
Ku tatap berlian pemberian Raihan, begitu mewah dan indah. Ingin rasanya aku memakainya tapi sepertinya aku tidak pantas karena terlalu mahal harganya. Melihat berlian itu aku jadi teringat bahwa aku berniat ingin mengembalikan barang barang pemberian Raihan. Tapi kemana aku harus mengantarkan semua barang pemberiannya karena tidak mungkin aku mengantarkannya ke rumah orang tuanya. Bagaimana tanggapan bu haji nanti jika aku mengantarnya ke sana karena tanpa sepengetahuannya anaknya telah memberikan banyak barang mahal padaku. Sempat terpikir untuk mengirimnya ke Jakarta lewat jasa pengiriman namun rasanya aku kurang percaya pada jasa itu apalagi barang yang akan di kirim merupakan barang barang mewah dan mahal hingga harga milyaran.
"Apa sebaiknya aku tunggu Raihan datang menemui ku saja, tapi kapan? ini saja sudah dua Minggu dia tidak pernah lagi menemui ku. Eh, sebentar..bukannya ini atas kemauanku sendiri? Bukannya ini yang aku inginkan agar dia menjauhiku, tapi kok..." Aku jadi bingung sendiri.
Sudah dua Minggu aku berada di rumah dan sudah dua Minggu itu pula Raihan tidak pernah datang ke rumah. Aku semakin berkeyakinan kalau Raihan tidak mencintaiku. Bukti nya dia tidak mau berusaha datang ke rumahku lalu menjelaskan nya padaku. Aku pikir aku tidak perlu lagi memikirkan nya dan yang perlu aku pikirkan sekarang adalah hidup anak ku Zain dan usahaku.
Sudah dua Minggu pula Sumi membantu usahaku. Dia semangat dan rajin sekali sehingga proses pembuatan kerupuk lebih cepat dan quantity nya pun bertambah begitu pula dengan orderan semakin banyak saja. Semenjak bang Supri dan Sumi kerja dengan ku, aku benar benar sangat terbantu. Bang Supri sendiri selain ikut memproduksi dia juga bertugas sebagai kurir yang mengantar ke setiap warung sampai toko-toko.
"Sumi, bang Supri ini upah kalian dua minggu ini." Ku sodorkan dua amplop berwarna putih pada mereka.
"Gajian Nur?" Tanya Sumi sembari tersenyum senang. Kemudian dia mengambil amplop yang ku sodorkan lalu membukanya. Begitu pula dengan bang Supri dia pun langsung membukanya.
"Ya ampun Nur, banyak banget." Celetuk Sumi sembari menghitung lembar demi lembar uang berwarna merah.
"Satu juta lima ratus! kamu gaji aku satu juta lima ratus dua Minggu memang nya tidak kebanyakan Nuri.
"Aku mampunya menggaji kamu segitu Sum."
"Ya ampun Nuri, buat aku ini udah banyak banget. Kamu tau tidak gaji aku kerja di kota berapa? satu juta lima ratus itu satu bulan Nur, ini kamu kasih aku segini hanya dua Minggu."
"Jadi kamu merasa tidak keberatan aku gaji segitu?"
__ADS_1
"Tidak lah, justru aku makasih banget kamu gaji aku segini Nur, lagian kerjaku juga tidak capek, kamu juga ngasih makan aku siang sore. Selain itu kamu juga membelikan aku motor jadi tidak payah aku untuk bolak balik ke rumah mu."
"Ini juga gaji Abang kenapa di tambahin jadi dua juta Nur?" kata bang Supri.
"Kan Abang kerjanya double."
"Oala Nur, jadi kamu gaji aku sebulan empat juta? padahal aku sudah tinggal dan makan di rumahmu secara gratis lho, Nur."
Aku tersenyum."Tidak perlu hitung hitungan lah bang. Yang penting Abang lebih rajin dan giat lagi kerjanya biar usaha kita ini lebih maju. Apa lagi sekarang orderan makin bertambah saja."
"Iya Nur, kemarin saja saat aku kirim kerupuk mentah ke toko Bu Nia dia minta di tambah tiga kali lipat Nur, karena di toko Bu Nia laris banget dua hari saja sudah ludes sementara kita hanya mampu kirim segitu saja karena karena tidak ada stok.
"Kalau gitu kita harus menambah jumlah produksinya Nur." Saran Sumi.
"Nanti aku coba nyari ke kampung tetangga Nur, mudah mudahan ada yang mau kerja dengan kita.
"Ya sudah Nur, aku tunggu. Semakin cepat semakin bagus. Tapi cari lima orang saja dulu."
"Siap bos."
Keesokan harinya.
__ADS_1
Sumi membawa lima orang wanita yang semuanya ibu rumah tangga dan sedang butuh pekerjaan. Dia mendapatkan orang itu dari kampung sebelah yang tidak terlalu jauh dari kampung ku dan hari ini pula aku langsung mempekerjakan mereka. Saat aku sedang memperhatikan mereka bekerja, terlintas di pikiranku untuk membuat dapur baru khusus produksi kerupuk karena dapurku ini tidak lah terlalu besar apa lagi harus menampung tujuh orang.
Kemudian aku mengutarakan niatku untuk membuat dapur khusus kerupuk dan bang Supri menyetujuinya. Dia menyarankan untuk membuat dapur baru di pekarangan samping rumah karena masih ada lahan empat ratus meter. Dan hari ini pula bang Supri bergerak cepat mencari tukang untuk membuat bangunan sementara yang terbuat dari papan atau triplek. Ku anggap bangunan sementara karena tanah yang aku tempati ini tanah peninggalan bapak dan ibu mengakuinya. Jadi, jika nanti ibu datang dan tidak terima tanah nya ku buat tempat produksi kerupuk aku akan mudah membongkarnya. Tapi aku berharap ibu mau menjualnya padaku agar aku tidak harus payah lagi mencari tanah kosong untuk membangun nya lagi.
Selain itu, aku juga bergerak cepat mendatangi toko material memesan apa saja yang di butuhkan setelah bang Supri memberi tahu sebelumnya karena aku sendiri tidak paham masalah bangunan. Sementara Sumi selain membantu lima orang yang sedang bekerja juga mengontrol mereka.
Satu jam kemudian bang Supri datang membawa empat tukang sekaligus. Dia bilang agar cepat selesai dan aku menyetujuinya. Selang beberapa menit tiga buah mobil pick up datang membawa material sebagai bahan bangunan yang akan di gunakan. Aku pun langsung melunasi bahan bangunan itu karena sebelumnya aku sudah membayarnya di muka dan akan di lunasi setelah tiba di rumahku.
Mereka mulai mengukur tempat untuk di bangun dan aku menganjurkan dua ratus meter persegi saja. Sisanya di biarkan untuk menanam umbi umbian atau palawija saja.
Ketika aku dan bang Supri sedang mengontrol tukang, pak Yanto tetangga paling dekat rumahnya dengan rumahku tiba tiba datang dengan penampilan seperti biasa, kaos tanpa lengan dan celana kolor.
"Kenapa kamu bikin bangunan disini Nuri?"Protes nya sambil berkacak pinggang.
"Lah, memang kenapa?" Bang Supri menimpali.
"Kalau kalian buat bangunan disini gimana ayam ayam ku mau main!"
"Ayam ayam ku mau main!" Ucap bang Supri, nampak alis nya saling bertautan. Mungkin dia bingung dengan bahasa yang digunakan oleh pak Yanto. Sementara aku yang mengerti masih diam karena aku sendiri malas sekali meladeni tetangga egois dan sedikit kurang waras itu.
Pekarangan yang hanya di tanami umbi umbian oleh ku ini memang tempat berkeliarannya ayam ayam peliharaan pak Yanto untuk mencari makanan berupa cacing, semut atau umbi umbian berupa singkong, ubi jalar, bengkoang dan sebagainya. Keberadaan ayam ayam pak Yanto itu sebenarnya sangat merugikan ku karena selain memakan umbi umbian yang ku tanam juga selalu berkeliaran di rumahku dan meninggalkan kotoran. Sudah sangat sering aku memberi tahunya agar dia memagari pekarangan nya yang sedikit itu agar ayamnya tidak berkeliaran dan mengotori rumah orang tapi tidak pernah ditanggapinya bahkan aku sering kali berdebat dengannya hanya karena perkaya ayam. Sekarang dia protes ketika aku mau membangun tempat ayam ayam nya mencari makan.
__ADS_1
"Kalau memelihara ayam untuk di jual itu ya perlu modal juga dong pak, di kasih makan ayamnya jangan di biarkan bebas mencari makan sendiri terus memakan tanaman orang. Saya sudah bilang berapa kali kalau ayam ayam bapak itu sangat merugikan saya. Lagi pula terserah kami lah mau di buat apa ini kan pekarangan milik kami bukan punya bapak."