
Wanita itu terus mengeluarkan kata kata umpatan kasar padaku namun aku diam dan terus memperhatikannya saja. Tanpa di sadari kemarahannya menjadi pusat perhatian pengunjung toko perhiasan tersebut.
"Sudah sayang, sudah. Malu di lihat orang." Si pria berusaha menghentikan kemarahan wanita itu. Namun wanita itu tidak menggubrisnya dan justru menepis kasar lengan si pria.
Di saat wanita itu memaki ku, Raihan datang lalu mendekap ku. Wanita itu nampak terkejut melihat kehadiran Raihan apalagi dalam posisi dia memeluk ku.
"Ada apa ini, sayang? apa yang terjadi?" Tanya Raihan padaku.
Aku mendongak menatap wajahnya." Aku tidak sengaja menyenggol lengannya, sayang," ucap ku dengan sikap yang sengaja ku manjakan.
Raihan menyipitkan matanya melihatku. Mungkin dia heran pada sikap ku yang tidak biasa serta mengeluarkan satu kata yang sangat jarang ku ucapkan.
"Ra...Raihan ka..mu..ke..kenapa ada disini?" Tanya wanita itu dengan gugup.
Raihan mengalihkan pandangannya ke arah wanita itu."Tante ada di sini juga? dengan.....siapa pria itu?" Raihan balik bertanya dan menanyakan pria di sampingnya.
Wajah wanita itu tiba tiba mengalami perubahan tak lagi garang seperti tadi melainkan memancarkan muka kebingungan serta menunjukan sikap salah tingkah.
"Terus kenapa tadi Tante marah-marah sama calon istri saya?"
"Apa...calon istri! wa..wanita itu calon istrimu?"
"Iya, calon istri saya. Kenapa?"
Dia menatap ku, ku tatap balik sorot matanya tanpa ada rasa takut. Tiba tiba saja kedua bahunya nampak bergidik dan raut muka nya nampak gelisah. Setelah itu, dia bergegas pergi tanpa pamit pada Raihan. Selain tidak pamit pada kami dia juga tidak menghiraukan si pria yang datang bersamanya.
"Sayang, sayang tunggu kenapa tidak jadi beli cincinnya..." Si pria mengejar wanita itu sembari terus saja berceloteh seperti berharap di belikan perhiasaan.
Raihan geleng-geleng kepala melihat kepergian mereka. Sementara aku menatap mereka dengan berbagai pertanyaan di otak ku.
"Pantas saja anaknya memiliki sikap yang buruk ternyata cerminan dari kelakuan ibunya sendiri. Kasihan suaminya, tanpa di ketahui istrinya berselingkuh dengan brondong di belakangnya. Suaminya harus tau kalau istrinya selingkuh. Tapi....kenapa tadi kita tidak memotretnya ya untuk bukti. Kalau tidak ada bukti mana mungkin suaminya mau percaya hanya dengan omongan saja."
Selama Raihan berceloteh panjang selama itu pula aku berpikir. Namun yang aku pikirkan bukan soal perselingkuhannya melainkan tentang ciri-ciri wanita pembunuh ibuku yang telah di beri tahu oleh mak Ninih. Entah mengapa insting ku menjorok pada wanita itu. Bukan saja soal tahi lalat yang dia tutupi dengan bedak tebal nya setiap hari melainkan sikapnya yang aneh ketika dia bertemu denganku. Ya, aku rasa aku harus menyelidiki wanita itu dengan caraku sendiri.
"Sudah ketemu belum mana cincin yang cocok untuk kita?" Pertanyaan Raihan membuyarkan lamunanku. Aku menatapnya dan membuka ikatan lilitan jilbab di mulutku lalu tersenyum padanya." Belum, terserah kamu saja mau pilih yang mana."
"Benar aku yang memilih?"
Aku mengangguk.
"Tapi tadi kenapa mulutnya di tutup?"
"Tidak apa apa. Aku hanya tidak suka bau parfum wanita tadi."
Raihan tersenyum dan menguwel uwel kepalaku.
Kami keluar dari toko itu setelah mendapatkan cincin yang kami inginkan.
"Setelah dari sini kita mau kemana lagi sayang?" Tanya Raihan.
"Kita pulang saja."
__ADS_1
Raihan menuruti kemauanku untuk pulang karena aku sendiri sudah tak lagi mood. Padahal dia menawariku nonton di bioskop tapi aku sama sekali tidak memiliki ketertarikan.
Ketika Raihan tengah mengemudi menuju arah pulang, tiba tiba ponsel nya berdering nyaring. Dia pun mengangkatnya dan mengobrol dengan orang yang ada di telpon. Setelah dia selesai berbicara dengan orang itu dia menoleh padaku." Sayang, pak Bagas sedang menunggu kita di depan apartemen."
"Apa!" aku sedikit terkejut karena tadi pagi Raihan mengatakan kalau pak Bagas sedang on the way dan sekarang dia sudah berada di apartemen. Secepat itu? pikirku.
"Iya, dia bilang dia bawa oleh oleh untuk mu dan Zain. Dia juga bilang kalau dia rindu kalian."
Senyum mengembang di bibirku mendengar cerita Raihan bahwa pak Bagas merindukan kami dan membawakan oleh oleh untuk kami. Aku terharu, meskipun dia belum tau siapa aku tapi dia sudah perhatian dan peduli padaku dan Zain.
"Rai...!"
"Kenapa sayang?"
"Apa pak Bagas akan menerimaku sebagai anaknya kalau kita bercerita padanya?"
"Tentu saja kenapa tidak. Lagi pula kalau tidak percaya kita kan akan melakukan tes DNA. Tapi aku yakin meskipun tanpa tes DNA pak Bagas percaya seperti hal nya Oma dan kakak ipar Bayu."
Raihan mengusap usap kepalaku yang sedang gelisah." Kamu tenang ya!"
Raihan memarkirkan mobilnya di basemen apartemennya. Namun sebelum kami kembali ke apartemen, kami mengambil Zain terlebih dahulu di rumah Oma. Awalnya Oma menahan Zain, dia tidak ingin pisah dari cicitnya itu. Tapi aku mengatakan padanya bahwa aku akan tiap hari mengunjungi rumah Oma dan akan sering menginap di rumahnya. Akhirnya, Oma membolehkan kami membawa Zain.
Seperti biasa untuk menuju ke apartemen Raihan, kami menggunakan sebuah lif akses menuju ke sana hingga lif itu berhenti dan terbuka tepat di depan apartemen nya.
Nampak pak Bagas sedang berdiri dan tersenyum lebar ke arah kami yang baru saja keluar dari lif. Selain pak Bagas, nampak pula koper ukuran sedang serta dua paper bag berukuran cukup besar tergeletak di lantai. Jika melihat dari barang bawaannya, nampaknya beliau belum pulang ke rumahnya.
Aku dan Raihan membalas senyumannya sembari berjalan ke arahnya.
Aku langsung menyalaminya dengan takjim dan cukup lama. Di saat itu pula rasa nya ingin sekali memeluknya dan mengatakan bahwa aku adalah anak kandungnya tapi aku ragu, aku ragu pak Bagas akan mempercayainya apalagi belum ada bukti yang menguatkan.
Setelah aku, Raihan turut menyalaminya lalu dia mengambil alih Zain dari tangan Raihan dan menciumi nya dengan gemas.
"Kapan kalian kembali dari kampung?" Tanya pak Bagas setelah kami sudah berada di dalam apartemen.
"Dua hari yang lalu, pak."
"Oh, oya ini oleh-oleh buat Nuri dan Zain." Pak Bagas mengambil dua paper bag yang tergeletak di sofa bagian pojok lalu di letak kan di atas meja di depan kami.
Aku langsung menyentuh dan membuka paper bag itu sembari tersenyum."Wah, banyak sekali oleh olehnya. Terima kasih, opa!"
Pak Bagas tersenyum lebar.
"Apa pak Bagas belum pulang ke rumah?" Tanya Raihan.
"Belum, dari bandara saya langsung ke mari. Sudah tidak kuat menahan rindu sama Zain." Kemudian wajahnya menunduk melihat pada Zain yang sedang di pangku olehnya sambil memegang mainannya.
"Apa tidak merindukan Tante meri dan Nura, pak?" Raihan bertanya dengan nada bergurau. Namun pak bagas tidak merespon gurauan nya melainkan pandanganya tetap menunduk.
Aku perhatikan pak Bagas sedang memegang tangan Zain yang terdapat gelang melingkar. Aku memang sengaja memakai kan gelang itu kembali pada tangan Zain. Kira-kira pak Bagas mengenali gelang itu tidak. Syukur-syukur dia mengenal nya jadi aku tak perlu mengenalkan diri siapa aku melainkan dia sendiri yang akan bertanya padaku.
"Sebentar sayang, apa opa boleh melihat gelangnya sebentar?"
__ADS_1
Zain mengangguk.
Kemudian pak Bagas melepaskan gelang itu dari tangan Zain. Setelah itu dia menatap gelang itu sembari membolak balik kan nya.
Aku dan Raihan saling pandang melihat nya. Aku sendiri sudah tidak sabar ingin mendengar langsung respon dari nya tentang gelang itu.
"Ini, gelang ini kalian beli dimana?" Tanya nya pada ku dan Raihan.
"Itu bukan dapat beli Pak," kata Raihan.
Pak Bagas melirik ke arah kami yang sedang duduk berdampingan.
"Kalau tidak dapat beli, lantas darimana kalian mendapatkan gelang ini?"
"Memang kenapa, pak?" Raihan balik bertanya.
"Ini, ini gelang milik Puteri saya yang saya cari cari selama ini. Gelang yang saya dan istri saya buat khusus untuk kelahiran puteri kedua kami. Gelang ini menghilang sejak dua puluh tujuh tahun yang lalu di kaki anak saya sebelum dia di makam kan."
"Makam itu sudah di bongkar, pak Bagas."
"Apa maksudmu?"
"Iya, makam yang bapak anggap makam Puteri bapak itu sudah di bongkar tiga hari yang lalu. Dan bapak tau apa yang ada di dalam makam itu? hanya sebuah boneka karet, pak. pak Bagas memakamkan sebuah boneka bukan puteri bapak."
"Apa, apa maksudmu, Rai? saya tidak mengerti."
"Puteri bapak masih hidup. Kalau bapak tidak percaya, bapak datang saja ke Polsek karena boneka itu sedang di amankan di sana."
Pak Bagas terdiam dan bibirnya nampak bergetar." Ti..tidak mungkin, Rai."
"Apa nya yang tidak mungkin, pak. Bapak mau tau gelang itu dapat dari mana?"
Pak Bagas menatap Raihan dengan tatapan penasaran.
"Itu....gelang milik Nuri, pak. Nuri sudah memilikinya sejak dia masih bayi."
Pak Bagas mengalihkan tatapan nya padaku. Dari sorot matanya, nampak keterkejutan yang sepertinya tidak dapat di ungkapkan lewat kata kata.
"Lihat wajah Nuri, pak. Bukannya wajah nya sangat mirip dengan wajah Bu Hanum mendiang istri bapak? Kalau bapak tidak percaya, kita bisa melakukan tes DNA sekarang juga."
Jakun pak Bagas nampak naik turun lalu geleng-geleng kepala melihat ku." Ke kenapa semua ini bisa terjadi? apa..apa kamu benar-benar puteri ku, Nuri? Puteri yang selama ini ku anggap lebih memilih ikut dengan mama nya daripada tinggal bersama ku di dunia?" Pak Bagas berucap dengan bibir yang semakin gemetar dan sorot matanya mulai berkaca kaca. Begitu pula denganku yang sudah tak kuasa menahan air mataku yang semakin menumpuk di kelopak mata.
Raihan mengambil Zain dari pangkuan pak Bagas. Setelah itu, dia melangkah pelan mendekatiku dengan tubuhnya yang gemetar.
Setelah duduk di samping ku, dia mengusap usap seluruh wajahku di iringi linangan airmata yang terus mengalir di kedua matanya.
"Kamu, kamu puteri papa....kamu puteri papa!"
Dalam tangis aku mengangguk anggukan kepala ku karena mulutku rasanya sulit berucap.
"Ya Allah, ini puteri ku...puteri ku masih hidup, puteri ku masih hidup." Kemudian dia memeluk aku dengan erat. Tangis kami pun pecah seketika. Aku terharu, aku bahagia, ini adalah pelukan yang sudah sekian lama tidak aku rasakan dari figur seorang ayah setelah ayah angkat ku meninggal dunia.
__ADS_1