Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Foodmart


__ADS_3

Keesokan harinya dan di pagi hari. Papa ijin untuk pulang ke rumahnya setelah satu malam menginap di apartemen Raihan. Papa bilang istri dan anaknya Nura belum tau jika dia sudah pulang ke Indonesia oleh karena itu dia bisa menginap bersama kami.


Sebenarnya papa mengajak ku dan Zain untuk ikut bersama ke rumahnya dengan alasan akan di kenalkan pada istri dan anaknya. Tapi aku menolaknya secara halus karena aku memiliki alasan sendiri. Aku juga mengatakan pada papa untuk tidak dulu menceritakan tentang ku pada mereka dan tentu saja di sertai dengan alasan yang cukup bertele tele hingga membuat papa bingung mendengarnya. Tapi meskipun begitu, dia menyetujui keinginan ku.


"Tunggu sebentar pa!" Aku mencegahnya ketika papa sudah melangkah.


Papa dan Raihan terbengong melihatku. Aku buru-buru masuk ke dalam kamar dan mengambil Alquran yang terbungkus dengan rapih. Tadi malam aku baru teringat dan berpikir bahwa papa harus memiliki Alquran di rumahnya untuk di baca, di kaji lalu di amalkan. Meskipun selama ini papa cukup lama melupakan tuhan nya, tapi bukan berarti papa tidak bisa membaca huruf Alquran. Papa bisa karena semasa muda dan belum menikah papa pernah masuk pesantren meskipun hanya satu tahun. Ya meskipun bacaannya tidak terlalu lancar tapi setidaknya dia tidak terlalu buta huruf.


Papa mulai melupakan tuhannya ketika dia masuk ke dalam dunia kerja, kerja dan kerja karena papa berambisi untuk menjadi orang sukses sehingga dia tidak memiliki waktu untuk mengingat Tuhannya hingga sampai benar-benar melupakan nya saking sibuk mengejar harta duniawi yang sifatnya sementara. Andai saja papa balance mengejar antara harta dunia dan juga akhirat mungkin papa tidak akan terperosok sejauh ini.


Dan aku bersyukur tuhan menjodohkan aku dengan sosok pria yang sedikit tidak sama dengan papa, meskipun dia berambisi untuk menjadi orang yang sukses tapi hal itu tidak membuatnya lupa pada tuhan nya melainkan justru sebaliknya. Hal itu sangat membuatku bangga serta bersyukur yang teramat bersyukur.


Aku kembali lagi pada papa dan Raihan yang sedang menunggu. Kemudian menyodorkan Alquran itu pada papa.


"Apa ini sayang?" Papa bertanya sembari mengambil alquran itu dari tanganku.


Aku tersenyum." Itu alqu'an pa."


Papa bengong menatapku.


"Nuri harap mulai saat ini, papa membacanya, mengkaji lalu mengamalkan nya."


Papa tersenyum namun sorot matanya mulai berkaca kaca dan di saat itu pula dia memeluk ku dan berucap." Terima kasih ya nak, sudah mengajari papa banyak hal dan sudah menyadarkan papa untuk mengingat allah kembali." Lalu dia mengecupi pucuk kepala ku.


Bukan tanpa alasan aku memberikan Alquran pada papa. Selain alasan itu, ada hal lain yang menjadi alasan ku. Entah mengapa aku merasa ada sesuatu di rumah papa yang tak kasat mata. Semoga dengan papa lebih rajin beribadah dapat menghindari nya dari suatu hal yang sifatnya musrik atau apalah yang berhubungan dengan jin atau setan.


Kami mengantar papa hingga dia memasuki lif. Di lobby apartemen sudah ditunggu oleh taxi yang telah di pesan oleh Raihan sebelumnya karena papa tidak ingin di antar.


"Sayang, kalau aku tinggal ke kantor apa kamu tidak apa apa di rumah bersama Zain?" Tanya Raihan ketika kami sudah masuk kembali ke dalam apartemen.


"Kamu hari ini mau masuk kerja?"


"Iya, sudah lama juga aku tidak masuk kantor. Kasihan si Dina di kasih job triple. Aku takut lama lama dia akan stres terus gantung diri. Mana belum kawin lagi itu anak."


"Hus, ngomong nya sembarangan."

__ADS_1


Raihan tertawa renyah.


"Ya sudah. Tapi aku boleh ke rumah Oma?"


"Kamu mau ke rumah oma?"


"He'em."


"Okey, aku antar kamu kesana sekalian ke kantor. Nanti sore aku akan jemput kamu lagi."


Aku mengangguk menyetujui usulan Raihan.


Satu jam kemudian kami sudah berada di rumah Oma. Oma dan Bi Sukma sudah antusias sekali menyambut kedatangan kami di teras. Kami masih di dalam mobil saja Oma sudah melambai lambaikan tangannya sembari tersenyum lebar.


Kemudian kami pun turun lalu melangkah mendekati mereka.


Oma langsung memeluk ku dan menciumi seluruh wajahku. Setelah itu, dia mengambil paksa Zain yang ada di gendongan Raihan lalu menciumi nya dengan gemas. Raihan geleng-geleng kepala saja melihat sikap Oma sementara aku tersenyum melihatnya.


Tak lama kemudian Raihan pamit pada kami akan melanjutkan perjalanan nya ke kantor dan dia menitipkan aku serta Zain pada Oma.


Hari menjelang sore. Ketika aku hendak mandi, aku cukup terkejut mendapati flek merah di pakaian dalam ku. Beberapa hari ini aku sibuk dengan masalah ku dan perasaanku hingga aku melupakan masa menstruasi ku. Masalahnya yang membuat aku cemas adalah aku tidak memiliki stok pembalut. Dan aku rasa tiga wanita yang ada di rumah ini pun demikian karena mereka sudah menopause rasanya tidak mungkin memiliki nya.


Ku urungkan niatku untuk mandi kemudian bergegas keluar lalu mengambil dompet dan ponsel.


"Bi Sukma!" aku memanggil bi Sukma yang sedang melintas lalu dia menoleh dan menyahut.


"Iya Non."


"Bibi lihat Zain dan Oma tidak?"


"Oh, Oma membawa den kecil ke kamar nya, non!"


"O begitu! ya sudah kalau begitu nanti tolong beri tahu Oma kalau aku pergi ke market ya Bi."


"Mau beli apa non? biar bibi saja yang belikan."

__ADS_1


"Tidak usah bi, lagi pula aku hanya sebentar."


Setelah pamit pada Bi Sukma aku langsung keluar dari rumah dan menemui taksi online yang aku pesan sebelumnya. Padahal bibi menawarkan aku untuk di antar oleh supir pribadi Oma tapi aku tidak ingin menunggunya terlalu lama karena dia sedang mandi.


"Ke foodmart atrium Senen kan, mba?" Pak kemudi bertanya ketika aku baru saja mendaratkan pinggulku di jok mobilnya.


"Iya pak."


Aku sendiri tidak tau letak tempat nama yang di sebut kan oleh pak kemudi. Sebab, saat aku tanya pada bi sukma tentang market yang lebih dekat dari rumah Oma, dia memberitahu pusat belanja itulah yang paling dekat.


Ternyata yang di katakan oleh Bi Sukma benar bahwa tempat itu cukup dekat karena hanya membutuhkan waktu lima belas menit sudah sampai di sebuah mall yang terletak di daerah Senen.


Aku turun setelah memberi ongkos pada sopir lalu jalan ke pintu utama mall yang berupa kaca besar. Sebelum aku masuk, aku memasang masker terlebih dahulu lalu melenggang masuk tanpa ada yang mengenali.


Hal ini merupakan pengalaman pertamaku keluar tanpa dampingan Raihan atau Oma. Dan aku rasa aku harus membiasakan diri menjelajahi kota Jakarta karena setelah menikah nanti aku akan tinggal di Jakarta.


Di lantai dasar aku berkeliling mencari tempat yang di maksud oleh bibi Sukma namun tidak aku temukan. Tapi beruntung nya aku bertemu dengan seorang satpam dia pun memberitahu ketika aku bertanya.


Aku berjalan lurus mengikuti arah petunjuk yang pak satpam itu beritahu. Ternyata benar di depan ku ada sebuah tulisan foodmart di atas tangga yang menjorok ke bawah lantai dasar atau basemen.


Aku menuruni anak tangga satu persatu hingga sampai di bawah nampak sebuah pusat belanja yang cukup besar serta cukup banyak pengunjung.


"Ya ampun, mau beli pembalut saja harus masuk mall. Coba kalau di kampung tidak payah cari karena di warung saja sudah tersedia."


Aku melanjutkan langkah ku ke area, berbaur dengan customer lainnya. Setelah mendapat kan apa yang aku cari, aku melanjutkan langkah ku menuju kasir. Namun sebelum tiba di meja kasir sorot mataku menangkap dua orang yang aku kenal, tapi mereka tidak mengenaliku.


Sepasang kekasih itu sedang berbelanja. Mereka pun nampak mesra. Ku perhatikan di troli penuh dengan barang namun kebanyakan barang pria. Aku pikir ini kesempatan ku untuk mengambil sebuah bukti perselingkuhan wanita itu.


Tanpa mereka sadari aku terus membuntuti mereka hingga sampai di kasir dan kebetulan aku pun hendak bayar sekalian.


Pandanganku tak beralih dari troli yang isinya penuh sekali. Kemudian sang kasir mulai menscan satu persatu dan hal itu cukup membuatku lama menunggu serta kaki mulai pegal.


Sebenarnya kasir-kasir sebelah kosong namun aku tidak ingin pindah karena jika pindah aku takut kehilangan jejak mereka.


Mataku membulat ketika si wanita itu mengeluarkan sebuah kartu debitnya. Benar dugaanku bahwa wanita itu yang membelanjakan si pria. Aku jadi benci sekali melihatnya. Suaminya kerja keras untuk memenuhi gaya hidup nya serta anaknya tapi tenyata bukan saja untuk gaya hidupnya melainkan juga untuk memenuhi gaya hidup brondongnya.

__ADS_1


__ADS_2