
Raihan menggendong Zain yang tertidur memasuki apartemen nya. Aku mengekor di belakangnya. Setelah itu, dia meletak kan nya di tempat tidur yang biasa ku tempati.
"Kamu istirahat gih! aku keluar dulu." Setelah berkata Raihan keluar dari kamar ku. Aku menatap heran pada pintu yang sudah di tutup olehnya. Tidak biasanya Raihan memanggil aku dengan sebutan kamu. Namun ya sudahlah itu jauh lebih baik agar aku merasa tidak terlalu lebih tua darinya.
Ku rebahkan tubuh ku di samping Zain. Sembari memeluk Zain mataku memejam dan dalam hitungan detik pikiran ku sudah berada di alam bawah sadar.
Zain menggeliat mengusik tidurku. Aku membuka mataku namun ternyata bukan Zain yang menggeliat melainkan Raihan yang sedang tidur di sampingku. Aku cukup terkejut di buatnya. Bukan hanya tubuhnya yang tertidur di sampingku melainkan tangan kanan nya pun melingkar di perutku. Ku tatap wajahnya yang sedang mendekur halus.
"Tampan sekali calon suamiku ini." monolog ku.
Raihan memang tampan. Wajahnya putih mulus tanpa jambang atau kumis tipis. Wajahnya cenderung imut sesuai dengan usianya yang baru dua puluh tiga tahun. Jika di perhatikan Raihan mirip sekali dengan aktor atau penyanyi asal Korea, Cha Eun Woo.
"Kenapa memperhatikan ku seperti itu sayang? apa mau aku cium?" Tanya Raihan di tengah matanya terpejam. Ternyata dia hanya pura pura tidur saja. Ku cubit perutnya dia mengaduh namun tersenyum.
"Tangannya jangan nakal sayang. Nanti kalau aku nekat berbuat nakal sama kamu gimana?"
"Kok kamu tidak panggil aku mba lagi, Rai?"
"Sebentar lagi kita akan menikah sayang. Aku hanya ingin membiasakan diri saja. Masa iya aku panggil mba sama istriku sendiri."
Aku tersenyum mendengarnya.
Raihan menatapku dalam begitu pula dengan aku. Lalu, dia mendekatkan wajahnya pada wajahku. Aku tau apa yang akan Raihan lakukan namun aku membiarkan dan tidak menghindarinya. Seketika itu pula Raihan menautkan bibir nya pada bibirku dan aku menyambutnya dengan suka rela. Mungkin ini yang namanya cinta aku tidak pernah bisa menolak ciuman nya. Berbeda sekali ketika aku masih bersama mas Surya meski pun kami merupakan pasangan yang halal tetap saja aku merasa tidak pernah rela ketika di cium olehnya.
Ketika aku tengah menikmati sentuhan bibir lembutnya tiba tiba Raihan melepaskan pagutan nya begitu saja. Aku cukup kesal di buatnya. Sebagai wanita normal serta sudah berpengalaman dan jika menyampingkan kata dosa aku ingin berbuat lebih dengan Raihan saat ini tapi...setan apa yang sedang merasuki ku saat ini? kenapa aku memiliki pemikiran tak senonoh seperti itu.
"Sabar ya sayang, ingat lho kita ini sedang di ranjang kalau kita khilaf lalu berbuat lebih bagaimana?" Ucapan Raihan seolah olah menyindir perkataan ku ketika di kamar mandi hotel saat dia hendak menciumku dan aku menolaknya. Rasanya aku tidak memiliki muka saat ini.
"Kamu duluan yang mulai." Aku menekuk kan wajahku dan menyingkirkan tangannya yang ada di perutku lalu duduk tegak.
Raihan tersenyum. Dia pun ikut duduk di sampingku." Iya deh maaf, aku sudah membangkitkan gairah mba he he." Setelah meledek dia langsung turun dari ranjang tanpa melihat ke arahku yang sedang menunduk malu.
Raihan ke luar dari kamarku sementara aku siap siap akan memandikan Zain karena waktu sudah hampir menjelang Maghrib.
"Zain!"panggil ku pada Zain yang sedang asik bermain Lego. Zain sudah terbangun sejak dari tadi dan posisi tidurnya di gantikan oleh Raihan. Raihan sendiri sengaja ingin mengerjai ku.
Zain menoleh." Iya mama."
"Kita mandi dulu yuk?" Zain mengangguk lalu berdiri menghampiriku.
Raihan kembali ke kamarku ketika aku sedang memakaikan pakaian Zain di atas ranjang. Penampilannya sudah rapih memakai kemeja warna navy dan celana panjang moka seperti yang akan pergi ke luar apartemen.
"Anak papa sudah mandi?"Tanya Raihan pada Zain lalu duduk di tepi ranjang.
"Cudah papa." Jawab Zain sembari tersenyum nyengir padanya.
"Pantas saja sudah wangi. Sini biar papa yang lanjutin." Raihan mengambil baju Zain yang sedang ku pegang namun aku tidak melepasnya." Jangan Rai, biar aku saja."
"Biar aku saja, mama mandi dulu sana bau asem." Raihan tetap memaksa. Aku tersenyum geli mendengar sebutan yang di ucap kan olehnya. Sebutan untuk pasangan suami istri padahal kami belum menikah.
Pada akhirnya aku melepaskan baju yang menjadi rebutan kami dan membiarkan Raihan mendandani Zain. Sebelum aku memasuki kamar mandi ku lirik Raihan yang sedang mendandani Zain sambil becanda. Aku tersenyum melihat nya dan betapa aku bersyukur tuhan telah mengirim sosok sempurna seperti Raihan, seorang pria muda, tampan, mapan, sangat menyayangi ku dan juga anak ku.
"Kita makan malam di luar saja ya sayang. stok bahan makanan sudah habis aku belum belanja lagi. Gini nih tidak enaknya hidup membujang makanya aku ingin segera menikah supaya kalau tidur ada yang nemenin, belanja ada yang nemenin terus ada yang masakin. Ehh, tapi..kalau sudah nikah kita ambil ART saja aku tidak mau istriku kelelahan. Tugas istriku cukup layani aku di atas ranjang saja hehe." Ucap Raihan panjang lebar ketika aku sedang mengambil air jus di dalam kulkas.
"Kamu mau minum, Rai? Tanya ku mengalih kan perkataan panjang Raihan. Aku malu karena di ujung perkataan panjangnya terselip kalimat fulgar.
Raihan tidak mengiyakan tidak pula menolak tawaranku melainkan menatap ku dengan tatapan yang sulit ku artikan.
"Hei, mau minum tidak?" ulang ku. Namun Raihan tidak menjawab nya melainkan mengecup pipi ku sekilas lalu berjalan ke arah Zain yang sedang berada di atas sofa.
"Dasar aneh." Umpat ku kesal.
Raihan menggendong Zain lalu mendekati ku kembali." Ayok sayang." Ajak nya tiba tiba.
"Kemana?" Tanyaku lalu meletak kan gelas bekas minum jus.
"Tadi kan aku sudah bilang kita akan makan di luar saja."
"Oh, soalnya tadi kamu ngomong nya panjang banget jadi aku tidak mengerti sama inti pembicaraan mu."
__ADS_1
Raihan menggaruk tengkuk nya dan tersenyum nyengir.
Hashim Hashim
Tiba tiba berulang kali bersin nampak nya gejala flu mulai mendera hidungku.
"Kamu flu sayang? kalau gitu kita tidak usah makan di luar. Nanti aku pesan makanan saja."
"Tidak apa apa Rai, hanya sedikit. Kita makan di luar saja."
"Kamu yakin?"
Aku mengangguk yakin.
Raihan berjalan ke arah kamar nya dan tak lama kemudian dia keluar lagi membawa sebuah switer dan masker.
"Kamu pakai ini biar lebih hangat." Raihan memberikan switer dan masker itu padaku. Aku meraihnya dan mengucapkan terima kasih padanya.
Setelah switer dan masker ku pakai kami keluar apartemen menuju basemen.
"Apa kita mampir ke klinik dulu untuk berobat?"Raihan menyarankan ketika kami sudah berada di dalam mobil.
"Rai, jangan berlebihan aku hanya pilek biasa minum obat warung saja sembuh."
"Tapi disini tidak ada warung sayang. Kalau gitu kita cari obat di apotik saja."
"Ya sudah terserah kamu."
Raihan melajukan mobilnya keluar dari apartemen menuju jalanan kota Jakarta yang penuh dengan kendaraan hilir mudik.
"Kita ke apotik dulu sebentar. Biar nanti obatnya bisa langsung di minum setelah makan." Raihan memberhentikan mobilnya di depan sebuah apotik.
Aku mengangguk.
"Eee, Rai!" Raihan mengurungkan niatnya yang hendak membuka pintu.
"Kenapa sayang."
"Memang kenapa kalau aku?"
"Aku...aku mau sekalian beli obat pereda nyeri haid." Jawabku sedikit malu.
Raihan tersenyum." Memangnya kamu lagi haid?" Pertanyaan Raihan membuat aku semakin malu.
"Be..belum, tapi seperti nya sebentar lagi."
"Ooh, semoga datang bulan nya Minggu ini ya sayang. Jangan nanti pas kita menikah hehe."
"Rai..." Aku benar benar malu sekali Raihan justru menggodaku.
Raihan tertawa renyah." Ya sudah biar aku sekalian yang membelikan nya.
"Jangan, apa kamu tidak malu sama penjaga apotik?"
Raihan nampak diam dan menggaruk keningnya.
"Biar aku saja sebentar. Aku titip Zain." Aku mendudukkan Zain di jok lalu segera turun sebelum Raihan mencegahku.
Aku berjalan memasuki apotik yang tidak terlalu ramai. Ketika aku sudah berada di dalam apotik tiba tiba seseorang menyenggol ku hingga aku memutar seratus derajat namun beruntung nya tidak sampai terjatuh.
Plak
Sesuatu terjatuh di atas lantai. Aku menunduk nampak sebuah alat pendeteksi kehamilan atau testpack keluar dari kantong plastik yang tergeletak.
Wanita yang menabrak ku itu buru buru berjongkok kemudian memasuk kan kembali benda itu ke dalam kantong plastik lalu berdiri kembali.
Wanita itu menatap marah padaku. Sementara aku tercengang melihat siapa wanita yang sedang menatap marah yang tak lain adalah Nura. Namun aku merasa Nura tidak menyadari bahwa orang yang sedang berada di hadapannya adalah aku karena aku memakai masker dan switer.
"Lo gimana sih buta ya atau memang Lo kagak punya mata sampe nabrak orang." Nura menghardik ku dengan suara lantang padahal dia yang salah telah menabrak aku lebih dulu.
__ADS_1
"Lo tau tidak ka.. "
"Maaf mba, tolong jangan membuat keributan di sini." Tiba tiba penjaga apotik itu melerai ketika Nura hendak memarahi ku kembali.
Nura memutar bola matanya menatap kesal ke arah penjaga apotik itu. Lalu dia mengalihkan kembali pandanganya pada ku.
"Awas saja kalau gue ketemu sama Lo lagi." Ucap nya dengan nada mengancam lalu dia beranjak pergi keluar apotek.
Aku menatap punggungnya dengan pikiran bertanya tanya tentang alat testpack yang terjatuh itu. Untuk apa Nura membeli alat itu? Siapa yang hamil? Namun aku segera menepis pemikiran itu lalu meneruskan niat ku yang akan membeli obat.
Setelah mendapatkan apa yang aku cari aku kembali lagi ke dalam mobil.
"Apa kamu bertemu Nura di dalam sayang?" tanya Raihan ketika aku sedang memakai sabuk pengaman.
"Kok kamu tau?"
"Aku melihat dia keluar dari apotik mungkin saja dia bertemu dengan mu."
Aku jadi teringat tentang testpack yang aku lihat saat kantong plastik milik Nura terjatuh. Aku menimang nimang untuk bercerita tidak pada Raihan tapi..rasanya Raihan memang harus tau tentang itu. Bukanya aku bermaksud menyebarkan aib orang tapi Raihan adalah calon suamiku dan Nura adalah mantan kekasihnya meskipun tidak pernah di anggapnya. Rasanya wajar saja jika Raihan tahu karena aku yakin Raihan tidak akan menyebarkan nya pada orang lain.
"Emm, Rai!"
Raihan melirik di tengah mengemudi." Kenapa sayang?"
"Tadi...aku melihat Nura membeli testpack."
Nampak Raihan menyipitkan kedua matanya."Testpack itu bukan nya alat pendeteksi kehamilan?"
"Iya."
"Apa....kamu berpikir aku yang menghamili Nura, sayang?"
Aku menggeleng cepat." Sama sekali tidak. Aku percaya sama kamu, Rai."
Raihan menyunggingkan senyum." Kamu harus percaya sama aku karena memang bukan aku yang menghamilinya. Jangan kan menghamilinya memeluknya pun aku tidak pernah.
"Aku sama sekali tidak memikirkan ke arah sana."
"Iya sayang, aku hanya ingin menjelaskan saja agar kamu tidak berpikir yang aneh aneh tentang aku. Lagi pula aku rasa wajar saja kalau dia hamil."
"Kenapa seperti itu?"
"Nura itu anak bebas. Mainan nya club malam, minumannya wine. Bisa saja dia melakukan one night stand dengan teman kencannya."
"Kamu banyak tau tentang Nura?"
"Aku tau sisi gelap Nura bahkan aku pernah memergokinya masuk kamar hotel dengan seorang pria. Hanya saja aku diam dan pura pura tidak tau saja. Toh, terserah itu hidupnya."
"Apa orang tuanya tau kelakuan Nura di luar?"
"Sepertinya tidak tau, mereka pikir Nura anak kucing yang manis."
"Kamu sebut Nura anak kucing?"
"Iya, bagi orang tuanya Nura seperti kucing yang manis diam di rumah tidak pernah kelayapan."
"Oh."
"Yasudah sayang, jangan memikirkan orang lain kita pikirkan masa depan kita saja dan
satu hal yang harus kamu tau bahwa aku tidak pernah memeluk atau mencium wanita manapun selain kamu sayang."
Aku menatap kagum Raihan. Dia pria sempurna, aku yakin tidak akan ada wanita yang menolaknya jika dia menginginkannya. Tapi begitu setianya dia padaku sampai ciuman dan pelukan saja hanya dengan aku. Betapa beruntungnya aku bukan? tiba tiba aku merasa insecure atas kekurangan ku. Aku yang sudah tidak lagi perawan, sudah memiliki seorang anak bahkan usia ku jauh di atasnya. Padahal di dunia ini banyak sekali wanita sempurna tapi kenapa Raihan memilih wanita yang memiliki banyak kekurangan seperti ku.
"Rai, apa kamu tidak akan merasa menyesal jika menikah denganku nanti?"
"Kenapa harus menyesal? menikahi kamu itu impianku sejak dari kecil sayang."
"Tapi aku ini banyak memiliki kekurangan, aku..."
__ADS_1
"Hussss." Tangan kiri Raihan mengelus elus pipiku." Jangan di bahas lagi ya!" ucap nya kemudian.
Aku meraih tangan yang sedang mengelus pipiku lalu mengecupinya. Perlakuan spontan ini merupakan untuk pertama kalinya aku lakukan. Aku terlalu senang dan bahagia bahkan bangga yang tidak bisa ku ungkapkan dengan kata kata telah di cintai oleh sosok pria sempurna seperti Raihan. Raihan Hermawan Gemilang.