
Bang Supri dan Sumi menenangkan aku yang sedang kalut karena kehilangan Zain kembali. Sempat aku berpikir apa mas Surya yang menculik Zain seperti dulu mengingat dia sudah keluar dari penjara bisa saja dia dendam padaku dan membalas apa yang pernah aku lakukan padanya. Selain memasuk kan nya ke dalam penjara aku juga sudah membuat dia di keluarkan dari pekerjaannya.
"Apa kita lapor polisi saja, bang?"Tanya Sumi pada bang Supri.
"Belum dua puluh empat jam Sum, polisi tidak akan menerima laporan kehilangan sebelum dua puluh empat jam."Jawab bang Supri.
"Mau minta bantuan saja ribet banget ya harus nunggu sehari semalam baru di proses. Gimana coba kalau orang yang hilang itu sedang dalam keadaan bahaya dan butuh bantuan cepat."
"Ya begitulah Sum, sudah menjadi peraturan di negara ini. Kita yang hanya rakyat kecil bisa apa kalau bukan harus tunduk pada peraturan yang sudah di sah kan oleh undang undang."
"Nur, kamu mau kemana?"Tanya bang Supri. Di sela sela bang Supri dan Sumi mengobrol aku berdiri dan akan beranjak pergi. Aku pikir aku harus bergerak sendiri tanpa harus menunggu bantuan polisi. Benar kata Sumi minta bantuan polisi itu ribet dan lama prosesnya lebih baik aku cari sendiri dan semoga dugaan ku benar jika zain di culik oleh mas Surya bukan oleh penculik anak untuk di jual.
"Mau ke kamar bang." Setelah berucap aku bergegas masuk ke dalam rumah.
Sebelum masuk ke dalam kamar ku lirik ibu yang sedang berada di depan TV. Dia juga menoleh ke arah ku namun segera mengalihkan kembali pandangannya ke layar TV. Sebenarnya kunci utama ku ada di ibu karena mustahil jika ibu tidak melihat Zain keluar sebab pintu kamar ku menyatu dengan ruang TV. Tapi melihat sikap ibu yang dingin padaku membuat aku enggan bertanya apalagi mendesaknya agar mengaku.
"Kamu dimana nak? kenapa harus hilang lagi? kamu baik baik saja kan nak? tolong jangan membuat mama khawatir." Aku berbicara sembari menatap photo Zain yang ada di layar ponsel ku. Apa yang aku lakukan persis seperti orang yang sedang frustasi. Ya, memang bisa dikatakan aku mulai frustasi atas apa yang sedang terjadi padaku saat ini. Aku harus kehilangan anak ku untuk kedua kalinya. Menurutku, kehilangan cinta dari seorang kekasih memang sakit tapi kehilangan anak yang sudah di besarkan dengan susah payah jauh lebih sakit.
Di saat aku sedang terhanyut oleh foto tampan anak ku, tiba tiba sebuah pesan SMS masuk dari nomer tanpa nama.
"Kamu mau bertemu dengan anak kesayanganmu? ikuti perintah ku dan jangan lapor polisi juga orang orang terdekat mu. Jika kamu nekat memberi tahu orang orang yang aku sebutkan tadi siap siap kamu tidak akan pernah menemukan anak mu lagi seumur hidup."
Mata ku membulat sempurna, mulut ku terbuka cukup lebar. Begitu pula dengan tubuhku mulai gemetar serta sendi sendi tulang ku pun ikut melemas setelah membaca pesan SMS dari orang yang sedang menculik anak ku. Meskipun demikian aku berusaha untuk tidak menangis menghadapi si penculik ini dan berusaha berpikir setenang mungkin sebab jika pikiran ku kacau aku tidak bisa berpikir mencari cara agar aku bisa menyelamatkan nya apa lagi tidak ada Raihan di sampingku sekarang.
"Jangan coba coba menyakiti anak ku. Kalau tidak aku akan membunuh mu." Aku membalasnya dengan kata kata sedikit sadis. Tapi apa yang aku katakan bukan hanya ancaman semata tapi benar benar akan aku lakukan jika si penculik itu menyakiti Zain.
"Wow, sebuah ancaman yang menakutkan tapi sayangnya, apa kamu pikir aku takut pada ancaman wanita lemah seperti mu?"
Emosiku mulai naik si penculik itu mengatai ku wanita lemah. Jika dia tau bagaimana aku berarti dia orang yang sudah mengenalku tapi siapa orang itu. Apa mungkin dugaan ku benar kalau orang yang menculik anak ku adalah mas Surya.
"Siapa kamu sebenarnya brengsek? apa mau mu? kenapa kamu menculik anak ku?"
"Aku mau dirimu. Seperti kataku tadi jangan lapor polisi atau memberitahu orang orang terdekat mu."
__ADS_1
Aku diam setelah membaca pesan itu. Dia memintaku untuk tidak lapor polisi bahkan tidak boleh memberitahu orang terdekat artinya bang Supri dan Sumi tidak boleh tahu akan hal ini. Aku pikir apa aku sanggup menghadapi penculik itu seorang diri? Tapi demi Zain aku meyakinkan diri bahwa aku pasti bisa menyelamatkannya.
"Baik. Lantas apa yang harus aku lakukan?"
"Temui aku di the westin Jakarta."
Aku menautkan kedua alisku membaca nama tempat dimana aku harus menemui penculik itu.
"Kenapa jauh sekali. Apa tidak bisa di dekat tempat tinggal ku saja? asal kamu tau aku tidak hapal kota Jakarta." Aku mencoba negosiasi pada penculik itu. Masa aku harus menemuinya di tempat yang letaknya entah di Jakarta bagian mana.
"Ternyata kamu sangat menggemaskan juga ya berani bernegosiasi denganku. Emm, rasanya aku jadi ingin menggigit mu dari ujung kaki hingga ujung kepala mu."
Aku bergidik ngeri membaca kalimat pesan yang terkesan menjijikan itu. Apa dia pikir aku ini ayam goreng sembarangan saja ingin menggigitku.
"Aku benar benar tidak tau tempatnya. Dengar namanya saja baru sekarang."
"Terserah kamu mau menuruti keinginan ku atau tidak, yang pasti kalau kamu tidak datang maka selama nya kamu tidak akan bisa bertemu dengan anak mu lagi."
"Jln Rasuna Said. Kuningan. Setia Budi. Jakarta selatan." Setelah membacanya aku garuk-garuk kepala. Aku bingung harus naik apa ke tempat yang belum pernah ku kunjungi bahkan mendengarnya saja baru sekarang. Di tengah berpikir tiba tiba teringat kalau di Jakarta itu banyak taksi. Aku akan naik taksi saja dari terminal nanti.
Aku bergegas memasukan barang yang paling utama ku butuhkan seperti dompet dan ponsel ke dalam tas. Tanpa mandi bahkan tanpa mengganti baju aku langsung keluar kamar. Ku lirik ibu masih betah di depan TV.
"Aku mau pergi cari Zain dulu Bu!" ucap ku. Walau bagaimana pun sikapnya aku harus meminta ijin dulu padanya.
Ibu melirik selintas lalu berdehem. Aku tersenyum melihatnya karena meskipun hanya sebuah deheman tidak mengapa yang penting dia merespon ku.
Bang Supri dan Sumi menoleh bersamaan saat aku baru saja keluar." Kamu mau kemana, Nur ?"Tanya bang Supri.
"Aku mau cari Zain, bang."
"Kemana?"
"Ke.... ke rumah bang Surya." Jawab ku dengan ragu.
__ADS_1
"Apa kamu yakin si Surya yang bawa si Zain?"
Aku mengangguk.
"Aku antar kamu ya Nur?" Sumi menawarkan diri.
"Emm, aku minta tolong antar aku ke jalan raya saja Sum, aku mau naik angkot saja soalnya lagi malas bawa motor." Ucap ku beralasan. Sumi dan bang Supri saling pandang entah apa yang mereka pikirkan.
"Sudah Sum antar kan saja." Bang Supri menyuruh Sumi untuk mengikuti keinginan ku.
"Ya sudah kalau begitu. Aku antar kamu sampai Prapatan."
"Makasih Sum."
"Nuri..."Bang Supri memanggil saat aku akan menaiki motor.
"Apa bang?"
"Kamu itu mau bepergian jauh ganti dulu kek baju nya terus dandan yang cantik. Ini kok penampilannya kuprut kayak gitu." Bang Supri meledek penampilan ku. Aku memperhatikan pakaian yang ku pakai. Pakaian setelan sederhana yang sering kali ku pakai di rumah serta jilbab terusan tanpa peniti.
"Biarin saja bang, aku ini mau nyari Zain bukan mau pergi ke kondangan."
"Ya meskipun cuma mau nyari Zain setidaknya penampilannya yang rapih dikit kek biar mempesona dan enak di pandang sama laki laki."
"Ish, apa Abang pikir aku mau mencari perhatian laki laki? enak saja."
"Sudah, sudah sudah. Biarin saja kenapa bang, si Nuri meskipun pakai baju robek robek dan tanpa make up tetap saja cantik bahkan terkesan se xi. Lagi pula mau ke temu si Surya ngapain cantik-cantik nanti dia gagal move on lagi ke si Nuri." Sumi menengahi perdebatan kecil kami.
"Gas pul, Sum."
"Siap ibu negara." Sumi melajukan motor nya tanpa menghiraukan ucapan bang Supri yang tetap menyuruhku untuk membenahi penampilanku. Aku sendiri tidak mempedulikan penampilanku. Boro boro mikirin penampilan yang ada di otak ku hanya Zain dan Zain.
Sebelum Sumi melaju cepat aku sempati menoleh pada bang Supri, ternyata dia sedang memotret ku. Jika aku perhatikan bang Supri sering kali memotret ku dalam keadaan sadar atau tidak entah apa maksudnya.
__ADS_1