
Pukul satu dini hari diantara tertidur dan terjaga aku merasa ada seseorang yang menyelimuti tubuhku dengan selimut lalu mengusap kepalaku dengan lembut serta mengecup keningku. Telingaku samar samar mendengar suara bisikan"aku sayang kamu mba" seperti bermimpi tapi seperti nyata pula.
Aku membuka mataku sedikit yang terasa lengket sekali lalu aku seperti melihat Raihan sedang menciumi wajah Zain lalu menyelimutinya. Ku tutup kembali mataku karena tak tahan dengan rasa kantuk yang mendera.
Suara Adzan subuh berkumandang aku mengejapkan mataku lalu duduk di atas kasur. Dengan kesadaran yang masih tujuh puluh persen aku memaksa menyeret kedua kakiku untuk turun dari ranjang karena aku harus melaksanakan ibadah subuh terlebih dahulu. Namun ketika aku menginjak kan kakiku di atas lantai dan hendak berjalan aku tersandung sesuatu di bawah ranjang dan menyebabkan aku terjatuh lalu menindih tubuh seseorang. Aku terkejut sekali setelah melihat siapa orang yang aku tindih di bawah tubuhku. Ku dapati wajah Raihan yang sedang tidur dengan damai di sebuah karpet tebal. Pelan pelan aku bangun dari tubuh Raihan karena aku tidak ingin membangunkan nya. Tapi ketika aku hendak bangun Raihan meraih pinggangku lalu membawaku ke dalam pelukannya dengan posisi tidur miring. Tangan kekar Raihan memelukku dengan erat sehingga aku merasa kesusahan melepaskan diri dari tubuhnya. Ku tatap wajah tampan Raihan dalam keadaan terpejam. Apa Raihan sedang mengigau? pikirku.
Cukup lama aku berada dalam pelukan Raihan dan rasanya nyaman sekali berada di pelukannya. Namun aku tersadar ini merupakan kesalahan dan dosa yang tak boleh di lakukan. Aku mencoba menarik tangan kekar Raihan dari tubuhku namun sulit sekali melepaskan nya. Aku terdiam sejenak memikirkan bagaimana cara membangunkan Raihan. Ku cubiti lengannya dengan keras berharap dia kesakitan dan bangun namun hasilnya nihil Raihan sama sekali tidak terusik dengan cubitan ku. Kemudian ku tarik tarik hidung mancungnya tetap saja tidak mau bangun. Lalu ku tepuk tepuk pipinya sambil memanggil namanya tetap tidak bangun. Aku heran pada pria tampan yang sedang memeluk ku kenapa tidurnya seperti orang mati saja.
Ku pandangi wajah tampan Raihan dan sorot mataku terpusat pada bibir tipisnya yang sudah dua kali mencium ku. Rasanya tanganku gatal sekali ingin menyentuh bibir milik Raihan dan aku memberanikan diri untuk mengelus bibirnya dengan satu jari tanganku karena ku pikir Raihan tidak akan merasakannya.
Ketika aku sedang mengelus bibirnya dengan satu jari tanganku, tanpa di duga Raihan membuka mulutnya lalu me nge mut jari tanganku dengan keadaan mata terpejam. Aku membelalak kan mataku karena terkejut melihat ulah Raihan. Ku perhatikan mulut Raihan yang sedang me nge mut jari ku persis seperti bayi yang sedang ngempeng. Aku tertawa geli melihatnya. Kenapa Raihan yang memiliki fisik sempurna tidurnya seperti ini? pikirku.
Ketika aku sedang tertawa kecil melihat Raihan seperti bayi tiba tiba Raihan menghentikan aksinya dan melepaskan jariku dari mulutnya.
"Kamu sudah bangun Rai? tolong lepaskan tanganmu dari pinggangku aku mau ambil air wudhu Rai."
"Hmmm...jangan...pergi mba!" ucap Raihan dalam keadaan mata terpejam.
"Rai..kamu sadar tidak sih sama apa yang kamu lakukan saat ini?" aku berbicara dengan intonasi cukup tinggi hingga Raihan membuka matanya perlahan. Raihan nampak terkejut telah mendapati diriku berada dalam pelukannya. Raihan segera melepaskan tangannya dari tubuhku lalu terduduk.
"Kok mba Nuri bisa tidur bersamaku?" tanya Raihan seperti orang linglung. Benar dugaan ku bahwa Raihan mengigau. Lucu sekali dia.
"Aneh kamu Rai, kamu sendiri yang memeluk aku. Lagi pula kamu mah tidurnya aneh."
"Hah, aneh gimana maksudnya mba?"
"Panjang kalau di ceritakan dan tidak cukup satu bab." Aku berdiri lalu beranjak pergi ke kamar mandi meninggalkan Raihan yang masih bingung pada dirinya sendiri.
Setelah mengambil air wudhu aku bergegas ke luar kamar mandi namun aku di kejutkan oleh keberadaan Raihan di ambang pintu.
"Rai..kamu membuatku jantungan saja!" umpat ku kesal.
Raihan tersenyum nyengir sambil menggaruk tengkuknya.
"Maaf mba, aku juga mau ambil air wudhu. Apa mba Nuri mau sholat berjamaah denganku?"
Aku yang tadinya kesal berubah jadi kalem dan aku mengangguk menyetujui ajakan Raihan.
__ADS_1
Aku dan Raihan melaksanakan sholat subuh berjamaah. Lagi lagi aku merasa kagum pada sosok Raihan karena mau bangun subuh dan melaksanakan sholat. Tidak seperti suamiku yang selalu bangun siang dan tidak pernah melaksanakan sholat subuh.
Setelah melaksanakan sholat subuh ku lihat Raihan mengganti bajunya dengan kaos putih serta celana pendek hitam.
"kamu mau kemana Rai subuh begini?"
"Aku mau lari pagi mba, apa mba Nuri mau ikut?" Pantas saja Raihan memiliki tubuh atletis meskipun masih berusia dua puluh satu tahun sebab dia rajin berolah raga.
"Kalau aku ikut lari pagi bagaimana dengan Zain Rai?"
"Iya juga ya, ya sudah mba lanjut tidur lagi saja. Aku pergi dulu." Raihan keluar dari kamar akan berlari pagi sementara aku menarik selimut dan tidur kembali memeluk Zain.
Sinar matahari pagi menembus balik tirai jendela kaca kamar Raihan menyilaukan kedua mataku dan perlahan aku mengejap. Aku menoleh kearah samping kiri dimana semalam Zain tidur namun Zain tidak ada di tempat. Aku menoleh ke arah jarum jam yang menempel di dinding sudah menunjukan pukul setengah delapan pantas saja matahari nampak meninggi.
Suara gemericik air terdengar di kamar mandi dan aku meyakini Raihan lah yang sedang mandi. Namun aku kebingungan pada ketidak adaan Zain di kamar. Baru saja aku menurunkan kedua kakiku di atas lantai hendak mencari Zain tiba tiba pintu kamar mandi terbuka dan keluarlah sosok pria sempurna yang hanya memakai handuk sebatas lutut serta sebatas pinggang berjalan sambil menggendong Zain dalam keadaan sudah mandi. tanpa ada rasa malu Raihan berjalan di hadapanku lalu meletak kan Zain di atas kasur tepat di sampingku.
Aku mengendus harum tubuh Raihan yang begitu wangi bunga lili dan aku menyukainya. Selain itu, aku terpana pada tubuhnya yang begitu sempurna. Raihan tersenyum ke arahku.
"Kenapa memandangiku seperti itu mba? apa mba suka dengan tubuhku?"goda Raihan sambil tersenyum mesem. Aku segera mengalihkan pandanganku pada Zain yang sedang duduk dan belum memakai baju.
"Percaya diri sekali kamu Rai..!"ucapku namun pandanganku mengarah pada Zain karena aku tidak berani menatap Raihan.
"Kalau adik kecil ku terbangun mba Nuri harus tanggung jawab lho," ucap Raihan dengan santainya.
Raihan tidak langsung mengambil handuknya yang terjatuh melainkan berjalan ke arah lemarinya dalam keadaan polos. Raihan sama sekali tidak memiliki rasa malu terhadapku. dia cuek dan santai saja. Ketika aku membuka telapak tanganku karena ku pikir Raihan sudah memakai handuknya atau memakai baju aku kembali tercengang karena Raihan berdiri di hadapanku dalam keadaan polos tanpa pakaian di tubuhnya. Raihan berdiri membelakangi ku sambil mencari pakaian di lemari besarnya. Aku tidak sanggup melihat Raihan rasanya malu sekali aku pun berlari ke kamar mandi padahal Zain anak ku belum ku pakaikan baju ganti.
Di dalam kamar mandi aku menetralisir perasaanku yang campur aduk setelah melihat Raihan yang berpenampilan polos. Cukup lama aku di kamar mandi karena aku sekalian mandi pagi. Setelah mandi aku keluar dari kamar mandi dan ku dapati Raihan yang sudah rapih sedang memakaikan baju ganti pada Zain. Raihan menoleh ke arahku dan tersenyum hangat. Aku jadi gugup sekali pada Raihan setelah kejadian tadi.
"Mba Nuri sudah mandi?" tanya Raihan dan aku mengangguk tanpa bicara.
Raihan berdiri setelah selesai menggantikan baju baru untuk Zain. Kemudian dia berjalan ke arah lemari besarnya lalu mengambil sebuah paper bag.
"Ini untuk mba Nuri!"Raihan menyodorkan paper bag ke arahku. Aku tidak langsung mengambil paper bag di tangan Raihan melainkan menatapnya saja.
"Apa ini Rai?"
"Ini baju ganti buat mba."
__ADS_1
"Hah, kamu kapan membelikan ku baju ganti Rai?"aku heran pada Raihan kapan dia membelikan baju ganti untuk ku tiba tiba saja sudah ada.
"Dapat sulap mba..he he !"
"Kamu selalu saja begitu Rai."
"Sudah, ganti saja mba, setelah ini kita keluar cari sarapan."
"Rai, sepertinya aku pulang saja semoga mas Surya sudah kembali ke Jakarta."
"mba yakin?"
Aku mengangguk." lagi pula hari ini kamu ada kuliah kan ?"
"Iya sih. ya sudah kalau mba mau pulang biar aku antar sekalian aku pergi ke kampus."
Aku segera ke kamar mandi untuk mengganti bajuku. Aku memakai baju baru pemberian Raihan. Bajunya terlihat bagus dan sepertinya mahal. Raihan pandai sekali memilihkan baju untuk aku serta zain baju yang dibelikan nya selalu pas dan cocok. Aku keluar dari kamar mandi dan seketika Raihan memandangku tanpa kedip.
"Kenapa Rai melihatku seperti itu?"
"Mba terlihat cantik dan anggun."
Aku tersenyum padanya." Makasih ya Rai bajunya ! aku jadi banyak hutang sama kamu."
"Aku tidak akan menagih nya mba."
Aku tersenyum,"ya sudah kita pergi sekarang Rai."
"iya mba."
Kami keluar dari kamar Raihan lalu berjalan menuju teras rumah. Sambil menggendong Zain aku memasuki mobil lalu Raihan mulai melajukan mobilnya menuju rumahku. Setelah tiba di jalan depan rumahku raihan memberhentikan mobilnya. Aku menoleh ke arah rumahku dan aku melihat motor mas Surya masih ada di depan rumah. Aku terdiam dan aku dilema. Aku ingin pulang tapi masih ada mas Surya di rumah. Aku benar benar tidak ingin bertemu dengan mas Surya karena aku masih sakit hati padanya. Raihan memperhatikan kediamanku.
"Kalau mba merasa ragu untuk untuk pulang sekarang bagaimana kalau ikut saja denganku?"
Aku menoleh ke arah Raihan." tapi kamu mau kuliah Rai..!"
"Tidak masalah mba, aku hanya ada satu mata kuliah hari ini."
__ADS_1
Dengan terpaksa aku ikut Raihan saja ke kampusnya dari pada pulang dan bertemu mas Surya yang ada hanya akan bertengkar dan aku sangat malas sekali menghadapinya.