Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Pengakuan Raihan


__ADS_3

Aku membawa Zain masuk ke dalam kamar Raihan, lalu meletakkan nya di atas ranjang. Ku pandangi wajah anak ku yang sedang tertidur pulas dan ku ciumi wajahnya.


Ketika aku akan keluar kamar tiba tiba angin berembus kencang memasuki kamar melalui celah jendela yang terbuka. Mungkin Raihan sengaja membukanya agar ada udara masuk ke dalam kamarnya. Aku tercengang merasakan hembusan angin yang cukup besar hingga membuat lukisan yang terpajang di atas dinding terjatuh ke atas lantai. Aku segera menutup jendela karena anginnya cukup mengkhawatirkan. Setelah itu, aku menoleh ke arah lukisan kesayangan Raihan yang teronggok di atas lantai lalu mendekatinya. Aku meraihnya dan ku tatap lukisan dan aku merasa wajahnya tidak asing lagi.


Setelah itu, aku akan memajangnya kembali namun karena letak paku yang menempel di dinding cukup tinggi, aku harus berjinjit agar lukisan yang hendak ku pajang sampai pada paku. Tapi sayangnya ketika aku berjinjit kakiku terkilir dan menyebabkan kehilangan keseimbangan lalu terjatuh.


"brughh....aww!" aku memekik kesakitan dan lukisan yang ku pegang pun ikut terjatuh. Aku cemas melihat lukisan tergeletak di atas lantai dengan jarak dua meter dariku. Aku takut sekali lukisannya rusak lalu segera ku dekati hendak meraihnya. Namun sebelum tanganku memegangnya, aku melihat sebuah nama tertera di balik lukisan.


"Nuri Aisha." Aku membaca nama yang tertera dengan huruf besar di balik lukisan yang ku pegang.


"Kok, ada namaku di lukisan ini? Apa hanya kebetulan saja? tapi...kalau di perhatikan dari garis wajahnya lukisan ini seperti...wajahku!" ucapku lirih.


Aku langsung meraba pipi, hidung serta daguku. Untuk memastikan lagi kalau lukisan ini wajahku atau bukan aku membuka hijab ku, lalu ku urai rambut panjang serta lebat yang selalu ku tutup dengan hijab selama tiga tahun ini karena dulu aku belum memakai hijab. Namun setelah menikah aku mulai memakainya.


Aku berjalan ke arah lemari baju Raihan, lalu berdiri dan bercermin di depannya. Ku tatap wajahku sendiri dan mensejajarkan lukisan yang sedang ku pegang dengan wajahku. Seketika mata ku membelalak melihat persamaan wajahku dengan wajah di lukisan. Bagaimana aku tidak menyadarinya selama ini bahwa wajah lukisan itu adalah wajahku. Aku yang sangat jarang sekali bercermin telah lupa dengan bentuk wajahku sendiri.


Aku yang sedang menatap cermin dengan rambut terurai panjang sambil memegang lukisan tercengang melihat Raihan tiba tiba ada di belakangku. Aku tidak tau kapan Raihan masuk ke dalam kamar karena aku sendiri sibuk menyamakan antara wajahku dengan wajah di lukisan. Ku lihat dari pantulan cermin Raihan menatapku tanpa kedip. Aku yang tidak sempat memakai hijab merasa malu sekali di tatap seperti itu olehnya.


Aku berbalik mengarah pada Raihan yang sedang berdiri tepat di belakangku.


"Rai...!" ucap ku dengan gugup.


"Apa sekarang mba sudah tau siapa pemilik wajah di lukisan itu?"


"Apa....lukisan ini aku Rai?"


Raihan tersenyum manis sekali lalu berucap," iya mba, lukisan itu adalah mba Nuri. Aku melukisnya tiga tahun yang lalu tepat di hari mba menikah. Aku sengaja melukisnya karena aku tau aku tidak akan lagi bertemu dengan mba yang sudah menjadi milik orang lain. Apa mba tau bagaimana perasaanku ketika tau mba menikah? hancur sekali mba, bahkan aku sempat depresi.


"Rai...!"


"Jujur aku katakan padamu mba bahwa aku sudah jatuh cinta pada mba sejak pertama kali kita bertemu tepat empat tahun yang lalu. Tapi sayangnya, mba hanya menganggap ku anak kecil. Sering kali aku berpikir kenapa bukan aku dulu yang lahir dan menjadi pria dewasa sehingga aku bisa lebih dulu menikahi mba bukan pria lain."

__ADS_1


Aku merasa saliva ku tercekat di tenggorokan mendengar penjelasan serta pengakuan Raihan tentang lukisan dan tentang perasaannya padaku sejak dulu. Aku tidak menyangka sama sekali bahwa Raihan yang masih memakai seragam putih abu abu dan ku anggap sebagai adik ku sendiri telah menaruh hati padaku. Pantas saja setelah aku menolongnya pada saat dia terjatuh dari motornya Raihan sering sekali menemui ku di rumah atau di tempat kerja ku.


"Lantas kemana saja kamu selama tiga tahun ini Rai? kenapa kamu tidak pernah menemui ku lagi?"


"Aku tidak kemana mana mba, aku tetap berada di kampung ini. Hanya saja aku menyibukkan diriku untuk melakukan aktifitas ku karena aku tidak ingin terus menerus memikirkan mba Nuri yang telah menjadi milik orang lain."


"Lantas apa arti lukisan ini jika kamu ingin melupakanku? bukan kah dengan adanya lukisan ini hanya akan membuatmu tidak bisa melupakanku?"


"Aku sama sekali tidak ingin melupakan mba bahkan aku tidak bisa melupakan mba sampai kapan pun. Meskipun aku tidak bisa memiliki diri mba, setidaknya aku masih bisa memandang wajah mba lewat lukisan ini."


"Kenapa...kenapa kamu tidak mengatakan dari dulu kalau kamu mencintaiku Rai?"


"Karena...dulu aku merasa belum pantas mba, aku masih sekolah dan belum memiliki penghasilan."


Raihan melangkah satu langkah mendekatiku dan dengan jarak yang hanya menyisakan beberapa senti, tangannya terulur kemudian menyibak kan rambut lurus ku kebelakang telinga. Aku hanya diam dan menunduk saja. Setelah itu, Raihan mengangkat daguku sehingga wajahku mendongak lalu tatapan kami bertemu.


"Satu hal yang harus mba tau bahwa rasa cinta dan sayangku pada mba masih terus melekat di hati ku hingga saat ini."


"Aku sayang kamu mba, meskipun mba istri orang. He...he !" ucap Raihan lalu mengambil lukisan di tanganku dan memajangnya kembali.


"Sampai kapan kamu memajang lukisan wajahku Rai?"


"Selamanya mba!" jawab Raihan sembari memandang lukisan yang sudah terpajang. Jawaban Raihan yang singkat cukup membuat diriku tercengang. Apa kah sebegitu cintanya Raihan padaku sehingga lukisan saja akan dia pajang selamanya atau Raihan hanya sedang membual saja, pikirku.


Raihan keluar dari kamar. Aku menghampiri Zain dan ikut rebahan di sampingnya berniat untuk tidur siang. Namun kedua mataku tidak bisa memejamkan mata. Cukup lama aku terdiam dengan pikiran menerawang kemana mana. Tapi semakin memikirkan semakin pusing saja rasanya kepalaku. Aku bangkit dari ranjang lalu berjalan ke arah luar kamar.


Ku tutup pintu dengan pelan sehingga Raihan tidak mengetahui jika aku keluar dari kamar. Aku menghampirinya yang sedang memainkan ponselnya dan duduk di atas sofa. Tanpa Raihan sadari aku berdiri di belakangnya sambil memperhatikannya sedang melihat banyaknya fotoku di galeri ponselnya. Ternyata diam diam Raihan memotret ku dengan berbagai ekspresi tanpa sepengetahuanku.


"Ehem!"


Raihan segera menyimpan ponselnya lalu menoleh kebelakang.

__ADS_1


"Mba Nuri!"


"Sedang sibuk Rai?"


"Oh, tidak. Sini mba duduk," titahnya sambil menepuk sofa di sampingnya.


Aku mengitari sofa lalu duduk di tepi sofa panjang yang Raihan sedang duduki. Raihan melirik ke arahku lalu berucap," jauh amat mba duduknya! sini deketan," sambil menepuk sofa di sampingnya.


Aku tersenyum lalu menggelengkan kepala dan menjawab," disini saja Rai!"


"Apa takut ku cium ya?" tanya Raihan tersenyum menggoda.


Aku tidak menanggapi godaan Raihan melainkan mengalihkan pembicaraan.


"Rai, apa aku boleh bertanya?"


"Tanyakan saja mba!"


"Apa kamu yang memberi tahu mas Surya kalau aku di rawat di rumah sakit?"


Raihan mengangguk lalu menjawab," Iya mba, aku rasa suami mba harus tau kalau istrinya sedang sakit. Tapi, aku tidak menyangka responnya seperti itu. Benar benar laki laki yang tidak memiliki rasa tanggung jawab. Dan aku juga memberi tau ibu mba, tapi sayangnya dia tidak datang ke rumah sakit."


"Ibuku tidak akan mau peduli padaku, aku mau sakit atau mati sekalipun dia tidak akan merasa kehilanganku." Aku berucap dengan bibir bergetar mengingat ibuku yang tidak pernah peduli padaku dari aku masih kecil hingga saat ini. Dan tanpa ku sadari aku sudah membeberkan sikap jelek ibu ku terhadapku pada Raihan. Sikap ibu yang selama ini aku tutupi dari orang orang maupun tetanggaku.


Raihan terlihat tenang, dia tidak merasa terkejut ketika aku menceritakan bagaimana sikap ibu padaku selama ini. Apa Raihan sudah mengetahui juga bagaimana sikap ibu padaku selama ini? pikirku.


"Kalau aku berada di posisi seperti mba, mungkin aku lebih memilih pergi dari rumah."


"Tapi aku tidak bisa seperti kamu Rai, aku tidak bisa meninggalkan ibuku bagaimana pun sikapnya padaku. Kalau aku pergi siapa yang akan merawatnya kalau dia sakit?"


"Itu yang aku suka dari kamu mba, mba memiliki hati yang tulus."

__ADS_1


__ADS_2