Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Menghormati ibu


__ADS_3

Aku termenung memikirkan sikap ibu yang tidak pernah berubah baik padaku meskipun sudah hampir satu tahun tidak bertemu. Sering kali aku berpikir dan introspeksi diri kesalahan apa yang pernah aku lakukan padanya hingga ibu selalu membenciku seolah olah aku ini bukan anak kandungnya.


Di tengah termenung samar samar aku mendengar ibu sedang mengobrol dengan bang Supri. Aku yang ingin sekali curhat padanya dan berkeluh kesah padanya serta ingin mendengar ceritanya selama dia pergi hanya bisa menguping saja di balik tembok karena aku tau ibu tidak akan pernah mau bicara apa lagi curhat padaku.


"Kenapa ibu lama sekali pergi nya Bu?"Tanya bang Supri.


"Pak le mu nahan ibu di sana Sup."Jawab ibu.


"Nahan ibu bagaimana maksudnya? terus pak le yang mana Bu? selama ini kan Supri sama Nuri tidak tau kalau kami punya pak le karena ibu tidak pernah cerita sama kami."


"Yang di cirebon Sup. Ibu memang tidak pernah cerita ke kamu karena dulu ibu nikah sama bapak mu tidak di setujui sama keluarga pihak bapak mu dan juga pihak keluarga ibu. Kami kawin lari sup. Oleh karena itu ibu menganggap mereka bukan keluarga ibu lagi karena mereka pun tidak mau menganggap ibu keluarga mereka. Waktu itu ibu ke sana niatnya mau minta bagian harta peninggalan kakek mu walau pun mereka tidak menganggap ibu keluarga tapi kan ibu masih punya hak dapat warisan orang tua."


"Terus apa harta nya dapat Bu?"


"Boro boro dapat yang ada mereka marah besar dan bilang kalau sudah tidak ada harta dari peninggalan kakek mu. Kamu tau Sup, rumah sodara sodara ibu di sana gedong gedong dan ibu bilang sama mereka kalau rumah mereka itu hasil jual harta kakek mu eh mereka malah marah tidak terima."


"Apa kakek itu dulu orang kaya Bu?"


"Iya, kakek mu orang kaya. Tanah nya banyak. Wajar kan kalau ibu minta bagian."


"Kalau sudah tidak dapat hartanya kenapa ibu tidak balik lagi ke sini?"


"Gimana mau balik Sup, saat itu ibu tidak punya uang sama sekali. Mereka mau kasih ibu uang asal ibu kerja dulu sama mereka."


"Kerja, kerja apa Bu?"


"Apa saja sup ibu kerjaan. Ngangon kambing, ngambil rumput untuk makan kambing. nanem padi. Nyuci pakaian, piring. ngepel kecuali masak. Mereka melarang ibu masak karena mereka bilang kalau ibu masak takut makanannya di makan sama ibu."

__ADS_1


"Terus ibu makannya apa kalau tidak boleh makan?"


"Tiap hari mereka cuma kasih ibu makan dua kali sama tempe atau ikan asin sup."


Terdengar ibu terisak. Sepertinya dia menangis.


"Terus mereka gaji ibu berapa?"


"Sepuluh ribu satu bulan sup. Mereka bilang itu sisa gaji ibu tiap bulan karena harus di potong sama biaya makan, tidur dan mandi di rumahnya."


"Astaga....keterlaluan sekali mereka."


"Iya sup, mereka benar benar tidak punya hati sup. Sebelas bulan ibu kerja sama mereka hanya di gaji seratus sepuluh ribu. Hik hik hik."


Sekarang aku baru mengerti kenapa ibu tidak pulang pulang. Kasihan dia di sana tidak di perlakukan baik oleh saudara saudaranya. Pantas saja tubuhnya kurus keriput dan hitam karena di sana dia ngangon kambing, ngambil rumput dan nanem padi.


Aku memasak gulai dengan penuh cinta serta bumbu agar rasanya enak dan ibu menyukainya. Senyum pun mengembang di bibirku sembari mengaduk aduk gulai di atas wajan. Selain masak gulai aku juga masak cap cay dan ayam goreng serta sambal. Satu jam masakan ku selesai dan aku menyajikannya di meja makan kaca bukan lagi meja kayu. Lagi lagi senyumku mengembang melihat hidangan yang tersaji. Gulai ikan gerong, ayam goreng, capcay dan sambal goreng. Mulai saat ini aku akan masak enak untuk ibu karena aku sudah tidak lagi kesulitan masalah uang dan aku pasti bisa menyajikan makanan apa saja yang ibu ingin kan.


Setelah tertata rapih aku bergegas ke ruang tamu dimana ibu serta bang Supri tadi mengobrol.


"Ibu!" Aku memanggilnya ketika sudah berada di ambang pintu ruang tamu.


Ibu menoleh ke arahku namun tidak menyahut atau bertanya melainkan diam dan menatap ku tanpa ekspresi.


"Kenapa Nur?" Justru bang Supri yang bertanya padahal aku tidak memanggilnya.


"Sebaik nya ibu makan dulu. Aku sudah masak gulai ikan gerong kesukaan ibu." Ucapku di sertai senyuman yang tak lepas dari bibirku.

__ADS_1


Setelah aku bicara ibu mengalihkan pandangan nya ke arah bang Supri.


"Tuh Bu, demi menyambut dan menghormati kedatangan ibu, Nuri masak kesukaan ibu. Kurang apa lagi coba anak perempuan ibu itu."


Ibu tidak merespon ucapan bang supri melainkan hanya diam dan terhanyut oleh lamunannya.


"Ibu!" Ucap bang Supri dan ibu menoleh lagi padanya.


"Ibu kan tadi bilang kalau ibu di sana tidak pernah makan enak dan sekarang Nuri sudah masak enak special untuk ibu."


"Iya Bu, mulai sekarang aku akan masak enak buat ibu. Apa pun yang ingin ibu makan aku pasti akan memasaknya untuk ibu."


Ibu menengadah, seperti sedang menahan air mata. Setelah itu dia menoleh lagi pada bang Supri.


"Ayok Bu!" Bang supri menarik lengan ibu pelan dan ibu pun menurut.


Bang supri menuntun ibu hingga meja makan. Setelah itu dia menarik kursi untuk di duduki oleh ibu. Aku dengan sigap membantu mengambil kan nasi dan meletak kan nya di atas piring.


"Ayok Bu, makan yang banyak ya! biar tubuh ibu sehat dan berisi lagi seperti dulu."


Ibu tidak menanggapi ucapan ku melainkan melakukan apa yang aku suruh. Dia mulai menyendok kan gulai ikan ukuran besar di atas piringnya lalu ayam goreng, capcay kecuali sambal yang tidak dia ambil. Dalam sekejap piringnya sudah penuh oleh lauk pauk di atasnya.


Ibu mulai makan menggunakan tangannya tanpa sendok. Dia makan lahap sekali seperti tidak makan dua hari. Aku dan bang Supri tidak ikut makan melainkan hanya memperhatikannya saja.


Dalam beberapa menit makanan di atas piring nya sudah habis kemudian dia menambah lagi. Aku dan bang Supri hanya tersenyum melihat ibu yang telah melahirkan kami makan begitu banyak. Tapi tidak mengapa selagi aku mampu membelinya aku akan terus kasih makan ibu yang enak enak.


Dari kecil, aku tidak pernah membantah atau menolak ketika ibu menyuruhku. Dari mulai dia menyuruhku jualan es lilin di sekolah, jualan getuk selepas pulang sekolah aku melakukan nya demi ibu meskipun tidak sedikit anak anak seusia ku yang mengolok ku. Setelah bekerja pun aku masih patuh pada perintahnya. Aku sering memberikan barang barang yang dia mau, membeli makanan yang enak enak bahkan sering memberikan uang dalam jumlah yang banyak. Hanya saja ketika aku sudah menikah dan tidak bekerja aku sangat jarang memberikan nya makanan enak dan tidak pernah memberi uang tapi meskipun demikian aku menukarnya dengan tenaga ku yaitu membuat kerupuk.

__ADS_1


Seburuk apa pun sikapnya padaku dia adalah ibuku, ibu yang telah melahirkan aku ke dunia ini dan ibu yang harus aku hormati, aku kasihi dan aku cintai di sepanjang usiaku.


__ADS_2