Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Cerita mang Udin


__ADS_3

Di tengah kebingungan kami, pria yang di ketahui sebagai anak pertama Mak Ninih yang awalnya nyimak saja tiba tiba


bersuara.


"Sebentar, sebentar. Kalian teh sebenarnya ada perlu apa dan ada masalah apa sama emak saya?"


Kami mengalihkan pandangan kami padanya kemudian aku dan Raihan saling pandang.


"Apa pak Udin tau kalau mak Ninih pernah kerja di rumah sakit Sucipto mangunkusumo jakarta?"


Mang Udin nampak terdiam dengan tatapan tanpa beralih dari tatapan Raihan.


"Me..memang kenapa?"Mang Udin tanya balik dan nampak gugup.


"Tolong di jawab saja mang Udin," kata kak Bayu.


Mang Udin masih terdiam.


"Sebenarnya apa yang kalian ingin tau dari emak saya?" Tanya mang Udin dengan logat bahasa daerah yang kental.


Raihan menjelaskan secara detail apa yang sudah terjadi padaku pada pria itu secara hati hati. Nampak pria itu menyimak nya dengan serius. Setelah Raihan selesai menjelaskan semuanya, mang Udin menatap sayu padaku.


"Apa...apa si Eneng ini bayi yang di maksud emak saya teh."


Aku mengernyitkan kening ku." Mang Udin, mang Udin tau tentang saya?" Aku bertanya dengan rasa tidak sabar.


Dia terdiam kembali.


"Mang Udin, atuh ceritakeun wae. kasian si Eneng sama si mas mas ini teh," kata Bu RT.


"He'eh mang karunya tos jauh-jauh datang. lagian amun menurut urang mah barudak iyeu jalmi na balageur ( Iya mang kasihan sudah jauh-jauh datang. lagian kalau menurut saya orang-orang ini orang baik)"pak RT menambahkan usulan Bu RT.

__ADS_1


Dia menatap ku kembali lalu pada Raihan dan kak Bayu.


"Mang Udin tolong ceritakan pada kami apa yang mang Udin ketahui? kami bukan orang jahat. Kami hanya ingin tau sebuah kebenaran yang belum terungkap saja mang."


"Tapi...apa akang-akang dan Eneng ini tidak akan memenjarakan emak saya kalau saya bercerita?"


Aku menatap Bu Ninih yang sedang duduk seperti orang linglung.


"Iya mang, saya tidak akan melapor ke polisi dan akan memaafkan kesalahannya. Tapi tolong ceritakan yang sejujurnya."


Nampak jakun mang Udin naik turun seperti sedang berusaha menelan salivanya.


"Emak saya memang pernah kerja di rumah sakit Jakarta dari saya kecil sampe remaja. Selama itu Emak jadi tulang punggung kami karena Abah kami sudah meninggal. Saat saya masih remaja kalau tidak salah kelas dua SMP emak datang dari Jakarta dalam keadaan seperti ketakutan. Waktu itu saya teh tidak sengaja menguping obrolan emak sama nenek saya. Dia bilang dia tidak mau kerja di jakarta lagi. Saat nenek tanya kenapa dia bilang dia takut di bunuh seseorang. Saat itu saya terkejut dengar nya, nenek saya juga. Terus nenek tanya siapa yang mau bunuh emak. Emak bilang suruhan seorang wanita jahat.


Aku dan Raihan saling pandang.


"Suruhan seorang wanita jahat. Terus apa lagi yang di katakan Mak Ninih, mang?" Dengan rasa tidak sabar aku bertanya kembali.


"Di bunuh!" ucap ku bersamaan dengan kak bayu. Tiba tiba dada ku rasanya sesak sekali mendengar kata di bunuh. Mulut ku pun rasanya sulit sekali mengeluarkan kata kata.


"Lanjutkan mang!" kata Raihan dengan wajah datarnya.


"Kata emak, perempuan itu awalnya menyuruh teman emak itu untuk berbuat jahat sama wanita yang mau melahirkan. Tapi malah temannya emak mengajak emak untuk ber sekongkol membunuh ibu dan bayi nya itu. Emak menolak tapi teman nya emak mengancam akan menyuruh orang untuk membunuh kami di sini. Emak ketakutan dan akhirnya menuruti kemauan teman emak. Tapi saat ibu itu melahirkan, emak langsung membawa bayi nya keluar ruangan dan tidak tau apa yang dilakukan teman emak itu di dalam ruangan bersama seorang dokter. Saat emak keluar katanya dia bertemu sama suami ibu yang melahirkan itu. Dia juga sempat memasangkan gelang di kaki bayi nya untuk tanda pengenal agar anaknya tidak tertukar. Sebenarnya waktu itu emak ingin cerita sama suami ibu itu kalau istrinya akan di bunuh di dalam tapi emak ingat sama kami disini. Kata emak dia tidak mau kehilangan kami."


Airmata ku mulai tumpah ruah mendengar cerita Mang Udin. Ternyata Ibu Hanum meninggal bukan karena faktor melahirkan anaknya ke dunia melainkan karena di bunuh oleh orang yang ingin melenyapkannya dan bayinya. Benar-benar iblis sekali wanita itu.


"Jadi, jadi ibuku di bunuh? bukan karena faktor habis melahirkan adik ku?" Kata kak Bayu dengan suara yang tertahan serta mengepalkan tangannya.


Raihan mengusap usap pundak ku menenangkan aku agar tangisan ku tidak pecah meskipun air mataku sudah mengalir dengan deras.


"Lalu apa yang di lakukan emak sama bayi itu?" Raihan bertanya kembali.

__ADS_1


"Kata emak waktu keluarga bayi sibuk mengurus jenazah ibunya di saat itu pula emak membawa kabur bayi itu keluar dari rumah sakit malam hari karena memang melahirkannya pada malam hari. Emak tidak mau bayi itu menjadi sasaran berikutnya apalagi keluarga nya sedang lengah. Setelah di luar emak kebingungan mau membawa bayi itu kemana. Akhirnya emak memutuskan untuk menyimpan bayi itu di dalam kardus dan meletak kan nya di samping tong sampah dengan harapan ada seseorang yang membawanya pergi jauh karena nyawanya sedang terancam."


"Terus bagaimana cara emak mengelabui temannya yang jahat itu?"


"Kata emak, habis meletak kan bayi itu di pinggir jalan dekat tong sampah. Emak balik lagi ke rumah sakit lalu teman nya itu tanya keberadaan bayi. Emak bilang dia sudah melemparnya bersama sampah ke sungai. Beruntungnya temannya itu percaya saja karena emak sendiri di kenal sebagai perawat yang jujur di rumah sakit itu."


"Terus bagaimana emak bisa mengelabui tentang jenazah bayi pada keluarganya?"


"Emak tidak cerita masalah itu ke nenek. Dan masalah boneka yang di kubur pun emak tidak cerita. Mungkin selebih nya di urus sama teman nya yang jahat itu."


Aku memeluk Raihan lalu menangis sejadi jadinya. Rasanya sakit sekali mendengar nya. Ibu ku di bunuh dan aku di pisah kan dengan keluargaku lalu aku hidup dan tumbuh di keluarga yang sering menindas ku.


"Seminggu kemudian emak ketahuan berbohong kalau emak tidak membunuh bayi itu melainkan membuangnya. Sebelum perempuan yang menyuruhnya membunuh dan temannya itu membunuh nya, emak lebih dulu kabur makannya namanya di ganti biar orang-orang tidak terlalu mengenali. Tapi emak merasa terkena karmanya. Emak menyesal. Dia sempat depresi memikirkan masalah itu.Tiap hari kerjanya hanya melamun sampe emak akhirnya menjadi pikun."


"Apa kira kira emak tau gimana ciri-ciri wanita yang menyuruh membunuh itu mang?"


"Saya tidak tau kang, kayak nya sulit ngasih taunya kalau tidak ada fotonya."


"Aya kalang, Aya kalangan di dieu." Mak Ninih yang selama kami mengobrol diam dan berekspresi seperti orang linglung tiba tiba berceloteh dan menunjuk bibir atasnya.


Tangis ku pun tiba tiba berhenti mendengar dia berucap.


"Apa, apa maksud nya mang?" Tanya Raihan.


"Mungkin maksud mak Ninih ciri ciri wanita yang sedang di bicarakan sama mas dan mang Udin."


"Maksudnya?"


"Kata emak, ada tai lalat nya di atas bibir sebelah kanan."


"Tai lalat di atas bibir bagian kanan!" ucap kak bayu dengan suara tinggi. Nampak nya dia terkejut dengan arti yang di sampaikan oleh pak RT.

__ADS_1


__ADS_2