Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Dua kali siraman


__ADS_3

Ekor mataku mengedar di kamar berantakan itu mencari sebuah toilet. Setelah mengedar akhirnya sorot mataku tertuju pada dua buah pintu yang bentuk, ukuran serta warnanya sama dan terletak di posisi paling pojok serta menyamping sehingga tidak dapat terlihat dari arah pintu masuk kamar itu. Dengan rasa tak sabar aku berjalan cepat ke arah dua pintu itu. Setelah berdiri di depan dua pintu itu aku kebingungan yang mana pintu toilet di antara dua tersebut. Aku takut salah masuk dan takut jika yang aku masuki itu merupakan ruang pribadi yang tidak boleh orang masuki atau ruang yang menyimpan barang barang berharga.


"Yang mana ya toiletnya?"gumam ku. Sembari berpikir


Setelah menimang nimang pintu mana yang hendak di buka aku pun memilih pintu sebelah kiri terlebih dahulu yang di buka. Setelah pintu itu di buka dengan pelan aku memasukinya hingga ke dalam dan semakin dalam. Namun sayang nya aku tidak menemukan keberadaan toilet di ruang itu melainkan hanya berupa lemari lemari besar ada yang terbuka dan ada yang berkaca dan ada pula lemari khusus pakaian gantung. lemari itu terisi dengan barang barang pribadi milik Puteri pemilik rumah ini yaitu Nura. Barang barang berupa pakaian, tas, sepatu yang memiliki merk terkenal. Tapi sayangnya meskipun tempatnya nampak mewah tapi letak barang barang itu tidak lah rapih melainkan acak acakan seperti tidak di rawat.


"Apakah ini yang di maksud dengan walk in closet nya orang kaya?"Gumam ku.


Kemudian setelah memperhatikan deretan barang barang pribadi milik Nura yang nampak tidak rapih aku melangkah maju hingga menemukan sebuah pintu. Dan tanpa pikir panjang lagi aku langsung membuka pelan dan ternyata setelah di buka di dalam ruangan sana adalah tempat yang aku cari yaitu toilet. Aku baru tau kalau walk in closet nya langsung terhubung dengan toilet. Namun selain pintu terhubung dengan walk in closet pintu utama toilet itu pun ada dan letaknya di depan.


Rasa ingin buang air kecil sudah tidak tertahan lagi dan aku pun segera membuangnya. Setelah selesai aku akan keluar dari toilet menggunakan pintu utama namun ketika aku hendak akan keluar aku menginjak sesuatu di bawah sandal flat ku. Ketika aku mengangkat kaki ku ternyata aku menginjak sebuah jarum suntik plus jarumnya. Beruntungnya aku menggunakan sandal jika tidak bisa di pasti jarum suntik itu menusuk kakiku.


"Kenapa bisa ada jarum suntik di kamar mandi Nura? bekas apa?" Aku langsung mengambil jarum itu dan memperhatikan nya hingga mengangkat tinggi ingin memperjelas cairan apa yang terdapat di jarum suntik itu. Namun ketika aku sedang mengangkat tinggi pintu kamar mandi utama terbuka.


"Nura..!"Panggil seorang wanita dan menyembulkan kepalanya ke dalam dan seketika itu pula pandangan kami bertemu. Namun seperti biasa mimik muka wanita itu selalu tercengang jika bertemu denganku. Matanya membelalak, mulutnya terbuka lebar lalu dia mundur ke belakang dan nempel di tembok kamar dengan tubuh yang bergetar.


Aku buru buru melangkah maju ingin ku katakan padanya bahwa aku manusia bukan hantu. Namun bodohnya aku lupa membuang jarum suntik yang sedang ku acungkan hingga wanita itu semakin ketakutan melihat jarum suntik di tanganku dalam posisi jarum nya ke atas persis seperti seorang dokter yang mau menyuntik seorang pasien.


"Tidak, jangan bunuh aku..ja..jangan suntik aku...ampuun..ha..Hanum...ampun!"


Di tengah aku terbengong mendengar ucapannya yang menyebut nama Hanum, dia berlari terbirit birit ke arah luar.


"Kenapa Bu meri selalu ketakutan melihatku? apa dia ada kaitannya dengan kematian Bu Hanum. Tapi...." Aku memegang kepalaku yang rasanya pusing sekali memikirkan nya. Di saat aku merasa pusing dan di saat itu pula aku mendengar teriakan minta tolong dari arah luar.


Aku segera membuang jarum itu ke tong sampah yang ada di kamar lalu segera berlari keluar ingin mengetahui siapa yang berteriak minta tolong.


Setelah berada di luar kamar aku melihat Art, pak Bagas serta Raihan sedang mengerumuni seseorang aku pun segera berjalan cepat ke arah mereka. Setelah berada di kerumunan itu ternyata bu Meri sedang memejamkan mata.


"Apa yang terjadi, Rai?"


"Bu Meri pingsan sayang dan aku tidak tau bagaimana kronologinya."


"Tadi, saya melihat nyonya berlari lalu menabrak tiang itu pak."Kata art.


" Ada ada saja selalu seperti ini."Ucap kesal pak Bagas.


"Apa Bu Meri sering seperti ini pak?" Tanya Raihan.


"Iya, seperti yang ketakutan melihat hantu saja. Sering nonton film horor sih jadi dampaknya ya begini."Ucap pak Bagas.


Aku diam dan pura pura tidak tau saja. Lagi pula mana mungkin aku berterus terang pada mereka penyebab dia berlari hingga nabrak tiang adalah gara gara melihat aku yang di kiranya hantu.


"Rai, tolong bantu saya angkat istri saya."


"Iya pak." Kemudian Raihan memberikan Zain padaku lalu dia membantu pak Bagas mengangkat Bu Meri dan memindahkan nya ke kamar.


"Bi, tolong berikan minyak angin di hidungnya sampai dia sadar."


"Baik pak."


"Nuri, Rai..yuk kita kembali ke bawah."


"Tapi pak, bagaimana dengan bu Meri?" Tanya Raihan.


"Biarkan saja nanti juga dia akan sadar sendiri."


Aku dan Raihan pun menuruti keinginan pak Bagas untuk meninggalkan Bu Meri yang masih pingsan.


Setengah jam kemudian kami pamit pada pak Bagas karena kami akan melanjutkan perjalan jauh setelah dari rumahnya.


"Terima kasih ya Nuri, Rai sudah membolehkan saya menginap di apartemen kalian dan sekarang malah mengantar saya pulang." Ucap pak Bagas setelah mengantar kami hingga teras depan rumahnya.


"Kami juga terima kasih lho pak atas jamuannya." Kata Raihan.


"Jamuan bagaimana, yang ada saya malah merepotkan kalian akibat ulah istri saya. Saya harap kalian tidak kapok ya."


"Tentu saja tidak pak. Kalau begitu kami permisi dulu pak."


Pak Bagas mengelus serta mencium pucuk kepala Zain sebelum kami masuk ke dalam mobil. Dia juga sempat mengelus pucuk kepalaku.


Raihan melajukan mobilnya keluar dari rumah pak Bagas yang megah namun terasa suram. Mungkin perasaan ini hanya aku saja yang merasakan nya dan Raihan tidak. Di perjalanan pikiranku kembali lagi ke rumah pak Bagas dan mengingat kejadian tadi yang mana Bu Meri begitu ketakutan ketika melihatku memegang jarum suntik. Dan yang menjadi pikiranku adalah di tengah ketakutannya dia menyebut nama ibu Hanum. Apakah Bu Meri ada kaitannya dengan meninggalnya ibu Hanum saat beliau melahirkan seorang anak perempuan? Di saat sedang memikirkan hal itu kepalaku tiba tiba terasa pusing sekali.

__ADS_1


"Sayang, kamu kenapa?" Raihan memperhatikan kepusingan ku. Aku yang sedang memijit keningku menoleh padanya."Aku hanya pusing saja Rai." Sebenarnya aku ingin bercerita saat ini pada Raihan tentang apa yang terjadi tadi tapi kepala ku yang cukup pusing membuat aku tidak akan merasa nyaman jika bercerita sekarang dan aku pikir nanti saja setelah tiba di kampung.


"Apa mau pindah tiduran di jok belakang biar Zain aku yang pangku?"


"Tidak Rai, kamu kan sedang nyetir. Aku tidak apa apa hanya pusing sedikit.


"Apa benar tidak apa apa?"


Aku mengangguk.


Di sepanjang jalan aku tertidur begitu pula dengan Zain hingga aku merasa terkejut ketika Raihan mendadak ngerem.


"Rai.."


"Maaf sayang tadi ada orang lewat sembarangan."


"Apa orang itu terluka?"


"Sepertinya tidak. Tuh orangnya lari lagi."Tunjuk Raihan pada orang yang sedang berlari di pinggir jalan.


"Kayak nya dia orang kurang waras Rai."


"Sepertinya."


"Kita sudah sampai mana, Rai?"Tanyaku sembari mengusap usap wajah.


"Kabupaten sayang."


"Kabupaten. Cepat juga."


"Karena kamu tidur makanya cepat. Coba yang nyetirnya sampe pegal pantat.


Aku tersenyum lebar.


"Perjalanan kita masih jauh sebaiknya kamu tidur lagi saja."


"Aku lapar Rai."


Aku mengangguk.


Raihan memberhentikan mobilnya di sebuah restauran. Kemudian dia mengambil alih Zain dari pangkuanku lalu di gendong. Dia juga membantu aku turun dari mobil.


Sembari menggendong Zain Raihan menuntunku hingga memasuki restauran itu lalu mencari tempat duduk yang kosong.


Kami duduk di meja bersebelahan dengan sepasang kekasih yang nampak mesra sekali. Aku dapat melihat wajah si pria dengan jelas karena pria itu duduk menghadap kearah kami. Pria yang sudah nampak tidak lagi muda itu memperhatikan aku saja hingga aku merasa risih di tatapnya demikian.


"Sayang kamu mau makan apa?" Tanya raihan ketika seorang waiter menghampiri kami.


"Nasi."


"Lauknya ?"


"Terserah."


"Minumnya?


"Teh manis."


Raihan langsung memesan beberapa menu makanan. Aku tidak tau dia pesan apa saja karena aku pun tidak peduli. Yang penting bagiku adalah ada nasinya.


Selang beberapa menit waiter itu kembali membawa pesanan kami. Kemudian dia meletakkannya di atas meja.


"Terima kasih mba." Ucap ku.


"Sama sama mba."


"Zain mau mama suapi duluan?" tanyaku pada Zain setelah waiter itu pergi dari kami.


Zain pun mengangguk.


"Biar aku saja yang menyuapinya sayang. Katanya kamu lapar."

__ADS_1


"Tidak apa apa Rai, aku suapi Zain sebentar."


"Ya sudah kalau itu mau kamu."


Aku mulai menyuapi Zain dengan soup dan telor mata sapi. Sembari di suapi Zain memainkan bola kecilnya dan secara tidak sengaja bola yang dia pental kan di atas meja terapung lalu mengenai punggung wanita yang duduk membelakangi kami.


"Heh, brengsek." Teriak wanita itu lalu berdiri dan berbalik mengarah pada kami. Aku dan Raihan menoleh ke arahnya dan seketika itu pula padangan kami bertemu. Mata wanita itu membelalak melihat kami mulutnya pun nampak terbuka lebar.


"Ra...Raihan!" Ucap wanita itu dengan gagal. Kedua mata nya tidak mengedip melihat pria yang dulu pernah di sukainya dan di kejar olehnya namun tidak pernah mendapatkan cintanya.


Sementara Raihan tidak menghiraukan nya bahkan menoleh pun tidak. Dengan santai dia memakan hidangan di meja.


" Aku suapi kamu ya!" Ucap raihan padaku. Padahal Risa sedang menatapnya dan berjalan pelan ke arahnya.


"Rai..Raihan kamu..." Raihan tetap tidak menoleh padanya.


"Kamu...kamu kemana saja Rai. Aku...aku rindu sekali sama kamu. Aku mencari kamu kemana mana tapi...."


Kemudian Raihan menoleh ke arahnya. "Mundur dan jangan mendekat."Ucap Raihan datar tanpa ekspresi.


"Rai tapi..."


"Mundur ku bilang." Ucap Raihan dengan nada tinggi.


Risa tersentak dan diam di tempat tanpa bergerak.


"Kasihan itu pacar kamu di cueki gitu Risa." Ucap ku.


Dia menoleh ke arah ku."Diam kamu ja la ng." Bentak nya pada ku dengan sorot mata nyalang.


Byuuurrrr


Risa gelagapan ketika tubuh se xi nya tersiram segelas jus jeruk. Aku cukup terkejut tiba tiba Raihan menyiram nya dengan air jus miliknya yang belum sempat di minum.


"Rai...kamu tega sekali..apa salah aku sama kamu, Rai." Ucap Risa dengan mata mulai berkaca kaca.


"Sekali lagi kamu mengatai istriku ja la ng bukan saja jus jeruk yang ku siram ke tubuh mu yang menjijikan itu melainkan kopi panas."


Risa nampak terkejut." Istri!" Ucap nya.


"Iya istri. Dia istriku. Cepat menyingkir dari kami."


"Tidak...tidak mungkin janda sialan ini istrimu." Risa menghina ku lagi


Byuuurrrr


Satu gelas teh manis menyiram tubuhnya kembali. Tanpa belas kasihan Raihan menyiramkan es teh milik ku ke tubuhnya hingga dia gelagapan kembali.


"Cepat pergi dari pandangan kami sebelum aku memesan kopi panas lalu menyiramkan ke tubuh mu yang kotor itu." Bentak Raihan.


Tiba tiba pria yang sedang berkencan dengan nya bangun dan mendekatinya.


"Rugi sekali saya booking kamu. Dasar pe re k murahan. Sudah di boking masih saja ngejar laki laki lain. Kembalikan duit saya dua juta mana tas nya." Si pria menarik paksa tas kecil selempang Risa. Risa berusaha menarik kembali namun si pria berhasil mengambil dompet Risa dan mengambil isinya. Setelah itu si pria pergi begitu saja. Tidak ada yang mau menolong Risa begitu pula dengan Raihan.


"Cih, murah sekali harga mu hanya dua juta." Ledek Raihan.


"Sayang banget ya, cantik cantik open BO." Ledek seorang wanita.


"Berapa tarifnya semalam bisa nawar tidak." bagaimana kalau seratus ribu?"


"Dasar pelakor. Awas ibu ibu yang suami nya banyak duit bisa di embat sama dia. Orang begitu mah tidak pandang lakinya muda atau sudah aki aki peyot yang penting duitnya tebal.


Dada Risa nampak naik turun seperti menahan kekesalannya menjadi bahan olokan pengunjung restauran. Setelah itu dia berlari kecil keluar restauran.


Aku menatap kepergiannya dengan perasaan kesal namun juga kasihan. Sayang sekali dia harus bekerja menjadi pemuas nafsu laki laki hidung belang. Padahal dia itu wanita terpelajar kenapa tidak mencari pekerjaan yang halal dan lebih terhormat. Jika sudah begitu akan sulit di hargai laki laki yang ada malah akan di rendahkan karena profesinya.


"Kenapa melihat dia seperti itu?"


"Tidak menyangka saja dia akan menjadi seperti itu."


"Kenapa harus memikirkan orang lain? Orang lain saja tidak ada yang peduli dan memikirkan kamu kan?"

__ADS_1


Raihan benar. Memang tidak ada yang memikirkan hidupku selain dirinya.


__ADS_2