Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Berita Surya dan Ipah


__ADS_3

Raihan melajukan mobilnya menuju apartemen yang terletak di Jakarta pusat. Aku menoleh ke belakang ternyata Zain tertidur di pangkuan pak Bagas. Pantas saja aku tidak mendengar celotehan nya sejak dari tadi ternyata dia sedang tidur pulas.


"Pak, biar saya saja yang pangku, Zain." Aku menawarkan diri untuk memangkunya, karena rasanya tidak enak hati melihat pak Bagas yang bukan siapa siapa Zain memangku nya sambil tidur.


"Tidak apa apa Nuri, biar saya saja. Lagi pula kamu sedang sakit nanti pegal kalau mangku Zain." Pak Bagas menolaknya.


Raihan melirik ku." Biar kan saja sayang, lebih baik kamu tiduran saja." Usul Raihan.


"Apa yang di katakan Raihan benar Nuri. Lebih baik kamu tidur saja." Pak Bagas menyetujui usulan Raihan.


Mau tidak mau aku pun menuruti usulan kedua pria yang perhatian sekali padaku. Aku mencoba memejamkan mata ku namun bukannya tertidur malah pikiranku teringat pada saat di pemakaman tadi. Aku teringat pada nama yang tertera di batu nisan makan paling kecil yang katanya Puteri kedua pak Bagas. Kenapa nama nya sama persis dengan namaku hanya namaku tidak ada nama tambahan orang tua di belakangnya. Kemudian aku juga teringat pada wanita yang ku lihat di bawah pohon beringin dan ketika aku hendak pulang dan seolah olah apa yang aku lihat itu benar benar nyata. Selain dua itu banyak hal lain yang aku ingat saat di pemakaman tadi namun dua hal ini saja yang paling mengusik pikiran ku.


"Sayang, kita sudah sampai."


Raihan membuyarkan lamunan ku. Aku yang sepanjang jalan termenung tanpa terasa mobil Raihan sudah terparkir cantik di basemen apartemennya.


Aku menoleh ke belakang ternyata pak Bagas sudah turun lebih dulu sambil menggendong Zain. Kemudian Raihan membukakan pintu mobil lalu aku pun turun.


"Aku gendong kamu ya?" Raihan menawarkan diri untuk menggendongku namun aku segera menggeleng menolaknya. Aku rasa aku sudah benar-benar sembuh dan tidak perlu di angkat-angkat lagi seperti pertama kali aku sakit.


"Beneran tidak mau di gendong?" Ucap ulang Raihan.


"Rai, daripada kamu nawari aku terus lebih baik kamu gendong Zain saja, kasihan pak Bagas dari tadi gendong Zain terus."


Raihan menoleh pada pak Bagas yang sedang berdiri melihat ke arah kami sembari menggendong Zain dengan posisi wajah Zain di letak kan di bahunya. Lalu dia menggaruk tengkuknya dan tersenyum nyengir pada pak Bagas.


"Maaf ya pak! sini biar saya yang gendong Zain karena mama nya tidak mau di gendong sama saya." Raihan melangkah mendekati pak Bagas lalu mengambil alih Zain.


"Padahal tidak apa apa, Rai."


"Tidak apa apa pak, biar saya saja. Lagi pula tempat tinggal saya masih jauh sekali."


"Kamu serius, Rai?"Tanya pak Bagas dengan raut wajah serius.


"Benar, pak."


"Memang di mana?"


"Di atas gedung ini. Di lantai tiga puluh lima."


Pak Bagas menyipitkan kedua matanya." Terus kenapa kamu sebut jauh?"


"Ya jauh lah pak, kan di lantai tiga puluh lima."


"Apa naiknya pakai tangga?"


"Kalau bapak mau hehe."


"Rai, kamu kok seneng sih ngerjai orang tua." Aku protes.


"Iya nih, masa saya harus naik tangga ke lantai tiga puluh lima. Jangan kan lantai tiga puluh lima naik ke lantai dua saja saya nyerah."


Raihan tertawa renyah." Maaf pak, saya hanya becanda. Kita naik lif kok, itu lif nya." Tunjuk Raihan pada dua buah pintu lif dari basemen langsung ke atas tanpa harus ke lobby terlebih dahulu.


"Mari pak." Ajak Raihan. Aku dan pak Bagas pun mengekor di belakang Raihan memasuki lif yang akan membawa tubuh kami hingga depan pintu apartemen Raihan.


Setelah tiba di depan pintu apartemennya Raihan menempelkan sebuah kartu pada sensor ukuran kecil yang terdapat pada gagang pintu lalu kunci pun terbuka.


"Silahkan masuk pak Bagas, maaf acak acakan." Kata Raihan.


"Wow, keren sekali tempat tinggal mu, Rai." puji pak Bagas. Sembari pandanganya mengedar ke segala sudut ruangan.


"Biasa saja pak, lebih wow rumah mewah bapak."


"Ha ha ha. Tapi saya serius lho Rai, apartemen mu ini cukup mewah. Emm, apa Nura pernah main kemari?" Tanya pak Bagas pelan. Mungkin dia takut aku dengar. Aku yang sedang berdiri di samping meja makan tentu saja mendengarnya dengan jelas.


Raihan melirik ke arah ku aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah lain. Pak bagas mengikuti arah pandang Raihan." Oh, maaf nak Nuri, bukan maksud saya untuk.."


"Tidak apa apa pak." Aku menyela dan tersenyum padanya.


"Saya tidak pernah membawa laki laki atau perempuan kesini selain ibu saya dan....." Raihan melihatku." Calon ibu dari anak anak saya yang cantik itu, pak." Aku menunduk malu sembari tersenyum tipis dan mungkin mereka tidak melihat senyumanku.

__ADS_1


"Hoh, ha ha." Pak Bagas tertawa lepas seolah olah ucapan Raihan itu lucu. Padahal gombalan nya cukup membuat aku malu pada pak Bagas.


"Berarti saya laki laki pertama yang kamu bawa dong, Rai."


"Bukan pak, tapi yang kedua."


"Kok yang kedua bukannya tadi kamu bilang belum ada laki laki yang datang kemari?"


"Saya lupa sama Zain pak, hehe."


"Hahaha." Pak Bagas tertawa lepas. Aku pun ikut tertawa namun ku tutupi dengan mulut ku.


"Kamu bisa saja Rai."


"Emm, pak Bagas mau minum apa?" Aku mengalihkan obrolan.


Pak Bagas menoleh padaku."Tidak usah repot repot Nuri, saya tidak haus."


"Meskipun tidak haus tapi pak Bagas adalah tamu, jadi seorang tamu harus di Jamu."


"Benar kata Nuri. Sebentar ya saya mau menidurkan Zain dulu di kamar." Raihan melangkah ke arah kamar ku dan Zain.


"Silahkan duduk dulu pak, saya buatkan minuman yang segar."


"Sayang, biar aku saja yang membuat kan nya. Kamu istirahat saja di kamar sekalian temani Zain." Raihan mencegah sembari berjalan ke arah ku. Cepat sekali dia kembali padahal baru hitungan detik. Apa mungkin Raihan melangkah dengan sekali langkah dua meter.


"Raihan benar Nuri. Lebih baik kamu istirahat saja. Biar Raihan yang membuatkan minuman untuk saya." Pak Bagas menyetujui usulan Raihan.


Lagi lagi aku menuruti keinginan dua pria yang peduli padaku. Aku pun masuk ke dalam kamar lalu merebahkan tubuhku di samping Zain. Aku menatap langit langit dengan pikiran menerawang kemana mana salah satunya memikirkan tentang kuburan kecil yang namanya sama dengan namaku. Aku sendiri heran kenapa aku selalu teringat pada makam itu. Namun lama lama mataku benar benar terpejam lalu pikiranku beralih ke alam bawah sadar.


Mataku terjaga setelah tidur dalam waktu yang cukup lama. Aku menoleh ke samping dimana Zain tidur tapi ternyata dia sudah tidak ada di kasur. Kemudian aku duduk dan meregangkan otot otot ku yang terasa kaku. Sakit satu Minggu membuat aku tidak bisa tidur nyenyak hampir sepanjang malam dan siang ini aku benar benar bisa tidur nyenyak karena selain tubuhku sudah mulai fit aku tidur di atas ranjang yang empuk dan luas meskipun ranjang di rumah sakit empuk tapi tetap saja masih enak tidur di sini.


Setelah otot otot ku mengendur, aku menurunkan kedua kaki ku ke atas lantai lalu berjalan ke luar kamar. Ekor mataku mengitari sudut ruangan tapi tidak menemukan satu orang pun.


"Raihan, Zain, pak Bagas!" Berulang kali aku memanggil nama mereka namun tidak ada yang menjawab satu pun darimana mereka.


"Sedang kemana mereka semua? Apa pak Bagas sudah pulang dan raihan sedang tidur di kamar nya bersama Zain?"


"Kalau mereka tidak ada di kamar lantas kemana Raihan dan Zain?"Monolog ku.


Ketika aku sedang memikirkan dua orang yang aku sayangi itu, tiba tiba pintu terbuka lalu muncul raihan sedang menggendong Zain sembari menenteng sebuah kantong kain berukuran besar yang nampak penuh dengan barang belanjaan.


Raihan tersenyum melihatku yang sedang berdiri mematung memperhatikannya."Sudah bangun sayang!" ucap nya.


"Kalian darimana, Rai?"


"Dari carefour sayang." Jawab raihan lalu meletak kan barang belanjaannya di atas meja makan.


"Oh."


"Zain turun dulu ya nak, papa mau masak."


"Iya papa." Kemudian Raihan meletak kan Zain di atas sofa aku pun ikut duduk di atas sofa." Setelah Raihan meletak kan Zain dia berjalan ke arah dapur.


"Zain dari mana, nak?"Tanya ku pada Zain.


"Abis naik loli." Jawab nya.


"Naik loli? apa itu loli?"


"Loli mama loli."


"Naik troli sayang." Tiba tiba Raihan memperjelas ucapan Zain.


Aku menoleh pada Raihan yang sedang mengeluarkan kan barang barang hasil belanja nya.


"Naik troli dimana, Rai?"


"Di supermarket."


"Hah!"

__ADS_1


"Troli untuk belanja sayang maksudnya. Tadi Zain senang banget ku masuk kan ke dalam troli lalu di dorong dorong sambil belanja."


Aku tersenyum lebar pada Zain yang menurutku sangat lucu dan menggemaskan di usia nya.


Dari sofa aku memperhatikan kecekatan Raihan memasak. Aku tidak tau apa yang sedang dia masak dan terserah dia mau memasak apa karena Raihan sendiri melarang aku menyentuh dapur.


Raihan membuka apron nya lalu berjalan ke arah kami." Apa sudah selesai masaknya, Rai?"


"Apa kamu sudah lapar sayang?"


"Tidak, aku hanya bertanya."


Raihan tersenyum."Belum, aku mau memandikan Zain dulu. Nanti aku lanjutkan lagi setelah Zain mandi."


"Biar aku saja yang memandikan Zain, Rai."


"Jangan dong, kamu masih dalam proses pemulihan jangan capek-capek."


"Hanya memandikan saja mana capek."


"Sudah, kamu diam saja di sini." Kemudian Raihan mengangkat tubuh Zain lalu membawa ke kamar. Sementara aku bisa apa ketika pria protektif itu melarang selain menuruti perintahnya.


Di tengah kebosananku menunggu Raihan memandikan Zain, aku menyalakan TV yang berukuran sangat besar persis seperti layar bioskop yang ada di hadapanku. Aku memindah mindah chanel TV mencari acara yang menarik di mataku. Namun ketika aku mengalihkan pada sebuah chanel yang sedang menampilkan berita mataku membelalak melihat dua wajah yang sangat aku kenal terpampang di layar TV. Dalam berita itu di jelaskan bahwa seorang suami menyiram istrinya dengan air keras sehingga menyebabkan kerusakan parah di wajahnya, leher hingga tangan. Penyebab nya adalah pelaku kesal telah memorgoki korban sedang tidur di sebuah hotel dengan seorang laki laki. Dan saat ini si korban sedang menjalani perawatan di rumah sakit sementara pelaku di amankan di sebuah kantor polisi.


Aku terbengong melihat berita yang tidak ku sangka dan tidak ku duga itu."Ya Allah, kenapa rumah tangga mas Surya dan Ipah menjadi seperti itu?"


"Ada apa sayang? kenapa lagi dengan pria brengsek itu."


Aku menoleh pada raihan yang ternyata mendengar gumaman ku.


"Rai..!"


"Kenapa sayang?"


"Aku baru melihat berita mas Surya dan istrinya Ipah."


Raihan menyipitkan kedua matanya." Mereka masuk berita! berita apa? kenapa dengan mereka?"


"Mas Surya menyiram air keras ketika memergoki Ipah sedang selingkuh di kamar hotel."


Mata sipit Raihan membulat." Kamu serius?"


"Iya Rai, dan Ipah masuk rumah sakit sementara mas Surya di kantor polisi."


"Ada ada saja. Mungkin itu yang di sebut karma di bayar kontan."


"Rai, meskipun begitu mas Surya adalah ayah biologis Zain."


"Iya sayang aku mengerti. Aku bukan senang mendengar kabar ini justru aku prihatin. Tapi walau bagaimana pun itu kesalahan mereka sendiri karena mereka sendiri yang menciptakan musibah itu. Istri nya dengan sadar menyelingkuhi suaminya dan suaminya tidak bisa mengontrol emosinya main siram dengan air keras pula tidak memikirkan dampak yang akan terjadi. Selain membuat istrinya cacat seumur hidup dia pun harus berurusan dengan hukum."


"Yang aku pikirkan saat ini adalah bagaimana nasib kedua anak mereka, Rai."


"Tapi mereka masih punya keluarga yang lain kan?"


"Setahu aku Ipah tidak memiliki orang tua lagi. Tapi saudara nya aku tidak tau."


"Terus apa yang ingin kamu lakukan sayang?"


"Aku...aku boleh tidak menjenguk mereka. Aku..aku hanya ingin memastikan saja kalau anak anak nya hidup layak ketika orang tuanya sedang mendapat musibah."


Raihan tersenyum dan mendekatkan duduknya dengan ku." Kamu tau sayang, ini yang aku suka dari kamu. Kamu itu memiliki hati yang lembut dan perasa. Tidak memiliki sifat dendam pada siapa saja yang telah menyakiti mu. Kamu pun mudah memaafkan orang yang memiliki kesalahan sebesar apapun sama kamu."


"Aku ini hanya manusia biasanya Rai, kalau tidak mau memaafkan kesalahan orang itu namanya sombong. Aku tidak ingin jadi orang sombong lalu di benci orang apalagi di benci sama tuhan."


"Aku tidak salah melabuhkan perasaan ku pada wanita yang tepat." Ucap Raihan sembari mengelus elus belakang kepalaku. Setelah itu, dia membawaku membawa ku ke dalam pelukannya.


"Aku akan mengantar kamu menjenguk mereka tapi tidak sekarang mungkin besok. Sekalian minta doa restu keluarga mu di kampung."


Dalam dekapan Raihan aku mengangguk.


"Ehem!" Suara deheman tiba tiba mengejutkan kami.

__ADS_1


__ADS_2