
"Sini kamu, tutup pintunya!" aku yang sedang berdiri di ambang pintu dengan ragu menutup pintu lalu berjalan ke arah mas Surya yang sedang duduk di tepi kasur.
"Mau apa mas?"tanyaku penasaran.
Mas Surya memandangiku dengan penuh nafsu. Dia tidak menjawab pertanyaan ku melainkan menarik lenganku hingga aku terjatuh terlentang di atas kasur. Aku terperanjat kaget lalu hendak bangun namun mas Surya segera menindih tubuhku.
"Mas kamu mau apa?" tanyaku dalam ketakutan. Aku merasa takut melihat suamiku yang sedang mabok hendak menggauliku.
"Layani aku Nuri ! aku mau memberikanmu nafkah bathin," ucap mas Surya sambil memaksa membuka dasterku namun tanganku menahannya.
"Kamu mabuk mas, mulutmu bau alkohol aku tidak mau melayani mu dalam keadaan mabuk."
"Banyak alasan kamu, dosa besar kamu kalau menolak keinginan suamimu. Aku di rumah sudah tiga hari tapi tidak kamu layani. lagi pula aku tidak mabuk aku hanya minum sedikit." ujar mas Surya sambil terus memaksa membuka dasterku.
Aku terdiam mendengar ujaran yang di ucapkan oleh mas Surya. Memang benar selama mas Surya di rumah aku tidak pernah ingin di sentuh olehnya. Tapi, aku merasa berdosa telah menolak berkali kali keinginan mas Surya untuk berhubungan suami istri.
Saat aku terdiam mas Surya leluasa mengendalikan tubuhku. Dia berhasil membuka daster serta baju dalam ku. Dan tanpa bicara lagi mas Surya langsung menancapkan benda tumpul miliknya ke lubang sempit milik ku. Aku pasrah. Ku pejamkan mataku aku tidak ingin melihat wajah mas surya saat menggauliku. Dan di saat mas Surya terus menghujam ku di saat itu pula wajah Raihan lah yang terbayang di pikiranku. Entah kenapa aku membayangkan sosok Raihan yang menggauliku. ku alung kan kedua tanganku di leher Mas Surya dengan mata terpejam dan seolah olah aku menikmati kenikmatan yang Raihan berikan hingga aku tersadar bahwa yang menggauliku adalah suamiku aku menitik kan air mata.
Mas Surya merubuhkan tubuhnya di sampingku setelah puas menumpahkan hasratnya yang menggebu gebu. Aku menghapus air mataku dan segera mengambil dasterku yang teronggok di bawah kasur.
"Gitu dong Nuri..kalau melayani aku seperti tadi jadi kan kita sama sama enak," ucap mas Surya sambil tersenyum lebar. sepertinya mas Surya merasa terpuaskan oleh layanan ku. Andai mas Surya tau jika aku begitu karena membayangkan sosok laki laki lain yang menggauliku mungkin dia akan marah besar. Aku tau sebuah dosa jika membayangkan laki laki lain saat berhubungan badan dengan suami. Tapi, bukan keinginanku kenapa tiba tiba sosok Raihan hadir di pikiranku.
Aku keluar kamar meninggalkan mas Surya yang sudah tertidur dan berjalan cepat ke arah kamar dimana Zain tidur. Aku duduk di atas kasur lantai lalu menangis menenggelamkan wajahku diantara kedua lutut ku. Aku menangis setelah digauli oleh suami sah ku sendiri. Kenapa rasanya tubuhku tidak ikhlas digauli oleh mas Surya terlebih dia dalam keadaan mabuk. Dan kenapa aku membayangkan sosok Raihan? aku sungguh tidak mengerti.
Aku merebahkan tubuhku di samping Zain. dalam keadaan tidur meringkuk air mata ku masih saja mengalir deras tidak ada habisnya.
"Rai..Raihan..!" dalam isakan tangis aku bergumam menyebut nama Raihan. Entah kenapa pikiranku di penuhi oleh Raihan saat ini.
Entah berapa lama aku menangis hingga aku merasa lelah lalu tertidur sambil memeluk Zain. Terdengar suara adzan subuh berkumandang lalu aku mengejapkan mataku yang terasa lengket sekali. Selain karena air mata habis menangis semalam, aku hanya tidur dua jam malam ini. Aku memaksa menyeret kedua kakiku ke kamar mandi untuk mandi besar karena aku harus membersihkan tubuhku terlebih dahulu sebelum melaksanakan ibadah subuh.
Tepat pukul lima subuh aku mulai membuat adonan gorengan. Pagi ini aku harus jualan. Aku harus mencari uang untuk memenuhi kebutuhan kami sehari hari. Dari mana lagi aku mendapatkan uang kalau bukan dari jualan gorengan karena hasil jualan kerupuk pun tidak dapat di andalkan. Bukan tidak ada untungnya menjual kerupuk tetapi lebih pada tidak bisanya mengelola hasil keuntungan serta modalnya karena semuanya di kuasai oleh ibuku.
Dan sudah seminggu lebih ini aku tidak membuat kerupuk tidak pula mengedarkan ke warung warung. Rasanya malas sekali karena hasilnya hanya akan ibu berikan pada anak kesayangannya bukan untuk kebutuhan kami sehari hari. Kerap kali ibu protes kenapa aku tidak lagi membuat kerupuk dan aku beralasan bahwa tidak ada modal untuk membeli bahannya.
Aku mulai menggoreng tiga macam gorengan sambil sesekali menguap karena hanya tidur dua jam saja. Namun rasa kantuk aku tahan hingga selesai menggoreng.
"Alhamdulilah akhirnya kelar juga." Aku tersenyum senang melihat gorengan yang menumpuk di atas penampi dan sudah siap untuk di edarkan.
__ADS_1
Seperti biasa aku menggendong Zain dalam keadaan masih mengantuk. Kasihan sekali Zain yang harus ikut bersamaku mencari uang di pagi buta. Disaat orang orang masih nyenyak tidur namun Zain harus ikut aku berdagang. Aku tidak mungkin meninggalkan Zain di rumah meskipun ada ibu serta suamiku karena aku yakin mereka tidak akan pernah peduli pada Zain.
Sebelum aku berdagang ku sisakan gorengan terlebih dahulu untuk mas Surya serta ibu di sebuah piring. Walau bagaimana pun keadaanku, aku masih memikirkan perut mereka karena aku memiliki hati dan perasaan untuk selalu menyayangi orang tua serta suami meskipun mereka tak pernah berlaku baik terhadapku.
Ku langkahkan kakiku menyusuri jalanan dan mendatangi satu rumah ke rumah lainnya menawarkan dagangan ku. Pada saat aku istirahat sejenak di sebuah bangku kayu milik orang Raihan memanggilku. Aku menoleh ke arahnya yang sedang berjalan seperti habis lari pagi jika di lihat dari penampilannya.
"Mba Nuri jualan?" tanya Raihan padaku dan seketika aku menjadi gugup lalu menunduk.
Raihan tersenyum lalu merentangkan kedua tangannya hendak mengambil Zain dari gendonganku.
"Zain di gendong uncle saja ya, kasihan mamanya berat."
"Rai..tidak apa apa Rai, aku masih kuat kok." Aku menolak namun Raihan memaksa untuk menggendong Zain dan mau tak mau aku memberikan Zain pada Raihan.
Raihan menciumi Zain dengan gemas tanpa ada rasa jijik karena Zain belum aku mandikan. Zain tertawa geli di ciumi oleh Raihan. Aku memperhatikan interaksi antara Zain serta Raihan yang terlihat begitu akrab. Zain yang sudah tidak lagi canggung terhadap Raihan bahkan sering kali bersikap manja. Berbeda sekali sikap Zain pada papanya yang sering kali menjauh atau Zain lebih memilih bermain sendiri. karena semua itu berawal dari sikap mas Surya yang tidak pernah peduli pada Zain dan seolah olah menganggap Zain tak ada di hidupnya.
"Mba, aku mau bawa Zain ke rumah ku ya? mba Nuri jualan saja biar aku yang jaga Zain."
"Tidak usah Rai, aku tidak mau merepotkan kamu. Lagi pula kamu kan harus kuliah."
"Hari ini hari weekend mba, aku free."
"Tidak masalah mba, di rumahku banyak air. Aku bisa memandikannya di rumahku."
"Tapi...!"
"Tidak ada tapi tapi..! Oya aku mau gorengan nya mba, tolong bungkusin lima puluh ribu."
"Hah, banyak sekali Rai...buat siapa?"
"Untuk sarapanku dan ibu lah mba. mba tidak lihat badanku besar jadi aku butuh makan yang banyak. Lagi pula aku baru lari pagi jadi rasanya lapar sekali."
Aku tercengang mendengar alasan Raihan yang hendak membeli gorengan ku dalam jumlah yang banyak. Entah sekedar alasan atau hanya kasihan terhadapku Raihan kerap kali membantuku dengan membeli gorengan dalam jumlah yang banyak.
Apapun alasan Raihan ku terima dengan baik karena aku tidak ingin menolak rizki. Sambil tersenyum aku memasukan lima puluh gorengan ke dalam kantong plastik lalu memberikannya pada Raihan.
"Ini Rai...!" ku sodorkan kantong plastik berisi gorengan ke arah Raihan. Raihan tersenyum lalu memberikan uang seratus ribu padaku. Aku tidak langsung mengambilnya melainkan hanya menatapnya saja.
__ADS_1
"Ini uangnya mba!"
"Uangnya terlalu besar Rai, kenapa tidak uang pas saja aku belum ada kembaliannya."
"Kembaliannya untuk Zain saja mba."
"Rai..!"
"Aku memberikannya untuk Zain kok bukan untuk mba Nuri." Raihan meletak kan uang seratus ribu di tanganku secara paksa.
"Tolong di terima ya mba, untuk jajan Zain."
Aku tercengang melihat uang seratus ribu di tanganku. Raihan lagi lagi memberikan uang lebih untuk ku dengan alasan untuk jajan Zain. Jika ku pikir pikir Raihan memiliki banyak uang padahal dia seorang mahasiswa yang sudah pasti membutuhkan biaya banyak untuk kuliahnya. Tapi kenapa Raihan begitu royal padaku dan seolah olah dia tidak kesulitan masalah keuangan dan aku yakini uang yang dimiliki oleh Raihan bukan uang yang bersumber dari orang tuanya.
Seketika aku teringat Raihan pernah bilang pada Bu Rida bahwa dia kuliah sambil bekerja tapi Raihan bekerja apa? Apa bisa kuliah sambil kerja?
"Mba Nuri...!"
Aku tersentak dari lamunanku."Oh, ya Rai ..!"
"Aku bawa Zain pulang sekarang ya?"
"Iya Rai, maaf sudah merepotkan kamu."
"Sama sekali tidak, ayok sayang kita ke rumah uncle..Zain mau kan ke rumah uncle?"
"Mau uncle...!" jawab Zain dengan polos.
"Ya sudah mba, kami pulang dulu. mba Nuri yang semangat jualannya ya? semoga laris manis."
Aku tersenyum namun dalam hati mengamini doa Raihan.
Aku melanjutkan lagi berjualan keliling hingga dagangan ku habis tak tersisa. Aku mengucapkan rasa syukur karena dagangan ku laris manis pagi ini. Kemudian aku kembali pulang ke rumah dengan senyum yang mengembang di bibirku. Setelah tiba di rumah ku lihat suamiku sudah bangun.
"Dari mana saja kamu pagi pagi sudah kelayapan? apa kamu lupa di rumah ada suami yang harus kamu urus Nuri?" mas Surya mencecar pertanyaan padaku.
"Aku habis dagang gorengan keliling mas!" akhirnya aku berterus terang pada suamiku dengan harapan suamiku tersadar bahwa hidupku sangat sulit sehingga aku harus berjualan gorengan.
__ADS_1
"Apa? dagang gorengan keliling? kamu benar benar membuat aku malu Nuri, kamu merendahkan martabat ku sebagai suami yang baik di mata orang lain. di pikir orang aku tidak memberikan nafkah padamu sehingga kamu harus jualan keliling."
Aku tidak menyangka tanggapan mas Surya di luar dugaan ku. aku pikir mas Surya akan merasa iba padaku setelah tau aku jualan gorengan keliling namun nyatanya dia lebih mementingkan image yang baik serta gengsinya terhadap orang lain.