Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Di traktir Raihan


__ADS_3

Aku mengecek setiap paper bag berisi baju Zain. Semuanya bagus dan pas di badan Zain. Aku bersyukur sekali masih ada orang baik seperti Raihan yang peduli dan memperhatikan anak ku. Ini merupakan baju baru pertama yang Zain miliki karena selama ini Zain hanya memakai baju bekas yang di berikan oleh orang sementara aku sendiri tidak bisa membelikan Zain baju baru karena keterbatasan uang yang ku miliki. Tak terasa air mataku menetes ke pipi dan tanpa ku sadari Raihan memperhatikanku.


"Mba menangis?"


Aku segera menghapus air mataku rasanya malu sekali di perhatikan oleh Raihan.


"Aku..aku hanya terharu saja Rai karena kamu peduli sama Zain." Aku tidak bisa bicara jujur pada Raihan bahwa sebenarnya Zain tidak pernah memiliki baju baru dan baju baju yang dia pakai setiap hari adalah baju baju bekas orang pakai lalu di berikan pada Zain setelah tidak terpakai lagi oleh anak mereka.


Rasanya malu sekali jika menceritakan bagaimana hidupku yang sebenarnya pada Raihan.


"Zain sudah ku anggap sebagai anak ku sendiri mba."


"Bagaimana kamu bisa menganggap Zain anak Rai, sementara kamu sendiri saja masih sangat muda."


Raihan mendekatiku lalu duduk di tepi ranjang di sampingku. Dia menatapku lekat sekali sehingga membuat jantungku berdebar tak karuan. Aku benar benar gugup di tatap oleh Raihan.


"Memang kenapa kalau aku masih muda mba?" apa mba pikir aku tidak bisa menjadi papa yang baik karena aku masih terlalu muda? lantas bagaimana dengan suami mba yang sudah berumur kepala empat apa dia selama ini menjadi papa yang baik bagi Zain? usia tidak bisa dijadikan tolak ukur sikap seseorang mba."


Aku tercengang. Raihan mengetahui tentang suamiku tentang sikapnya pada Zain. Aku mengalihkan pandanganku menghindari tatapan Raihan karena rasanya tak sanggup memandang Raihan yang memiliki fisik nyaris sempurna.


"Mba....apa... mba Nuri bahagia dengan pernikahan mba sendiri?"


Aku menoleh ke wajah Raihan yang sedang menatapku serius lalu mengalihkan lagi pandanganku. Ingin rasanya aku bercerita padanya bahwa aku tidak pernah bahagia menikah dengan mas Surya. Tapi ku pikir lagi apa pantas aku bercerita masalah rumah tanggaku pada orang lain terlebih orang itu adalah laki laki? Statusku masih seorang istri karena mas Surya sendiri tidak ingin menceraikan aku. Bukan kah pasangan yang baik itu pasangan yang bisa menjaga aib atau kekurangan pasangannya? aku tak ingin berdosa dengan mengumbar kejelekan suamiku sendiri.


Aku mengangguk lalu tersenyum dengan senyuman yang ku paksakan." Iya Rai, seperti yang kamu lihat."


Raihan masih menatap lekat wajahku mungkin dia sedang mencari kebenaran atau kebohongan atas pengakuanku. Aku jadi gugup di pandang Raihan yang nyaris tak berkedip. Ku tepuk pipinya agar dia berhenti memandangku namun Raihan malah meraih tanganku dan menggenggamnya.


"Andai saja mba Nuri bukan istri dari mas Surya...aku...aku ingin sekali menikahi kamu mba!"


Aku tercengang mendengar ucapan yang di lontarkan oleh Raihan lalu menarik tanganku dari genggamannya. Ku alihkan pandanganku ke arah lain.


"Kamu...kamu bicara apa sih Rai ! lebih baik kamu pikirin kuliahmu jangan mikir yang macam macam kasihan ibumu sudah susah payah menyekolahkan mu sampai kuliah," ucap ku setenang mungkin padahal sebenarnya aku gugup sekali dan jantungku berdebar kencang.


"Lihat aku mba...!" Raihan memegang daguku lalu mengalihkan wajahku ke arahnya. Mau tak mau aku menatap wajah tampannya begitu pula dengan Raihan menatapku serius.


"Tolong bicara jujur mba, mba Nuri tidak bahagia kan dengan pernikahan mba?"


Aku terdiam dan dalam hati ingin rasanya aku mengaku dan berkeluh kesah pada pria muda di hadapanku tentang bagaimana sikap serta perlakuan suamiku padaku selama ini. Bagaimana susahnya hidupku. Tapi apakah pantas jika aku bercerita sementara Raihan bukan siapa siapa aku dan terlebih dia adalah seorang laki laki dewasa.


"Rai..aku..!"


"Mama...Zen lapal !" panggilan Zain mengalihkan perhatian kami. Raihan melepaskan tangannya dari daku ku lalu aku berdiri dan mendekati Zain. Ku lihat jam yang menempel di dinding kamar Raihan sudah menunjukan pukul dua belas siang pantas saja Zain minta makan.


"Zain lapar nak, kita keluar yuk beli bubur."

__ADS_1


Raihan berdiri lalu mendekatiku dan Zain yang sedang ku gendong.


"Zain ingin makan ya? kita cari makan di luar yuk?" ajak Raihan pada Zain.


"Aku mau membelikan Zain bubur di warung Bu Minah saja Rai..!"


"Apa mba Nuri juga mau makan bubur siang siang gini?"


"Kalau aku mah gampang Rai mau makan apa saja yang penting Zain dulu yang makan."


"Ya sudah yuk, aku antar!" Raihan mengambil alih Zain dari tanganku.


"Biar aku yang menggendongnya mba."


"Sebaik nya tidak usah di antar Rai, warung Bu Minah tidak terlalu jauh kok."


Raihan tidak menimpali ucapan ku dia malah menarik tanganku menuntunku keluar dari kamarnya hingga menuruni anak tangga Raihan masih menuntunku. Namun sampai di pintu teras Raihan baru melepaskan tanganku.


"Mba tolong pegang Zain dulu aku mau ambil kendaraan di garasi."Aku meraih Zain dari tangan Raihan lalu mengekor di belakang Raihan menuju garasi yang terletak di samping rumahnya.


Ku lihat Raihan membuka garasi rumahnya yang cukup besar setelah terbuka aku tercengang melihat isi garasinya. Tiga buah motor sport dengan bentuk yang berbeda, dua buah motor matik serta satu mobil Pajero putih yang terlihat kinclong berjejer rapih di dalam garasi. Aku berpikir bagaimana bisa Raihan mengoleksi banyak kendaraan terutama motor sport yang tentu saja harganya mahal. Tidak mungkin Bu haji yang mengoleksi semua kendaraan itu mengingat gaji pensiunan PNS yang ku ketahui tidak seberapa.


Ku lihat Raihan menaiki mobil Pajero lalu mengeluarkannya dari garasi. Setelah keluar dari garasi Raihan turun dari mobil lalu berjalan ke arah teras rumahnya dan mengunci pintu.


"Yuk mba, kita berangkat..!" ajak Raihan padaku namun aku masih bengong melihatnya.


"Rai...kan aku hanya mau ke warung bubur Bu Minah kenapa harus naik mobil?"


"Tidak apa apa mba." Tanpa bicara lagi Raihan memegang lenganku lalu menuntun ku memasuki mobil dan duduk di samping pengemudi. Tak selang lama Raihan melajukan mobilnya keluar pintu gerbang rumahnya.


"Berlebihan sekali Rai harus naik mobil begini padahal warung buburnya dekat jalan kaki saja sudah sampai," ucapku sedikit mengomel karena menurutku ini berlebihan. Bagaimana jika nanti kedatangan kami di warung bubur menjadi pusat perhatian orang orang. Seorang Nuri penjual gorengan beli bubur saja naik mobil bagus dan itu yang ada di pikiranku. Sementara Raihan hanya tersenyum saja mendengar omelan ku.


Ketika tiba di warung bubur yang letaknya di pinggir jalan Raihan tidak memberhentikan mobilnya dia malah melewati tempat bubur tujuanku.


"Rai...kelewatan Rai warungnya..!"ucap ku sambil menoleh ke arah Raihan.


"Biarkan saja mba, kita cari makan di luar saja."


"Tapi Rai..!"


"Sudah, jangan khawatir di luar masih banyak penjual. Yang penting kita bisa makan bertiga bukan hanya Zain tapi aku dan mba Nuri juga. apa mba pikir aku tidak lapar?"


Aku menghela nafas lalu duduk tenang kembali. Terserah Raihan saja mau membawa kami kemana pikirku.


Mobil yang kami tumpangi keluar dari kampung ku lalu memasuki jalan raya. Raihan fokus mengemudi sementara aku melirik sana sini karena bingung Raihan akan membawa aku kemana. Ku lirik Raihan yang sedang fokus menyetir karena aku bingung maka aku pun bertanya.

__ADS_1


"Rai..sebenarnya kamu mau membawa kami kemana? Ini sudah masuk kota lho?" Jarak kampung ku ke kota kabupaten hanya memakan waktu empat puluh menit. Dan mobil yang kami tumpangi sudah memasuki kota.


Raihan melirik ke arahku lalu tersenyum." cari makan mba !"


"Cari makan kenapa sampai ke kota padahal di pinggir jalan saja banyak yang jualan makanan."


"Sekalian jalan jalan mba, ini kan hari weekend masa di rumah terus!"


Aku terdiam dan tidak bertanya lagi. Terserah Raihan saja akan membawa aku kemana. Lima belas menit kemudian Raihan memarkirkan mobilnya di sebuah restouran seafood yang cukup besar.


"Sudah sampai mba, ayok turun!" Raihan turun lebih dulu sementara aku masih terdiam dan memandang restouran di hadapanku. Aku jadi cemas kenapa Raihan membawa aku ke restouran yang mahal sementara aku tidak membawa uang banyak. Bagaimana aku bisa membayar makanannya nanti? pikirku.


Raihan membukakan pintu mobil." kenapa diam saja mba, ayok turun kasihan Zain sudah lapar.


"Rai..kenapa kamu membawa kami ke restoran ini? aku tidak membawa uang banyak."


"Mba tenang saja, aku sudah dapat bonus jadi aku akan traktir mba Nuri serta Zain makan di sini."


"Kamu serius Rai?"


"Serius dong mba, ayok turun. Sini biar aku yang menggendong Zain." Raihan meraih tubuh Zain dari pangkuanku setelah Zain berada di gendongan Raihan aku turun dari mobil.


Aku mengekor di belakang Raihan yang lebih dulu berjalan. Namun Raihan menghentikan langkahnya lalu memegang tanganku dan menuntun ku hingga memasuki restouran. Raihan menuntunku ke sebuah meja paling ujung dimana tempatnya menyuguhkan pemandangan danau buatan. terlihat keren sekali tempatnya dan aku baru pertama kalinya makan di restauran ini.


Tak selang lama seorang waiter wanita muda menghampiri kami.


"Selamat siang mas, mba, silahkan!" waiter tersebut menyapa kami dan memberikan buku menu.


"Terima kasih mba, Oya apa di sini disediakan kursi khusus untuk anak kecil?" tanya Raihan pada waiter.


"Oh, ada mas, sebentar saya ambilkan."


Sambil menunggu waiter kembali Raihan memberikan buku menu ke arahku.


"Silahkan di pilih mba, mba Nuri sukanya makan apa?"


Aku tidak membuka bahkan tidak memegang buku menu yang di sodorkan oleh Raihan karena aku yakin menu nya pasti enak enak dan harganya mahal mahal. oleh karena itu, aku tidak ingin melihatnya biar Raihan saja yang memilihkannya.


"Kamu saja yang milih Rai..aku ikut saja."


"Kok gitu mba, nanti kalau aku yang pesan terus mba tidak suka bagaimana?"


"Apa pun yang kamu pesan aku pasti memakannya Rai..lagi pula aku suka semua jenis makanan asal makanan halal."


Raihan tersenyum melihatku." itu yang aku suka dari mba, ya sudah biar aku yang memesan.

__ADS_1


Raihan terlihat sibuk mencatat makanan yang dia pesan. Aku tidak tau makanan apa saja yang dia pesan terserah Raihan saja mau memberi aku makan apa toh dia yang mentraktir aku makan di restouran ini.


__ADS_2