Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Bertengkar karena hutang


__ADS_3

Baru saja ustad Amir pergi dari rumahku dua menit yang lalu, bang Supri datang dengan motor bututnya. Ketika dia sedang memarkirkan motor berisiknya di halaman, aku pura pura tidak mengetahui kedatangannya dan melengos hendak masuk ke dalam rumah namun ternyata bang Supri lebih dulu mengetahui keberadaan ku yang hendak masuk kemudian dia menyindirku."Kau sombong sekali Nuri, ada kakak mu datang main pergi begitu saja."


Aku menghentikan langkahku lalu berbalik, nampak seperti biasa dan sudah menjadi ciri khas bang Supri memakai sepatu serta baju yang selalu terlihat dekil.


"Oh, ada bang Supri toh! mau apa kemari? mau bertemu dengan ibu?ibu belum pulang." Aku menimpali sindirannya dengan ketus. Bukan tanpa sebab aku bersikap demikian pada kakak nomer dua ku, karena sikapnya sendiri terhadapku lah yang membuat aku selalu bersikap ketus padanya.


"Siapa juga yang mau mencari ibu? aku kemari mau bertemu dengan adek yang tidak punya sopan santun ini," sindirnya lagi. Aku mencebik kan bibirku, bang Supri mengatai ku tidak sopan seperti dia sopan saja, mentang mentang dia yang lebih tua jadi seenaknya saja bersikap padaku.


"Ck, ada urusan apa denganku? tumben kamu mencariku bang, jangan kamu bilang mau pinjam duit sama aku, tidak, tidak ada."Aku hapal betul tujuan dia ke rumahku pasti tak lepas dari masalah uang, oleh karena itu aku langsung bicara demikian.


"Siapa juga yang mau pinjam duit, aku bukan mau pinjam duit melainkan mau menagih hutang ibu sama si Yati dua ratus ribu," ucapnya, sembari melangkah ke arahku. Apa yang menjadi praduga ku benar bahwa dia datang tak jauh dari masalah uang.


"Lah, terus..urusannya dengan aku apa bang?"


"Ya kamu bayarin hutang ibu lah," jawab bang Supri dengan entengnya.


Aku kesal dan geram sekali mendengar jawaban kakak ku yang licik ini. Menurutnya hutang ibu adalah tanggung jawabku dan aku yang harus membayarnya. Aku pun menimpalinya kembali."Ibu yang punya hutang sama istrimu kenapa kamu menagih hutangnya ke aku bang?"


"Ya karena kamu anak nya ibu," jawab nya dengan santai.


Aku menggeleng, tidak habis pikir terhadap pola pikir kakak kandungku. Apa dia kira hanya aku saja anak ibuku.


"Memang nya yang anak ibu itu hanya aku saja? terus kamu sendiri anaknya siapa? Anak yang di pungut dari tong sampah? tanya ku dengan geram serta sinis.


"Sembarangan sekali kamu mengatai ku anak pungut. Ya aku anak kandungnya lah!" jawab mas Surya dengan emosi yang di tahan. Dia tidak terima aku mengatainya anak pungut.


"Sudah tau anak kandungnya kenapa tidak kamu saja yang membayarkan hutang ibu ke istri mu itu," timpal ku kemudian.


"Karena kamu yang tinggal dengan ibu Nuriiiiii... makannya aku nagih ke kamu," timpalnya dengan suara keras.


"Ck, kamu dan istrimu itu sebelas dua belas sama sama memiliki sifat picik dan licik sekali. Sudah tidak terhitung berapa banyak hutang kalian sama ibu tapi tidak pernah di kembalikan. Apa lagi hutang mu yang puluhan juta ke aku dan tidak pernah kamu kembalikan hingga sekarang, belum lagi kamu meminjam uang tiga ratus ribu belum lama ini padaku. Ini hanya hutang dua ratus ribu sampai segitunya kamu menagih bang, dasar kalian orang orang tidak tau diri," ujar ku panjang lembar. Aku mengungkit hutang hutangnya padaku serta pada ibu karena aku benar benar geram sekali. Hutang ibu pada mereka yang tak sebanding mereka tagih sampai segitunya. Benar benar licik serta perhitungan sekali bang Supri.


"Hoh, enak sekali kau mengatai ku licik dan picik Nur, namanya juga hutang ya aku menagih lah, tak peduli itu sama sodara atau orang tua, yang namanya hutang ya harus di bayar."


"Wah, benar sekali itu bang, kalau gitu aku juga mau menagih hutang mu sama aku yang puluhan juta itu bang. Aku tidak peduli kamu itu sodara ku atau bukan. Yang namanya hutang ya harus di bayar kan seperti katamu barusan. Atau mau aku bawa masalah hutang mu ini ke jalur hukum? karena hutang mu bukan hanya seratus dua ratus ribu melainkan puluhan juta." Aku membalik kan ucapannya sekaligus mengancam dan ternyata ucapan ku membuatnya bungkam.

__ADS_1


"Kau perhitungan sekali sama sodara mu sendiri Nuri," ucapnya kemudian setelah beberapa detik bungkam. Muka nya sudah terlihat kesal sekali padaku.


"Ck, tidak mengaca ya, bukannya kamu sendiri yang perhitungan? uang dua ratus ribu saja kamu tagih sampai ngotot dan pakai urat."


"Mulut mu Nur..!"


"Kenapa dengan mulutku?" tanya ku menantang, daku ku angkat sambil berkacak pinggang.


"Apa kamu pikir aku tidak berani sama kakak licik dan picik kayak kamu bang?" Aku menantangnya lagi dengan tangan belum ku turunkan dari pinggang.


Muka bang Supri terlihat memerah seperti menahan amarahnya dan melangkah ke arahku. Aku langsung meraih gagang sapu yang terletak di pojokan dan tak jauh dari tempatku berdiri untuk berjaga jaga jika bang Supri akan berbuat kasar padaku. Dia terlihat kaget melihat aku mengambil sapu lantai. Ku tatap dia dengan sorot mata tajam sambil memegang sapu siap untuk dilayangkan ke arahnya. Bang Supri melangkah mundur hingga sampai menaiki motornya dan berkata," awas kamu Nur." Kemudian berlalu pergi. Aku menghela nafas panjang setelah kepergiannya. Benar benar kesal dan geram sekali pada sikap liciknya.


Satu jam kemudian, terdengar suara teriakan perempuan di teras rumah cukup memekakkan gendang telingaku. Aku mengintip ke luar melalui tirai jendela kamarku dan ternyata mba Yati istrinya bang Supri yang sedang berteriak memanggil namaku. Aku tidak heran lagi melihatnya datang ke rumah, apalagi kalau bukan untuk menagih hutang ibuku setelah suaminya gagal menagih.


Aku menghampirinya dan baru saja membuka pintu dia sudah menyerobot masuk membuat bahuku ikut terdorong. Dengan perasaan kesal aku berkata," tidak sopan main nyelonong masuk ke rumah orang, ucap kan salam dulu kek."


Dia menoleh ke arahku dengan muka sinis nya." Terserah aku dong, ini kan rumah mertua ku."


"Owh, mertua yang mba tagih hutang nya yang tidak seberapa itu?" tanyaku dengan nada menyindir.


"Oh, begitu? lantas bagaimana dengan hutang hutang kalian pada ibu termasuk hutang kalian sama aku? bukan nya harus di bayar juga?" Aku membalik kan ucapannya.


"Jangan nagih ke aku dong, tapi ke kakakmu, bang Supri. Kan dia yang pinjam bukan aku." Mba Yati menyanggahnya.


"Kalau begitu kamu juga jangan nagih ke aku dong, tapi ke ibuku kan dia yang pinjam bukan aku!" ucapannya aku balik kan.


"Tidak bisa begitu dong, kamu kan anaknya ya harusnya kamu yang bayarkan."


"Kenapa tidak kamu tagih saja sama mas Supri dia kan anaknya juga."


"Kamu itu ya Nur...!"


"Kenapa dengan diriku? aku memotong ucapan yang belum selesai dia ucapkan.


Mba Yati bungkam karena kata katanya ku patahkan dengan sempurna namun sorot matanya menampakan kekesalannya padaku.

__ADS_1


"Apa kamu tidak sadar mba, kalian saja sangat sering berhutang uang pada ibuku dan kalian tidak pernah mengembalikannya?" tanya ku kemudian.


"Yang berhutang itu bang Supri bukan aku Nuri, kenapa kamu bawa bawa aku?"mba Yati menyangkal dengan nada kesal.


"Tapi atas perintah mu kan mba?" tuduh ku namun aku tidak sembarangan menuduhnya karena memang begitu adanya.


"Jangan asal nuduh kamu Nur!"sangkal nya, dia tidak terima.


"Bang Supri sendiri yang bilang setiap kali dia minjem duit pasti untuk mu mba."


"Aku tidak pernah menyuruh nya untuk berhutang pada kalian dasar orang miskin!" ucapnya dengan suara keras. Dia mulai menghina kami.


Dengan santai aku menimpalinya."Ck, lebih baik terlihat miskin lho mba dari pada terlihat seperti orang kaya tapi nyatanya orang miskin. Untuk memenuhi kebutuhannya yang bak sosialita saja harus mengutang sana sini," sindir ku.


Mba Yati menatap nyalang ke arahku dan ku tatap balik dengan tak kalah nyalang. Apa dia pikir aku takut? sama sekali tidak. Muka nya yang penuh dengan make up mulai di lumuri keringat saking panasnya mendengar sindiran ku.


"Sok tau kamu Nur, mengatai aku miskin. Apa kamu tidak tau kalau orang tuaku orang kaya tidak seperti ibumu, miskin,"ucapnya kemudian. Ujung ujungnya dia membanggakan orang tuanya yang memiliki usaha toko kelontong dan menghina ibuku.


Aku tersenyum miring."Ck, orang tua yang kaya saja kamu banggain mba, kasihan ya ibuku, menantu yang di elu elukan nya ternyata tak ubah nya seperti seekor ular berbisa."


"Brengsek kamu ja la ng, berani sekali kau mengatai ku ular." Mba Yati melangkah mendekatiku kemudian tangannya terulur hendak menjambak jilbabku. Namun sebelum itu terjadi aku lebih dulu menarik tangannya lalu memelintirnya ke belakang. Bukan hal sulit untuk melakukan demikian karena ukuran tubuhnya yang pendek. Mba Yati memekik kesakitan tapi aku tidak mempedulikannya. Memang sekali kali harus di beri pelajaran agar dia tidak menganggap aku orang lemah lagi.


"Adu du duhhh....Lepasin aku lon te! brengsek kamu!" umpat nya dengan kasar namun aku tidak menghiraukan umpatannya.


"Tidak akan aku lepaskan sebelum tanganmu ini patah kakak ipar ku yang tidak tau diri," ucapku, menakutinya lalu tersenyum menyeringai.


Aku menambah memelintirnya, perbuatan ku membuatnya memekik kencang."Awwww..sakit Nuri...lepasin aku!" teriak nya.


"Dengar ya mba sosialita, sekali lagi kamu serta suamimu datang kemari untuk menagih duit mu yang tidak seberapa itu atau meminta uang dengan modus meminjam aku tidak akan segan segan mematahkan anggota tubuh kalian," ancam ku, mba Yati terlihat terkejut dengan apa yang aku katakan.


Kemudian aku mendorong tubuhnya hingga dia terhuyung ke depan dan menabrak sofa.


"Pergi kamu dari rumahku, awas saja kalau kembali lagi kesini." Aku mengusirnya, dadanya terlihat naik turun karena marah kemudian dia menghentak kan kakinya dan berlalu pergi.


Bukan aku tidak sanggup membayarkan hutang ibu ku yang berjumlah dua ratus ribu tapi hanya ingin memberikan pelajaran saja pada mereka yang memiliki sifat picik dan licik.

__ADS_1


__ADS_2