
Aku tau dua orang dekil dan penuh tato itu merupakan kelompok begal yang sedang menjadi perbincangan hangat di kampung ku jika melihat dari ciri ciri mereka. Aku pikir isu tentang begal itu hanya sebuah isu semata ternyata mereka benar benar ada dan aku sendiri yang sedang mengalaminya.
"Mau apa kalian? minggir jangan menghalangi jalan ku."Aku memberanikan diri bicara meskipun sebenarnya takut.
Dua pria itu tertawa terbahak bahak lalu menatap lapar ke arahku."Beruntung sekali kita hari ini dapat target. Sudah motornya bagus pemiliknya pun menggairahkan sekali."Ucap salah satu dari mereka sembari menjilat bibir tebalnya. Rasanya ingin muntah sekali aku melihatnya.
"Gimana kalau kita membawa dua duanya saja, motor serta pemiliknya."Usul begal lainya. Cih, ingin rasanya aku meludahi muka mereka.
"Betul, sangat di sayangkan sekali kalau pemiliknya tidak kita cicipi terlebih dahulu."
"Jangan macem macem kalian. Apa kalian tidak takut dosa dan neraka mengambil sesuatu secara paksa dan bukan milik kalian."
"Waduh, dia membicarakan masalah dosa dan negara Cong.Huaa ha ha ha."
Mereka tertawa terbahak bahak menertawakan ucapan ku yang seolah olah lucu. Sepertinya dua begal ini bukan lah orang yang akan luluh dengan cara di nasehati begitu saja. Andai saja jalanan ini jalanan beraspal mungkin dalam keadaan tertawa seperti itu aku tabrak mereka lalu kabur.
"Heh, nona, kau tau kami itu sudah keluar masuk neraka jadi sudah kebal dengan tempat yang di takuti orang itu. Ha ha ha."
Aku geleng-geleng kepala saja mendengar ucapan takabur mereka.
"Sudah Cong, hayuk kita sikat sekarang saja." Ucap salah seorang dari mereka. Kemudian mereka melangkah maju lebih mendekatkan diri bersama celurit di tangannya serta tersenyum menyeringai ke arahku.
Aku tercengang melihat mereka mendekatiku."Jangan coba coba menyentuh ku kalian kalau tidak mau ku tabrak."Setelah berucap aku menyalakan motorku namun sebelum menabrak dua orang begal itu, salah satu darinya berhasil memegang stang motor sehingga aku kesulitan melaju.
"Lepaskan lepaskan aku brengsek, tolong tolong, tolong." Aku berteriak sekuat tenaga berharap ada seseorang yang mendengar dan menolongku.
"Ha ha percuma kau teriak nona cantik, tidak akan ada yang bakal menolongimu ha ha."
__ADS_1
"Lepaskan, jangan sentuh aku bajingan." Aku berontak ketika mereka berhasil memegang lengan ku dan menurunkan aku dari motor secara paksa.
"Ayok, kita bawa dia ke semak semak. Aku sudah tidak sabar ingin segera mencicipinya ha ha ha."
"Tolong, tolong, lepaskan aku brengsek." Aku terus berteriak dan berontak namun mereka tetap menarik aku menuju semak semak.
"Cong, kau sembunyikan saja dulu motornya. Kita pakai dulu wanita cantik ini setelah itu kita bawa kabur motornya." Saran pria yang sedang memegang ku sangat kuat pada temannya yang sedang mendorong motorku.
"Ah ya kamu benar." Kemudian dia meletak kan motorku di balik pohon lalu ikut menarik ku sehingga membuat aku semakin tidak berdaya saja.
Disaat tidak berdaya seperti ini tidak ada yang bisa aku lakukan selain berdoa memohon pertolongan pada Tuhan yang terus menerus aku lafal kan dalam hati.
Mereka menarik ku hingga ke semak-semak dan di bawah pohon kelapa. Air mataku mulai berjatuhan. Aku takut sekali mereka akan menyentuh tubuhku karena aku tidak sudi di sentuh oleh orang orang menjijikan seperti mereka.
"Kau pegangi biar aku dulu yang pakai." Ucap pria yang muka serta badan nya lebih mengerikan. Dan pria yang di suruh itu pun menurut memaksa ku untuk duduk di semak semak.
"Tidak, jangan kau coba coba sentuh aku brengsek." Pria itu tidak menghiraukan bentakan ku melainkan malah menurunkan celana nya tepat di depanku yang sedang terduduk di atas semak semak dengan kedua tanganku di pegang dari belakang oleh si pria satunya. Namun aku segera mengalihkan pandangan ku hingga aku tidak sampai melihat sesuatu yang menjijikan sedang menggantung di bawah perutnya.
bughh
"Aduuhh."Pria itu mengaduh kesakitan sembari memegang punggungku. Aku masih mengalihkan pandanganku karena tidak sudi melihat miliknya masih bergelantungan.
Ketika dia mengaduh kesakitan di area punggungnya tiba tiba tiga buah lebah menyambar miliknya yang menggantung.
"Aaaakkk."
"Din, Kau kenapa?"tanya pria yang sedang memegang tanganku.
__ADS_1
"Anu ku, anu ku di sengat lebah, aaakkk sakit, panasss."teriaknya sembari memegang miliknya dengan kedua tangannya.
Bughh
"Aduuhh." Tiba tiba sebuah kelapa muda terjatuh tepat di kepala pria yang sedang memegang lenganku hingga dia melepaskan tanganku begitu saja dan beralih memegang kepalanya. Dan di saat itu pula aku langsung berdiri berdiri bebas. Ku lirik kedua orang yang sedang mengaduh kesakitan itu. Yang satu sedang memegang kepalanya dan satu lagi sedang memegang anunya. Aku juga melirik pada dua buah kelapa muda yang sudah menyelamatkan aku. Ini cukup membuatku merasa heran. Sangat jarang sekali kelapa muda jatuh dari pohonnya kalau tidak ada yang mengambilnya kecuali buah kelapa yang sudah tua dan kering. Aku melirik ke atas kelapa itu dan di atas sana pun tidak ada orang yang sedang mengambilnya. Ketika aku sedang merasa keheranan tiba tiba sebuah bisikan yang tak asing terdengar di telingaku.
"Pergi nak, cepat pergi dari sini!" Aku tercengang mendengar bisikan itu lalu melirik ke arah kiri dan kananku namun aku tidak menemukan siapa siapa.
Ketika aku melihat dua orang itu seperti sudah sedikit hilang rasa sakit yang menimpa mereka aku langsung berlari menuju motor ku yang telah mereka sembunyikan. Namun mereka ternyata menyadari kepergian ku.
"Heh, mau kemana kamu, jangan kabur kamu." Teriak pria yang sedang memegang anunya sembari berjalan hendak menyusul ku.
brakk brughh
"Aaakkkkk."
Aku menoleh kebelakang ternyata pria yang hendak mengejar ku sedang tengkurep dan di atasnya terdapat tiga pelepah kelapa sekaligus. Ternyata pria itu pingsang tertimpa tiga pelepah kelapa tersebut.
"Udiiin!" teriak pria satunya pada teman yang sedang tengkurep.
Bugh bugh
"Aaaakkk."
Dengan mata telanjang dan pandangan yang sangat jelas, sebuah balok besar entah dari mana datangnya tiba tiba melayang dan memukul punggung pria yang sedang berteriak memanggil nama temannya. Seketika itu pula dia tersungkur di atas rumput dan tak sadarkan diri. Di tengah keterkejutan melihat apa yang sudah terjadi tiba tiba pandangan ku tertuju pada sosok wanita memakai dress putih dan rambut panjang sedang berdiri menyamping hingga tak nampak dengan jelas bagaimana bentuk wajahnya. Wanita yang pernah beberapa kali aku lihat di rumah Oma. Aku mengucek kedua mataku untuk memastikan apa yang ku lihat benar nyata atau hanya halusinasi saja namun setelah mengucek mata, wanita itu hilang entah kemana. Lagi lagi aku terkejut di buatnya. Namun siapapun wanita itu, baik jelmaan Jin atau apalah yang pasti aku sangat berterima kasih padanya karena berkat dia aku selamat dari dua pria bajingan ini. Dan mulai sekarang aku akan berdamai dengan perasanku untuk tidak lagi merasa takut jika suatu hari nanti aku melihat sosok itu kembali karena aku yakin sosok wanita itu tidak akan menyakitiku melainkan sebaliknya melindungi ku.
Ku tatap dua orang bajingan yang sedang pingsan itu. Kelompok begal yang sudah meresahkan warga kampung ku. Aku pikir aku harus melaporkan mereka ke polisi karena sampah masyarakat seperti mereka itu harus di tahan agar tidak meresahkan orang orang yang melintasi jalanan sepi ini lagi.
__ADS_1
Namun sebelum aku melapor ke polisi, aku berinisiatif untuk mengikat mereka terlebih dahulu agar ketika mereka sadar mereka tidak bisa melarikan diri. Aku mulai mencari sesuatu yang bisa ku jadikan tali untuk mengikat tangan serta kaki mereka. Ketika aku sedang mencari tumbuhan yang bisa aku jadikan tali, pandangan ku tertuju pada sebuah tali tambang yang cukup panjang tergeletak di bawah pohon kelapa. Sepertinya tali tambang itu bekas orang mengambil kelapa yang sengaja di tinggal atau tertinggal. Senyum pun mengembang di bibirku melihatnya lalu bergegas mengambil tali tambang tersebut.
Aku tersenyum senang melihat dua bajingan itu sudah dalam keadaan tangan dan kaki terikat kuat dan ku pastikan mereka tidak akan bisa lolos. Setelah itu, aku bergegas pergi untuk melapor ke kantor polisi.