Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
KFC & Pizza


__ADS_3

Aku meninggalkan hotel tanpa bintang itu dengan senyuman yang mengembang di bibirku. Ku biarkan mba yati di hajar habis habisan oleh istri laki laki tua itu dan sekarang aku membayangkan bagaimana bentuk rupa muka mba Yati setelah di hajar, muka yang selalu dia poles dengan make up tebal. Terdengar sadis memang, tapi bagaimana lagi karena dia pun salah telah menjadi seorang pelakor. Siapa yang tidak kesal melihat suami kita sendiri tidur dengan wanita lain? dan setiap seorang istri memiliki cara yang berbeda untuk melampiaskan kekesalannya pada seorang pelakor, ada yang main cantik ada pula yang langsung dengan kekerasan seperti wanita itu.


Tidak terasa hari semakin sore dan aku baru menyadari telah meninggalkan anak anak terlalu lama. Aku pun menambah kecepatan agar cepat sampai dan beruntungnya jalanan lancar tanpa ada kemacetan.


Tiba di rumah dan baru turun dari motor, anak anak berlarian ke arahku, terlihat mereka sudah rapih seperti nya sudah pada mandi.


"Mama dali mana?"tanya Zain, tangan mungilnya meraih sebelah tanganku dan aku langsung menggendongnya.


"Maaf ya sayang mama tinggalin lama, mama habis menemui mamanya kak fatan di rumah sakit."


"Wawa Nuri, mama ku mana?" tanya fatan, dia berdiri di ambang pintu.


"Mama sumi masih di rumah sakit jagain nenek. Makannya kakak fatan doain nenek agar cepat sembuh dan biar cepat kembali pulang okey?"fatan mengangguk. Kasihan dia nasibnya sama seperti Zain yang sama sama tidak di sayangi oleh ayah biologis mereka terlebih fatan yang tidak tau bagaimana bentuk rupa ayahnya.


Kemudian bang Supri muncul dan berdiri di ambang pintu lalu bertanya sembari mengelus pucuk kepala fatan hingga fatan mendongak tinggi melihat ke arah wajahnya.


"Kenapa kamu lama sekali Nur?"


Sambil berjalan mendekat padanya aku berbohong."tadi jalanan macet bang, maaf ya sudah jagain anak anak terlalu lama."Aku tidak akan memberitahu tentang mba Yati dulu karena melihat kondisi ku dan juga kondisi bang Supri sendiri. Apalagi bang Supri menyayangi istrinya dan aku takut dia tidak terima lalu down lagi. Jika bang Supri kembali down aku semakin repot nanti.


"Oh, bukan begitu Nuri, abang merasa tidak di repotkan sama anak anak. Tadi Abang hanya khawatir saja sama kamu karena tidak biasanya pergi lama."


Aku tersenyum mendengar ke khawatiran bang Supri padaku, aku jadi merasa benar benar memiliki seorang kakak dan di sayangi olehnya. Dan aku berharap rasa sayangnya padaku tidak hanya sebentar melainkan selamanya.


"Bang, apa anak anak sudah di mandikan ya?"


"Aku hanya memandikan Zain sama fatan saja, Ria dan Rio mandi sendiri."


"Ria dan Rio kan sudah besar bang, masa di mandiin sama Abang kan malu,"ucap Ria, aku dan bang Supri tertawa kecil mendengarnya.


"Tapi Nuri..."


"Kenapa bang?"


"Mereka belum pada makan nasi, soalnya Abang lihat di kulkas sudah tidak ada bahan makanan. Abang beliin roti saja tadi di warung jadi tadi siang mereka hanya makan Roti."


Aku tercengang mendengarnya, bagaimana bisa aku melupakan anak anak karena hanya ingin memergoki mba Yati. Aku memang belum belanja bahan makanan karena belum sempat dan niatnya setelah pulang dari rumah sakit aku akan belanja dan di luar rencana aku malah pulang sore hari.


"Ya ampun bang, maaf ya, aku memang belum sempat belanja makannya tadi pagi hanya bikin nasi goreng saja. Dan niatnya sih setelah pulang dari rumah sakit aku mau belanja tapi malah pulang kesorean."

__ADS_1


"Ya sudah Nuri tidak apa apa, toh anak anak juga terlihat tidak lapar." Bang Supri menenangkan aku.


"Tapi tetap saja bang, mereka belum makan nasi," kata ku, kemudian menurunkan Zain dari gendonganku. Aku tidak ingin membuang waktu kasihan anak anak pada belum makan. Aku berpikir untuk belanja sekarang juga mumpung belum maghrib.


Sebelum aku pergi ke warung yang letaknya di perbatasan dengan kampung sebelah, aku menitipkan Zain dan fatan pada Ria agar dia menjaga mereka dengan baik karena bang Supri sedang mandi.


Setelah tiba di warung aku segera memilih bahan makanan berupa lauk pauk dan sayur mayur. Selain itu aku juga membeli jajanan untuk anak anak. Ketika hendak pulang, aku berpapasan dengan Bu Rida. Seperti biasa dia selalu memasang wajah sinis jika bertemu denganku.


"Oh, masih belanja di warung to, kirain sudah pindah ke super market." Dia menyindirku namun tidak aku tanggapi selain malas aku juga buru buru. Perut anak anak jauh lebih penting daripada sekedar ngurusi mulut pedas Bu Rida. Aku pun bergegas pergi dan menaiki motor ku lalu melaju. Ku lirik dari kaca spion dia masih melihat ke arahku dengan sinis.


Tiba di rumah, aku di kejutkan oleh sebuah mobil mewah BMW X7 warna hitam sedang nongkrong di depan rumahku. Dalam hati aku bertanya mobil mahal siapa nongkrong di rumahku? mobil mewah yang baru pertama kali aku melihatnya.


Kemudian ada sepasang sepatu warna putih sedang diam di tempatnya. Siapa yang sedang bertamu pikirku. Aku melirik ke arah pintu dalam keadaan tertutup rapat dan aku tidak mendengar suara anak anak yang biasanya selalu ricuh di dalam. Aku heran kemana anak anak serta bang Supri.


Kemudian aku bergegas masuk setelah melepas sandal terlebih dahulu dan membawa beberapa kantong plastik di tanganku. Pintu tidak di kunci tapi di dalam rumah tidak ada anak anak. Aku mulai panik takut terjadi sesuatu aku pun berteriak.


"Bang Supri....Zain ..." tidak ada sahutan dan rumah dalam keadaan hening. Aku pun mencari mereka ke dapur tapi tidak ku temukan juga.


Aku semakin panik dan ketika dalam keadaan panik sosok tubuh tinggi besar memeluk ku serta menutup mataku dari belakang. Aku terkejut sekali hingga dadaku berdebar kencang karena aku takut sosok yang sedang memeluk serta menutup mataku saat ini adalah sosok genderuwo. Namun setelah aku mengendus wangi parfumnya, aku bisa menebak siapa pemilik wangi parfum ini."


"Raihan.."ucap ku.


Raihan tersenyum manis sekali, senyuman yang aku rindukan selama satu Minggu lebih ini, meskipun sebenarnya kami sering melakukan video call tapi rasanya berbeda.


"Kok, mba tau kalau aku yang menutup mata mba?"


"Tau dong," ucap ku, sembari meletak kan belanjaan ku di atas meja.


"Tau dari mana?"


"Dari mana lagi kalau bukan dari wangi parfum yang kamu guna......" aku segera menutup mulutku yang keceplosan. Aku tidak ingin dia beranggapan bahwa aku memperhatikannya selama ini bisa malu meskipun kenyataanya demikian.


Raihan tersenyum lebar."Senang nya aku di perhatikan sama mba,"ucap nya, ternyata Raihan lebih dulu mengerti dan aku jadi malu sekali padanya.


Di tengah aku mengobrol dengan Raihan aku mendengar suara gaduh anak anak dan ketika aku mengecek nya mereka sedang berada di kamar ku lalu berhamburan keluar sambil tertawa lepas. Aku geleng-geleng kepala saja melihat tingkah mereka.


"Siapa yang menyuruh kalian bersembunyi di kamar?"


"Uncle..."Dengan serempak mereka menunjuk pada Raihan. Ternyata mereka bekerja sama untuk mengerjai ku. Ku alihkan pandanganku ke arah Raihan dan menatapnya dengan kesal. Raihan tersenyum nyengir saja lalu mengusap usap pelipisnya.

__ADS_1


Kemudian aku kembali ke dapur untuk memasak. Kasihan anak anak belum makan dari siang. Aku segera mengeluarkan barang belanjaan yang hendak di masak, namun sebelum aku membuka semuanya telingaku mendengar Raihan berbicara dengan suara sedikit keras.


"Anak anak.....sini semuanya pada ngumpul. Uncle bawain makanan nih."


"Horeeee.." anak anak bersorak gembira.


Aku penasaran apa yang Raihan bawa untuk anak anak sehingga mereka terlihat senang sekali. Aku pun membiarkan bahan bahan yang hendak aku masak teronggok begitu saja di atas meja kemudian beranjak menghampiri mereka.


Nampak anak anak serta Raihan sedang berkumpul melingkar sambil makan bermacam macam makanan di hadapan mereka. Ada beberapa paket ayam KFC dan beberapa kotak pizza serta bermacam macam minuman segar.


Aku mengernyitkan dahi ku melihat mereka, aku heran kapan Raihan membelinya. Raihan menyadari keberadaan ku yang sedang berdiri di ambang pintu kemudian dia memanggilku.


"Sini sayang kita makan bersama anak anak.....kita, he he."


Aku tersenyum geli mendengarnya tapi meskipun begitu aku menuruti ajakannya. Selain makanannya terlihat menggiurkan aku juga merasa lapar sekali karena hanya makan tadi pagi saja sama seperti anak anak. Raihan memintaku duduk di sampingnya aku pun menurut. kemudian dia mendekatkan satu paket ayam KFC ukuran jumbo. Lagi lagi aku mengernyitkan dahi, apa dia pikir makan ku sebanyak ini.


"Untuk makan kita berdua mba. Ayok dimakan sayang,"kata Raihan. Namun aku menyenggol lengannya dengan siku ku.


"Aduh." Raihan mengaduh mungkin terasa sakit karena siku ku yang sedikit lancip.


"Kenapa sih sayang, sakit tau."Raihan protes.


"Jangan bicara berlebihan di depan anak anak Rai."


"Mereka tidak akan mengerti mba."


"Siapa bilang, mereka sudah besar besar lho."


"He he..ya sudah mba makan dulu gih."


Aku pun mulai menyuapkan ayam krispi beserta nasi kedalam mulutku. Raihan sendiri tidak ikut makan melainkan menyuapi Zain.


Ketika sedang enaknya menikmati makanan yang ada, aku teringat dimana keberadaan bang Supri yang tidak terlihat sejak tadi.


"Ria kalau bang Supri kemana?" tanya ku pada ria yang sedang menggigit ayam gorengnya dengan lahap.


"Tadi bang Supri sembunyi di kamarnya kak," jawabnya dengan mulut penuh makanan sehingga pipi kurusnya terlihat mengembung.


"Hah." Tak banyak tanya lagi aku bangkit dan beranjak ke kamar bang Supri. Kamar kosong yang dulu tidak berpenghuni sekarang menjadi kamarnya bang Supri.

__ADS_1


Setelah membuka pintu kamarnya ternyata bang Supri sedang mendekur. Dia tertidur di atas kasur busa yang tidak terlalu tebal. Kemudian ku tutup kembali pintu kamarnya, biarkan saja dia tidur dan tidak ikut makan bersama kami, nanti aku akan menyisakan makanan untuknya.


__ADS_2