
Cukup lama kami mengobrol dengan para wanita itu hingga akhirnya mereka memberitahu dimana letak rumah nya.
Kami pun melanjut kan langkah kami hingga tiba di sebuah rumah kecil yang cat nya sudah nampak pudar dan berlantai dua serta kiri kanan berdempetan dengan rumah tetangga lainnya.
"Permisi, permisi?" Raihan memanggil pemilik rumah yang nampak sepi dan pintu tertutup rapat.
"Permisi, permisi?" Raihan memanggil ulang tapi belum ada jawaban.
Tak lama kemudian kami mendengar seperti suara dua orang tengah bertengkar bahkan suara perabotan pun ikut bersahut sahutan di di dalam rumah itu.
"Kenapa sih si nenek tidak di bunuh atau di buang saja. Cuma nyusahin hidup kita saja Bu. Aku malu punya nenek seperti dia. Orang-orang pada ngolok ngolok aku. Aku malu Bu." Terdengar suara gadis remaja sedang bicara cukup lantang hingga terdengar cukup jelas di telinga kami.
"Kamu itu dasar anak tidak tau diri. Gitu gitu juga dia itu ibu ku. Ibu yang pernah menghidupi kita, menghidupi kamu. Apa pernah bapak mu itu ngasih duit ke kamu untuk ngebiayain hidup kamu. Tidak pernah kan."
"Tapi sudah bertahun tahun dia sudah nyusahin hidup kita Bu, kenapa sih dia harus sakit kayak gitu. Kenapa tidak sekalian saja dia mati."
"Diam kamu!" Bentak seorang wanita yang dari suaranya seperti wanita dewasa atau suara seseorang yang sudah berumur.
"Baik, kalau ibu tetap mengurus dia di rumah ini aku akan pergi dari rumah ini."
Brakk
Treng
Brakk
"Lina..Lina!"
Tiba tiba pintu itu di buka secara paksa oleh si pemilik rumah dan seketika itu pula dia langsung memancarkan muka terkejut melihat kehadiran kami di depan rumah nya. Begitu pula denganku cukup terkejut melihat wanita itu yang tak lain adalah wanita yang terpesona pada Raihan saat di gardu tadi.
"Lina, kamu tidak boleh pe......"
Tiba tiba suara wanita yang berbicara pada gadis muda yang sedang berdiri di ambang pintu dengan tatapan tercengang itu menggantung setelah menyadari keberadaan kami.
Kemudian wanita itu menelisik kami." Ka..kalian siapa?" Tanya wanita yang rambutnya sudah di tumbuhi uban.
"Permisi Bu, mohon maaf sebelumnya jika kedatangan kami mengganggu ibu dan mba."
"A.. ada perlu apa?"
"Saya ingin menanyakan apa benar rumah ini rumah ibu Suryati yang dulu pernah bekerja di rumah sakit Sucipto Mangunkusumo Jakarta sebagai perawat?"
Kening wanita itu mengkerut." Benar, ibu saya pernah bekerja di sana saat saya masih remaja."
Aku tersenyum, begitu pula dengan kak Bayu dan Raihan.
__ADS_1
"Jadi benar ini rumah ibu Suryati yang pernah kerja di rumah sakit Sucipto?" Raihan bertanya ulang.
"Iya, benar. Memang nya ada perlu apa dengan ibu saya?"
"Apa kami boleh bertemu dengan beliau Bu? ada suatu hal yang ingin kami tanyakan padanya dan sangat penting."
Ibu itu terdiam begitu pula dengan gadis remaja itu.
"Bu, tolong Bu! kami ingin bertemu dengan beliau." Dokter Bayu memohon.
"Tapi...ibu saya tidak bisa bicara mas. Bergerak pun tidak bisa. Ibu saya sedang sakit."
Kami terdiam dan saling pandang. Kemudian aku bertanya pada nya."Apa kami boleh melihat nya Bu?"Aku pikir meskipun tidak bisa di ajak bicara setidaknya aku ingin melihat wanita itu.
Ibu itu masih terdiam namun tak lama kemudian dia mengangguk membolehkan kami melihat mantan perawat itu.
Kami tersenyum.
Dua wanita itu menyingkir dari pintu rumahnya agar kami bisa memasuki rumah kecil itu. Aku lebih dulu masuk lalu Raihan mengekor dan kak Bayu di belakang Raihan.
Setelah berada di dalam rumah itu aku tercengang melihat keadaan rumahnya yang sangat acak acakan. Barang perabotan berserakan dimana mana. Mungkin itu bekas jejak pertengkaran antara anak dan ibu tadi.
"Ibu saya ada di atas." Ucapan wanita itu mengalihkan perhatian ku.
"Sayang, jangan naik." Raihan mencegahku yang sudah menginjak kan kaki di tangga.
Aku menoleh ke belakang." Kenapa?"
"Aku takut tangga nya roboh."
Aku terdiam.
"Tidak apa apa kok. Asal naik nya satu persatu," kata pemilik rumah yang sudah lebih dulu berada di atas.
"Tapi..."
Aku menggeleng. Aku tidak suka dengan perkataan Raihan yang seolah olah merendahkan meskipun aku tau bukan maksud Raihan seperti itu. Dia hanya lebih protektif padaku agar aku tidak celaka. Tapi tetap saja perkataan Raihan bisa menimbulkan kesalahpahaman pemilik rumah tersebut.
Kemudian aku melanjutkan menaiki anak tangga dengan hati hati. Dari bawah Raihan menatap siaga untuk menangkap sewaktu waktu aku terjatuh. Hingga akhirnya aku sudah berada di lantai atas yang terbuat dari lantai papan. Setelah itu, Raihan dan kak Bayu menyusul ku.
Pemilik rumah membawa kami ke sebuah kamar kecil, penerangan remang, bau apek nyaris bau busuk hingga Raihan dan kak Bayu menutup hidung mereka. Sementara aku sendiri meskipun rasa nya mual dan ingin muntah tapi aku berusaha menahan nya karena aku ingin menghargai pemilik rumah.
"Itu ibu saya." Ibu itu menunjuk ke bawah. Aku yang sejak datang belum melihat kebawah langsung menunduk. Di bawah cahaya remang, di atas kasur tipis tergeletak sosok tubuh tinggal tulang, rambut penuh uban, muka pucat persis seperti mayat hidup sedang memejamkan matanya dan nafas tersengal sengal seperti orang yang sedang sakaratul maut.
"Astaghfiruallah hal adzim." Aku cukup terkejut melihatnya begitu pula dengan Raihan dan kak Bayu yang tak kalah terkejut dengan ku.
__ADS_1
Namun entah mengapa aku tidak memiliki rasa kasihan pada wanita renta itu melainkan timbul rasa kebencian ku padanya. Padahal wanita itu sudah sangat tidak berdaya tapi aku malah membencinya. Aku mengusap wajahku dan beristighfar agar setan tidak menguasai hatiku lalu mengeluarkan kata kata yang dapat menyakiti pemilik rumah maupun wanita renta itu.
"Sayang, sudah yuk keluar." Raihan mengajak aku keluar mungkin dia sudah tidak tahan dengan baunya.
Aku melirik Raihan, dia mengangguk angguk kan kepalanya sambil menutup hidung. Namun, aku tidak menghiraukan ajakan nya melainkan mengalihkan pandangan ku pada wanita tua itu lagi lalu melangkah mendekati nya.
"Apa ibu ingat dulu pernah membantu wanita melahirkan dan di saat itu pula wanita itu meninggal?"
Wanita yang tinggal tulang itu langsung membuka matanya dan menatap padaku. Aku terkejut melihatnya yang seperti mayat lalu bangkit kembali bahkan aku sempat mundur satu langkah saking terkejut. Begitu pula dengan ibu pemilik rumah, Raihan serta kak Bayu yang tidak kalah terkejut.
Mata cekung nya terus menatap ku dan mulutnya mengerang seperti bicara sesuatu namun aku tidak mengerti. Namun tak lama kemudian dia tersengal sengal kembali dan matanya melotot persis seperti ketika malaikat maut sedang mencabut nyawa manusia.
"Percuma di ajak bicara mba. Ibu saya tidak akan merespon."
"Apa dia selalu seperti itu?" Tanya Raihan.
"Iya."
"Sejak kapan?"
"Dari sejak lima tahun yang lalu."
"Apa tidak di bawa ke rumah sakit untuk di obati?"
"Sudah, tapi tidak ada satu pun dokter yang mampu mengobatinya karena penyakitnya tidak terdeteksi."
Aku dan Raihan saling pandang.
"Apa ibu itu masih bisa menerima asupan makanan?" Tanya dokter Bayu.
Pemilik rumah itu menggeleng." Saya sudah satu tahun tidak memberinya makan bahkan saya tidak pernah membersihkan nya. Makanya saya menyimpan nya di sini karena saya malu pada orang orang jika ada yang berkunjung ke rumah saya.
"Satu tahun tidak di beri makan tapi masih hidup."
"Saya juga heran mas, punya kesalahan apa ibu saya hingga mati nya pun sangat sulit."
"Apa tidak di bawa ke orang pintar?" Tanya dokter Bayu.
"Sudah, saya pernah membawanya ke seorang kyai dan kyai itu bilang ibu tidak akan mati kalau belum mendapat pengampunan dari seseorang. Tapi saya tidak tau pengampunan pada siapa karena saya tidak tau apa kesalahan ibu saya."
Uwek
Uwek
Aku membekap mulutku lalu berlari menuruni anak tangga hendak membuang isi perutku yang sudah tidak kuat menahan rasa mual.
__ADS_1