
Sebelum aku menemani bang Supri ke rumah sakit, aku membawa pulang motorku terlebih dahulu ke rumah serta mengemasi beberapa baju ganti aku dan Zain untuk dibawa ke rumah sakit karena aku yakin pasti akan menginap di sana. Setelah semua beres aku pergi ke klinik lagi dengan ojek yang sudah aku sewa di pangkalan ojek sebelumnya.
Bang Supri dibawa ke rumah sakit menggunakan mobil ambulan yang ada di klinik dan aku serta Zain ikut pula di dalamnya menemaninya.
Tubuh bang Supri semakin melemah padahal tadi saat di rumah mertuanya dia masih bisa berjalan dan bersuara keras. Namun saat ini dia hanya bisa berbaring lemah di atas brankar dan terdapat selang infus di tangannya. Aku semakin penasaran penyakit apa yang sedang di derita oleh bang Supri.
Dua jam kemudian mobil ambulan kami tiba di rumah sakit kabupaten dan langsung di bawa keruangan UGD. karena aku membawa balita pihak rumah sakit melarang aku untuk ikut ke dalam.
Ketika aku sedang mondar mandir di depan UGD dan sambil menggendong Zain, Raihan datang.
"Mba..Zain !" sapa Raihan dan aku tersenyum senang melihatnya datang tepat waktu.
"Apa aku mengganggu kerjamu Rai?"aku merasa bersalah karena mungkin disaat Raihan sedang sibuk di kantornya aku merepotkan nya.
"Sama sekali tidak mba," sembari mengelus pucuk kepalaku.
"Dengan keluarga bapak Supriyadi?" seorang suster menyembulkan kepalanya dan kami menoleh ke arah nya.
"Saya sus," ucap ku.
"Di tunggu di dalam ya mba,"kata suster itu.
Aku mengangguk. Kemudian aku melirik ke arah Raihan."Rai.."
"Biar aku yang jaga Zain mba," kata nya. Aku tersenyum dan memberikan Zain pada Raihan lalu aku masuk ke dalam UGD.
Ketika memasuki UGD, banyak sekali pasien yang sedang ditangani oleh beberapa dokter dan suster, ada juga pasien yang sedang menunggu ruang rawat inap kosong.
Aku melihat bang Supri sedang di tangani oleh dokter dan dua orang suster. Kemudian aku menghampiri mereka dan bertanya," bagaimana dengan kakak saya dokter? dia sakit apa?
"Belum di ketahui pasti mba, kita harus melakukan beberapa tes terlebih dahulu untuk memastikan penyakitnya apa."Seorang dokter laki laki yang sedang menangani bang Supri menjelaskan.
"Silahkan kebagian administrasi dulu mba, untuk mendaftar kan pasien terlebih dahulu," titah seorang perawat dan aku mengangguk.
Kemudian aku berjalan ke arah bagian admistrasi untuk mendaftarkan bang Supri serta menentukan ruang rawat inap. Ketika aku sudah berhadapan dengan bagian administrasi mereka memberi tahu bahwa ruang rawat kelas biasa dalam keadaan penuh dan tinggal tiga ruang VIP yang kosong. Aku bingung, aku tidak bisa memutuskan sendiri karena yang namanya VIP pasti harganya mahal.
"Sebentar ya mba, saya mau kompromi dulu dengan keluarga saya," kata ku beralasan.
"Oh, iya mba, silahkan."
Aku bergegas keluar dari ruangan itu dan berjalan ke arah Raihan sambil me re mas buku-buku jariku. Aku bingung harus bagaimana mengingat biaya untuk perawatan bang Supri karena sepertinya tabunganku pun tidak akan cukup.
__ADS_1
"Kenapa mba, apa yang terjadi?" tanya Raihan ketika aku sudah berdiri di hadapannya.
"Rai, ruang rawat biasa sudah penuh, tinggal ruang VIP yang masih kosong." Aku berkata dengan pelan.
"Terus?"
"Aku bingung Rai, sepertinya tabunganku tidak akan cukup kalau harus menempati kamar VIP, apa aku boleh minjam uang kamu dulu?" tanya ku dengan ragu dan sedikit menunduk. Sebenarnya aku malu sekali pada Raihan lagi lagi aku merepotkan nya.
Raihan tersenyum."Ya ampun mba, aku pikir ada hal yang mengkhawatirkan melihat wajah mba yang seperti itu. Tidak usah cemas ya sayang, kalau masalah biaya biar aku yang menanggungnya."
Tanpa sadar dan saking senangnya aku meraih sebelah tangan Raihan karena tangan satunya sedang menggendong zain. Kemudian aku memegang erat tangan itu lalu membawanya ke pipiku dan berucap," terima kasih ya Rai, terima kasih banget sudah mau menolong aku lagi."
Aku dan Raihan memasuki kamar VIP yang telah di booking oleh Raihan, kamar yang sama persis saat aku di rawat di rumah sakit ini juga beberapa waktu yang lalu dan Raihan pula yang menolongku.
Terlihat bang Supri sedang berbaring di atas ranjang pasien dalam keadaan mata terpejam dan dua perawat yang sedang memasangkan selang infus.
Raihan membawa Zain duduk di atas sofa sementara aku mendekati ranjang pasien. Aku menatap iba pada bang Supri yang sedang terpejam. Dalam keadaan tak berdaya seperti ini aku menjadi kasihan padanya. Istrinya tidak peduli padanya, ibu yang entah bagaimana kabarnya dan tidak mengetahui bagaimana kabar anak yang paling di sayangnya. Bang Supri merupakan anak yang paling di sayang oleh ibu. Sejak kecil apa pun yang di minta olehnya pasti akan di turuti hingga dia besar dan berumah tangga masih saja di turuti kemauannya oleh ibu.
Jika mengingat perlakuan ibuku yang tak pernah adil padaku dan mengingat perlakuan buruknya aku benci sekali. Namun untuk saat ini aku mengesampingkan rasa benciku pada ibu atau bang Supri.
Setelah dua suster itu selesai memasangkan jarum infus, aku bertanya karena penasaran." Sus, sebenarnya kakak saya ini sakit apa?"
"Tunggu penjelasan dari dokter saja ya mba, soalnya pasien sedang dalam proses pemeriksaan."Salah satu suster itu menjelaskan.
"Sama sama mba, kami keluar dulu."Mereka pamit dan aku mengangguk.
"Mba.."Raihan memanggilku dan aku menoleh ke arahnya.
"Sini duduk,"kata Raihan sambil menepuk sofa. Aku mengangguk lalu duduk di sampingnya.
"Mba sabar ya, bang Supri pasti baik baik saja,"kata Raihan menenangkan aku.
"Aku kasihan padanya Rai, di saat dia sakit seperti ini istrinya tidak peduli."
"Aku kagum sama kamu mba, di saat mba menderita atau sakit tidak ada keluarga mba yang peduli. Tapi di saat salah satu keluarga mba sakit, mba orang pertama yang peduli dan menolongnya."
"Karena walau bagaimana pun buruknya sikap mereka padaku tapi mereka tetap saudara sedarah ku Rai, aku tidak mungkin tega membiarkannya sakit seperti itu."
"Dan oleh karena itu aku mencintaimu, mba memiliki hati yang tulus,"Raihan berkata sembari mengusap belakang kepalaku.
Pukul tujuh malam, Raihan ijin keluar kamar dan aku mengijinkan nya. Aku pikir mungkin Raihan mau mandi dan berganti pakaian terlebih dahulu. Aku menoleh pada Zain yang sedang tidur di atas sofa lebar lalu menyelimutinya dengan selimut kecil karena ruangan cukup dingin. Setelah itu, aku mendekati ranjang bang Supri yang sedang tertidur. Aku membenarkan letak selimutnya yang merosot hingga sampai bawah kaki karena tadi magrib bang Supri sempat mengamuk menahan kepalanya yang sakit sebelum suster menyuntik kan pereda nyeri sementara.
__ADS_1
Ketika aku baru saja selesai menyelimuti bang Supri, Raihan masuk sembari membawa paper bag dan kasur bulu yang dapat dilipat. Dengan penampilan yang masih sama dia tersenyum padaku lalu meletakkan barang bawaannya.
"Aku pikir kamu mau mandi dan berganti pakaian Rai, ternyata bawa kasur. Seperti sedang piknik saja." Aku berseru dan sedikit meledeknya.
Raihan tertawa renyah." Tapi walaupun aku tidak mandi dan tidak berganti pakaian aku masih tetap tampan kan mba?"tanya Raihan dengan percaya diri dan aku tidak menampik bahwa Raihan memang tetap terlihat tampan walau bagaimana pun penampilannya.
Raihan menggelar kasur bulu itu di atas lantai dan aku memperhatikannya saja. Setelah itu, dia mengangkat tubuh mungil Zain dari sofa lalu meletakkan nya di atas kasur tersebut. Aku tersenyum melihatnya ternyata Raihan membawa kasur itu untuk tidur Zain karena jika tidur di atas sofa takut terjatuh. Perhatian sekali dia pada Zain.
Ketika Raihan sedang menyelimuti Zain aku bertanya," Ini apa yang kamu bawa Rai?"
"Oh, itu makanan untuk makan kita mba."
"Jadi kamu keluar tuh hanya sekedar membeli makanan dan kasur?"
"Iya mba, tadi aku membelinya di restauran depan rumah sakit ini," kata Raihan sembari berjalan ke arahku.
Aku membuka beberapa box berisi makanan dan terlihat menggiurkan sekali. Aku merasa semenjak dekat dengan Raihan lidahku selalu di manjakan dengan makanan yang enak enak. berbeda sekali dengan hidup ku ketika masih menjadi istrinya mas Surya, jangan kan menikmati makanan restauran, menikmati makanan warteg saja tidak pernah dan aku kerap kali makan dengan cabai dan garam yang di ulek.
Kami mulai menikmati makanannya dalam diam, namun sesekali Raihan melirik ke arah ku serta melemparkan senyum manisnya padaku dan aku pun membalas senyumannya.
Baru saja kami selesai makan dan aku sudah mencuci tangan serta membereskan sisa makanan, seorang suster masuk ke dalam ruangan. Dia menyapa dan tersenyum kearah kami sambil berkata," maaf mba, mas, saya mau mengganti cairan infus," ijin suster tersebut.
"Iya sus, silahkan." Aku memberi ijin.
Setelah sang suster selesai mengganti cairan infus dengan yang baru dan hendak berjalan keluar aku bertanya," Suster, kira kira kapan hasil pemeriksaan akan keluar?"
"Kemungkinan besok pagi mba," jawab sang suster, kemudian dia keluar ruangan setelah aku mengucapkan terima kasih.
Pukul satu malam, aku melirik Zain yang sedang tidur pulas, kemudian aku arahkan pandangan ku pada bang Supri yang sedang tertidur. Tadi dia sempat mengerang kesakitan sampai memukul mukul kepalanya dan beruntungnya di saat itu pula ada suster jaga lalu menyuntik kan obat pereda sementara dan sekarang dia kembali tertidur.
Setelah itu, aku melirik pada pria tampan yang sedang fokus menatap layar laptopnya di sampingku yang berjarak satu meter. Aku memiringkan tubuhku dan menyenderkan pipi kananku pada senderan sofa lalu memandangnya dengan pikiranku yang berkelana. Aku tau Raihan sedang mengerjakan pekerjaannya dan gara gara aku dia harus bekerja tengah malam.
Raihan menyadari bahwa dirinya sedang di perhatikan olehku lalu melirik ke arahku dan memberikan senyuman.
"Kenapa memperhatikanku seperti itu mba?"
"Kenapa kamu masih bekerja dan tidak tidur Rai? ini sudah jam satu lho."
"Mba nanya? dan bertanya tanya aku kenapa?"
"Ish, bahasa mu kenapa jadi seperti bahasa alay yang lagi viral sih."
__ADS_1
Raihan tertawa kecil, kemudian dia menutup laptopnya dan menyimpannya di atas meja. Setelah itu, dia merebahkan tubuhnya dan meletak kan kepalanya di atas paha ku lalu memejamkan matanya. Awalnya aku terkejut dan merasa kurang nyaman karena aku takut akan ada suster jaga yang akan masuk untuk mengecek cairan infus bang Supri. Namun lama lama ku biarkan saja, aku pikir Raihan butuh tempat untuk mengistirahatkan otaknya yang terus berpikir, memikirkan tentang pekerjaannya dan memikirkan tentang sakit nya bang Supri.
Secara sadar aku mengelus rambutnya dengan lembut namun pikiran ku memikirkan tentang kekasihnya. Bagaimana perasaan Nura jika tau malam ini kekasihnya sedang bersamaku dan tidur di pangkuanku.