melaksanakan sholat Dzuhur terlebih dahulu karena selain kewajiban juga caraku untuk menenangkan perasaan yang sedang gelisah.
Tak henti hentinya aku panjatkan doa ke selamatan untuk dua laki laki yang aku cintai hingga aku tertidur di atas sajadah.
Belaian halus terasa hangat di pipiku, samar samar suara menyebut nama "mama" pun terdengar di telingaku. Perlahan aku membuka kelopak mataku dan setelah penglihatan jelas nampak balita yang sangat aku rindukan dan aku khawatirkan selama dua hari ini sedang duduk di sampingku dan membelai pipiku.
Mataku membulat sempurna, seperti sebuah mimpi aku dapat melihat anak ku kembali. Air mataku pun mulai mengalir, namun kali ini adalah air mata terharu dan rasa bersyukur yang tak dapat ku ungkapkan dengan kata kata.
"Mama!"ucap Zain, mata beningnya berkaca kaca melihatku.
"Zain, Zain anak mama sudah pulang nak!" Aku membelai serta menelisik wajahnya, ku tatap sorot mata bening yang sudah berkaca kaca miliknya dan aku melihat ada kerinduan mendalam di sana.
"Zen lindu mama."
Aku yang merasa tak mampu bicara hanya mengangguk kecil lalu tangis ku pun pecah begitu pula dengan Zain yang ikut menangis. Aku memeluk tubuh mungilnya dengan erat serta ku ciumi seluruh wajahnya dan rambutnya. Lama aku memeluk Zain sembari menangis menumpahkan rasa rindu yang tidak dapat ku ungkap kan dengan kata kata hingga aku melupakan sosok pria yang sudah membawa buah hatiku kembali pada pangkuan ku.
Aku menoleh pada pria yang sedang duduk di ranjang dan memperhatikan kami.
__ADS_1
"Terima kasih Rai, terima kasih sudah membawa Zain ku kembali. Aku, aku sangat berhutang budi padamu," ucap ku di sela sela terisak.
Raihan tersenyum tipis kemudian bangun dan mendekat lalu ikut duduk di lantai bersama kami. Dia mengusap belakang kepalaku dan juga Zain secara bergantian.
"Tidak ada yang namanya hutang budi mba, karena kalian adalah tanggung jawabku dan mulai saat ini kalian adalah tanggung jawabku apa pun yang terjadi." Setelah berucap Raihan memeluk ku dan Zain. Di tengah pelukannya aku berpikir apalah aku tanpanya karena selama ini yang selalu menolongku adalah Raihan, Raihan dan Raihan. Aku semakin yakin melabuhkan perasaan cintaku padanya dan aku semakin ingin memilikinya serta tidak ingin kehilangannya.
Beberapa saat kemudian. Aku akan membuka pakaian yang di kenakan oleh Zain untuk memeriksa tubuhnya takut ada yang terluka. Namun Raihan yang baru masuk ke dalam kamar mencegahku.
"Tidak perlu di periksa mba, aku dan dokter sudah memeriksanya tidak ada yang terluka. Hanya ada satu sedikit membiru di bagian paha sepertinya bekas cubitan."
Aku tercengang mendengar anak ku di cubit hingga membiru. Aku segera membuka celana Zain dan melihat bagian paha nya. Benar saja, warna biru namun sudah pudar ada di sana. Aku kesal tega sekali orang yang telah mencubit balita sekecil Zain. Aku saja sebagai ibunya tidak pernah menyakiti Zain tapi orang lain dengan tega menyakiti anak orang lain. Sebenarnya ini merupakan bukan cubitan pertama bagi Zain tapi sudah yang kesekian kalinya. Dulu saat ibu ada di rumah dia kerap kali mencubitnya ketika Zain melakukan kesalahan kecil.
"Rai.."
"Iya sayang."
"Apa Zain benar benar sehat?"
"Alhamdulilah mba, Zain anak kuat. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Dokter sudah memeriksanya secara detail, dan di pastikan tidak ada luka luar begitu pula luka dalam."
"Iya mba, tapi dokter menyarankan agar kita membawanya ke psikolog untuk memastikan psikisnya. Mudah mudahan Zain tidak memiliki masalah dengan psikis maupun mentalnya setelah kejadian yang menimpanya."
Aku memandang anak ku yang sedang memainkan mobilan berukuran kecil. Ingin rasanya aku menanyakan apa yang terjadi padanya di sana. Namun sepertinya seusia Zain belum bisa bercerita apa lagi bahasanya belum terlalu jelas. Dan apa yang diharapkan oleh Raihan aku pun demikian. Aku berharap kejiwaan Zain tidak terganggu dan baik baik saja.
"Sayang!" panggil Raihan dengan lembut.
Aku menoleh." Kenapa Rai?"
"Aku lapar sekali apa mba sudah masak?" tanya nya lalu tersenyum nyengir.
Aku pun ikut tersenyum. Aku rasa wajar saja jika Raihan merasa lapar mungkin seharian ini dia tidak sempat mengingat perutnya sudah terisi atau belum karena sibuk mencari anak ku. Begitu pula dengan aku yang belum menyentuh makanan sejak dari pagi karena pikiranku yang sibuk memikirkan dua laki laki yang aku cintai ini.
__ADS_1
Aku melirik jam sudah menunjukan pukul lima sore."Aku sudah masak tadi tapi sepertinya sudah dingin. Aku hangatkan dulu ya?"
"Iya sayang." Kemudian Raihan ikut duduk bersama Zain yang sedang memainkan mobilan kecil di atas kasur."Biar aku yang jagain Zain, mba." Sambung nya kemudian. Aku mengangguk dan bergegas keluar kamar.
Hanya butuh lima belas menit aku menghangatkan makanan yang sudah ku masak tadi siang dan setelah terhidang kembali di atas meja aku bergegas masuk ke dalam kamar. Nampak Raihan dan Zain sedang asik becanda hingga mereka tidak menyadari kehadiranku. Aku yang sedang menyender di daun pintu memperhatikan keceriaan mereka berdua.
"Zain mau tidak kalau uncle jadi papa Zain?"tanya Raihan.
"Papa!"ucap Zain.
"Iya sayang, uncle jadi papa Zain."
Zain mengangguk lalu tersenyum.
"Mulai sekarang Zain panggil uncle papa okey? coba uncle ingin dengar Zain panggil uncle papa."
"Papa..papa lehan!" ucap Zain.
Raihan tersenyum lebar."Jagoan papa memang hebat." Kemudian dia menjewel hidung nya dan mencium keningnya lalu mengusap usap pucuk kepalanya.
Aku yang melihat ketulusan Raihan pada Zain benar benar bersyukur sekali. Tuhan menghadirkan sosok Raihan di tengah-tengah kami. Dia tidak hanya mencintai ku dengan tulus tetapi juga mencintai anak ku.
"Mba..!"Raihan telah menyadari keberadaan ku lalu menyapa. Sementara aku yang sedang termenung melihat mereka terperangah.
"Ah, ya Rai."
"Kenapa berdiri saja di situ, kemari!"
Aku pun mendekati mereka."Sini ikut duduk mba." Dia menarik tanganku hingga aku terduduk di sampingnya.
"Cup." Menyampingkan rasa malu, aku mendaratkan kecupan di pipi kirinya ketika dia lengah.
__ADS_1
Raihan tercengang mendapat ciuman singkat dariku."Mba menciumku?"tanya nya sembari memegang pipi yang telah ku cium.
"Itu, itu sebagai hadiah karena kamu sudah membawa Zain padaku dengan selamat, Rai."