Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Kakak kedua


__ADS_3

"Halah, kamu sama ibumu itu sama saja mulutnya. Apa kamu pikir bikin pagar itu gampang dan tidak pakai modal? kenapa bukan pekarangan kamu saja yang di pagar agar ayam ayam saya tidak masuk ke rumah situ."


Bukan nya merasa bersalah dan minta maaf pada kami karena ternak ayamnya telah mengotori rumah kami justru malah sebaliknya, pak Yanto semakin marah dan berbicara ngaco. Membuatku tambah kesal saja sama pria kurus itu.


"Sudah pak, sudah. Malu sama tetangga yang lain kalau di lihat." Bu Yanto menarik narik tangan suaminya. Berusaha menghentikan ocehannya yang masih terus menerus mengoceh. Namun, pak Yanto sepertinya belum puas saja untuk terus berbicara.


"Apaan sih kamu. Mereka harus di kasih pelajaran biar mulutnya diam. Memang dasarnya tidak pernah makan bangku sekolah ya kayak gitu tidak punya etika dan tata Krama."


"Heh, kayak kamu sekolah tinggi saja ngatain orang tidak pernah makan bangku sekolah." Ibu jadi tambah berang saja mendapat ejekan tidak pernah sekolah meskipun memang kenyataanya demikian.


"Siapa bilang aku tidak pernah sekolah. Pendidikan ku itu tinggi. Aku itu sarjana SI Ekonomi. Tau tidak kamu sama sarjana ekonomi?" Ucap pak Yanto dengan bangga. Entah benar atau tidak aku tidak tau karena dia termasuk orang baru di kampung ku.


"Dih, Sarjana kok ternak ayam. Sarjana itu ya kerjanya di kantor, pakai jas, pakai dasi bukan pakai kolor, kaos singlet sama ngorek ngorek kotoran di kandang ayam."


"Orang tidak pernah makan bangku sekolah kayak kamu itu mana tau yang namanya Sarjana ekonomi. Ini namanya berwira usaha tukiyeemm.....sesuai dengan bidangku sebagai sarjana ekonomi."


"Sembarangan saja kamu manggil saya tukiyem. Lagi pula ngapain sekolah tinggi kalau ujungnya jadi tukang ternak ayam. Lulusan TK juga bisa jadi tukang ternak mah."


"Dasar mulut besar dan tidak berpendidikan." Pak Yanto semakin berang saja sama ucapan ibu yang tidak mau kalah.


Ibu dan pak Yanto ini merupakan dua orang yang benar benar keras kepala, egois dan merasa benar sendiri.


"Pak Yanto....!"


"Udah Nur, percuma ngomong sama orang kurang waras dan tukang halu akut kayak dia. Biarkan saja, nanti kalau ayamnya masuk ke pekarangan rumah kita, tinggal kita lempar saja pakai batu biar pincang atau kita tangkap lalu kita potong terus di masak kari kan mantul tuh." Ibu memotong kalimat yang baru saja mau aku ucapkan untuk pak Yanto. kemudian dia ngeloyor pergi begitu saja. Aku pun ikut mengekor di belakangnya karena aku juga sudah malas berdebat dengan tetangga yang egois seperti pak Yanto.

__ADS_1


"Awas saja kalau kalian membunuh ayam ayam ku, akan aku laporkan polisi biar kalian masuk penjara." Teriak pak Yanto pada kami yang sedang berjalan membelakanginya. Aku menoleh ke belakang pak Yanto masih saja mengeluarkan umpatan - umpatan kasar.


Memang aneh sekali tetangga ku itu. Padahal dia baru satu tahun bermukim di kampung kami. Tapi, dia sering kali membuat masalah dengan tetangga baik pada kami maupun pada tetangga yang lainnya.


"Bikinkan ibu kopi Nur, gerah aku dengar mulut lemes si Yanti." titah ibu setelah kami baru masuk ke dalam rumah.


"Kalau gerah ya mandi Bu, ibu kan belum mandi bukan minum kopi nanti malah jadi tambah gerah." Jawab ku. Ibu ku memang belum mandi padahal sudah jam delapan pagi.


"Halah, kamu juga jangan banyak bicara kerjakan saja apa perintahku."


Aku menghela nafas lalu menyeret kedua kakiku menuju dapur untuk membuat kan ibu kopi.


Di sore hari dan ketika aku sedang menemani Zain main di ruang TV. Ku dengar suara motor berhenti tepat di depan rumahku. Suara motor siapa lagi kalau bukan motor bututnya bang Supri, kakak keduaku.


Bang Supri sudah memiliki istri dan satu orang anak berusia tujuh tahun. Dia tinggal terpisah dengan kami dan ikut tinggal bersama dengan mertuanya. Awalnya bang Supri tinggal di rumah ini selama enam bulan setelah menikah. Tapi, karena istrinya yang sok kaya, dia tidak mau lagi tinggal di rumah ini karena memang saat itu rumah ini masih berdinding bilik serta kecil. Enam tahun aku bekerja. Dan selama kerja itulah aku habiskan gaji ku hanya untuk membangun rumah yang kami tempati sehingga rumah ini menjadi besar dan bagus.


"Nur, ibu mana?" tanya nya padaku sambil berdiri dan berkacak pinggang sebelah tangan. Aku menoleh pada bang Supri yang terlihat seperti baru pulang kerja.


Aku tidak menjawabnya melainkan pandanganku terfokus pada sepasang sepatu dekil yang sedang di gunakan olehnya. Seperti sepatu yang tidak pernah di cuci selama satu tahun saja. Aku heran, apa istrinya tidak pernah mencucikan sepatunya.


"Heh, kamu budeg ya Nur, di tanya malah bengong."


"Lagi mandi," jawabku singkat.


"Ngomong kek dari tadi biar aku tidak menghabiskan energi ku untuk berteriak."

__ADS_1


"Suruh siapa datang datang berteriak kayak di hutan saja."


"Sok pinter kamu Nur, menimpali terus kalau aku ngomong sama kamu." Bang Supri mulai kesal padaku. Tapi masa bodoh memang dia sikapnya ngeselin terus. Aku sendiri tak pernah akur dengannya karena sikap dia yang selalu semena mena padaku.


"Bisa tidak sepatunya di lepas dulu? baru saja aku pel," ucap ku. Aku kesal sekali baru tadi pagi di pel, bang supri dengan seenaknya menaiki lantai tanpa melepas sepatu dekilnya.


"Halah, tinggal di pel lagi aja kok repot. Lagian kamu itu hanya pengangguran. Kerjamu cuma makan dan rebahan saja. kalau kamu ngepel lagi juga tidak masalah biar kamu ada kerjaan."


Sembarangan sekali kalau dia berbicara. Bang Supri memang sudah sering kali menganggap aku ini seorang pengangguran yang hanya numpang hidup dengan ibuku karena masih berdiam di rumah meskipun sudah memiliki seorang suami. Meskipun sebenarnya dia tahu bahwa aku sering kali membantu ibuku membuat kerupuk tetap saja dia menganggap ku seorang pengangguran yang tidak memiliki penghasilan apa apa.


"Ada apa kamu teriak teriak manggil ibu Supri?" tanya ibu yang tiba tiba datang dengan rambut basah seperti habis mandi.


"Aku mau minjam duit dua ratus ribu Bu. seminggu lagi aku gajian nanti aku ganti plus bunganya." Ucapnya dengan nada merayu.


Cih, datang teriak teriak ternyata hanya mau pinjam uang pada ibuku. Sudah sangat sering dia minta uang pada ibu dengan alasan pinjam. Padahal selama ini dia tidak pernah mengembalikan uang yang telah di pinjamnya. Namun herannya, ibuku tidak pernah menolak malah justru memberinya dengan senang hati.


"Ya sudah ibu ambil dulu. Eh, kamu sudah makan belum? ibu masak ikan gerong pindang kuning. Sana makan dulu." titah ibu pada bang Supri.


"Wah, kebetulan sekali aku lapar banget Bu. Aku baru pulang kerja belum sempat pulang ke rumah." Jawab bang Supri. Raut mukanya terlihat berbinar binar. Sudah dapat uang dapat makan enak pula.


"Ya sudah sana makan dulu."


Aku yang mendengar percakapan mereka hanya tersenyum kecut. Ibu dengan suka rela menawari bang Supri makan dengan lauk yang aku masak tadi pagi. Sementara padaku, jangankan di tawari mengambil kuah nya saja aku harus ijin terlebih dulu padanya. Begitulah, ibuku selalu membedakan kasih sayangnya padaku serta pada ke dua kakakku. Padahal aku ini anak bungsu dan anak perempuan satu satunya. Tapi perlakuannya padaku seperti perlakuan pada anak tiri saja begitu pula perlakuan ke dua kakakku terhadapku.


Bang Supri berjalan melewati ku yang sedang duduk di lantai tanpa permisi dan dengan muka angkuh. Sebal sekali aku melihatnya.

__ADS_1


"Mama Zen aus," celetuk Zain. Anak ku minta minum di tengah asik memainkan benda - benda rusak sebagai mainannya.


"Sebentar ya nak, mama ambil dulu." Aku bangkit lalu berjalan ke arah dapur. Kulihat bang Supri sedang makan lahap di atas meja. Terlihat dua potong ikan sekaligus di atas piringnya.


__ADS_2