Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Kebingungan


__ADS_3

Dengan mata yang masih terasa sangat lengket, samar samar telingaku menangkap suara adzan berkumandang. Seperti biasa aku selalu terbangun setelah mendengar suara adzan meskipun mata masih dalam keadaan mengantuk, karena bangun subuh sudah menjadi kebiasaan ku sejak dari kecil.


Aku berusaha mengejapkan mataku dan ketika sudah terbuka lima puluh persen aku merasa perutku tertindih oleh benda berat sehingga membuatku sedikit kesulitan bernafas. Ketika mengalihkan pandangan ku ke arah perut, ternyata sebuah tangan kekar sedang tertumpu di atas perut rata ku dan seketika itu pula pupil mataku membesar sempurna.


Aku memiringkan wajahku dan ku dapati wajah Raihan sedang mendekur halus di sampingku."Kenapa ada Raihan di kamarku?" tanyaku dalam hati.


Aku menyipitkan mataku berusaha mengingat apa yang sudah terjadi tadi malam dan dalam hitungan detik aku sudah mengingatnya bahwa tadi malam Raihan tertidur di kamar ku setelah pulang dari mall dan sulit di bangunkan.


"Tapi kenapa posisiku bisa ada di tengah dan di peluk Raihan?padahal tadi malam aku tidur di tepi kasur? ett....sebentar, apa dia sudah berbuat macam macam padaku ketika aku sedang tidur?" bathin ku.


Aku segera menyibakkan selimut dan memperhatikan penampilanku dan ternyata pakaianku masih utuh bahkan jilbab ku masih menempel di kepala, aku menghela nafas lega.


Ku lirik kembali wajah Raihan yang masih mendekur dan ku akui meskipun dalam keadaan tidur dia tetap terlihat tampan. Seulas senyum tersungging di bibirku melihatnya, aku merasa suka sekali memandang wajahnya dalam keadaan tidur karena ku pikir jika dalam keadaan sadar dia pasti akan menggodaku.


"Mungkin begini rasanya kalau kita berjodoh dan menikah Rai, saat bangun tidur wajah pertama yang ku lihat adalah wajahmu, wajah suamiku,"ucap ku dalam hati.


Perlahan aku mengalihkan tangan Raihan dari atas perutku namun perbuatan ku membuatnya terusik hingga mengeratkan pelukannya. Aku mencoba mengalihkan nya kembali namun tangan itu sulit di alihkan. Karena sulit, aku mencubit gemas lengan kekar itu


"Aww, aduuhh." Raihan mengaduh, tidak apa apa sekalian agar dia ikut terbangun juga untuk melaksanakan ibadah, pikirku.


"Kenapa tidak di cium saja sih mba bangunin akunya?"tanya Raihan di tengah tengah matanya terpejam.


"Sudah jam lima Rai, jangan becanda, aku harus segera bangun,"ucap ku dengan pelan karena aku takut suaraku mengusik tidur Zain.


"Cium dulu,"titah Raihan dengan manja.


"Rai.."


"Cium dulu sayang, please!" rengek nya dengan mata yang masih terpejam. Dan mau tidak mau, aku menuruti keinginannya.


"Cup"sebuah kecupan singkat mendarat di pipinya. Raihan segera membuka matanya dan tersenyum lebar namun dia tidak langsung melepaskan tangannya melainkan masih terus menggoda.


"Bibir nya belum sayang,"ucap Raihan.


"Tidak mau,"tolak ku.


"Ya sudah kalau tidak mau, aku tidak akan melepaskan tanganku, biarkan saja begini sampai siang,"ancam nya.


"Kita belum menjadi pasangan yang halal Rai, aku tidak ingin kita khilaf dan..."


"Mba mikirnya jauh banget sih, meskipun itu terjadi secara sadar atau tidak, yang pasti aku tidak akan lepas dari tanggung jawab sayang. Justru hal itu bisa menjadi sebuah pengikat agar tidak ada pria lain yang melirik mba dan cukup hanya aku seorang."


"Dosa Rai, sudah cepat lepaskan tangannya kalau tidak mau lepas aku akan menggigit tanganmu."


Raihan tersenyum lebar kemudian melepaskan tangannya tanpa banyak bicara lagi. Setelah dia melepaskan tangannya aku bergegas bangkit hendak membersihkan tubuhku terlebih dahulu sebelum beribadah.


"Mba, kita sholat berjamaah ya!" ajak Raihan, ketika aku sudah berada di ambang pintu hendak ke kamar mandi dan aku segera mengangguk.

__ADS_1


Sambil menunggu Raihan selesai mandi aku memakai mukena serta menggelar dua sajadah di kamarku karena di ruang TV ada anak anak yang sedang tertidur jadi aku berniat melaksanakan sholat di kamar saja.


Raihan muncul dari balik pintu, dia nampak segar karena rambutnya yang basah. Selain itu, penampilannya yang hanya memakai handuk sebatas pinggang hingga menampakan perut kotak kotaknya membuat aku malu sendiri melihatnya. Setelah itu, dia memakai baju koko dan sarung di depanku tanpa ada rasa malu dan canggung. Aku geleng-geleng kepala saja di melihatnya.


"Kamu mau pulang jam berapa Rai?"tanya ku setelah kami selesai ibadah.


"Mba mengusir ku?"Raihan balik bertanya.


"Bukan mengusir, tapi bukanya kamu harus kerja?"


"Aku bos nya mba, bebas mau masuk kerja atau tidak."


"Iya lah yang boss."Setelah berucap aku membuka mukena yang ku gunakan lalu melipatnya.


Raihan tertawa renyah.


Raihan kembali tidur lagi di samping Zain dan aku meninggalkan nya untuk berbenah di dapur. Ketika aku sedang mencuci piring dua buah tangan melingkar di perutku. Aku tau pemilik tangan itu, tangan siapa lagi kalau bukan tangan Raihan.


"Tolong di lepas tangannya Rai, tidak enak kalau sampai di lihat oleh anak anak."


"Anak anak masih bobo mba."


"Rai.."


"Biar kan aku memeluk mba seperti ini sebelum aku kembali ke jakarta."


"He'em, kenapa mba?apa mba tidak mau aku kembali ke Jakarta?"


"Bu..bukan,"bohong ku, karena sebenarnya jauh di lubuk hatiku, aku tidak ingin berjauhan dengannya."


"Benarkah?"


"Rai.."


"Sebentar lagi masa Iddah mba selesai kan? dan di saat itu pula kita akan menikah dan tinggal bersama hingga menua."


Ku pejamkan mataku, kalimat sederhana Raihan indah sekali terdengar di telingaku. Menikah dengan orang yang kita cintai tinggal bersama hingga menua. Tapi apakah Raihan benar benar jodoh ku yang sesungguhnya? lagi dan lagi aku merasa ragu.


"Aku buat kan teh sama roti panggang dulu ya Rai, biar perut mu tidak terlalu kosong apalagi mau bepergian subuh hari biar tidak masuk angin."


"Calon istriku pengertian sekali." Setelah berkata, dia mengecup sekilas pipiku kemudian melepaskan tangannya dari pinggangku lalu beranjak pergi. Ku tatap punggungnya dengan perasaan entah berantah dan setelah itu aku segera membuat roti panggang dan teh panas untuknya.


Ketika aku hendak menghampirinya di ruang tamu sembari membawa nampan berisi teh dan roti panggang, aku mendengar Raihan sedang berbicara dengan seseorang lewat telpon, aku menghentikan langkahku dan berdiri di balik tembok.


"Maaf Ra, sepertinya aku tidak bisa."


"Di rumah teman dan orang penting."

__ADS_1


"Kenapa sih kamu egois banget, aku bilang aku tidak bisa. Kamu kan bisa pergi sama teman teman mu Ra. Lagi pula aku harus kerja hari ini, ada pertemuan penting."


"Terserah kamu, yang jelas aku tidak bisa."


Hening


Sepertinya Raihan telah mematikan telponnya.


Tak lama kemudian terdengar gumaman Raihan.


"Menyesal sekali aku pernah memberi harapan padanya, sekarang aku sendiri yang pusing di buatnya. Wanita manja yang selalu ingin di turuti kemauannya"


Aku tau Raihan sedang berdebat dengan kekasihnya. Aku jadi merasa sangat bersalah karena sudah hadir di tengah tengah mereka sehingga hubungan mereka menjadi renggang terlepas Raihan mencintai kekasihnya atau tidak. Lantas aku harus bagaimana? di satu sisi aku mencintainya namun di sisi lain ada hati yang tersakiti. Belum menjadi istri seorang Raihan saja aku sudah merasa bersalah, bagaimana jika nanti aku sudah menjadi istrinya mungkin seumur hidup aku akan diliputi rasa bersalah pada kekasihnya.


Aku menghirup nafas lalu menghembuskan nya. Setelah itu aku menghampiri Raihan, dia menoleh dan tersenyum padaku kemudian meletak kan ponselnya di atas meja. Aku pun tersenyum padanya seolah olah tidak tahu apa apa.


Setelah meletak kan nampan yang ku bawa di atas meja, aku ikut duduk bersamanya.


"Makasih sayang,"ucap Raihan.


Aku mengangguk datar.


Setelah berucap, dia meminum teh serta memakan roti bakar itu dalam diam seperti ada sesuatu yang sedang di pikirkan nya. Aku sendiri hanya memperhatikannya saja. Setelah teh dan roti itu habis tanpa sisa Raihan pamit pulang. Namun sebelum pulang dia memasuki kamarku terlebih dahulu dan aku mengekor di belakangnya.


Raihan menciumi Zain yang masih tertidur pulas."Uncle pulang dulu ya, titip mama untuk uncle okey jagoan,"ucap nya lalu melirik ke arah ku yang sedang memperhatikan nya saja.


Setelah Raihan puas mencium Zain, dia keluar lalu berjalan ke arah pintu keluar masuk rumah dan aku mengekor di belakangnya.


"Aku kerja dulu ya mba!"pamit Raihan sebelum membuka pintu.


Aku mengangguk tanpa bicara.


Raihan hendak mendaratkan bibirnya di keningku, namun aku memalingkan wajah ku lebih dulu sehingga dia mengurungkan niatnya.


"Kenapa mba?"tanya nya dengan heran.


"Tidak apa apa, pulang lah dan hati hati di jalan,"titah ku tanpa melihat wajahnya.


"Tapi mba kenapa? apa ada kesalahan yang telah aku buat?"


Aku tersenyum hambar."Tidak ada Rai, pulang lah nanti keburu siang."


Raihan menuruti perintahku dan dia berjalan ke arah mobilnya dengan lesu. Sebelum memasuki mobilnya, dia menyempatkan untuk menoleh ke arahku yang sedang berdiri di tiang pintu dan memperhatikannya.


"Aku sayang kamu mba."


Aku tidak membalasnya melainkan hanya memberikan senyum tipis padanya dan segera masuk lalu menutup pintu. Ku intip dari balik gorden Raihan belum masuk ke dalam mobilnya melainkan berdiri mematung serta pandangan tertuju pada pintu rumahku. Mungkin dia heran pada sikapku yang tiba tiba berubah dan aku sendiripun bingung kenapa sikapku seperti ini padanya. Aku mencintainya tapi aku takut rasa cintaku pada Raihan menyakiti hati kekasihnya meskipun Raihan seringkali mengatakan bahwa dia tidak mencintainya.

__ADS_1


__ADS_2