
Aku tersenyum mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Raihan bahwa apartemen mewah yang sedang ditempati olehnya saat ini adalah apartemen yang akan kami tempati setelah menikah.Ternyata Raihan sudah mempersiapkan segalanya termasuk tempat tinggal.
Disaat Raihan memeluk ku tiba tiba aku teringat pada Zain, sedang apa anak ku di luar sana yang entah dimana keberadaannya saat ini. Apakah Zain sudah makan? Apa penculik itu memberikan makanan yang layak untuk Zain? beberapa pertanyaan itu terlintas di pikiranku. Aku takut sekali Zain kelaparan di luar sana.
Tiba tiba air mata ku kembali mengalir deras membayangkan penderitaan anak ku yang entah dimana keberadaanya. Raihan menyadari aku menangis, kemudian membalik kan tubuh ku dan menatap wajahku yang sudah penuh dengan air mata.
"Kenapa mba, kenapa menangis?"
"Zain Rai, Zain. Aku takut sekali dia sedang ketakutan dan kelaparan di luar sana. Aku takut sekali penculik itu tidak memberi makan Zain."
Raihan menakup wajahku lalu menyeka air mataku yang terus mengalir dengan kedua ibu jari."Huuss, berpikirlah positif sayang, supaya yang mba takutkan tidak terjadi pada Zain di luar sana. Kita harus yakin Zain akan baik baik saja dan akan segera di temukan dalam keadaan sehat tanpa kekurangan suatu apapun. Kita harus yakin mba, ya?"Aku mengangguk pelan. Kemudian Raihan membawa wajahku ke dalam dekapannya. Mengelus pucuk kepala ku dengan lembut sekali sehingga aku merasa amat sangat nyaman.
Setelah merasa tenang, aku melepaskan diri dari dekapannya.
"Sekarang mba mandi dulu gih, bau asem sekali."Ledek Raihan, aku tau dia meledek ku agar aku tersenyum karena sepanjang hari muka ku menekuk. Namun aku justru tidak bisa tersenyum melainkan memajukan bibir bawahku.
"Jangan seperti itu dong mba bibirnya, aku jadi ingin me lu mat nya."Ucap nya di sertai tatapan menggoda.
"Jangan macam macam Rai, kalau tidak mau ku gigit lagi nanti bibir mu."Ancam ku. Aku jadi teringat saat dia mencium ku dengan paksa dan rakus ketika dalam keadaan marah lalu aku menggigitnya.
Raihan tertawa renyah."Aku rela di gigit mba lagi asal kan_" Belum sempat Raihan melanjutkan ucapan nya, aku melangkah pergi menjauhinya dengan percaya diri.
"Mba mau kemana?"tanya nya.
Seketika aku menghentikan gerakan langkahku lalu menoleh padanya."Mau mandi lah." Ucap ku penuh percaya diri.
"Apa mba pikir itu jalan menuju kamar mandi?" Aku memperhatikan ruangan berukuran kecil di hadapanku.
"Itu bukan kamar mandi melainkan gudang." Sambung Raihan kemudian. Ternyata aku salah tempat lalu berbalik dan kembali mendekatinya dengan rasa malu yang ku sembunyikan.
Raihan tersenyum melihat aku kembali lagi padanya kemudian menumpukan kedua tangannya di atas dadanya.
"Makanya nona, jangan nyelonong pergi begitu saja."Sindirnya.
Aku mendengus."Aku tidak akan pergi kalau kamu tidak bicara yang macam-macam."Ucap ku dengan wajah menekuk.
Raihan tertawa lalu meraih tanganku dan menarik pelan hingga kedua kakiku ikut melangkah bersamanya. Dia membawa ku ke dalam sebuah kamar cukup besar serta furniture yang terlihat modern dan keren.
"Kenapa kamu membawaku ke kamar Rai?"
"Memang nya kalau membawa pasangan ke dalam kamar itu mau ngapain?" tanya Raihan, lalu mengedipkan sebelah matanya.
"Ja...jangan macam-macam Rai, kita belum menikah."Aku menjadi gugup, aku takut sekali Raihan nekat dan berbuat lebih padaku.
__ADS_1
"Ha ha, mba itu lucu. Padahal aku tidak berpikir ke arah sana lho, malah justru mba yang selalu berpikir aku.."
"Rai, stop. Dimana letak kamar mandinya?" Aku memotong kalimat Raihan yang belum lengkap. Aku malu sekali, lagi lagi aku terjebak oleh pemikiran ku sendiri.
Raihan tersenyum melihat wajahku yang mungkin sedang terlihat seperti buah tomat mateng.
"Di sana tuan Puteri!" Tunjuk Raihan pada sebuah pintu yang terletak di pojokan.
Setelah Raihan memberitahu letak kamar mandi nya, aku beranjak begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih padanya.
"Mba!"
Raihan kembali memanggilku."Ada apa lagi Rai?"Tanyaku dengan sedikit kesal.
"Apa mba mau mandi tanpa membawa handuk dan pakaian ganti?"Dia balik bertanya.
"Aku tidak membawa handuk dan tak ada baju ganti lagi." Jawabku jujur.
"Siapa bilang tak ada handuk dan pakaian ganti?"Kemudian Raihan berjalan membuka salah satu lemari pakaian yang berukuran cukup besar. Nampak beberapa pakaian wanita tergantung rapih di dalam sana. Aku langsung berpikir apa Raihan sering membawa wanita atau membawa Nura kemari.
"Kemari!"panggil Raihan, namun aku tetap berdiam diri dan menatap deretan pakaian wanita itu dengan pikiranku sendiri.
Raihan menghela nafas besar."Sayang, kemari!" Raihan memanggilku kembali, suara nya di naik kan satu oktaf karena aku belum saja beranjak mendekatinya.
"Semua pakaian yang menggantung ini untuk mba."Kata Raihan.
Keningku mengernyit, lalu menyentuh deretan pakaian itu. Tercium khas baju baru dan terlihat label-label yang masih menempel sempurna di setiap masing-masing pakaian dengan berbagai model. Ternyata aku salah mengira, semua pakaian ini masih dalam keadaan baru dan itu artinya Raihan memang membelikan semua pakaian ini untuk ku bukan pakaian bekas ganti wanita lain yang sebelumnya ada di pikiranku.
Aku melirik raihan."Kamu memberikan semua pakaian ini untuk ku Rai?"Tanyaku dengan serius.
"Iya dong sayang."Raihan tersenyum.
Aku menghela nafas besar." Rai, kamu memberikan semua ini apa kamu masih menganggap aku ini tidak mampu membeli pakaian seperti dulu yang hanya menggunakan daster lusuh?"tanya ku dengan kesal. Terus terang aku cukup tersinggung atas apa yang Raihan berikan padaku. Andai dia membelikan nya hanya satu atau dua sebagai hadiah aku tidak masalah tapi ini dia tidak tanggung membelikan puluhan pakaian dengan berbagai model seolah olah aku ini tidak memiliki baju yang layak untuk di pakai seperti dulu.
"Bu...bukan, bukan seperti itu. Aku hanya ingin membuat mba senang saja." Raihan menyangkal.
"Senang, apa kamu pikir caramu ini membuat aku senang? Rai, aku tidak suka kamu memberikan sesuatu yang berlebihan padaku. Kamu sudah memberikan aku berlian, motor, ponsel belum lagi mainan untuk Zain, biaya pengobatan ku serta pengobatan bang Supri yang memakan hingga ratusan juta. Semua itu sudah lebih dari cukup Rai."
Raihan buru buru memegang lengan ku."Tolong jangan salah paham dulu mba, aku membelikan banyak pakaian ini bukan berarti menganggap mba tidak mampu beli tapi aku sengaja membelinya agar ketika mba sedang berada di sini tidak perlu lagi membawa baju ganti."
Aku terbengong mendengarnya. Lagi lagi aku salah sangka.
"Tapi...tidak harus sebanyak itu kali Rai, lagi pula aku kan tinggal disini hanya sebentar sampai Zain ketemu."
__ADS_1
"Ya sudah terserah mba saja." Setelah berucap Raihan keluar kamar dan aku bergegas pergi ke kamar mandi setelah mengambil pakaian ganti dan handuk baru terlebih dahulu.
Setelah selesai mandi dan rapih aku ke luar kamar mencari keberadaan Raihan. Setelah mencari nya ke segala penjuru dan tidak menemukannya, akhirnya aku menemukanya di balkon sedang berbicara dengan seseorang lewat telpon. Dan samar samar aku mendengar percakapannya.
"Aku ingin kalian menemukan anak ku secepatnya, bila perlu malam ini kalian harus menemukan nya."
"Tenang saja, aku akan membayar tiga kali lipat dengan harga kesepakatan sebelumnya jika kalian berhasil menemukan anak ku malam ini."
"Oke, okey aku tunggu kabar secepatnya."
Hening..
Ternyata Raihan tidak hanya mengandalkan bantuan polisi namun diam-diam dia berani membayar orang dengan harga mahal untuk menemukan Zain. Sebegitu sayangnya Raihan pada Zain, selain membayar orang dia juga mengaku Zain adalah anaknya pada orang lain padahal Zain bukan darah dagingnya. Aku sangat bersyukur Tuhan telah menyertakan Raihan dalam perjalanan hidupku, menyayangiku dengan tulus serta anak ku Zain. Selalu ada di setiap kesulitan yang menimpa ku dan aku tidak tau andai tidak ada Raihan di sisiku. Sementara Andre yang katanya mencintaiku sejak dari kecil saja tidak ada kabarnya bak ditelan bumi. Dan aku berharap Tuhan benar-benar menjodohkan aku dengannya bagaimana pun jalannya. Ya, aku mencintainya dan aku tidak ingin kehilangannya.
"Mba!" Dia menatap ke arahku setelah menyadari keberadaan ku yang sedang berdiri di ambang pintu akses menuju balkon apartemennya.
Tak membuang waktu, aku langsung menghambur ke pelukannya, mendekap erat tubuhnya dan menangis terharu. Selama ini hanya Raihan lah yang selalu menjadi sandaran hidup pelik yang aku jalani.
Raihan mengusap punggung ku dengan lembut dan bertanya.
"Mba kenapa? kenapa menangis, hem?"Sembari terus mengelus punggungku.
"Aku..aku mencintai mu Rai, aku sayang kamu!"Dalam tangisan aku mengungkap kan perasaan ku yang selalu aku tutupi dan baru kali ini aku mengungkapnya secara langsung dan aku tidak tau bagaimana ekskresi raihan.
Raihan melepaskan pelukan ku lalu menakup wajahku yang sudah banjir air mata.
"Mba, mba bilang apa tadi? coba katakan sekali lagi. Aku..aku kurang jelas mendengarnya tadi." Raihan bertanya dengan antusias sekali.
"Aku..aku mencintai mu Rai!" Ku ulang ucapan ku dan menyampingkan rasa malu ku telah mengakuinya secara langsung.
"Benar kah? Benar kah mba mencintaiku tulus dari hati mba, bukan karena terpaksa karena aku selalu memaksa mba untuk menerimaku." Raihan memastikan kembali tentang perasaanku, seolah olah dia belum sepenuhnya percaya atas pengakuan tentang perasanku padanya.
Aku mengangguk tanpa ada rasa ragu." Sebenarnya aku mencintaimu sudah dari dulu Rai, tapi....aku belum menyadarinya." Setelah mengaku aku menunduk kan wajah malu ku namun Raihan mengangkat dagu ku hingga aku dapat menatap wajah seriusnya.
"Mba serius sudah mencintaiku dari dulu? sejak aku masih memakai seragam abu abu?"
Aku mengangguk pelan.
"Jadi benar kata si brengsek itu kalau saat mba membuat Zain, mba membayangkan membuat nya dengan ku?"
Sebenarnya aku malu sekali untuk mengakuinya namun aku tidak ingin menutupinya lagi dari Raihan. Dengan menyampingkan rasa malu aku pun mengangguk.
Senyum merekah tersungging di bibirnya."Hoh, pantas saja. Emm, tidak apa apa Zain tumbuh bukan berasal dari benih ku yang penting Zain mirip dengan ku."
__ADS_1