Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Pembalasan pada Bu Rida


__ADS_3

Uang tabunganku semakin menipis karena ku pakai untuk kebutuhan sehari hari sementara aku tidak memiliki pemasukan dari mana pun. Mas Surya benar benar tidak memberikan lagi nafkah lima ratus ribu nya padaku. Aku sendiri pun tidak ingin menanyakannya. Aku tidak ingin menjadi seorang pengemis pada suami yang tidak memiliki hati seperti mas Surya.


Sempat aku berpikir untuk melamar pekerjaan pada sebuah perusahaan tapi aku mikir lagi bagaimana Zain nanti jika aku tinggalkan? Aku bingung harus mencari uang dengan cara apa? sementara otak ku belum menemukan ide apapun untuk mencari cara agar menghasilkan uang.


"Apa aku membuat kerupuk lagi saja? apa lagi sekarang sedang tidak ada ibu." Tiba tiba ide membuat kerupuk muncul di otak ku. Bukan nya aku merasa senang karena kepergian ibuku yang sekarang sedang tinggal di luar daerah bersama dengan adik kandungnya di sana. Tapi, aku hanya ingin menikmati saja hasil jerih payahku membuat kerupuk yang selama ini tidak pernah aku nikmati.


Tiga minggu berlalu. Kabar tentang kedekatan ku bersama Raihan pun mulai memudar. Bahkan sekarang Raihan di gosip kan pacaran dengan Risa. Dan selama tiga minggu ini aku tidak lagi bertemu dengan Raihan.


Di pagi hari, aku berjalan sambil menuntun Zain pelan melewati jalanan yang masih sepi pengendara. Di tengah perjalanan dan tanpa sengaja aku berpapasan dengan Raihan yang sepertinya sedang berolah raga pagi. Dari jarak sedikit jauh Raihan menghentikan lari paginya lalu memandang kami yang sedang berjalan ke arahnya. Aku menjadi gugup melihat Raihan ada di hadapanku namun sebisa mungkin ku buat setenang mungkin.


Ketika aku sudah sangat dekat dengannya aku menunduk kan wajahku lalu melewatinya begitu saja tanpa menyapanya dan sementara Raihan hanya diam saja sambil memperhatikan ku. Namun tanpa ku duga Zain yang sedang aku tuntun meraih sebelah tangan Raihan.


"Uncle lehan...Zen Lindu!" ucap Zen sambil mendongak tinggi melihat pada wajah Raihan yang sedang terdiam. Aku tidak menyangka anak sekecil itu bisa berbicara mengungkapkan perasaan rindunya tanpa di arahkan oleh orang dewasa.


"Zain, lepas kan tangannya. Uncle Raihan sedang sibuk, Zain tidak boleh ganggu. Yuk lanjutkan lagi jalan nya sebentar lagi kita sampai warung."


Aku menarik pelan tubuh mungil anak ku untuk meneruskan perjalanan kami. Namun tangan mungilnya tidak ingin terlepas dan bertepatan dengan itu Raihan berjongkok lalu mendekap erat tubuh mungil Zain.


"Maafkan uncle ya, maafkan uncle!" Raihan mengucap kan kata maaf dengan suara bergetar seperti menahan tangis. Aku ikut terharu melihat Raihan memeluk anak ku dengan sayang sambil Raihan menciumi wajah serta kepala Zain. Tak terasa pula kedua mataku menganak sungai.


"Zain mau kemana sayang?" tanya Raihan setelah melepaskan pelukannya dari tubuh mungil Zain.


"Antal mama walung."


Raihan mendongak kan wajahnya melihat ke arahku lalu Raihan berdiri mensejajarkan tinggi tubuhnya denganku. Dia menatap pada wajahku yang terus menerus mengeluarkan air mata tanpa henti. Raihan mengulurkan kedua tangannya menangkup wajahku lalu menghapus air mataku dengan kedua ibu jarinya.


Setelah itu, Raihan membawa kepalaku bersandar di dada bidangnya dan aku tidak menolaknya karena aku rindu dada bidang ini, aku rindu deru nafas wanginya, aku rindu perlakuan lembut Raihan. Aku menangis di dekapan Raihan menumpahkan isi hatiku. Raihan mengelus punggungku seolah olah menenangkan aku dari tangisan dan sesekali dia mengecup pucuk kepalaku.


"Maafkan aku mba, maafkan aku!" ucapan Raihan membuatku tersadar bahwa kami sedang berada di jalan umum meskipun tidak ada rumah melainkan hanya kebun. Aku takut ada seseorang yang melihat perbuatan kami lalu di jadikan bahan gosip lagi. Kemudian aku segera menarik tubuhku dari dekapan Raihan.


"Maaf Rai, aku takut Bu haji dan Risa melihat kita dan mereka salah paham," ucapku sambil menyeka air mataku. Kemudian aku menggendong Zain lalu hendak pergi namun Raihan menahan tanganku dan menggenggamnya erat.


"Aku rindu sekali padamu mba!" Raihan mengakui bahwa dia merindukan ku. Ingin rasanya aku mengungkapkan perasaanku padanya bahwa aku pun merindukannya. Namun, aku tidak bisa, lagi lagi karena keadaan.

__ADS_1


"Rai, tolong lepaskan tanganku, aku tidak ingin kekasihmu melihat kita dan salah paham."


"Kekasih, kekasih siapa mba?"


"Bukannya kamu sudah jadian sama Risa?"


"Apa mba pikir aku pacaran sama Risa?"


Aku tidak menjawab pertanyaan raihan melainkan menatap dalam kedua sorot matanya.


"Risa bukan pacar aku mba, meskipun orang tua nya telah meminang ku pada ibuku. Aku selama ini hanya mencoba dekat saja atas keinginan orang tua Risa dan ibuku tapi kami tidak memiliki keterikatan apa pun. Lagi pula aku tidak bisa menyukainya meskipun sudah mencobanya namun hatiku tidak bisa berpaling dari kamu mba."


"Rai..aku pergi dulu ya!" aku mengalihkan pembicaraan karena aku tidak ingin berlama lama dekat dengan Raihan, aku takut akan di gosip kan lagi.


"Mau kemana mba?"


"Aku mau ke warung ujung jalan Rai!"


"Aku antar ya mba?"


"Apa karena gosip itu sehingga mba tidak jualan lagi?" tanya Raihan tiba tiba membahas tentang jualan gorengan.


Aku menghela nafas," mungkin rezeki ku bukan di situ Rai!"


"Lantas sekarang apa yang mba lakukan?"


"Aku hanya jadi pengangguran saja. Sebenarnya aku ingin melamar kerja di perusahaan tapi kalau aku kerja di luar bagaimana dengan Zain."


"Apa suami mba masih memberi mba uang?"


Pertanyaan Raihan membuat ku bungkam. Aku bingung untuk menjawabnya. Apa aku jujur saja pada Raihan bahwa mas surya tidak lagi memberi nafkah padaku. Tapi kalau aku jujur sama hal nya aku membuka aib suamiku meskipun mungkin Raihan sudah mengetahui bagaimana sikap mas Surya padaku. Bathin ku dilema.


"Mba...!"

__ADS_1


"Oh, ya Rai, aku pergi dulu ya?" Aku bergegas pergi meninggalkan Raihan yang masih bengong melihat ku.


Setelah tiba di warung aku melihat Bu Rida sedang mengobrol dengan dua orang ibu ibu sambil memilih sayuran. Aku menyapa mereka namun Bu Rida memandang sinis ke arahku dan aku tidak menghiraukannya. Aku memilih sayuran di sebelah meja mereka sehingga obrolan mereka pun dapat terdengar jelas di telingaku.


"Saya sering melihat Risa anak ibu berboncengan dengan Raihan apa mereka sedang dekat Bu Rida."


"Ya bisa di bilang seperti itu Bu, Bu hajah Fatimah meminang Risa menjadi menantunya,"Jawab Bu Rida dengan suara di keras kan mungkin sengaja agar aku mendengarnya.


"Wah, seriusan Bu Rida? bakal jadi besanan dong sama Bu haji!"


"he...he ! Sebenarnya yang menginginkan Risa itu banyak banget Bu, tapi Bu hajah Fatimah sudah bicara terlebih dahulu sama saya ingin mengikat Risa untuk Raihan.


"Wah, tapi apa Raihan nya mau di jodohkan dengan Risa juga Bu Rida? soalnya setau saya Raihan itu dekat dengan.....!"


"Ya mau dong Bu, dia mana mungkin menolak anak saya yang cantik, masih perawan dan bukan wanita bersuami tapi gatel sama laki lain. Ibu lihat kan mereka kemana mana berboncengan?" Bu Rida menyangkal pertanyaan ibu Risma. Percaya diri sekali dia kalau Raihan menyukai anak nya. Padahal Raihan baru saja berterus terang bahwa dia telah di pinang oleh orang tua Risa untuk anak nya Risa dan Raihan sendiri tidak menyukai Risa. Lucu sekali ya wanita meminang pria seperti adat minang saja padahal di sini adat nya adat Sunda. Aku tau Bu Rida menyindirku mengatai aku wanita bersuami yang gatel sama laki laki lain. Dia tidak tau saja bagaimana Raihan bucin nya padaku dan aku yakin jika dia tau hatinya akan bertambah panas saja.


Setelah memilih barang apa saja yang akan aku beli, aku segera menyerahkan barangnya pada penjual untuk di hitung lalu membayarnya. Ketika aku hendak meninggalkan warung ada seorang ibu baru datang lalu bertanya tentang kenapa aku tidak berjualan lagi. kemudian aku pun menjawabnya.


"Gara gara gosip murahan yang telah di sebarkan oleh orang iri pada saya Bu, karena Raihan lebih dekat dengan saya daripada anaknya yang katanya cantik dan berpendidikan tinggi. Sampai Raihan di pinang lho Bu sama orang tua wanita itu saking ngebetnya itu anaknya sama Raihan. Padahal Raihan sendiri sih ngakunya sama saya kalau dia tidak suka sama perempuan itu dan bukan tipenya. kalau pun dia terlihat memboncengi wanita itu, itu bukan kemauan Raihan lho Bu, tapi paksaan dari perempuannya. Kalau di pikir pikir lucu juga ya Bu, masa wanita meminang pria kayak di tanah minang saja padahal di sini adatnya adat sunda dan seharusnya pria yang meminang wanita ini malah sebaliknya.. ha..ha..!"


Aku menjawabnya panjang lebar dengan suara ku keras kan. Aku sengaja biar tiga ibu itu mendengarnya. Benar saja, dua ibu yang berada di samping Bu Rida menoleh pada Bu Rida seolah olah mencari tau apa yang aku ucapkan itu benar atau tidak karena versi Bu Rida orang tua Raihan lah yang meminang anaknya. Sementara Bu Rida sendiri mukanya berubah memerah sambil menatap tajam ke arahku.


"Kok, kamu banyak tau tentang Raihan Nur?"


"Raihan sendiri yang bicara sama saya Bu, kami itu sudah dekat dari jamannya Raihan masih SMA. Makannya kami sering bersama dan sering pergi bareng bahkan cerita bareng


Kalau terjadi sesuatu sama Raihan dia sering cerita ke saya dan begitu juga sebaliknya saya cerita ke dia jadilah kami saling tau. Kalau ibu tidak percaya tanyakan saja pada Raihan omongan saya ini benar atau hanya mengada ada."


"Jadi tentang gosip kamu dengan Raihan itu tidak benar dong Nur?"


"Betul Bu, dan jatuhnya fitnah. Lagian aneh saja gitu Bu, orang itu menuduh saya selingkuh dengan Raihan tapi dia sendiri mendukung anaknya untuk jadian sama Raihan. Kan aneh! menyingkirkan saya dari Raihan dengan cara memfitnah lalu memasuk kan anaknya ke kehidupan Raihan. Saya tau banget modusnya."


"Saya jadi penasaran siapa sih wanita yang kamu maksud itu Nur? apa dia orang kampung ini juga?"

__ADS_1


"Benar Bu, orang terhormat dan terpandang pula di kampung ini. Istri seorang ustad tapi mulutnya seperti orang yang tidak pernah belajar tentang agama Islam serta hukum hukumnya saja," jawabku dengan nada menyindir. Ku lirik orang yang ku sindir sedang salah tingkah karena di tatap oleh tiga orang ibu ibu yang ada di warung termasuk ibu yang berbicara denganku. Ternyata dia langsung menyadari siapa orang ku maksud dan aku puas sekali melihat ekspresi muka Bu Rida.


__ADS_2