Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Apa aku ini pelakor?


__ADS_3

"Kenapa hanya pipi yang di cium?"tanya Raihan, seperti meminta lebih dari sekedar kecupan di pipi.


"Ya..terus?"


"Bibirnya belum mba." Lalu memajukan bibirnya.


"Rai.."Bola mata ku besarkan menatapnya.


"Please....kiss me here!"sembari menunjuk pada bibirnya.


"Katanya kamu lapar dan mau makan, sudah aku hangatkan nanti keburu dingin lagi."Aku mengalihkan godaannya.


"Tapi aku pengen makan bibir mba dulu." Lagi lagi Raihan menggodaku.


"Rai, jangan becanda. Ada Zain lihatin kita."


Raihan melirik Zain yang sedang bengong melihat kami, entah apa yang dia pikirkan. Pada saat dia lengah, aku buru buru bangun dan berlari menuju pintu lalu menjulurkan lidah meledeknya.


"Ishh, awas kamu mba." Umpat nya sembari menyunggingkan senyum di bibirnya.


Raihan menghampiriku yang sudah menunggunya di meja makan sambil menggendong zain. Kemudian aku mengambil alih Zain dari tangannya untuk di suapi terlebih dahulu. Hal itu di jadikan kesempatan untuk nya mencium bibirku secara tiba tiba. Awalnya aku kaget dan sedikit kesal mendapat ciuman sekilas namun ya sudahlah, aku biarkan saja toh sudah terjadi. Lagi pula hal itu sudah menjadi kebiasaan Raihan padaku.


Aku melayani Raihan makan seperti seorang istri melayani suaminya ketika sedang makan bersama.


"Waduh mba banyak banget nasinya."Raihan protes ketika aku mengambil tiga centong nasi dan meletakkan nya di atas piring.


"Kamu kan seharian tidak makan Rai, jadi satu centong sarapan pagi, satu centong makan siang dan satu centong lagi porsi makan saat ini."


"Mama mu ini benar benar Zain mau bikin papa gendut." Adu Raihan pada balita yang sedang memperhatikan kami sehingga dia tersenyum lebar.


"Bikin gendut bagaimana Rai, ini sudah seimbang lho."


"Tapi ini kebanyakan mba, aku mana sanggup makan nasi porsinya sebanyak ini. Nanti kalau perutku buncit terus tidak sixpack lagi apa mba masih mau sama aku?"


"Apa kamu pikir aku suka sama kamu karena fisik mu Rai?"

__ADS_1


"Meskipun tubuhku berubah gendut?"


Aku mengangguk.


"Tapi kenapa dulu mba tidak langsung tertarik sama aku saat pertama kali kita bertemu? karena tubuhku kecil kan makannya mba tidak tertarik."


"Bukan karena tubuhmu yang kecil tapi usiamu yang masih ke..."Aku langsung menutup mulutku dengan telapak tanganku. Aku hampir lupa jika Raihan tidak mau di sebut anak kecil atau usianya masih kecil.


Raihan menatap tajam ke arahku." Coba sekali lagi ngomong, aku kurang jelas." Dia nampak kesal. Aku menggeleng dan memberikan senyuman.


"Udah ah becanda nya." Ucap ku, lalu membelai pipinya agar dia tidak marah. Benar saja, dia tidak jadi marah melainkan meraih tanganku dan mengecup nya.


"Mana mungkin aku bisa marah sama kamu mba." Kemudian tersenyum nyengir.


Aku menarik tanganku pelan hingga terlepas dari genggamannya."Ya sudah kalau tidak marah kita mulai makan ya!" Kemudian aku mengurangi porsi nasi di piringnya lalu meletak kan beberapa lauk di atasnya.


Raihan tersenyum melihat apa yang sedang aku lakukan."Aku benar benar merasa seperti memiliki seorang istri." Ucap nya, aku hanya tersenyum saja mendengar nya.


Setelah selesai melayani Raihan aku mulai menyuapi Zain dengan sup salmon campur brokoli. Di tengah menyuapi ternyata Raihan memperhatikanku.


"Aku suapi ya?"Ucap nya, menawarkan diri untuk menyuapiku.


Zain makan lahap sekali sampai menambah dua kali, porsi yang tak biasanya. Apa selama di sekap Zain tidak di beri makan? tapi jika melihat fisik nya sepertinya tidak ada yang berubah. Dia tetap gemil dan menggemaskan.


"Kenapa mba?"Tanya Raihan saat aku bengong melihat Zain.


"Ini, Zain tumben makannya banyak apa dia tidak di kasih makan selama di sekap?"


"Tadi setelah kami berhasil membawa Zain dari tempat penyekapan aku langsung membawanya ke rumah sakit untuk mengecek kondisinya. Dan dokter mengatakan tidak ada masalah dengan Zain maupun tentang asupan gizinya. Aku juga sudah memberi dia makan sebelum pulang. Mungkin Zain rindu saja sama masakan mamanya makannya porsi makannya banyak."Raihan menjelaskan dan aku tersenyum mendengarnya.


"Tapi bagaimana ceritanya kalian bisa menemukan Zain dan apa selain Zain masih ada korban anak lainnya?"


"Banyak mba, sekitar ada lima belas anak yang di sekap di sana."


Raihan menceritakan bagaimana dia bisa menemukan Zain di tempat penyekapan anak anak untuk di kirim ke luar negeri secara ilegal. Zain yang usianya lebih muda dan wajah tampan serta fisik yang bagus di bedakan di antara anak anak yang lain. Ketika anak anak yang lain di sekap di sebuah ruangan yang hanya beralas kan tikar tapi Zain di tempat kan di sebuah kamar cukup nyaman dengan seorang pengasuh. Dan ketika anak anak lain di beri makan seadanya, Zain diberi makanan bergizi karena Zain akan di jual dengan harga yang mahal daripada anak anak yang lain.

__ADS_1


Awalnya Raihan kesulitan menemukan Zain ketika dirinya, aparat kepolisian serta orang orang suruhannya sudah berhasil meringkuk seorang mafia penyelundupan anak beserta komplotannya karena penyekapan Zain yang berbeda tempat dari yang lainnya. Namun pada akhirnya Raihan menemukan dimana tempat penyekapan Zain meskipun cukup sulit.


"Syukur lah, aku takut sekali kalau selama di sekap Zain tidak diberi makan dan tidur di tempat yang kurang layak."


"Tidak mba, menurut mereka Zain itu berharga makannya di bedakan dari anak yang lain. Dan kabarnya sudah ada yang menawar kan Zain dengan harga lima ratus ribu dolar."


Aku membulatkan pupil mataku. Anak ku akan di beli orang dengan harga di atas tujuh milyar. Lalu geleng-geleng kepala."Tidak, tidak. Anak ku tidak ternilai harganya. Zain tidak bisa di tukar dengan uang berapa pun nilainya." Ucap ku, lalu ku elus pucuk kepalanya. Aku bersyukur Raihan menemukan Zain tepat waktu. Kalau tidak mungkin aku tidak akan bisa melihat wajah tampannya lagi.


"Iya, mba. Oleh karena itu kita harus lebih ketat lagi menjaga Zain agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Apa lagi pria brengsek itu hanya sebulan saja di penjara. Bisa saja setelah ke luar nanti dia berulah lagi."


"Maksud mu mas Surya di penjara hanya satu bulan saja. Kenapa sebentar sekali."


"Tidak ada undang undang yang memberatkan nya mba, karena dia tidak ada sangkut pautnya dengan penculik itu. Kesalahannya hanya dia mengambil Zain dari mba tanpa sepengetahuan mba dan sudah lalai menjaga Zain. Itu hanya berupa peringatan saja untuk pria brengsek itu."


Aku menghela nafas berat. Sebenarnya sangat di sesalkan jika hanya di hukum selama satu bulan jika melihat perlakuannya padaku dan Zain dulu di tambah lagi dia menculik Zain. Ya, aku katakan dia menculik Zain, bukan membawa Zain. Aku anggap dia orang lain karena selama ini dia tidak peduli pada zain. Aku justru ingin dia di penjara lebih lama lagi.


Malam hari aku menidurkan Zain yang sudah tidur dengan lelap. Nampak sekali jika Zain kelelahan makannya tidak susah menidurkannya. Setelah memastikan Zain tidur, aku keluar kamar untuk menemui Raihan namun dia tidak ada di luar. Aku pikir mungkin dia sedang berada di kamarnya. Namun ketika aku berjalan menuju balkon suara getaran ponsel terdengar di telingaku. Aku melirik kearah sumber suara itu, nampak ponsel Raihan tergeletak di atas meja depan TV. Aku pikir mungkin Raihan sengaja meninggalkan ponselnya sebentar atau dia lupa membawa ke kamarnya dan aku berinisiatif untuk membawakan nya ke kamar siapa tau itu telpon penting.


Aku mendekati ponsel itu yang berulang kali menyala dan setelah mendekat nampak panggilan telpon dari Nura kekasih Raihan. Kemudian panggilan telpon itu berakhir. Tapi tak lama kemudian sebuah pesan chat masuk dan dengan lancangnya aku memberanikan diri untuk menyentuh bahkan membuka pesan chat di ponsel Raihan. Entah saat ini aku merasa begitu penasaran tentang hubungan Raihan dan Nura mengingat aku sudah menerima Raihan menjadi kekasihku bahkan calon suamiku.


Aku buka pesan chat itu nampak pesan chat dari Nura yang cukup panjang.


"Sayang, kamu dimana sih? kenapa sulit sekali di hubungi? bahkan beberapa pesan ku pun tidak kamu balas. Oya, malam ini papa ngundang kamu makan malam di rumah. Ada hal penting yang ingin dia bicarakan denganmu mengenai hubungan kita dan juga perusahaan."


Setelah membaca pesan itu, aku merasa gelisah sekali. Orang tua Nura mengundang Raihan untuk membicarakan tentang hubungannya dengan Nura. Dan di saat aku sedang membacanya dengan serius Raihan menyapaku.


"Mba.." Pandangannya mengarah pada ponsel yang sedang aku pegang.


Aku terkejut terlebih telah kepergok sedang membaca pesan dari kekasihnya.


"Rai..a..aku minta maaf su...dah..membaca pesan dari kekasihmu dengan lan....cang." Aku gugup sekali lalu menunduk. Aku tidak berani menatap sorot matanya dan aku takut dia marah.


Raihan mengambil ponselnya dari tangan ku lalu membaca pesan itu. Terdengar dia menghembuskan nafas besar lalu mengetik sebagai balasan. Karena rasa penasaran ku sedang meronta, ekor mataku mengintip ponsel yang sedang di ketiknya dan nampak pesan yang hendak dia kirim dengan jelas karena Raihan pun tidak menutupinya dariku.


"Maaf Nura, kayaknya tidak bisa sekarang. Aku lelah baru pulang. Lagi pula sudah jam delapan. Tolong sampaikan salam maaf ku pada papamu karena belum bisa memenuhi undangannya saat ini."

__ADS_1


Setelah Raihan mengirim pesan balasan, tiba tiba panggilan telpon dari Nura kembali berdering. Namun bukannya mengangkat telpon itu Raihan malah meletak kan ponsel nya di atas meja setelah itu dia menggiring tubuhku menuju balkon. Di saat itu pula aku menoleh ke arah meja dan menatap ponsel itu dengan perasan nano nano. Aku merasa seperti seorang pelakor yang egois dan jahat telah merebut pria miliknya.


"Apa aku ini benar benar seorang pelakor?" Aku bermonolog.


__ADS_2