Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Will you marry me?


__ADS_3

Jantungku mulai berdebar, tubuhku pun ikut gemetar disaat lif itu membawa tubuhku langsung menuju lantai enam puluh tujuh. Apa yang akan di lakukan oleh penculik itu nanti? semakin mendekati si penculik rasa resah dan gelisah pun kian mendera perasaanku.


Ku lirik pria yang sedang berdiri tegap tanpa ekspresi." Sebenarnya boss mu siapa?" Aku memberanikan diri bertanya padanya meskipun raut wajahnya datar nan dingin.


"Tidak usah banyak tanya nanti anda akan tahu sendiri siapa boss saya." Ucap nya tanpa melihat ku.


Aku menelan saliva ku mendapat jawaban demikian. Aku menyesal, mestinya tidak perlu bertanya jika responnya hanya membuatku gigit jari.


Di tengah kediaman kami tiba tiba lif berhenti. Selang beberapa detik pintu lif itu pun terbuka. Pria dingin itu jalan lebih dulu dan aku mengekor di belakangnya.


Kami berjalan melewati sebuah lorong cukup panjang dengan penerangan lampu berwarna biru. Di ujung lorong itu terdapat tulisan sebuah nama Henshin. Setelah berada di ujung lorong itu kami berbelok ke arah kanan dan dari arah berlawanan seorang wanita memakai seragam rok pendek hitam serta baju hitam menyambut kami lalu menggiring kami memasuki sebuah lif kembali.


Setelah keluar dari lif itu aku tercengang melihat pemandangan yang ada yaitu berupa lounge yang nampak mewah serta cukup banyak pengunjung. Tidak sedikit dari mereka melihat ke arah kami ada yang hanya melihat sekilas ada pula yang menatap kami dalam waktu yang cukup lama.


Wanita itu terus saja membawa kami hingga memasuki sebuah lif kaca dan setelah berada di dalam lif kaca itu lagi lagi aku tercengang melihat pemandangan yang ada. Di dalam lif itu menyuguhkan pemandangan ke indahan kota Jakarta malam hari.


Setelah pintu lif terbuka wanita itu keluar lebih dulu lalu di susul oleh si pria dingin sementara aku mengekor di belakangnya. Pandanganku mengitari area sekitar dan untuk ketiga kalinya aku tercengang melihat pemandangan yang begitu menakjubkan. Bagaimana tidak takjub, saat ini aku berada di atas enam puluh delapan level. Dan di tempat aku berada saat ini merupakan sebuah restauran mewah berdinding kaca hingga nampak sangat jelas kerlap kerlip kota Jakarta yang begitu indah dan memanjakan mata serta tidak dapat ku ungkapkan dengan kata kata. Dan kebanyakan pengunjung restauran itu merupakan sepasang kekasih atau suami istri namun ada pula sebuah keluarga. Ku pastikan orang-orang yang sedang berada di restouran ini merupakan orang-orang yang berkantong tebal.


Ternyata benar kata pak sopir bahwa gedung ini merupakan gedung tertinggi di Jakarta jika aku melihat gedung-gedung di sekitarnya karena nampak sangat jelas dari tempat ku berada saat ini.


Aku benar-benar tidak mengerti kenapa si penculik itu ingin menemui ku di restauran yang menurutku sangat mewah dan letaknya di atas lantai enam puluh delapan lantai? kenapa tidak di sebuah gudang atau rumah? ini membuat ku sangat heran.


Aku melirik ke arah kedua orang yang sedang berdiri memperhatikan gerak gerik ku. Mungkin di mata mereka aku ini kampungan yang baru menginjak kan kaki ke restouran mewah ini. Selain penampilanku yang berpakaian kampungan perilaku ku pun nampaknya kampungan.


"Sebenarnya dimana boss kalian menyekap anak ku? kenapa kalian membawaku ke restauran ini?"Aku memberanikan diri bertanya kembali karena aku benar benar heran kenapa penculik itu menyuruhku datang ke restauran mewah ini.


Mereka saling pandang kemudian si pria dingin itu seperti memberi aba aba lalu si wanita nampak mengangguk.


"Permisi mas, mba!" ucap wanita itu lalu pergi dan aku memperhatikan kepergiannya."Siapa wanita itu?"tanya ku sembari menatap punggung wanita itu.


"Staf."Jawab pria itu singkat dan datar.

__ADS_1


"Oo." Aku baru tahu kalau wanita itu merupakan seorang staf pemandu tamu yang berkunjung ke restauran ini.


"Dimana bos mu sekarang?"


"Boss saya ada di private dining room."


Kening ku mengkerut."Private dining room! apa lagi itu maksudnya?"


Dia tidak menjawab melainkan beranjak pergi. Aku geleng-geleng kepala melihatnya tapi meskipun begitu aku tetap mengekor di belakangnya walaupun dalam ke adaan kesal.


Kemudian dia menghentikan gerakan langkahnya lalu melihat ke arah ku."Silahkan anda menaiki tangga itu." Tunjuk nya pada sebuah tangga yang berjarak empat meter dari kami berdiri. Aku pun mengikuti arah telunjuk nya." Boss saya sedang menunggu anda di atas."Sambungnya.


"Apa anak saya ada di sana juga?"


"Tentu saja."


"Anda tidak bohong kan?"


"Hei, kamu belum menjawab pertanyaanku." Ucap ku dengan suara cukup keras sehingga mengundang beberapa pasang mata menoleh ke arah ku. Namun pria itu tidak menghiraukan panggilanku menoleh pun tidak.


"Dasar kanebo kering." Umpat ku kesal.


Setelah pria dingin itu menjauh pandanganku mengitari ke sekeliling nampak beberapa pasang mata itu masih memperhatikanku namun aku tidak peduli lalu beranjak mendekati tangga menuju ke lantai atas. Perlahan aku menaiki nya, di saat itu pula aku merasakan sensasi melayang di atas awan dan cukup membuat jantungku berdebar tidak karuan. Bagaimana tidak merasakan hal demikian, karena di samping tangga itu berupa dinding kaca yang langsung menampilkan pemandangan di darat.


Hingga tiba di lantai atas aku kembali tercengang melihat ke sekitar. Sama halnya seperti di lantai enam puluh delapan, di lantai ini pun merupakan sebuah restauran mewah yang menyuguhkan pemandangan ke indahan Jakarta namun nampak sepi dan tidak ada satupun pengunjung.


"Dimana penculik itu berada?"


Ku langkah kan kaki ku hendak mengitari restauran sepi itu. Namun baru beberapa langkah aku di kejut kan oleh taburan bunga mawar merah di atas lantai. Tapi yang membuat aku heran adalah taburan bunga itu memanjang. Aku merasa seperti terhipnotis oleh pemandangan yang cukup menarik perhatianku dan tanpa sadar aku mengikuti arah taburan bunga hingga ujung.


Setelah sampai pada ujung taburan bunga itu aku mengangkat wajahku. Tepat di depan mataku nampak sebuah bunga mawar merah yang di desain berbentuk hati berukuran cukup besar. Namun yang membuat aku heran adalah di tengah bunga itu ada sebuah tulisan bahasa Inggris yang cukup besar dan membuat kedua alis ku saling bertautan melihat tulisan itu.

__ADS_1


"Will you marry me?" Aku membaca tulisan itu dengan suara cukup keras.


"Mama!" suara balita yang sangat aku rindukan dan aku khawatirkan terdengar berada di belakangku.


"Zain!" ucap ku. Kemudian dengan rasa tak sabar aku berbalik.


Seketika itu pula kedua pupil mataku membulat sempurna dan mulut ku terbuka cukup lebar melihat siapa sosok penculik anak ku sebenarnya. Seorang pria tampan nan rupawan, muda dan kaya. Seorang pria yang hampir dua bulan ini tidak ada kabarnya dan tidak pernah menemui ku. Seorang pria yang sangat aku rindukan dan seorang pria yang aku harapkan membuktikan kata katanya.


"Rai...Raihan!" ucap ku dengan mimik muka terkejut karena aku benar benar seperti sedang bermimpi indah saat ini.


Sembari menggendong Zain, Raihan memberikan senyuman yang nampak sangat hangat dan manis sekali di mataku hingga aku seperti terhipnotis olehnya lalu melupakan Zain yang ada di gendongannya.


"Mama!" ucap ulang Zain.


Aku terperangah. Panggilan Zain menyadarkan aku dari perasaan yang entah berantah setelah melihat pria yang sudah mengecewakan ku namun ku rindukan ada di hadapanku saat ini.


Raihan melangkah mendekatiku dengan senyuman yang tidak lepas dari bibirnya.


"Mama!" Zain memanggilku kembali sembari kedua tangannya terulur ingin menggapai ku.


"Zain!" Aku segera mengambil alih Zain dari gendongan Raihan.


Ku peluk erat Zain dan ku ciumi seluruh wajahnya." Mama rindu sekali sama kamu nak. Zain sudah bikin mama sangat khawatir." Zain tidak merespon ucapan ku melainkan tersenyum nyengir dan balik menciumi wajahku.


"Maaf, sudah membuat mba khawatir." Tiba tiba Raihan berucap.


Ku alihkan pandangan ku pada pria yang sudah membawa anak ku tanpa ijin itu.


"Jadi ini semua ulah mu Rai? Lantas apa maksud semua ini? Selama ini kamu tidak pernah menemui ku bahkan memberi tahu kabarmu saja tidak. Lalu sekarang tiba tiba kamu mengambil Zain dan membawa kemari tanpa sepengetahuanku. Dan kamu mengirim pesan seolah olah kamu seorang penculik lalu memintaku untuk datang kemari. Apa maksud semua ini Rai?"Aku meluapkan kekesalan ku pada Raihan.


"Bukannya mba sendiri yang menyuruh aku untuk tidak menemui mba lagi? Bukan nya mba sudah mengganti nomer ponsel mba agar aku tidak bisa menghubungi mba lagi? bahkan mba juga sudah tidak lagi memakai barang barang pemberianku." Raihan membalik kan kata kata yang membuat aku nyaris tidak dapat menelan saliva ku. Saat itu aku dalam keadaan kesal, marah dan kecewa padanya hingga aku menyuruhnya untuk tidak lagi menemui ku serta mematahkan kartu prabayar ponselku agar dia tidak bisa lagi menghubungiku. Tapi ternyata apa yang aku lakukan padanya itu di anggap serius olehnya. Raihan benar benar tidak menemui ku bahkan tidak pernah menghubungiku.

__ADS_1


Andai saja dia tau bahwa siang dan malam aku mengharapkanya datang lalu menjelaskan apa yang sudah dia lakukan padaku. Dan andai saja dia tau bahwa wanita itu ingin dimengerti tapi sayangnya Raihan sepertinya tidak pekak akan hal itu.


__ADS_2