
Aku segera menyajikan dua potong ikan gulai berukuran besar serta satu piring penuh nasi di atas meja untuk makan siang mas surya. Setelah selesai menata aku tinggalkan sebentar ke kamar mandi. Namun Ketika aku baru saja keluar dari kamar mandi, aku melihat ibu sudah berdiri di meja makan sembari pandangannya tak lepas dari makanan yang sudah aku tata rapih untuk makan siang mas Surya. Ibu menggeser kursi untuk di duduki namun dari jarak cukup jauh aku segera mencegahnya," ma..maaf Bu, itu untuk mas Surya makan Bu..!" Ibu menatap tajam ke arah ku yang sedang berjalan menghampirinya.
"Oh, jadi hanya suami sombong mu saja yang kamu kasih makan enak Nuri? Enak bener suami tua mu itu. Tidak pernah kasih duit ke aku tapi kalau makan di rumahku selalu di kasih makan yang enak enak."
"Bukan begitu Bu, gulai nya masih ada kok di wajan aku sisakan untuk ibu." Aku segera menjelaskan agar ibu tidak bicara mengarah kemana mana.
"Eh, Nuri, mana gulai ikan pesanan ku?" Mas Surya datang tiba tiba dan menanyakan gulainya.
"Ini di atas meja tinggal dimakan," jawabku.
Mas Surya mendekati meja makan dan ibu mundur ke belakang. Dia duduk lalu makan tanpa menawari kami yang masih berdiri.
"Baca doa dulu mas, biar tidak tersendat makannya."
"Halah, tidak ada hubungannya tersendat dengan doa."
"Enak yaa..kalau di rumahku di kasih makan yang enak enak terus. Tapi sayangnya yang di kasih makan enak tidak pernah ngasih duit alias pelit." Ibu menyindir mas Surya yang sedang mengunyah makanan hingga dia tersendat. Setelah bicara Ibu pergi sambil tersenyum lebar mungkin dia merasa puas telah membuat mas Surya tersendat.
"Heh, Bu, apa maksud yang ibu bilang tadi?" mas Surya tidak terima atas ucapan yang di lontarkan oleh ibu.
Ibu menghentikan langkahnya di ambang pintu lalu berbalik dan berucap," lebih baik korek dulu itu kuping buluk mu agar kalau ada orang bicara bisa terdengar dengan jelas."
Ejekan ibu nyaris membuat mas Surya emosi. Dia hendak bangkit dari duduknya namun aku menahan bahunya.
"Katanya tadi kamu lapar banget mas. Yuk habiskan dulu makannya."
"Aku makan enak juga hasil masak si Nuri dan lauknya sudah pasti dapat beli pakai uangku yang ku jatah sebulan untuknya bukan hasil beli atau masak ibu."
__ADS_1
Aku sedikit mencebik kan bibirku mendengar kalimat yang di lontarkan oleh mas Surya. Rasanya ingin tertawa yang keras sekali. Dia tidak tau bahwa uang nafkah lima ratus ribu darinya sudah habis seminggu yang lalu.
"Oh, ya! memangnya kamu jatah berapa juta si Nuri satu bulan Surya? tiga juta? lima juta?masa kalau di jatah jutaan makan tiap hari sama kangkung dan tempe doang!"
Mas Surya melirik ke arah ku seolah meminta pembelaan. Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain. Biarkan saja mas Surya yang menjawab sendiri. Mungkin sudah waktunya ibu tahu berapa uang jatah bulanan yang mas Surya kasih tiap bulan dan yang penting bukan dari mulutku sendiri.
"Untuk apa memberi tahu orang lain karena ini kan urusan keuangan keluargaku. Aku mau kasih jatah berapa terserah aku." jawab mas Surya dengan santainya. Lagi pula, aku rasa mana mungkin mas Surya mau mengakuinya karena dia memiliki gengsi yang tinggi. Terlihat ibu mencebik kan bibirnya kemudian dia masuk ke dalam kamarnya.
Aku membereskan bekas makan mas Surya. Ku lap meja dan ku cuci piring kotornya. Setelah itu, aku menghidangkan satu potong ikan ukuran besar untuk ibu serta satu piring nasi. Kemudian ku hampiri pintu kamar ibu dan mengetuknya.
"Bu...nasi serta lauk nya sudah ku siapkan di atas meja ya Bu!"
"yaa..!" Ibu menyahuti di dalam kamar.
Ketika aku masuk ke dalam kamarku, ku lihat Mas Surya dalam keadaan sudah rapih seperti hendak pergi dan saat ku tanya mau kemana dia bilang akan pergi ke rumah temannya. Entah teman yang mana aku tidak pernah tau siapa teman teman mas Surya di daerahku dan aku mengijinkan saja.
"Mau pulang jam berapa mas?" Aku memberanikan diri bertanya pada saat mengantarkan mas Surya di teras.
Setelah kepergian mas Surya. Aku mengangkat dan memindahkan Zain yang sedang tertidur di ruang TV ke dalam kamar dan merebahkannya di atas kasur kami. Aku sendiri ikut rebahan karena rasanya sangat lelah sekali hari ini.
Hari sudah menjelang sore. Zain pun sudah bangun dari tidurnya. Aku bergegas memandikannya terlebih dahulu. Setelah Zain rapih baru giliran aku membersihkan diri. Sore ini aku memiliki keinginan untuk belanja bahan untuk jualan besok pagi karena mulai besok aku akan aktif berjualan.
Aku berjalan sambil menggendong Zain menyusuri jalanan dan melewati rumah Bu haji. Aku menoleh kearah pintu pagar tak ada siapa siapa di depan rumahnya mungkin Bu haji sedang di dalam rumahnya. Aku melanjutkan lagi langkahku hingga tiba di warung yang ku tuju.
Aku kembali pulang dengan satu tentengan berisi bahan gorengan untuk besok. Ketika aku melewati rumah Bu haji dan bertepatan pula dengan Raihan yang sedang membuka pintu gerbang rumahnya.
"Zainn......!" teriak Raihan sambil tersenyum lebar ke arahku. Aku diam di tempat. Raihan menghampiriku dan tanpa permisi lagi dia menggendong Zain lalu membawanya ke rumahnya.
__ADS_1
Aku membelalak kan mataku melihat aksi Raihan yang membawa anak ku tanpa permisi. Mau tak mau aku ikut masuk ke dalam pintu gerbang. Raihan memangku Zain sambil duduk di teras rumah. Aku berdiri melihat ke arah mereka dengan wajah yang ku tekuk.
"Zain tau tidak kalau uncle Raihan kangen sekali sama Zain? Raihan bicara dengan Zain sementara yang di ajak bicara senyum nyengir saja.
Aku berjalan mendekati Raihan dan hendak mengambil alih Zain.
"Rai..sini Zain nya, dia harus pulang sekarang. Ayok nak, kita pulang sudah mau maghrib."
"Ndak..!" Zain mengalihkan tanganku.
Raihan tersenyum dia merasa menang karena Zain tidak mau berpindah padaku.
"Zain mau ikut dengan mama atau mau sama uncle saja di sini?"
"Cama uncle!"
"Biar Zain disini dulu mba, lagi pula mba bawa barang banyak gitu. Nanti saya yang akan antar Zain pulang."
Aku menatap serius ke wajah pria yang sedang menggendong anak ku dengan kasih sayang. Sebuah gendongan yang tak pernah Zain dapatkan dari papanya atau neneknya selama ini. Aku bersyukur masih ada orang yang sayang pada anak ku meskipun bukan siapa siapa Zain. Raihan memberikan senyuman termanis padaku dan senyuman itu cukup membuat ku terhipnotis namun tak lama aku tersadar.
"Ya...ya sudah kalau gitu aku pulang dulu." Aku mengambil kantong kresek yang ku letak kan di lantai lalu bergegas meninggalkan Raihan dan Zain.
Tiba di rumah aku segera mengangkat jemuran pakaian suamiku yang sudah ku cuci tadi siang. Setelah itu, aku setrika satu persatu pakaian yang membumbung tinggi dengan suka rela tanpa mengeluh karena aku berharap apa yang ku lakukan mendapat balasan berupa pahala dari Allah. Karena kalau berharap mendapat balasan dari mas Surya sudah jelas tidak akan mendapat balasan apa apa darinya.
Suara adzan maghrib berkumandang lalu ku hentikan terlebih dahulu aktivitasku. Terlihat sisa pakaian masih separuh lagi yang belum di setrika. Aku bergegas mengambil air wudhu untuk menunaikan ibadah magrib sebelum melanjutkan lagi menyetrika.
Sudah tiga jam lamanya aku pisah dari Zain rasanya rindu sekali. Tapi kenapa Raihan belum mengantarkan Zain pulang? apa Zain tertidur? Lebih baik ku susul saja setelah selesai menyetrika yang tinggal sedikit lagi, pikirku.
__ADS_1
Ketika aku hendak mengambil switer di dalam lemari aku melihat sebuah kantong plastik. Aku baru ingat bahwa kantong plastik ini aku sendiri yang menyimpan nya tadi siang. Ku ambil lalu sambil duduk aku memeriksa satu persatu kertas kertas kecil yang aku temui di setiap kantong pakaian mas Surya. Beberapa struk transfer ke rekening atas nama Ipah saripah dengan nominal dua juta, dua juta setengah, empat juta, lima juta, tujuh juta hingga lima belas juta. Dadaku mulai terasa sesak karena aku tau bahwa yang bernama Ipah saripah adalah mantan istrinya mas Surya. Aku masih penasaran dengan kertas kertas yang masih tersisa dan aku cek kembali. Beberapa struk transferan dengan berbeda orang, dengan nominal ratusan hingga jutaan. Beberapa struk belanja serta beberapa struk makan di restauran. Tersisa satu kertas yang berukuran cukup besar dan dengan rasa tak sabar aku membaca kertas tersebut. Sebuah kertas slip gaji suamiku bulan lalu dan di kertas itu tertulis gaji suamiku dengan total keseluruhan berjumlah delapan juta lima ratus ribu.
Tubuhku merosot kebawah lantai setelah mengetahui kenyataanya. Air mata mulai mengaliri kedua pipiku dengan deras. Aku menangis pilu kenapa tega sekali suamiku padaku dengan tidak ada rasa kasihan padaku dan Zain dia hanya memberiku nafkah lima ratus ribu tak sebanding dengan gajinya yang berjumlah delapan juta lima ratus ribu.