
Aku masih menangis di kamar menangisi nasib diriku yang tak beruntung mendapatkan seorang suami. Kenapa suamiku tak pernah berlaku adil padaku padahal aku ini istri sah nya sementara Ipah Saripah merupakan hanya mantan istrinya tapi kenapa dia lebih banyak diberi uang di banding aku yang jelas jelas istri sah nya. Meskipun aku tau mas Surya memiliki dua orang anak dengannya tapi apakah wajar di beri jatah berlipat lipat banyaknya daripada aku? Sementara denganku pun mas Surya memiliki seorang anak juga.
Jika di katakan menyesal menikah dengan mas Surya, aku tidak mungkin mengatakan menyesal karena walau bagaimana pun pernikahan sudah terjadi dan sudah ada Zain di antara kami. Aku hanya menyesali sikap dan perlakuan mas Surya yang tak pernah adil padaku.
Kenapa pernikahan kami bisa terjadi padahal kenalan saja hanya dua minggu dan sama sekali aku tidak memiliki rasa suka bahkan cinta pada mas Surya? Dulu, aku bekerja sebagai salah satu staf kantor di pabrik kimia yang cukup besar di daerahku. Saat itu aku masih memiliki uang dan untuk makan pun tak pernah susah. Saat itu usiaku baru dua puluh empat tahun. Mas Surya menyukaiku saat dia pertama kali main ke rumah ku untuk menemui bang Supra, kakak pertamaku. Aku yang saat itu akan pergi bekerja menggunakan motorku di perhatikan terus oleh mas Surya. Sehingga entah bagaimana ceritanya tiba tiba bang Supra serta ibu menyuruhku dan memaksa ku untuk menikah dengan mas Surya secepatnya. Bang Supra mengancam tidak akan pernah mau menikahkan aku dengan siapa pun kelak jika aku mau menikah. Aku takut sekali dengan ancaman bang Supra. Di tambah lagi ibu pura pura kesurupan agar aku mau menuruti keinginannya. Bahkan ibu akan nekat bunuh diri jika aku tidak mau menikah dengan mas Surya. Akhirnya terpaksa aku menyetujui keinginan mereka. Aku mencoba ikhlas dan menerima perjodohan yang aku jalani hingga aku memiliki seorang Zain.
Cukup lama aku menangis hingga air mataku terasa mengering. Namun seketika aku teringat bahwa Zain yang masih di rumah Raihan. Aku beranjak pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka ku yang penuh air mata terlebih dahulu. Setelah itu, aku bergegas pergi ke rumah Raihan. Aku memasuki pekarangan rumah Bu haji dengan mudah karena gerbangnya belum terkunci. Aku berjalan mendekati pintu meskipun sebenarnya ada sedikit keraguan di hatiku berkunjung ke rumah orang malam hari karena aku takut mengganggu pemilik rumah.
Cukup lama aku berdiri di depan pintu dengan kebingunganku sampai akhirnya pintu di buka oleh pemilik rumah yaitu Bu haji.
"Assalamualaikum Bu haji, maaf saya malam malam mengganggu istirahatnya Bu haji."
Bu haji malah tersenyum hangat dan berucap," siapa yang merasa terganggu Nuri? kamu ada ada saja. Mau ambil Zain kan ayok masuk."
Tiba tiba hujan turun lebat dan aku terkesima melihat air hujan turun deras disertai petir. Kenapa hujan? kalau hujan bagaimana aku bisa pulang nanti, pikirku.
Jeddeeerrrr.....
Aku terperanjat kaget mendengar suara petir menyambar. Bu haji tanpa bicara lagi menarik tanganku masuk kedalam rumahnya lalu segera menutup pintunya.
"Untung kamu sudah di sini Nur, coba saja kalau masih di jalan. Mana hujannya besar banget di tambah lagi petir."
"Iya Bu, Alhamdulilah."
"Zain ada di kamarnya si Raihan di atas masuk saja. Tadi saya lihat mereka lagi ketawa ketawa. Oya, Zain juga sudah makan tadi sore si Raihan yang menyuapi."
"Zain jadi merepotkan Raihan sama Bu haji di sini."
"Seperti nya kalau untuk si Raihan mah dia tidak merasa direpotkan. Lagi pula biarkan saja hitung hitung latihan untuk nanti kalau dia sudah menikah dan punya anak biar tidak kaku."
Aku tersenyum saja mendengar Bu haji bicara.
"Sudah sana, samperin mereka di atas."
__ADS_1
"Iya Bu haji, kalau begitu saya ke atas dulu." Aku berjalan menaiki anak tangga satu persatu menuju dimana kamar Raihan berada. Tiba di lantai atas aku kebingungan mencari dimana kamar Raihan karena ada tiga kamar di atas. Namun pandanganku tertuju pada satu pintu ada gantungan kaligrafi tulisan Arab dan aku meyakini bahwa itu pasti kamar Raihan.
Aku mengetuk pintu serta ucapkan salam berulang kali tapi tidak ada yang menyahuti dari dalam. Aku nekat untuk membukanya saja karena jika menunggu untuk dibuka entah kapan di bukanya.
Aku membuka pintu kamar dengan pelan dan hati hati karena aku sendiri masih ragu jika salah kamar. Setelah berada di dalam kamar pandangan ku langsung tertuju pada dua manusia yang sedang tertidur di atas kasur sambil berpelukan. like father like son dan aku tersenyum melihatnya.
Pandanganku mengitari isi kamar Raihan yang cukup luas terlihat bersih dan semua furniture yang ada tertata rapih. Biasanya kamar anak laki laki itu cenderung banyak gambar gambar aneh yang tertempel dimana mana tapi kamar Raihan justru sebaliknya tidak ada tempelan apapun. Kamarnya terlihat soft and sweet.
Ada satu pajangan yang mencuri perhatianku yaitu sebuah lukisan wajah wanita yang berukuran cukup besar. Lukisan itu menempel di dinding tepat di hadapan ranjang. Jadi ketika Raihan bangun tidur lukisan wanita itulah yang pertama kali dia lihat.
Aku penasaran lukisan siapa dan sepertinya lukisan nya sangat special sehingga di pajang hanya satu satunya sebagai hiasan di kamar Raihan. Aku berjalan mendekati lukisan itu lalu ku perhatikan baik baik sepertinya wajahnya tidak asing dan sepertinya aku pernah melihatnya tapi siapa? Ku ingat ingat lagi siapa pemilik wajah di lukisan yang terpampang ini. Aku mengerutkan dahi lalu meraba wajahku.
"Lukisan ini kok seperti mirip dengan wajahku. Tapi masa iya Raihan melukis wajahku dan di pajang di kamarnya untuk apa coba? ah pasti hanya perasaanku saja. Dan yang pasti lukisan ini pasti pacarnya Raihan." Aku bergumam dalam hati melihat keanehan lukisannya yang mirip sekali dengan wajahku.
"Ehem..!"
Aku tersentak lalu berbalik ke belakang. Raihan sudah berdiri tepat di hadapanku. Aku mendongak kan wajahku ke atas menatap pada wajah Raihan yang berpostur tubuh tinggi.
"Rai....!"
"Mau dibawa kemana mba?"
"Kami harus cepat pulang Rai !"
"Tapi lihat di luar mba, hujan angin petir. Apa mba mau bawa pulang Zain sambil hujan hujanan?"
Aku menghentikan pergerakan tanganku. Raihan benar aku tidak mungkin membawa Zain pulang dalam keadaan hujan hujanan.
"Biarkan saja dulu Zain tidur di situ sampai hujannya reda."
Aku duduk di bawah ranjang sambil menunggu hujan reda.
"Mba..!"
__ADS_1
Aku menoleh ke arah Raihan yang sedang memegang buku." Ada apa?"
"Dari pada bengong di situ mending ikut aku ke dapur mba..!"
"Mau apa ?"
"Masak."
"Masak ?"
"Masak mie rebus maksudku. Hujan gini enaknya makan yang anget anget."
Aku menelan saliva ku karena Raihan mengingatkan makanan yang sudah sangat lama sekali tidak aku makan. Selain itu, perutku juga terasa lapar sekali karena aku belum sempat makan malam ini.
"Ayok mba..!"
Dengan sedikit ragu aku mengikuti ajakan Raihan untuk membuat mie rebus di dapur. Setelah tiba di dapur Raihan mengeluarkan dua buah mie, dua buah telor, pokcay serta tomat.
"Rai, biar aku saja yang masak."
"Serius mba, boleh deh. Kebetulan aku ingin mencoba mie rebus buatan mba Nuri."
"Lebay kamu Rai. mie rebus buatan ku tidak ada bedanya dengan mie rebus buatan orang lain. orang bahan yang di buatnya saja sama."
"Hehe..!"
Aku mulai masak mie sementara Raihan menunggu di meja makan. Sepuluh menit kemudian dua mangkuk mie sudah selesai di hidangkan kan.
"Harum sekali...!" ucap Raihan ketika aku menyodorkan satu mangkok ke hadapannya.
"Terima kasih lho mba, sudah mau masakin aku mie enak ini."
"Aku juga terima kasih lho, sudah di bolehkan makan mie gratis di sini."
__ADS_1
"Bisa saja mba Nuri. mie sama telor kan murah dan banyak di warung mba."
Aku hanya tersenyum andai saja Raihan tau bahwa aku tidak pernah bisa membeli mie serta telur karena dua makanan ini cukup mahal bagiku...apa dia akan bilang murah lagi?