Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Akhirnya Supri tahu


__ADS_3

Keluar dari ruang rawat inap itu membuat aku bertanya tanya tentang kondisi mba Yati yang terlihat parah terutama di bagian wajahnya. Apa wanita tua itu sengaja memukuli mba Yati hanya sekitaran wajahnya saja? jika demikian kasihan juga kalau wajahnya sampai rusak.Tapi jika mengingat sikapnya yang arogan rasa empati pun hilang berganti dengan kekesalan apalagi dia sempat sempatnya mengatai ku ja la ng.


"Nuri..!"


Aku menoleh ke belakang ternyata dokter Bayu sedang melangkah lebar menghampiriku.


"Dokter Bayu!"


"Kamu baru mau pulang?"tanya nya setelah berdiri di hadapanku.


"Iya dok, tadi saya mampir dulu jenguk kakak ipar sakit."


"Oh, jadi kakak ipar mu di rawat di rumah sakit ini juga?"


Aku mengangguk.


"Sakit apa kakak mu itu?"


Aku meringis dan menggaruk belakang kepala ku. Aku berpikir apa aku harus berbohong tentang penyakit ipar ku atau berterus terang saja? sepertinya dokter Bayu tipikal orang yang bisa menjaga omongan dan aku merasa dokter Bayu adalah orang baik dan aku percaya itu.


"Sebenarnya kakak ipar ku itu sakit habis di pukuli sama istri laki laki yang dia pacari dok."


"Apa maksudnya Nuri?"


Akhirnya aku menceritakan tentang bagaimana mba Yati. Mulai dari sikapnya padaku, perselingkuhannya di tengah suaminya sakit parah hingga di pukuli istri sah di sebuah kamar hotel di depan mataku dan aku membiarkannya.


"Apa aku ini jahat ya dok, sudah membiarkan ipar sendiri di pukuli oleh orang lain?"


Dokter Bayu tersenyum lalu mengelus pucuk kepala ku tanpa ada rasa canggung. Apa yang dia lakukan saat ini sama persis seperti apa yang sering Raihan lakukan padaku. Entah mengapa aku merasa nyaman tidak menolaknya dan membiarkannya saja.


"Sebenarnya main kekerasan itu tidak di anjurkan. Namun setiap orang memiliki tingkat emosional yang berbeda beda dan cara menyikapi nya pun berbeda beda pula. Ada yang santai, ada yang main cantik, ada pula yang langsung dengan kekerasan.Tidak bisa di katakan sepenuhnya salah sang istri yang sudah memukuli wanita penggoda suaminya apalagi melihat langsung sang suami tidur dengan wanita itu siapa yang tidak marah? namun tidak juga harus menyalahkan sepenuhnya pada si wanita penggoda karena perselingkuhan itu tidak akan terjadi jika pihak laki laki tidak meresponnya. Jadi intinya dua duanya salah. Jika aku mendengar ceritamu, kamu tidak bisa dikatakan sebagai orang jahat, apa lagi melihat kondisi kakak mu yang sedang sakit parah namun istrinya malah bersenang senang dengan pria lain dan sebagai seorang adik yang menyayangi kakaknya tentu saja marah apalagi perselingkuhannya di depan matamu sendiri. Kamu mengabaikannya ketika dia di pukuli oleh istri selingkuhan, itu sebagai bentuk kekesalan mu padanya bukan?kamu kesal padanya maka kamu membiarkannya disakiti oleh wanita yang juga disakiti oleh kakak ipar mu."


Mendengar pendapat bijak dokter Bayu membuat aku tidak merasa sepenuhnya bersalah, toh wanita itu menghajar mba Yati di luar dugaan dan awalnya aku pikir hanya akan memaki nya saja. Apa yang di katakan dokter Bayu benar kalau itu merupakan bentuk kekesalanku pada mba Yati, membiarkan nya di hajar orang yang dia sakiti. Selain bentuk kekesalanku padanya itu juga bentuk pelajaran untuknya agar dia jera dan tidak mengganggu pria yang sudah beristri lagi.


"Apa kamu tidak jadi pulang dan mau mengobrol saja denganku?"pertanyaan dokter Bayu menyadarkan aku bahwa anak-anak ku sedang menunggu ku di rumah.


Aku menggeleng cepat."Ngobrol nya nanti lagi dok, anak-anak ku sedang menunggu ku di rumah."


"Anak-anak?"


"Iya, anak ku, anak Sumi dan dua adik Sumi." Aku memperjelas.


"Ha ha ha."Dokter Bayu tertawa renyah.


"Aku pikir kamu memiliki banyak anak tapi aku tidak percaya kalau semuda dan secantik kamu sudah memiliki anak banyak."


"Muda bagaimana dok, usia ku sudah dua puluh tujuh tahun dan baru ulang tahun sebulan yang lalu."


Dokter Bayu nampak terdiam namun kemudian dia bertanya,"kamu lahir di bulan Oktober?"

__ADS_1


"Iya dok, memang kenapa?"


"Oh, tidak, usia kita beda dua tahun."


"Benarkah?"


"Hem, ya sudah yuk, katanya anak anak mu sudah menunggu mu di rumah, aku juga ada pasien di rumah sakit lain."


Kami berjalan beriringan menuju parkiran. Sembari berjalan kami selingi dengan obrolan dan sepanjang jalan tidak sedikit mata yang memperhatikan kami terutama para suster. Bisik berbisik pun terdengar, entah apa yang mereka bicarakan tentang kami, namun kami tidak menghiraukannya. Setelah berada di parkiran kami berpisah, aku menuju parkiran motor dan dokter Bayu menuju parkiran mobil.


Aku melajukan motorku menuju arah rumahku dan dalam perjalanan aku memikirkan dan menimang bagaimana baiknya memberi tahu bang Supri tentang mba Yati.


Tiba di halaman rumah, aku mendapati bang Supri sedang berbicara dengan seorang pria tua berperut buncit yang tidak lain adalah pak umar mertuanya sendiri. Mereka menoleh ke arahku yang baru saja memarkirkan motor di depan rumah.


"Dek Nuri baru pulang?"tanya nya setelah aku membuka helm ku. Senyum aneh terukir di bibirnya yang hampir saja tertutup oleh kumisnya.


Aku mengernyitkan dahi ku tiba tiba bertemu dengan pak Umar di rumah ku. Aku penasaran mau apa pak Umar datang ke rumahku? padahal sebelumnya dia tidak pernah berkunjung ke rumah ku. Terlintas di pikiranku pasti ini ada kaitannya dengan mba Yati.


"Oh, ada pak Umar. Tumben datang kemari ada apa ya pak? apa mau menjenguk bang Supri?"tanya ku, basa basi padahal sebenarnya aku malas sekali menyapanya apalagi melihat senyum dan tatapan matanya yang terlihat aneh itu.


"He he, ini dek Nuri...ada perlu sedikit sama Supri."


"Perlu, perlu apa?"


"Nuri, aku mau ke rumah sakit jenguk Yati, katanya dia sakit habis kecelakaan,"kata bang Supri dan dia terlihat cemas.


"Benar dek Nuri, yati sekarang di rawat di rumah sakit kabupaten."Pak umar membenarkan.


"Nuri, aku mau mengambil uang tabunganku. Pak Umar butuh uang untuk biaya si Yati di rumah sakit,"kata bang Supri.


Aku tersenyum miring. Untung aku datang tepat waktu kalau tidak bang Supri pasti sudah di bodohi oleh pria tua ini.


"Jangan bodoh bang,"ucapku.


"Apa maksudmu Nuri?"


"Kecelakaan apa namanya berada di kamar hotel dengan bandot tua?"


"Apa maksud mu Nuri?"bang Supri bertanya kembali.


Aku melirik pak Umar." Lebih baik pak Umar cepat pulang dan urus anak tidak tau diri dan tidak tau malu pak Umar itu di rumah sakit. Karena saya tidak akan membiarkan bang Supri ikut menjenguk apalagi memberikan uang untuk pengobatan nya.


"Kenapa dek Nuri jadi kasar sama saya?"


"Karena saya tidak suka pada orang bohong."


"Saya tidak bohong, si Yati memang sakit dan di rawat di rumah sakit. Dia butuh biaya untuk perawatannya. Saya kemari untuk meminta pertanggung jawaban si Supri selaku suaminya." Pak Umar bicara dengan suara yang mulai meninggi.


"Pertanggung jawaban? Pak Umar datang kemari untuk meminta pertanggung jawaban bang Supri? apa pak Umar tidak malu bicara masalah tanggung jawab? bang Supri sakit parah berminggu Minggu adakah kalian mengobatinya? minimal di bawa ke puskesmas? pernah tidak? kalian biarkan abang ku sakit tanpa perawatan bahkan obat. Terus aku membawanya ke rumah sakit dan dokter mendiagnosa bahwa bang Supri sakit tumor otak dan harus di operasi. Apa selama bang Supri di rumah sakit kalian pernah melihatnya? jangan kan membiayainya menjenguk pun tidak pernah padahal aku sudah bolak balik ke rumah kalian memberi tau bagaimana kondisi bang Supri. Lantas kemana istri nya yang seharusnya bertanggung atas sakit suaminya? kemana ? pak Umar tau kemana anak pak Umar itu yang kata pak Umar sendiri bilang dia bekerja? Aku memergokinya berkencan dengan banyak pria. Aku memergokinya dia membelanjakan pakaian untuk selingkuhan berondong nya di sebuah toko pada saat aku membelikan baju untuk mu bang, dengan imbalan pria jelek itu harus memuaskan nafsu mba Yati di atas ranjang dan saat ku tanyakan pada pria itu dia mengakuinya sudah berkali kali tidur dengannya. Dan yang terakhir empat hari yang lalu aku memergoki nya sedang e na e na di sebuah hotel dengan seorang bandot tua lalu mba Yati di hajar oleh istri si bandot tua itu. Kecelakaan apa namanya kalau mukanya doang yang bengep? sudah jelas jelas itu habis di hajar bukan kecelakaan.

__ADS_1


Aku sangat kesal mendengar pak Umar membicarakan masalah tanggung jawab bang Supri. Aku beberkan saja bagaimana kelakuan mba Yati di belakang bang Supri.


"Tidak, tidak mungkin, tidak mungkin si Yati seperti itu. Ini pasti fitnah."Pak Umar menyangkal nya.


"Oh, apa pak Umar menganggap aku memfitnah? baik aku akan kasih kalian bukti."


Aku segera mengambil handphone ku di dalam tas kecil kemudian membuka video serta foto yang ku ambil waktu di hotel dan aku memperlihatkan nya pada mereka.


Pak Umar tercengang setelah melihat foto serta video yang ku tampilkan. Sementara bang Supri terduduk di lantai sambil memegang kepala nya dan menunduk.


"Sudah jelas bukan kalau anak pak Umar itu gila batang dan gila duit? sekarang lebih baik pak Umar cepat itu urus mba Yati yang sepertinya mau otw gila di rumah sakit . Dan ingat ya jangan pernah lagi membujuk kakak ku kalau tidak mau ku sebarkan aib nya di sosial media."


"Ja....jangan dek Nuri...jangan lakukan itu, to..toko saya bisa sepi kalau video itu tersebar," kata pak Umar dengan terbata bata. Dia terlihat ketakutan sekali dengan ancaman ku. Padahal aku hanya mengancam saja dan tidak mungkin tega menyebarkan aib orang ke sosial media. Meskipun se kesal atau sebenci nya aku pada seseorang terlebih mba yati masih ber status kakak iparku.


Pak Umar sudah pergi dari rumahku membawa kekesalan pada anaknya mba Yati yang katanya sudah membohonginya. Entah memang dia benar benar tidak tau tentang kelakuan anaknya di belakang atau hanya sekedar beralasan saja untuk menutupi rasa malu nya padaku.


Sekarang tinggal caraku menenangkan bang Supri yang sepertinya sangat shock melihat kenyataan yang ada. Aku ikut terduduk di lantai lalu mengusap usap punggungnya.


"Kita senasib bang, sama sama di khianati oleh pasangan hidup. Tapi lihat aku bang, apa aku sedih? awalnya aku sedih sih, tidak menyangka saja suamiku menikah lagi tanpa sepengetahuanku. Tapi, aku pikir life must go on bukan? untuk apa terus menerus sedih dan meratapi. Lebih baik kita melihat ke depan, masa depan kita. Kalau masalah percintaan, aku yakin di dunia ini masih banyak laki laki atau perempuan yang baik dan lebih pantas untuk kita cintai dan mencintai kita. Kita masih muda lho bang, jangan menyia nyiakan usia kita hanya untuk memikirkan pasangan yang tidak pernah tulus menyayangi kita bang."


Sambil terisak bang Supri bertanya,"lantas aku harus bagaimana Nuri?"


"Think smart bang, kalau Abang masih ingin mempertahankan lubang nya yang sudah di celupi banyak batang ya silahkan aku tidak akan memaksa. Tapi sebagai adik boleh dong kalau aku memberi saran pada Abang yang di sayangnya. Lebih baik Abang cerai kan mba Yati kalau Abang tidak ingin menyesal di kemudian hari karena aku merasa mba Yati tidak akan pernah berubah bang."


"Tapi bagaimana dengan anak ku Nuri?"


"Bang, maaf ya aku tidak meminta ijin dulu sama Abang sebelumya. Sebenarnya aku sedang melakukan tes DNA atas anak Abang karena entah mengapa aku merasa dia bukan anak kamu bang setelah aku mengetahui kelakuan mba Yati."


"Tapi..."


"Abang sadar tidak sih, mba Yati melahirkan di saat usia pernikahan kalian masuk tujuh bulan? kecuali kalau Abang sudah pakai duluan sebelum menikah."


"Aku....aku pernah memakainya sih tapi tiga hari sebelum menikah,"ucap bang Supri dengan malu malu.


"Nah itu dia..."


"Tapi Yati dan mertuaku bilang dia lahir prematur."


"Ha ha..itu bodoh nya Abang mau saja di bohongi. Mana ada bayi lahir prematur bobotnya tiga koma empat kilo gram terus lahirannya di bidan dan langsung dibawa pulang lagi. Biasanya bayi prematur itu bisa sampai berbulan bulan di rumah sakit tergantung berat badannya bang."


Bang Supri tercengang dia langsung menghapus air matanya dengan kasar." Apa iya Nur? berarti aku di bohongi si Yati selama ini Nur!"


"Cinta boleh bang, tapi jangan bodoh dan mau saja di perbudak cinta sampai semakin bodoh dan gelap mata."


"Kenapa kamu tidak ngasih tau aku dari dulu Nur?"


"Gimana mau ngasih tau, orang dari dulu kamu musuhi aku terus bang."


"Aku....aku minta maaf Nuri, aku minta maaf. Mungkin ini karma ku sudah jahati kamu dari dulu." Sambil menangis bang Supri memeluk ku dengan erat hingga sampai aku kesulitan bernafas. Namun meskipun demikian aku senang karena dia menyesali apa yang dulu sering dia lakukan padaku dan terbuka fikirannya bahwa selama ini dia hanya di perbudak oleh mba Yati.

__ADS_1


__ADS_2