Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Pembelaan Bu haji


__ADS_3

Aku menatap beberapa kantong plastik besar berisi kerupuk kering dengan senyum yang terus tersungging di bibirku. Senang sekali rasanya pesanan kerupuk Bu haji sudah tersedia sesuai dengan target waktu yang di tentukan. Hari ini adalah hari dimana aku harus mengantarkan beberapa kantong plastik ini ke rumah Bu haji, karena aku tidak memiliki kendaraan maka aku harus membawanya satu persatu ke rumahnya. Aku pikir tidak mengapa meskipun harus bolak balik yang penting tidak mengecewakan pelanggan.


Di depan pintu gerbang rumah Bu haji aku memberi salam dengan sedikit berteriak karena jarak pintu gerbang dan rumahnya cukup jauh. Setelah beberapa kali mengucapkan salam, muncul dari balik pintu rumah Bu haji seorang wanita yang sudah tak lagi muda melihat ke arahku kemudian berjalan mendekat. Dalam hati aku bertanya siapa wanita itu karena baru kali ini aku melihatnya.


"Maaf mba, cari siapa ya?" tanya wanita itu di balik pintu gerbang.


"Saya mau bertemu Bu haji."


"Oh, Bu hajinya lagi..!"


"Mba Sum tolong di bukain itu gerbangnya." titah seseorang di teras rumah dan ketika aku menoleh ke arah sana ternyata Bu haji yang menyuruh aku masuk.


"Iya Bu..!"ucap wanita yang baru aku ketahui ternyata dia adalah ART barunya Bu haji.


"Terima kasih mba,"ucap ku setelahnya. Kemudian aku berjalan ke arah Bu haji yang sedang berdiri sembari tersenyum ke arahku.


"Saya mau mengantarkan kerupuk Bu, tapi ini belum semua karena saya kesusahan bawanya jadi saya mau mengunjal saja."


"Ya ampun Nur, pasti capek banget kalau harus bolak balik mana jalan kaki dan bawa anak lagi. Kamu bawa motor saya saja biar tidak capek."


"Tapi saya...!"


"Tidak apa Nur, biar anak mu saya yang jagain dulu." Bu haji memotong perkataan ku.


"Sebentar saya ambil kunci motor dulu."Bu haji beranjak masuk ke dalam rumahnya dan tak lama kemudian dia menyerahkan kunci motor metik padaku dan mengambil alih menggendong Zain.


"Motor nya ada di dalam garasi, kamu tolong buka saja garasinya,"titah Bu haji dan aku mengangguk.


Aku berjalan ke arah garasi yang terletak di samping rumah lalu membukanya. Nampak jejeran mobil dan motor di dalamnya. Mobil pajero yang sering Raihan pakai serta dua mobil lagi yang baru pertama kali aku melihatnya. Kemudian aku memperhatikan jejeran motor, dua motor metik dan dua motor sport. Aku terdiam melihat dua motor sport, seingat ku Raihan memiliki tiga motor sport namun ini hanya ada dua, apakah Raihan pergi membawa satu motor? pikirku.


Tidak mau banyak mikir lagi aku segera mengeluarkan motor metik berwarna hitam. Sebelum aku melajukan motornya aku menoleh ke arah Bu haji yang sedang memangku Zain di kursi teras lalu berkata," Bu, saya titip Zain dulu sebentar ya?"sebenarnya aku tidak enak hati menitipkan Zain pada orang tua meskipun bu haji orang tua yang masih terlihat sehat dan bugar. Namun Bu haji sendiri yang menawarkan dirinya untuk menjaga Zain sementara waktu dan aku mau tak mau menurutinya saja.


Aku melajukan motornya ke arah rumah ku yang sebenarnya tidak terlalu jauh. Setelah itu, aku segera menyusun tumpukan kantong plastik berisi kerupuk di atas motor. Kemudian setelah selesai aku membawanya ke rumah Bu haji. Tiba di rumah Bu haji aku tidak melihat keberadaan bu haji dan Zain di teras seperti tadi namun hanya ada art yang sepertinya sedang menungguku. Dia berjalan ke arahku dan berkata,"saya di minta sama ibu haji untuk membantu mba."


"Oh, terima kasih Bu! tapi dimana Bu haji dan anak saya ya Bu?" tanya ku pada art yang sedang ikut membantuku menuruni satu persatu kerupuk yang aku bawa.


"Ada di dalam mba."


Tak lama kemudian Bu haji keluar dari rumahnya tanpa membawa Zain. Aku tersenyum ke arahnya begitu pula dengan dirinya.


"Nuri, langsung dibawa ke dalam saja ya?titah Bu haji, kemudian aku mengangguk.


Aku dan ART yang belum aku ketahui namanya bergotong royong membawa satu persatu kantong plastik ke dalam rumah Bu haji. Kami meletak kan nya di pojokan ruangan sesuai arahan Bu haji. Setelah selesai, aku menghela nafas lega dan bergumam,"alhamdulilah akhirnya kelar juga." Tanpa ku sadari ternyata Bu haji mendengar gumaman ku dan berkata,"iya Nur, dan saya berterima kasih sekali sama kamu lho, kamu bisa menyelesaikanya dalam waktu yang tepat."


Aku sedikit terkejut Bu haji ada di dibelakang ku kemudian aku berbalik mengarah padanya dan berkata,"sama sama Bu, saya juga mengucapkan banyak terima kasih karena ibu sudah mengorder kerupuk saya dengan jumlah yang sangat banyak.


"Ya sudah, yuk kita sambil duduk ngobrolnya," ajak nya, dan aku mengangguk.


Kami berjalan ke arah ruang tamu dan Bu haji meminta ART nya untuk membuatkan dua gelas minuman ketika kami berpapasan dengannya.

__ADS_1


"Bu haji!"


"Kenapa Nuri?"


"Anak saya dimana ya Bu?" tanya ku, sebab aku tidak melihat keberadaan Zain dari tadi.


"Oh, ada di atas lagi anteng main. Kamu santai saja dulu,"jawab Bu haji dan aku mengangguk.Tidak lama kemudian ART datang membawa nampan berisi dua cangkir teh serta dua toples cemilan kemudian dia meletakkan nya di atas meja.


"Terima kasih ya Bu!"ucap ku.


"Sama sama mba."


"Mba Sum, tolong ambilkan anak mba ini di ruang atas ya, mainannya bawakan juga kemari," titah Bu haji pada Bu Sum.


"Iya Bu haji."Kemudian Bu Sum pergi dari hadapan kami.


"Di minum teh nya Nuri!"


"Iya Bu terima kasih."Kemudian aku meminumnya.


"Besok lusa apa kamu ada acara Nuri?" tanya Bu haji, ketika aku baru saja meletak kan cangkir berisi teh di atas meja.


"Memang kenapa Bu haji?"


"Saya ingin mengajak kamu ikut dengan saya besok lusa kalau kamu tidak sibuk."


Aku tercengang, Bu haji ingin mengajakku pergi dimana hari itu juga aku sudah ada janji dengan Andre.


Sebenarnya aku merasa tidak enak hati menolak ajakan Bu haji namun aku sudah lebih dulu membuat janji dengan Andre. Andai saja Bu haji mengajak ku lebih dulu mungkin aku akan menolak ajakan andre. Lagi pula jika aku ikut dengan Bu haji siapa tau bisa bertemu dengan Raihan, lagi lagi aku memikirkannya. Ingin rasanya aku menanyakan keberadaan Raihan sekarang namun lagi lagi aku tidak memiliki keberanian untuk menanyakannya.


"Maaf Bu haji, bukannya saya tidak ingin ikut dengan ibu tapi saya sudah terlanjur ada janji sama teman."


"Oh begitu, ya sudah tidak apa apa, bisa lain waktu saja."


Kemudian Bu Sum datang sembari menggendong Zain serta membawa mobil mainan. Aku sedikit terkejut melihat mobilan yang pernah Raihan belikan saat aku menginap di rumahnya. Rasa cemas menyelinap di hatiku, bagaimana kalau Bu haji tau bahwa aku pernah menginap di rumahnya ketika beliau tidak ada di rumah.


"Mama...!"Zain menyapaku sembari tangannya terulur. Aku tersenyum kemudian mengambil alih Zain dari gendongan Bu Sum.


"Ini mainannya ya anak ganteng."Bu Sum berkata sambil meletak kan mainan di hadapan ku. Aku tersenyum tipis dan mengucapkan terima kasih.


"Waktu saya pulang dari Bogor, saya menemukan mainan anak anak di rumah ini dan saat saya tanyakan pada Raihan mainan siapa dia bilang milik Zain yang tertinggal."


Aku terbatuk mendengarnya, malu sekaligus takut. Malu pada Bu haji karena aku menginap di rumah seorang pria dalam keadaan sepi, dan takut bu haji beranggapan buruk padaku. Kemudian aku menundukkan wajah malu serta cemas ku.


"Tidak apa Nuri, Raihan sudah menjelaskan nya kalau Zain pernah nginap di rumah ini." Bu haji berkata santai seolah olah menenangkan aku dari rasa kecemasan. Aku mendongak dan sedikit membesarkan mataku mendapati sikap Bu haji yang di luar dugaan ku. Kemudian aku menghela nafas lega.


"Assalamualaikum mama!"ucap seseorang di balik pintu keluar masuk terdengar nyaring sekali. Aku dan Bu haji menoleh ke arah pintu dan tak lama Bu Sum berjalan tergopoh gopoh mendekati kami.


"Mba Sum, tolong bukain itu, siapa yang datang," titah Bu haji pada Bu Sum.

__ADS_1


"Baik Bu!"kemudian Bu Sum berjalan ke arah pintu dan membukanya.


"Maaf mba, mau nyari siapa ya?" terdengar suara Bu Sum sedang bertanya.


"Siapa lagi kalau bukan calon mertua saya pemilik rumah ini. Lagian kamu siapa sih tanya tanya?"terdengar pula suara wanita yang tidak asing lagi menjawab pertanyaan Bu Sum dengan ketus.


Bu haji terlihat menghela nafas kesal lalu geleng - geleng kepala mendengar perkataan seorang wanita yang sedang berbicara dengan Bu sum. Baru saja Bu haji berdiri hendak menyusul namun tamu tak di undang itu tiba tiba saja nyelonong masuk dan berjalan ke arah kami sambil merentangkan tangannya dia berseru,"Mama.....!"


Kemudian wanita itu memeluk Bu haji sambil berkata,"mama lama banget sih di Bogor nya, Risa kangen banget lho ma!"setelah itu Risa melepaskan pelukannya namun sikap Bu haji terlihat biasa saja padanya.


"Raihan mana ma? dia sudah pulang kan?" tanya Risa, namun Bu haji diam saja.


Aku berdiri dan berkata,"ehm, Bu haji kalau begitu saya permisi pulang dulu Bu," ijin ku pada Bu haji.


Risa berbalik, dia terlihat terkejut mungkin baru menyadari keberadaan ku, kemudian dia menoleh lagi pada Bu haji dan berkata dengan sinis," kok ada ja la ng ini di sini ma?"


"Risa!" Bu haji membentak nya. Risa terlihat terperanjat kemudian menimpali," mama kok membentak Risa sih?"


"Habisnya kamu tidak sopan menyebut orang, dia punya nama," jawab Bu haji, dia terlihat kesal.


"Kenapa mama belain ja la ng itu sih? Risa tidak terima, dia masih saja menyebutku ja la ng.


"Saya tidak membela siapa siapa, saya hanya tidak suka cara bicara kamu yang seperti orang tidak berpendidikan. Bukan nya kamu sedang kuliah ya? kamu juga anak seorang ustad tapi kenapa cara bicara kamu seperti itu? semakin lama semakin kamu menunjukan sikap aslimu dan saya semakin kurang respek. Pantas saja Raihan tidak mau di jodohkan sama kamu karena sikap mu yang buruk.


Dada Risa terlihat naik turun menahan amarah, sepertinya dia tidak terima atas apa yang di ucapkan oleh Bu haji. Selain itu dia juga merasa wibawanya di rendah kan di hadapanku. Kemudian dia menoleh ke arah ku dan berkata dengan lantang,"ini semua gara gara kamu ja la ng," sembari telunjuk tangannya mengarah padaku.


Aku mengernyitkan kening ku karena aku tidak mengerti kenapa tiba tiba dia menyalahkan aku."Salah aku? perasaan dari tadi aku diam saja tidak bicara apa apa." Aku membela diri karena aku merasa tidak melakukan kesalahan apa apa.


"Jangan pura pura be go kamu ja la ng, kamu senang kan calon mama mertuaku me...."


"Diam kamu Risa!" Bu haji membentak Risa dan seketika dia bungkam.


"Bagaimana mungkin saya mau memiliki menantu yang memiliki sikap buruk seperti mu."


"Kenapa mama berubah sikap seperti ini padaku? bukannya mama sangat setuju aku menikah dengan Raihan?"


"Itu dulu, sekarang tidak, apa lagi saya sudah tau bagaimana sikap asli kamu begitu juga dengan sikap orang tuamu."


Risa terlihat geleng - geleng kepala dan mengeluarkan air mata."Tidak, tidak bisa. Pokoknya mama harus setuju aku menikah dengan Raihan. Aku cinta banget sama Raihan ma."


"Tapi cinta tidak bisa di paksa Risa, anak saya tidak menyukai kamu. Kamu tau kan kenapa dia pergi dari rumah? karena dia tidak ingin di jodohkan sama kamu."


Telunjuk Risa menunjuk nunjuk ke arahku dan berkata,"Dia....dia ma, ini semua gara gara dia...kalau bukan gara gara dia Raihan tidak akan pergi ninggalin aku. Kenapa mama salahkan aku?"


"Jangan salah kan Nuri, dia tidak salah apa apa. Mestinya kamu introspeksi diri kenapa Raihan tidak menyukai kamu. Sudah, kamu jangan memaksakan kehendak mu, Rezeki, maut serta jodoh sudah di tentukan sama Allah. Kalau kamu tidak berjodoh dengan Raihan ya jangan salah kan orang lain tapi memang sudah takdirnya. Lebih baik kamu pulang Risa, saya sudah malas berdebat sama kamu."


"Aku tidak terima mama memperlakukan aku seperti ini dan kamu....!" Risa menoleh ke arahku dengan wajah merah padam serta tatapan tajam.


"Jangan senang dulu, aku akan membalas atas apa yang kamu lakukan padaku, ingat itu." sambung nya kemudian. Dia mengancam ku dan aku hanya mengernyitkan dahi saja tidak habis pikir dengan sikapnya yang seperti kurang waras.

__ADS_1


Risa menghentak kan kakinya kemudian beranjak pergi. Terdengar daun pintu di banting nya dan itu cukup membuat aku serta Bu haji terperanjat. Sambil memegang dadanya bu haji bergumam," Risa Risa...untung Raihan menolak di jodohkan sama kamu."


Aku tidak menyangka Bu haji membelaku dan aku pikir Bu haji masih memaksa Raihan di jodohkan dengan Risa. Mungkin kepergian Raihan membuatnya tersadar yang namanya cinta tidak bisa di paksakan.


__ADS_2