
Ketika aku baru saja tiba di rumah setelah mengantar kerupuk ke setiap warung, ku dapati mas Surya sedang duduk di lantai teras. Sejenak aku terdiam dan bersamaan dengan itu mas Surya menyadari kedatanganku kemudian dia tersenyum ke arahku. Aku membalas senyumannya namun dalam hati aku bertanya kenapa bisa ada mas Surya di rumah? bukannya minggu kemarin dia baru pulang? wajar saja jika aku merasa heran karena biasanya mas Surya pulang ke rumah setiap satu atau dua bulan sekali.
Dengan perasaan heran aku berjalan mendekatinya kemudian menurunkan Zain di atas lantai tepat di sampingnya. Mas Surya meraih tangan mungil Zain sambil tersenyum dia menyapa," Zain sama mama habis dari mana?"Pandangan Zain mengarah pada mas Surya namun dia membisu. Mungkin Zain merasa heran pada sikap papanya sama hal nya yang di rasakan oleh ku kenapa tiba tiba mas surya menyapa Zain sambil tersenyum? karena biasanya mas Surya tidak pernah melakukan hal tersebut.
Tak ingin berlarut pada keheranan aku pun bertanya,"mas, tumben pulang cepat. Bukannya baru minggu kemarin kamu pulang? biasanya sebulan atau du..!"
"Apa kamu tidak senang jika aku pulang lebih cepat Nuri?" mas surya memotong perkataan ku serta balik bertanya dan aku segera menjawabnya," oh tidak mas, bukan seperti itu maksudnya." Aku segera menyanggahnya karena tidak ingin mas Surya salah paham dan mengira aku tidak senang jika dia pulang tidak seperti biasanya.
"Aku rindu saja sama kamu dan Zain makannya aku pulang. Mungkin mulai saat ini aku akan pulang satu minggu sekali kesini." Mas Surya memberikan alasan kepulangannya dan alasannya itu membuat aku sedikit membulatkan bola mataku. Mas Surya akan pulang satu minggu sekali? Jin baik apa yang sudah merasuki hatinya.
"Kamu tidak keberatan kan kalau aku pulang nya satu Minggu sekali?"sambungnya lagi.
"Owh, tidak mas, tidak sama sekali," jawabku dengan ragu. Aku ragu pada sikap mas Surya yang tiba tiba berubah hangat. Aku segera menggoyangkan kepalaku menghilangkan pikiran negatif yang ada di otak ku.
Kemudian pandanganku mengarah pada sebuah plastik hitam yang teronggok di atas lantai lalu aku mempertanyakan apa yang dia bawa itu." Mas apa yang kamu bawa itu?" Sambil menunjuk ke arah plastik hitam yang terletak di bawah pintu.
"Oh, itu mainannya Zain."Seketika wajah ku berubah jadi tercengang.
Mas Surya melepas sepatunya lalu mengambil plastik ukuran cukup besar dan membawanya mendekat padaku serta Zain kemudian membukanya. Beberapa detik kemudian nampak dua buah mobilan biasa dan berbeda model di dalamnya. Mas Surya mengeluarkan mobilan itu lalu memberikan pada Zain.
"Ini mobilan untuk Zain, maafin papa ya selama ini papa tidak pernah membelikan Zain mainan."
Zain memperhatikan raut wajah sesal mas Surya. Awalnya diam dan menatap saja namun beberapa detik kemudian Zain tersenyum lebar dan berucap," acih papa." Kemudian meraih dua mobilan itu.
Mas Surya manggut." Sama sama sayang!" kemudian membawa Zain ke dalam pelukannya. Aku meneteskan air mata melihat mas Surya memeluk Zain. Sebuah pelukan pertama bagi Zain dari seorang papa kandung yang selama ini belum pernah dia rasakan.
Setelah itu, kami beriringan masuk ke dalam rumah. Zain langsung memainkan mobilan yang telah dibawakan oleh mas Surya sementara dia sendiri masuk ke dalam kamar mungkin ingin istirahat.
Aku mengeluarkan bahan makanan mentah di dalam kulkas hendak memasak untuk makan siang kami. Terlihat ungkep ayam siap goreng, beberapa potong ikan serta beberapa jenis sayuran. Beruntung aku sudah berbelanja bahan makanan tadi pagi dan sekarang tak harus payah lagi mencarinya.
Ketika aku sedang menggoreng ayam yang telah ku ungkep sebelumnya, tiba tiba dua buah tangan melingkar di pinggangku dan aku tau siapa pemilik tangan ini kemudian aku pun berkata,"mas aku sedang memasak untuk makan kita, jangan sekarang ya?" Aku langsung berpikir ke arah mas Surya pasti menginginkan hak nya sebagai suami.
__ADS_1
Mas Surya tertawa renyah dan menjawab,"aku hanya ingin memeluk istriku yang cantik ini."
Aku tersenyum tipis kemudian mengangkat ayam yang telah di goreng menggunakan serokan. Setelah itu, menaburkannya di atas piring.
"Mas, tolong lepaskan dulu tangannya aku mau menyimpan goreng ayam ini di meja makan," ucapku sembari memegang sepiring ayam goreng. Mas Surya menurut, dia melepaskan tangannya dari lingkaran pinggang ramping ku. Kemudian aku berjalan mendekati meja makan lalu meletak kan piring berisi ayam di atas meja bersama dengan beberapa menu lainnya.
Tiba tiba mas Surya memeluk ku kembali dari arah belakang. Sambil memegang kedua tangannya yang melingkar aku mengajaknya untuk makan bersama."Kita makan dulu yuk mas, kamu pasti lapar kan?"
"Sebentar sayang, aku masih ingin memeluk mu." Mas Surya menolaknya dan semakin mengeratkan lingkaran lengannya di pinggangku. Kemudian aku berbalik mengarah padanya. Karena tinggi tubuh mas Surya hanya tiga senti di atas ku maka aku tak harus mendongak melihat wajahnya.
Aku menatap lekat kedua sorot mata mas Surya ingin mencari tahu apakah ada ketulusan atas apa yang dia lakukan padaku akhir akhir ini atau hanya sekedar pura pura baik saja.
"Kenapa melihat ku seperti itu sayang? apa kamu heran dengan sikapku ini?"tanya nya. Ternyata mas Surya menyadari keheranan ku padanya.
"Aku ingin berubah jadi suami dan papa yang baik untuk kalian mulai saat ini," sambung nya lagi.
Aku tersenyum mendengarnya. Semoga saja apa yang di ucapkan nya itu benar dari hatinya dan bukan sekedar ucapan di bibirnya saja. Aku sendiri tidak ingin melakukan sebuah perceraian karena perceraian itu di benci oleh Allah. Jika Allah mentakdirkan mas Surya adalah pasangan hidupku hingga akhir hayat, aku ikhlas, apalagi sekarang mas Surya telah menunjukan sikap baiknya padaku.
Bersamaan dengan senyuman yang aku berikan padanya, mas Surya tiba tiba mencium bibirku. Awalnya aku diam, namun aku berpikir mungkin saatnya aku harus benar benar ikhlas lahir dan bathin menerima mas Surya sebagai suamiku. Kemudian aku membalas ciumannya, kami saling memagut hingga merasa kehabisan nafas lalu melepaskan pagutan kami.
Mas Surya membelai sebelah pipiku dan berucap," aku sayang kamu Nuri, maaf kan sikap kasar ku padamu selama ini." Kemudian memeluk ku.
Hatiku menghangat, istri mana yang tidak senang melihat perubahan sikap lebih baik suaminya sekaligus mendapat perlakuan lembut dari suaminya termasuk aku. Andai saja mas Surya memperlakukan aku dengan kebaikan serta kelembutannya padaku di awal pernikahan kami mungkin aku benar benar akan jatuh cinta padanya dan aku benar benar ikhlas tanpa melihat kekurangannya.
"Mas, sudah dulu pelukannya kita makan dulu yuk aku sudah lapar banget ini."
Mas Surya melepaskan pelukannya lalu tersenyum dan mengangguk. Aku melayani mas Surya makan dengan baik. Mengisi piringnya dengan nasi, ayam goreng, capcay dan sambal. Semenjak aku memiliki penghasilan yang cukup lumayan aku tidak lagi makan dengan sambal cabai, Zain tidak lagi ku beri makan nasi dan kecap melainkan makanan yang memiliki nilai gizi.
Mas Surya makan dengan lahap namun sesekali dia melirik ke arah ku dan memberikan senyuman hangatnya. Aku pun selalu membalas senyumannya disaat dia tersenyum padaku.
"Nuri kita jalan jalan yuk?" ajak mas Surya ketika aku baru saja selesai menyuapi Zain.
__ADS_1
Aku melirik ke arahnya nampak mas Surya sudah terlihat rapih menggunakan celana berbahan levis dan kaos lengan pendek."mau Jalan jalan Kemana mas?" tanya ku kemudian.
"Kemana saja terserah mu Nuri!"
Ku alihkan pandangan ke arah Zain dan bertanya,"apa Zain mau jalan jalan sama papa?" Zain mengangguk sambil tersenyum lebar.
"Iya mas, sebentar ya aku ganti baju dulu," ucap ku kemudian.
Beberapa menit kemudian, aku sudah rapih dengan penampilanku yang kasual. Setelan panjang berbahan lembut berwarna navy. Pakaian yang telah di belikan oleh Raihan saat aku menginap di rumahnya beberapa waktu yang lalu. Tidak lupa pula aku memoleskan sedikit make up di wajahku agar tidak terlihat kucel.
Aku ke luar rumah sambil menuntun Zain dan menghampiri mas Surya yang sedang mengecek motornya.
"Mas, kami sudah siap!"ucap ku di belakangnya. Mas Surya berbalik dia memandangku dengan raut wajah tercengang melihat penampilanku.
"Kamu....cantik sekali sayang!"puji mas Surya. Mungkin dia baru sadar kalau istri nya ini cantik jika memakai pakaian baru serta berdandan. Selama ini mas Surya hanya melihatku memakai daster lusuh, wajah kucel serta rambut di kuncir asal, sesuai dengan nafkah yang dia berikan padaku.
Mas Surya mengajak kami ke sebuah taman rekreasi. Tempat dimana dulu aku sering mengunjunginya ketika belum menikah bersama teman teman kerja ku. Namun setelah menikah baru kali ini berkunjung kembali.
Dua jam cukup membuat Zain senang serta puas bermain di taman rekreasi tersebut. Kemudian mas Surya mengajak kami makan di sebuah rumah makan lesehan. Dia menyuruhku untuk memesan makanan apa saja yang ingin aku makan namun aku hanya memesan nasi plus ayam bakar dan sup ayam untuk Zain.
"Nuri, kenapa pesannya hanya ayam bakar saja? apa kamu tidak ingin memakan yang lain. Ini menunya enak enak lho!"
"Tidak mas, ayam bakar saja sudah cukup. Aku takut kalau pesan banyak menu takut tidak habis kan sayang," jawab ku.
Mas Surya tersenyum lalu mengelus kepalaku pelan. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini, aku tidak tau.
Hari menjelang sore kami memutuskan untuk pulang ke rumah apalagi melihat Zain sudah kelelahan. Tiba di rumah aku segera memandikan Zain dan selanjutnya membersihkan tubuhku sendiri yang terasa lengket oleh keringat.
Ku lirik mas Surya yang sedang memainkan ponselnya sembari duduk di atas sofa ruang tamu kemudian aku mendekatinya dan berjalan pelan. Dia mendongak menyadari kedatanganku mungkin mengendus wangi shampo yang menguar dari rambut basah ku.
Sambil tersenyum dia berucap," wangi sekali sayang, bikin mas bernafsu saja."
__ADS_1