Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Surya mabuk


__ADS_3

Ketika aku sedang sibuk membuat nasi goreng Raihan menghampiriku dan berdiri di sampingku. Aku meliriknya dengan ekor mataku.


"Rai...kenapa kesini?"


"Aku hanya ingin melihat mba Nuri masak."


Aku tersenyum mendengar jawaban sederhana Raihan.


"mba..!"


"kenapa Rai?"


"Mba Nuri tidak marah kan masalah tadi aku mencium mba?"


"Lupakan saja Rai..!"


"Tapi...mba tidak marah kan?"


Aku mematikan kompor lalu menghadap kearah Raihan.


"Atas dasar apa kamu mencium ku Rai?"aku memberanikan diri bertanya karena Raihan sendiri yang telah memancingku untuk mengingatnya kembali.


"Aku...aku...!" Raihan terlihat gugup.


"Sebagai pembuktian kalau kamu adalah pria dewasa dan bukan anak kecil lagi dan sebagai pembuktian kalau kamu sudah bisa mencium seorang wanita? begitu Rai?"


"Bu...bukan begitu mba..!aku..aku bingung bagaimana cara menjelaskannya."


"Ya sudah Rai, tidak usah di bahas lagi. Aku tidak marah kok, dan aku percaya kalau kamu adalah pria dewasa dan bertanggung jawab. Aku minta maaf mungkin tanpa sadar ucapan ku telah menyakiti perasaanmu."


"Aku...aku hanya tidak ingin di sebut sebagai anak kecil mba."


"Ha ha ha...!" aku tertawa mendengar pernyataan Raihan bahwa dia tidak ingin di panggil anak kecil.


"Apa ada yang lucu mba?"


"Tidak ada Rai, maaf aku hanya ingin tertawa saja. Lebih baik kamu tunggu di meja makan gih, bentar lagi aku selesai."


Aku menuangkan nasi goreng ke dalam dua piring lalu di beri toping bawang goreng serta telor mata sapi. Raihan sudah duduk di meja makan menunggu nasi goreng yang akan aku bawakan untuknya. Ku letak kan satu piring nasi goreng serta satu gelas air hangat di hadapan Raihan.


"wow, it's look so delicious !" Raihan bergumam dalam bahasa inggris sambil tersenyum melihat nasi goreng yang masih mengepul di hadapannya.


"Artinya apa Rai..!"tanya ku sambil menggeser kursi untuk aku duduki.


"Jangan pura pura tidak mengerti deh mba!"


"Beneran Rai..aku tidak mengerti bahasa Inggris. Maklum aku hanya tamatan SMA jadi otak ku bebal. kata suamiku juga aku ini bodoh dan kuper tidak selevel dengan mantan istrinya yang sarja....na....!" Aku langsung membekap mulutku setelah sadar kemana arah pembicaraanku. Aku heran pada mulutku sendiri kenapa begitu entengnya curhat pada Raihan. Apa karena selama ini aku tidak memiliki teman atau seseorang untuk berbagi keluh kesah ku. Selama ini aku hanya menyimpan nya sendiri tanpa ada yang tau bagaimana kehidupan yang aku jalani baik kehidupan rumah tanggaku atau kehidupanku dengan keluargaku sendiri. Saat ini hanya Raihan lah yang dekat denganku, Raihan lah yang selalu ada ketika aku membutuhkan bantuan.


"Apa yang mba katakan tadi? suami mba Nuri bilang kalau mba bodoh dan kuper?"


"Ti..tidak Rai..aku salah bicara. di makan gih mumpung masih hangat." Aku langsung menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutku sambil menunduk dan tanpa bicara. Aku tau bahwa Raihan sedang memperhatikanku tapi aku fokus makan saja. Tak selang lama Raihan mulai menyuapkan nasi gorengnya.


"Apa mba Nuri memiliki keinginan untuk kuliah?" tanya Raihan di sela sela makan.


Aku tersenyum mendapat pertanyaan yang menurutku tidak mungkin akan tercapai.

__ADS_1


"Dulu, aku pernah berkeinginan untuk kuliah Rai, tapi setelah menikah dan memiliki Zain aku tidak memiliki minat untuk kuliah lagi. yang ku pikirkan saat ini adalah mencari uang yang banyak untuk Zain, untuk masa depan Zain."


"Tapi Zain memiliki ayah mba, kenapa hanya mba saja yang memikirkan masa depan Zain?"


"Karena...hanya aku satu satunya orang yang peduli pada hidup Zain."


"Apa maksud mba Nuri?"


"Owh, tidak apa apa Rai. habisin gih makannya."


"Mba selalu memotong pembicaraan."


"Bukan begitu Rai, bukan hal penting untuk di bahas. Oya, bagaimana dengan kuliah mu?"


"Alhamdulilah lancar mba dan enam bulan lagi aku harus mengurus skripsi dan mudah mudahan aku bisa lulus tahun depan."


"Amin..terus rencana setelah lulus?"


"Inginnya sih nikah mba he he..!"


"Hmm, lulus terus nikah. Lantas dedukasinya untuk orang tua apa kalau langsung nikah? kasihan lho ibumu sudah susah payah membiayai kamu sampai kuliah ujung ujungnya langsung nikah."


Raihan hanya tersenyum nyengir sambil menggaruk tengkuknya.


Ku lihat piring Raihan sudah kosong tanpa sisa nasi sebutir pun.


"Apa kamu mau nambah lagi Rai?"


"Tidak mba, terima kasih. Aku merasa seperti memiliki seorang istri kalau begini he..he..!"


"Biar aku saja yang mencucinya mba!" ucap Raihan sambil tangannya tak lepas dari tanganku.


"Tidak usah Rai, ini pekerjaan wanita."


"Apa laki laki tidak boleh mengerjakannya?"


"Kamu itu tamu di sini Rai, masa aku suruh kamu cuci piring. Sudah ah, kamu tunggu saja di ruang tamu." Raihan melepaskan tanganku dan aku segera membawa piring kotor bekas kami makan.


Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Suami serta ibuku belum saja pulang ke rumah. Entah kemana mereka perginya. Sementara hujan masih saja belum reda sehingga Raihan belum bisa pulang ke rumahnya.


"Mba sudah mengantuk ya? apa saya pulang sekarang saja."


"Jangan Rai, hujan masih deras nanti kamu kehujanan terus sakit gimana?"


"Mba mengkhawatirkan aku sakit?"


"Bukan begitu, kalau kamu sakit kasihan Bu haji kerepotan merawat kamu nanti."


"He..he..mba bisa saja."


Pukul sebelas malam hujan sudah mulai reda. Sementara orang yang sedang menunggu hujan reda malah tertidur di atas sofa. Aku mendekati Raihan lalu menepuk lengannya beberapa kali.


"Rai...bangun Rai, hujannya sudah reda." Raihan menggeliat namun matanya dalam keadaan tertutup.


"Rai, bangun Rai..!"aku menggoyangkan lengannya dengan sedikit kasar namun Raihan tetap saja tidak membuka matanya.

__ADS_1


Karena Raihan sulit di bangun kan aku pun menyerah dan ku membiarkan saja Raihan tidur di atas sofa sampai dia terbangun sendiri. Namun, ketika aku hendak beranjak meninggalkan Raihan tiba tiba Raihan menarik lenganku hingga aku terjatuh di atas dada bidangnya. Raihan memeluk ku dengan erat tapi kedua matanya dalam keadaaan tertutup.


Perlakuan Raihan membuat ku terperanjat kaget dan nyaris aku hendak berteriak karena aku takut Raihan berbuat macam macam padaku. Namun ketika ku perhatikan wajah tampannya, Raihan seperti sedang bermimpi dan mengigau.


"Jangan tinggalkan aku lagi!" Raihan bergumam sambil mendekap erat tubuhku. Aku berusaha melepaskan diri dari dekapan Raihan namun sulit.


Ku cubit lengan Raihan dengan kuat sehingga Raihan terperanjat dan kesakitan. Raihan terbangun lalu segera melepaskan tangannya yang melingkari tubuhku.


"Mba...kok bisa ada di atas tubuhku?" Raihan bertanya seperti orang linglung. Benar dugaan ku bahwa Raihan sedang bermimpi dan mengigau.


"Seharusnya aku yang tanya kenapa bisa kamu bermimpi sambil mendekap aku Rai? apa kamu sedang memimpikan gadis di lukisan mu itu?"


"Apa benar demikian mba?"


"Apa kamu pikir aku sengaja menindih tubuhmu Rai?"


"Aku tidak tau mba..aku minta maaf jika memang kesalahan ada pada diriku karena aku benar benar tidak sengaja dan di luar kesadaran ku."


"Sudahlah Rai, aku hanya ingin membangunkan mu kalau hujan sudah reda."


Raihan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya lalu menghela nafas.


"Kalau begitu aku pulang ya mba? terima kasih untuk semuanya. maaf sudah merepotkan mba Nuri." Raihan bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah pintu dan aku segera membukakan pintu untuknya.


"Rai...hati hati ya !"


Raihan tersenyum manis sekali lalu dia mengangguk. Aku memperhatikan Raihan hingga dia menaiki motor nya dan melaju meninggalkan rumahku. Setelah itu, aku menutup pintu rumahku dan bergegas ke kamar dimana Zain sedang tidur.


Ku rebahkan tubuhku di samping Zain dan aku berusaha untuk memejamkan mataku namun ternyata sulit terpejam. Pikiran ku mengingat pada kejadian bersama Raihan. Mengingat pada saat Raihan mencium ku serta pada saat Raihan memeluk ku dengan erat.


"Astaghfiruallah hal adzim." Berulang kali aku beristighfar karena aku tau apa yang sudah ku lakukan adalah sebuah dosa meskipun tanpa di sengaja. Aku tidak boleh lagi gegabah menganggap Raihan anak kecil karena walau bagaimana pun Raihan adalah sosok anak lelaki yang sudah baligh.


"Nuri...Nuri...!" terdengar suara cempreng ibu memanggilku dari arah pintu utama. Padahal baru saja aku hendak menutup mataku. Aku segera keluar kamar dan berjalan cepat ke arah pintu utama lalu membukanya. Terlihat ibu sedang berdiri sambil bersedekap dada seperti kedinginan.


"Ibu dari mana saja? kenapa baru pulang?"


Ibu tidak menjawab pertanyaan ku dia langsung menerobos masuk ke dalam rumah lalu memasuki kamarnya. Aku hanya menggelengkan kepala melihat ibu yang diam saja padaku.


Pukul dua dini hari samar samar telingaku menangkap suara gedoran pintu serta suara memanggil namaku. Aku mengejapkan mataku dan menajamkan pendengaran ku. Suara mas Surya terdengar jelas di luar rumah meminta di bukakan pintu. Dengan rasa malas dan kantuk aku memaksa menyeret kedua kakiku untuk membukakan pintu.


"Kenapa kamu lama sekali buka pintunya Nuri ?"


Mas Surya langsung mengomeli ku ketika baru saja ku bukakan pintu. Terendus bau alkohol menguar dari mulutnya dan aku menduga bahwa mas Surya habis minum alkohol.


"Aku sudah tidur mas, lagi pula kamu dari mana saja jam segini baru pulang?"


"Aku banyak urusan di luar," jawab mas Surya sambil masuk ke dalam rumah dengan jalan sempoyongan.


Aku mencebik kan bibirku mendengar jawaban mas Surya. Urusan apa pulang pulang dalam keadaan mulut bau alkohol serta jalan sempoyongan? aku tau mas Surya sedang mabuk namun aku memilih diam saja.


Aku memperhatikan mas Surya yang berjalan ke kamar dengan sempoyongan. aku hanya menggelengkan kepala melihatnya. Entah sampai kapan kebiasaan buruknya itu dia tinggalkan. Bukan sekali dua kali mas Surya mabuk namun sudah tak terhitung berapa kali bahkan sebelum menikah denganku pun dia sering kali mabuk mabukan.


Aku berjalan ke arah kamarku dan Zain namun teriakan mas Surya membuatku menghentikan langkahku lalu memasuki kamar yang di tempati oleh mas Surya.


"Ada apa mas teriak teriak?"

__ADS_1


__ADS_2