
Ku tatap kepergian kedua ibu dan anak itu dari warung bubur dengan senyuman yang tersungging di bibirku. Bu Rida pulang dalam keadaan perasaan malu atas ulah anaknya sendiri. Sementara Risa sepertinya dia tidak memiliki rasa malu. Sebab, kalau dia memiliki rasa itu tentu dia tidak akan melabrak aku di tempat umum dan menuduhku yang tidak aku lakukan.
Seketika aku teringat kembali pada Raihan yang sudah satu bulan lebih tidak ada kabarnya. Dalam hati aku bertanya kemana Raihan perginya? apa dia benar benar mau menjauhiku atau sekedar menghindar dari perjodohannya dengan Risa?
"Jadi itu beneran kalau si Risa tidak bertunangan dengan anaknya hajah Fatimah Nuri? dan Raihannya pergi dari rumahnya karena menolak di jodohkan dengan Risa?"
Pertanyaan Bu Minah membuat diriku sedikit tersentak dari lamunan kemudian aku menoleh padanya dan menjawab," saya tidak banyak tau tentang mereka Bu Minah."
"Bukannya kamu itu dekat dengan Raihan Nuri?" tanya seorang ibu yang tidak ku ketahui namanya tapi beberapa kali pernah bertemu dengannya.
"Dari dulu saya memang sudah dekat dengan Raihan Bu, tapi kalau masalah pribadinya saya kurang tau," jawabku dengan sedikit berbohong.
"Padahal Nuri, baru kemarin Bu Rida bilang ke kita kita katanya selepas Raihan lulus kuliah nanti mereka akan melangsungkan pernikahan yang mewah." ujar Bu Minah. Dia menceritakan apa yang pernah Bu Rida ceritakan padanya dan aku hanya tersenyum tipis saja.
"Oya Bu Minah, apa bubur saya sudah selesai di bungkus?" tanya ku kemudian.
"Oala lupa Nur, he he. Habisnya keasikan melihat kalian berdebat jadi lupa kalau kamu pesan bubur," jawab Bu Minah sembari tersenyum nyengir. Aku hanya geleng kepala saja mendengarnya.
Setelah membeli bubur aku bergegas pulang ke rumahku. Aku melangkah lebih lebar karena aku ingin segera sampai di rumah. Kasihan Zain sudah pukul setengah sembilan belum di beri makan gara-gara perseteruan ku dengan ibu dan anak itu.
Baru saja aku dan Zain selesai makan bubur tiba tiba pintu teras di ketuk tanpa ucapan salam. Aku menaruh mangkok bekas bubur terlebih dahulu ke pencucian piring setelah itu berjalan mendekati pintu depan rumah. Setelah di buka ternyata ustad Amir yang datang. Dia tersenyum ke arahku sementara aku masih memandangnya heran karena tumben sekali ustad Amir datang ke rumahku apa dia mau menemui ibuku dan menagih hutang padanya? aku bertanya dalam hati.
"Assalamualaikum dek Nuri!" sapa ustad Amir.
"Wa'alaikum salam. Maaf pak ustad ibu saya belum datang."
"Oh, saya kesini tidak untuk menemui ibumu tapi ingin bertemu dan ngobrol saja denganmu dek Nuri," sanggah nya sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
"Oh, begitu. Maaf pak ustad ada keperluan apa ya?"
"Apa tidak sebaiknya dek Nuri mempersilahkan saya masuk terlebih dahulu!" pinta nya kemudian.
Aku diam sejenak. Di rumahku hanya ada aku dan Zain, aku takut kedatangan ustad Amir akan menjadi bahan gunjingan jika ada yang melihatnya datang ke rumah ku. Berbeda dengan Raihan jika datang ke rumah aku tidak merasa takut di gunjing kan karena Raihan sendiri pria single dan tidak sedikit tetangga yang tau pertemanan aku dengan Raihan sudah sejak lama. Sementara ustad Amir, dia seorang tokoh terpandang dan sudah memiliki istri dan anak.
"Dek, dek Nuri!" panggilnya.
"Oh, ya pak ustad, si...silahkan masuk," ucap ku kemudian. Aku terpaksa mempersilahkannya masuk karena tidak enak hati pula padanya. Dan semoga kedatangan ustad Amir ke rumahku tidak menjadi bahan gunjingan tetangga. Aku menggeser tubuhku memberi jalan pada ustad Amir untuk memasuki rumahku.
Setelah dia duduk di sofa aku bergegas ke dapur untuk membuatkan teh. Setelah itu, aku kembali lagi ke ruang tamu menemui ustad Amir dan meletak kan segelas teh di hadapannya.
"Silahkan di minum pak ustad! maaf hanya teh."
"Ini lebih dari cukup dek Nuri. Saya minum ya dek!" jawab ustad Amir, sembari tangannya meraih segelas teh.
"Apakah benar tadi dek Nuri bertengkar dengan istri serta anak saya di warung bubur?"tanya ustad Amir membuka kebisuan. Aku yang sedang menunduk langsung mendongak dan menjawab cepat.
"Benar pak, apa istri dan anak pak ustad sudah mengadu?" Aku bertanya balik.
"Sebelum istri saya mengadu, ada yang memberitahu saya sebelumnya."
"Owh." Aku menunduk kembali.
"Saya minta maaf atas sikap istri serta anak saya ya dek Nuri?"
Aku hanya mengangguk sambil menunduk.
__ADS_1
"Ya begitulah. Istri saya memiliki sikap dan sifat yang jelek sekali. Jangan kan pada orang lain pada saya sendiri saja kalau saya tidak banyak sabar menghadapinya mungkin saya sudah meninggalkannya dari dulu.
Aku diam dan masih menyimak.
"Dulu saya bertahan dengan istri saya karena Risa masih kecil. Sikap istri saya tidak pernah mau berubah dan saya sendiri sudah tidak kuat menjalankan rumah tangga saya dengan dia. Dan mungkin saya akan menceraikannya toh si Risa sudah besar."
"Cerai!" ucap ku mengulang perkataannya.
"Iya dek Nuri, saya akan menceraikan istri saya." Ustad Amir membenarkan.
Aku mengerutkan dahi ku mendengar rencana ustad Amir yang akan menceraikan Bu Rida. Padahal tadinya aku hendak bertanya tentang hukum cerai dalam pandangan agama Islam padanya tapi ternyata dia sendiri akan menceraikan istrinya.
Aku menggeleng kecil. Tak habis pikir seorang ustad akan melakukan perceraian dengan sang istri. Dan ustad Amir sendiri tanpa ada rasa canggung dia menceritakan tentang masalah rumah tangganya pada orang lain. Bukan kah seorang ustad yang paham agama itu seharusnya mengayomi, memberi contoh serta memberi pedoman bagi orang orang yang kurang pemahaman pada agamanya? tapi aku rasa ustad Amir tidak, dia seperti bukan seorang ustad melainkan sama denganku yang kurang pemahaman agama Islam. Pantas saja ibu ku memiliki sikap seperti itu ternyata selama ini dia ikut pengajian pada ustad yang pemahaman agamanya dangkal seperti ustad Amir.
"Saya tidak takut jadi seorang duda. toh, masih banyak wanita baik dan lebih pantas untuk mendampingi seorang ustad seperti saya contohnya ya...seperti dek Nuri ini." Sambungnya lagi dengan percaya diri. Perkataannya sontak saja membuat mata ku membelalak lebar. Ustad Amir terang terangan menunjukan ketertarikannya padaku. Apa dia pikir aku tertarik pada pria paruh baya yang memiliki gelar ustad di kampung? Jangan kan pria paruh baya sepertinya pria muda seperti Raihan yang sempurna saja aku tolak.
Aku tersenyum dengan senyuman yang ku paksakan dan menimpalinya." Pak ustad bisa saja, tapi sepertinya saya tidak pantas pak ustad, soalnya saya kan sudah punya suami." Aku menyindirnya sekaligus mengingatkan nya supaya dia sadar atas ucapannya.
Ustad Amir tersenyum lebar sambil menggaruk tengkuknya dia berkata," Saya ingin sekali punya istri seperti dek Nuri. Andai saja dek Nuri tidak memiliki suami mungkin sudah saya jadikan istri."
"Tapi sayangnya ya pak ustad saya sudah memiliki seorang suami,"ucap ku dengan kesal dan dengan kalimat ku tekan kan.
"Apa dek Nuri tidak ingin mencari suami yang lebih baik dari suami dek Nuri, baik akhlaknya, baik pemahaman agamanya, baik dalam keuangannya dan...!"
Sembari tersenyum aku memotong ucapan ustad Amir."Selagi suami saya masih menafkahi saya serta tidak menyakiti saya, saya tidak akan mencari suami yang pak ustad tadi sebutkan." Ucapan tegas ku membuat ustad Amir bungkam dengan mulut sedikit menganga.
Lama lama aku menjadi muak sekali mengobrol dengan ustad Amir. Di tengah rasa muak serta kesal ku dan ingin mengusirnya dari rumah namun bingung bagaimana caranya tiba tiba saja ponsel ustad Amir berdering. Sebuah panggilan telpon dari istrinya Bu Rida yang menanyakan keberadaanya serta menyuruhnya untuk segera pulang.
__ADS_1
Dalam hati aku bersorak gembira ketika melihatnya langsung bersiap siap hendak pulang dan terlihat sekali ekspresi wajahnya yang ketakutan setelah di telpon oleh istrinya. Dan aku berkeyakinan bahwa ustad Amir ini merupakan sosok suami yang takut pada istrinya.