
Kedatangan Bu Rida secara tiba tiba membuat ustad Amir terlihat menegang dan membisu. Sedangkan aku bersikap santai saja, sebab, bukan aku yang meminta pak Amir datang ke rumahku melainkan dirinya sendiri.
Dengan nafas yang masih terdengar ngos ngosan, Bu Rida memaksakan diri untuk bertanya sekaligus memarahi ustad Amir." Bapak ngapain di rumah ja la ng ini, hah?dengan suara lantang, ekor matanya melirik sinis ke arahku.
"Mbu...bu ..bu..!"ustad Amir gelagapan.
"Apa, ba Bu, ba Bu?" Matanya melotot hendak keluar menatap suaminya. Ustad Amir sendiri langsung bungkam, terlihat sekali kalau dia merupakan suami takut istri.
Kemudian Bu Rida mengalihkan pandangannya ke arahku lalu membentak," dasar perempuan ja la ng tidak punya malu, berani sekali kamu merayu suami ku. Apa pacar mu yang kemarin kurang cukup sehingga suami orang pun kamu rayu!"
Aku menatap balik tatapan nyalang Bu Rida, geram sekali mendengar tuduhannya. Siapa yang merayu suaminya, justru ustad Amir sendiri yang selalu datang padaku dan merayu.
"Ibu menuduh saya merayu suami ibu? asal ibu tau saja, sekalipun saya ini wanita miskin tapi saya punya level. Ibu tau kan pria pria yang mendekati saya selama ini adalah pria pria muda yang tampan dan kaya? terus kenapa saya harus merayu suami ibu yang sudah berumur? justru suami ibu sendiri yang datang kemari entah apa tujuannya." Sedikit aku membanggakan diriku agar dia tidak mengira aku suka pada laki laki tua yang sudah beristri serta anak yang sudah besar, meskipun sebenarnya suamiku sendiri usianya lima tahun di bawah ustad Amir tapi suamiku bukan suami orang melainkan seorang duda.
Bu Rida melirik lagi ke arah suaminya yang sedang terlihat cemas lalu membentak lagi." kamu mau ngapain menemui ja la ng ini pak, mau ngapain?"
"Lebih baik pak ustad bawa istrinya pulang. Saya banyak pekerjaan yang lebih penting dari pada meladeni keanehan kalian." Aku mengusir mereka secara tidak langsung karena aku sudah tidak betah adanya keributan di rumahku.
Bu Rida tidak terima aku mengusirnya, dia menatap nyalang ke arahku dan hendak mendekatiku namun ustad Amir menahan lengannya.
"Sudah Bu, ayok kita pulang, nanti bapak jelaskan di rumah, malu kalau di lihat orang." Ustad Amir menarik lengan istrinya agar tidak mendekatiku namun Bu Rida menepisnya dengan kasar.
"Bodo amat, aku tidak peduli. Pokoknya kamu jelaskan di sini dan sekarang juga," tolak nya dengan muka berapi api.
"Iya, nanti bapak jelaskan di rumah jangan di disini." Ustad Amir membujuk.
"Tidak mau, cepat katakan sekarang juga, pak!" Bu Rida masih teguh pada pendiriannya. Suara lantangnya cukup memekakkan telinga ku.
Aku geleng - geleng kepala melihat perdebatan mereka, kemudian tanpa sepengetahuan mereka aku bergegas memasuki rumahku dan menguncinya. Namun tak lama terdengar suara teriakan Bu Rida." Nuri, jangan kabur kamu. Dasar ja la ng tidak punya malu, keluar kamu Nuri." Mungkin dia baru menyadari jika aku sudah tidak ada di antara mereka.
__ADS_1
Aku mengintip dari balik tirai jendela kamarku ustad Amir menyeret paksa Bu Rida untuk memasuki mobilnya. Setelah mobil nya berlalu pergi aku menghela nafas lega.
"Ada ada saja, masih pagi sudah bikin naik darah dua orang aneh itu."
Satu jam kemudian, terdengar suara motor berhenti di halaman rumahku. Aku hapal suara motor itu, motor suamiku yang sudah dua minggu ini baru pulang ke rumah. Mas Surya mengucapkan salam dan aku menyahutinya lalu bergegas membuka kan pintu dan nampak mas Surya tersenyum lebar aku pun membalas senyumannya kemudian menyalaminya.
"Zain mana Nuri?" tanya nya. Pandangannya mengarah pada ruang TV.
"Oh, ada mas di kamar. Mas duduk dulu aku buatkan minum, pasti lelah banget kan?" titah ku padanya dan mas Surya menurut.
Kemudian aku memanggil Zain di dalam kamar memberitahu bahwa papa nya pulang.
"Holee papa puyang!"seru Zain, dia terlihat senang sekali mas Surya pulang.
Kemudian aku bergegas ke dapur untuk membuatkan kopi serta mengambil cemilan. Setelah itu, aku kembali ke ruang tamu. Ku lihat mas Surya sedang mencandai Zain, membuat Zain tertawa lebar. Aku meletak kan secangkir kopi serta cemilan di atas meja kemudian ikut duduk bersama mereka.
"Nuri, aku tidak lama di sini!" kata mas Surya dan membuat aku mengerutkan dahi ku.
"Maksudnya mas, tidak lama bagaimana?" tanyaku dengan rasa tidak sabar.
"Iya, sebentar lagi aku akan balik ke Jakarta." Mas Surya memperjelas.
"Kok, langsung balik lagi mas, memang kenapa?"aku bertanya lagi, aku merasa heran kenapa mas Surya tidak menginap.
"Sebenarnya aku sedang pusing Nuri, aku sedang terlilit hutang dua ratus juta sama seseorang, kalau tidak di bayar bulan ini dia akan memenjarakan aku."
Aku sangat terkejut, saking terkejutnya hingga mataku membelalak lebar mendengar pengakuan mas surya bahwa dia memiliki hutang sebenar dua ratus juta, hutang bekas apa? pikirku, sementara dia memberiku nafkah selama tiga tahun usia pernikahan kami saja dengan total keseluruhannya hanya sebesar delapan belas juta dan dia memberi ku nafkah lebih baru sekitar kurang dari dua bulan ini. Lantas untuk apa uang sebanyak itu?
Karena sangat penasaran aku pun bertanya," uang sebanyak itu bekas apa mas?"
__ADS_1
"Tadi nya aku mau buka usaha bareng dengan teman ku tapi ternyata temanku itu seorang penipu dan dia bawa kabur uangku." Mas Surya beralasan. Entah benar atau tidak, aku tidak tau.
"Oleh karena itu Nuri, aku ingin minta tolong sama kamu,"sambungnya lagi.
"Minta tolong," ucap ku mengulang.
"Iya, aku mau pinjam sertifikat rumah ini sebagai jaminan bank karena aku mau Ngajukan pinjaman ke bank."
Lagi lagi aku terkejut, saking terkejutnya hingga aku berdiri dari duduk ku. Aku menggelengkan kepalaku sebagai isyarat aku tidak mau memberikan sertifikat rumah satu satunya untuk aku serta Zain berteduh. Bagaimana jika di tengah jalan mas Surya mandek dan tidak bisa membayar angsurannya terus bank menyita rumahku, aku dan Zain akan tinggal dimana nanti? lagi pula tanah ini milik ibu, aku hanya membangun rumahnya saja.
"Nuri, tolong aku, apa kamu mau suamimu ini masuk penjara?"Mas Surya memelas padaku agar aku mau memberikan sertifikat rumah.
"Mas, kenapa harus rumah ini mas? mas kan tau, rumah ini satu satunya yang aku serta Zain miliki. Kalau misalnya angsuran mas tidak lancar kemudian bank menyita rumah ini lantas aku dan zain akan tinggal dimana mas? lagi pula tanah ini milik ibu mas meskipun aku yang membangunnya, aku tidak mau ibu semakin marah padaku kalau tau tanahnya di jadikan jaminan bank." Aku berusaha memberi pengertian pada mas Surya agar dia mengerti.
"Jadi kamu tidak mau membantuku Nuri?"tanya mas Surya dengan suara mulai meninggi.
"Maaf mas, bukan nya aku tidak mau bantu kamu tapi aku tidak bisa kalau harus menjadikan sertifikat rumah ini sebagai jaminan. Kenapa mas tidak minta tolong sama ibu bapak mas saja, aku yakin mereka pasti mau membantu." Bukan tanpa alasan aku menyarankan demikian, karena aku tau orang tua mas Surya bukan orang susah. Kebun serta sawahnya saja luas, belum lagi usaha peternakannya yang lancar dan aku yakin uang dua ratus juta bukan lah hal yang sulit bagi mereka.
"Kamu menyuruhku meminta bantuan pada orang tua ku? apa kamu lupa apa yang sudah aku katakan padamu kalau aku menikahi mu bukan dengan tangan kosong melainkan dengan uang tiga ratus juta dan kamu tau uang itu uang siapa? uang orang tuaku Nuri. Karena aku ingin sekali menikahi mu sampai aku mengorbankan harta orang tuaku, tapi sayang nya kamu tidak punya rasa balas budinya padaku."
"Mas....!"
"Sudah lah Nuri, percuma saja aku memiliki istri cantik tapi sayangnya bodoh, tidak berguna dan tidak dapat di andalkan."
Kemudian mas Surya mengangkat tubuh mungil Zain dari pangkuannya lalu meletak kan nya di atas sofa dengan kasar. Setelah itu, dia bangkit dan hendak pergi namun aku menahan lengannya dan berkata ," tolong mas jangan seperti ini."
Mas Surya menepis lenganku dengan kasar hingga aku terhuyung dan beruntungnya ada sofa yang menghalangi hingga tubuhku tidak terbentur tembok. Aku menegak kan tubuhku kembali dan berlari mengejar mas Surya namun dia sudah menyalakan motornya. Aku berteriak memanggil namanya namun dia tidak menghiraukan ku melainkan melajukan motornya dan berlalu pergi.
Ku tatap kepergiannya dengan linangan air mata, kenapa sikap mas Surya berubah lagi seperti dulu? dadaku terasa sesak, sesak sekali.
__ADS_1