Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Nura aborsi


__ADS_3

Pada akhirnya Meri, istri papa dan dukun itu di bawa oleh mobil polisi dan akan di amankan. Selain keluarga ku dan dua orang polisi yang datang, beberapa warga juga ikut turut serta lalu mereka membakar rumah dukun itu hingga habis tak tersisa.


"Hukum seberat beratnya itu si sarif pak polisi. Atau kalau bisa penjarakan dia seumur hidup biar dia tidak balik lagi ke kampung ini dan memuja setan." Salah satu dari warga mengungkap kan keinginannya.


"Betul, betul, betul." Warga lainnya menyetujui.


Aku bisa melihat tatapan kebencian yang teramat benci di sorot mata papa pada wanita laknat itu. Bagaimana tidak sangat membencinya, puluhan tahun papa hidup dengan wanita jelmaan iblis. Dan selama puluhan tahun itu pula, jiwa dan raga papa di pengaruhi oleh jin peliharaan nya. Aku bangga sama papa karena sebenci apapun dia pada wanita itu, papa masih bisa menguasai dirinya. Papa tidak ngamuk atau main kasar melainkan menyerahkan wanita itu ke polisi secara langsung.


"Papa pastikan wanita itu akan membayar mahal atas perbuatan nya, sayang," ucap nya sembari memeluk ku dan mengecupi kepalaku.


Sepanjang jalan, aku di peluk papa layaknya seperti anak kecil yang bermanja. Raihan fokus mengemudi sementara kak Bayu yang sedang duduk di samping kemudi sibuk dengan ponselnya.


Selama di perjalanan papa bercerita bahwa dia pun Sebenarnya sudah mencurigai istrinya setelah mendengar cerita Raihan tentang ciri-ciri wanita yang memiliki tahi lalat. Dan dia menyelidiki nya sendiri meskipun belum berhasil. Papa juga bercerita bahwa perasaannya pada istrinya itu tiba tiba berubah setelah ia mulai aktif menjalankan ibadah. Tidak lagi menyimpan rasa cinta apalagi sayang padanya yang ada hanya kebencian. Papa juga mulai menyesali kenapa dia bisa menikahi wanita itu hingga memiliki seorang anak bernama Nura. Selama papa aktif menjalankan ibadah lima waktu, papa sering kali melihat makhluk-makhluk aneh berkeliaran di rumahnya. Tanpa sepengetahuan istri dan anaknya papa pernah mengadakan pengajian di rumah nya untuk mengusir makhluk-makhluk itu.


Pada saat aku bertanya bagaimana mereka bisa menemui ku secepat itu padahal aku memberitahu Raihan satu jam sebelum aku hendak membunuh wanita itu. Raihan justru menyuruhku untuk membuka dompet ku. Awalnya aku heran kenapa Raihan menyuruh aku membuka dompet selempang ku, tapi meskipun begitu aku menurutinya. Aku menemukan sebuah benda asing dan berukuran sangat kecil menempel di bagian dalam dompetku. Saat aku menanyakan tentang benda itu dia mengatakan itu adalah sebuah tracker. Dia meletak kan benda itu saat di apartemen sebelum dia mengantar aku ke rumah Oma. Aku tertegun mendengar nya. Begitu protektif nya dia menjaga ku sampai aku ditempeli alat pelacak agar tidak hilang.


Keesokan hari dan di siang hari. Ketika kami sedang makan siang bersama di rumah Oma termasuk papa, tiba tiba ponsel papa berdering nyaring. Semalam papa ikut menginap di rumah Oma. Papa dan Oma juga sudah saling memaafkan. Oma sendiri sudah tau tentang penyebab kematian ibu Hanum. Tapi bersyukurnya, Oma tidak mengalami serangan jantung yang parah.


Papa ijin pada kami untuk mengangkat telpon nya terlebih dahulu. Kami pun mengijinkan. Namun tak lama kemudian papa kembali dengan wajah yang cemas.


"Ada apa pa?"Aku bertanya pada papa.


"Nura, adik mu....dia sedang kritis di rumah sakit. Papa harus segera kesana."

__ADS_1


Aku ikut cemas. Meskipun kami beda ibu dan dia terlahir dari wanita yang sangat aku benci tapi tetap saja dia adik ku karena ada darah papa yang mengalir di tubuh nya.


Aku dan Raihan ikut dengan papa ke rumah sakit. Sementara kak Bayu dan Oma, mereka bersikap santai saja dan tidak memiliki ke khawatiran apapun.


Tiba di rumah sakit, pihak rumah sakit menjelaskan bahwa pihak polisi menemukan Nura di tempat praktek aborsi saat mereka merazia tempat tersebut tadi pagi. Nura mengalami pendarahan hingga di larikan ke rumah sakit. Wajah papa nampak terkejut sekali, kemudian tubuhnya merosot ke atas lantai. Papa nampak rapuh saat ini mendengar anak nya hamil lalu kritis setelah melakukan tindakan aborsi.


"Kenapa ini bisa terjadi?" Papa meracau. sedih, kecewa, sakit hati mungkin itu yang papa rasakan saat ini. Aku memeluk papa, memberikan kekuatan padanya.


"Maaf pak Bagas, kami butuh donor darah secepatnya. Soalnya di rumah sakit ini stok darah yang di miliki pasien sedang kosong." Seorang suster menghampiri kami serta memberitahu kami tentang kondisi Nura.


"Ambil darah saya sus," ucap papa yang nampak lesu.


"Baik pak, kalau begitu bapak ikut kami sekarang." Kemudian papa pun menurut lalu mengikuti suster tersebut.


Sepuluh menit kemudian. Papa kembali pada kami sembari melangkah lesu seperti tidak memiliki gairah hidup lagi.


Dengan lesu papa berucap," mereka menolak darah papa."


Aku dan Raihan saling pandang.


"Ya ialah di tolak, orang papa bukan orang tua kandung si Nura."


Aku, Raihan juga papa menoleh ke arah sumber suara dan ternyata yang berbicara itu adalah kak Bayu yang baru saja tiba.

__ADS_1


"Apa maksudmu, Bayu?" Tanya papa.


Kak Bayu tidak merespon pertanyaan papa melainkan menyodorkan sebuah amplop putih berlogo rumah sakit."Papa lihat ini !"


Dengan tangan yang sedikit gemetar, papa mengambil amplop itu dan dengan rasa tidak sabar dia segera membukanya dan mengeluarkan sebuah kertas di dalamnya. Papa melihat kertas itu secara detail dan tidak lama kemudian wajahnya berubah memancarkan wajah terkejut. Tangan papa mengepal hingga kertas itu menjadi kusut. Aku sendiri tidak tau kertas apa yang sedang di pegang papa hingga papa nampak begitu marah.


"Maaf pa, aku melakukan tes DNA tanpa memberitahu papa. Sekarang papa sudah lihat kan kalau Nura itu sudah ada di perut wanita itu sebelum papa menikahinya. Artinya dia bukan anak papa."


Aku tertegun mendengar apa yang kak Bayu katakan. Begitu pula dengan Raihan. Jadi, Nura bukan anak papa melainkan anak dari laki laki lain. Hebat sekali wanita iblis itu, puluhan tahun membohongi papa ku.


Tak lama kemudian pintu ruang operasi terbuka, kami menoleh dan nampak seorang dokter keluar dari sana. Kami pun melangkah mendekati dokter itu.


"Dengan keluarga pasien?"


"Bener dok," jawab Raihan.


"Sebelum nya saya mohon maaf. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi karena pasien mengalami pendarahan yang cukup parah serta penangan medis yang lambat maka saya dengan berat hati mengatakan bahwa pasien tidak dapat di selamatkan. Pasien sudah meninggal sebelum kami memulai tindakan operasi.


Aku tertegun mendengarnya, mulut ku pun terbuka sedikit lebar.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun," Raihan dan kak bayu mengucapkan kalimat itu secara serempak.


Sementara papa hanya mengeluarkan air mata di iringi sebuah senyuman. Entah apa yang papa pikirkan dan rasakan saat ini.

__ADS_1


Pemakaman Nura pun di lakukan di tempat pemakaman umum biasa bukan tempat pemakaman khusus milik Oma karena Oma menganggap Nura adalah bukan bagian dari keluarga kami.


Ku tatap untuk yang terakhir kalinya makam yang masih bertanah merah itu setelah orang-orang mulai meninggalkannya. Sayang sekali, Nura sudah pergi lebih dulu sebelum dia tahu bahwa kami bersaudara meskipun bukan satu papa atau satu mama. Aku harap semoga tuhan mengampuni segala dosanya semasa hidupnya di dunia.


__ADS_2