Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Teriakan misterius


__ADS_3

"Bagaimana Nuri, apa kamu mau menerima pinangan keponakan saya, Andre?" Pertanyaan Bu haji menyadarkan aku dari kediaman ku yang cukup lama. Secara Spontan aku mengusap wajahku dan membenarkan letak hijab ku meskipun sebenarnya tidak ada masalah dengan letak nya. Bukan gugup melainkan aku bingung bagaimana harus menjawab pertanyaannya.


Dulu, aku pernah mencintai Andre dalam waktu hingga belasan tahun. Berharap dia datang menemui ku dan meminang ku seperti apa katanya dulu. Tapi, setelah mengetahui dia telah menikah dengan wanita lain aku patah hati dan ketika Raihan masuk ke dalam keseharian ku, perasaanku pada Andre hilang begitu saja seolah olah aku tidak mengenal nya bahkan tidak pernah mencintainya. Apa aku harus menikah dengan pria yang tidak aku cintai lagi seperti dulu aku menikah dengan mas Surya? Aku pernah merasakan menikah dengan pria yang tidak aku cintai itu rasanya seperti apa dan sekarang apa aku harus mengulang nya lagi.


Bu haji menatap ku dengan tatapan penuh harap. Seperti menuntut ku untuk menjawab pertanyaannya saat ini juga. Aku tak dapat mengelak dari tatapan sorot mata tuanya dan mau tak mau aku pun menatap balik padanya.


"Andai saja ibu tau bahwa aku mencintai anak ibu bukan keponakan ibu. Andai saja ibu tahu bahwa aku ingin sekali di pinang oleh anak ibu bukan di lamar oleh keponakan ibu. Andai saja...." Aku geleng-geleng kepala menyadarkan diri dari khayalanku.


Bu haji nampak mengangkat sebelah alis nya kemudian dia bertanya namun nampaknya dia salah paham.


"Apa maksudnya geleng-geleng kepala, Nuri? apa artinya kamu menolak pinangan Andre?"


Aku membenarkan letak duduk ku yang miring lalu menghela nafas terlebih dahulu sebelum aku mulai menjawab pertanyaan Bu haji. Dan aku berharap keputusan ku untuk menolak Andre adalah hal yang tepat dan aku berharap keputusan ku ini tidak menyakiti hati Bu haji maupun Andre.


"Maaf Bu, bukan begitu maksud saya tapi terus terang saya belum memikirkan untuk menikah lagi. Ibu tau kan kalau saya ini wanita yang pernah gagal berumah tangga dan baru saja bercerai bahkan masa Iddah saya saja baru selesai satu Minggu yang lalu. Jujur, perceraian saya menyisakan trauma untuk saya sendiri. Saya menikah atas perjodohan singkat bahkan kami belum mengenal karakter masing masing. Saya belum tau bagaimana karakter mantan suami saya dan dia pun sama belum tau bagaimana saya hingga akhirnya kami bercerai. Oleh karena itu, apa yang pernah saya alami akan saya jadikan pembelajaran ke depannya agar tidak terburu buru memutuskan hal yang sifatnya menyangkut masa depan atau pasangan hidup saya. Saya tau Andre pria baik karena saya pertama kali mengenal nya saat masih SD. Tapi bukan berarti kami sudah saling mengenal karakter masing masing kan Bu? apa lagi kami sudah lama sekali tidak pernah bertemu."


Bu haji nampak diam dan menyimak apa yang aku ucapkan."Jadi, kamu menolak pinangan Andre?"


"Lebih tepat nya belum siap Bu, saya belum ingin berumah tangga lagi."


"Belum siap, jadi artinya Andre masih memiliki kesempatan jika kamu benar benar sudah siap kan?"


Aku diam memikirkan jawaban apa yang tepat namun aku teringat pada satu kata.


"Inshaallah Bu."Ucap ku kemudian. Bu haji menyenderkan punggungnya setelah mendengar keputusanku. Dia tidak terlihat kecewa bahkan sikap nya biasa.


"Ah ya, saya mengerti. Nanti saya akan memberi pengertian sama Andre."


"Terima kasih Bu, dan tolong sampaikan salam maaf saya sama Andre ya Bu."


"Iya Nur, nanti akan saya sampaikan. Kalau begitu saya permisi dulu ya!"


Aku mengangguk dan menyalaminya dengan tak'jim.


"Nur!" Bang Supri tiba tiba datang dan mengejutkan aku ketika sedang melihat kepergian Bu haji sampai dia menghilang dari pandanganku.


Aku memutar bola mata malas."Untung aku tidak memiliki riwayat sakit jantung, bang."


"Lagian bengong mulu dari tadi. Tapi aku dengar tadi ada suara orang yang sedang berbicara sama kamu siapa Nur?"


"Ibu nya Raihan."

__ADS_1


"Ooh, mau apa dia datang kemari Nur?"


"Melamar."Jawabku singkat.


"Apa!"ucap nya dengan suara tinggi dan nyaris memekakkan telingaku.


"Biasa saja kenapa bang!"protes ku.


"Ha ha, aku senang saja Nur. Jadi beneran Raihan melamar kamu? tapi kok tidak sama Raihan nya.


Aku menggeleng pelan. Setelah itu beranjak tanpa berkata. Bang Supri memutar bahunya melihat aku yang sudah berada di ambang pintu."Lho, Nur, Nur, kok ngeloyor pergi. Kamu belum menjawab pertanyaan ku lho Nur." Aku menoleh sekilas padanya lalu meluruskan kembali pandanganku dan masuk.


"Nuri, terus siapa yang melamar kamu kalau bukan Raihan?" Aku tersenyum tipis saja mendengar teriakan bang Supri di teras rumah.


Waktu memasuki Maghrib aku pun bergegas hendak mengambil air wudhu. Namun sebelum ke kamar mandi Ku lihat Zain sedang asik bermain Lego block di ruang TV. Sementara bang Supri entah berada di mana.


"Zain, mama mau sholat Maghrib dulu ya nak? Zain main di sini saja."


"Iya mama." Ucap Zain, pandangannya fokus pada mainannya dan tangannya sibuk menyusun Lego blok ukuran cukup besar.


Ku usap pucuk kepalanya kemudian bergegas ke kamar mandi. Setelah selesai berwudhu pun aku masih sempatkan diri untuk melihat Zain terlebih dahulu dan dia masih asik menyusun Lego nya.


Di dalam kamar ketika baru saja selesai melaksanakan sholat Maghrib, aku mendengar suara Zain sedang berbicara dengan seseorang dan tertawa girang.


Aku segera membuka mukena ku dan melipatnya. Setelah itu, mengintip Zain dari celah pintu yang ku buka sedikit dan betapa terkejutnya aku melihat Zain sedang bicara dengan wanita yang sering aku temui.


"Astaghfiruallah hal adzim." Spontan aku beristighfar dan menutup pintu itu cukup keras sehingga mengejutkan Zain lalu dia berteriak memanggilku.


"Mama.."


Aku buru buru keluar karena aku takut wanita misterius itu menyakiti Zain hingga Zain berteriak seperti itu. Namun, setelah aku membuka pintu dan melihat ke arah Zain wanita itu sudah tidak ada lagi di sana.


"Mama.."teriak ulang Zain setelah melihat ku sudah berdiri di ambang pintu. Aku segera berlari ke arahnya lalu mendekapnya erat.


"Zain jangan nangis sayang kan sudah ada mama disini."Ku elus-elus punggungnya agar dia berhenti menangis.


"Oma hilang mama, Zen cedih." Celetuk Zain di tengah terisak.


"Oma, Oma siapa maksud mu nak?."


"Oma main cama Zen."

__ADS_1


Aku tercengang mendengar ucapan jujur Zain karena balita seusianya belum mengenal yang namanya bohong. Ternyata Zain menangis bukan karena mendengar pintu yang ku tutup keras atau di sakiti oleh wanita misterius itu melainkan menghilangnya wanita itu dan membuat Zain merasa kehilangan. Namun yang menjadi pertanyaan ku adalah kenapa Zain memanggilnya dengan sebutan Oma. Siapa sebenarnya wanita misterius itu? kenapa dia selalu ada di sekitar ku dan Zain? apa hubunganku dengan wanita itu? Sebuah teka teki yang rasanya sulit di pecah kan.


"Apa aku cerita saja sama dokter Bayu mengenai apa yang aku alami di rumahnya hingga sampai sekarang." Monolog ku.


Ketika aku sedang terlelap tidur, tiba tiba aku di kejutkan oleh suara teriakan dari arah samping rumahku tepatnya dari arah pabrik pembuatan kerupuk. Spontan kedua kelopak mataku terbuka lebar lalu duduk."Siapa yang berteriak itu?" Ku lirik jam yang menempel di dinding kamar sudah menunjukan pukul dua dini hari."Apa aku sedang bermimpi? mana mungkin jam segini ada orang berteriak dan berkeliaran di sekitar rumahku."Ucap ku sembari mengucek kedua mataku. Di saat aku hendak menutupi tubuhku dengan selimut, tiba tiba teriakan minta tolong itu pun terdengar kembali.


"Tolong, tolong, pergi pergi!" Aku memasang telingaku dengan jeli dan ternyata benar saja apa yang aku dengar adalah teriakan orang sedang meminta tolong.


Aku segera menyibak kan selimut lalu berjalan tergesa gesa keluar kamar. Keluarnya aku dari kamar bersamaan dengan bang Supri yang juga keluar dari kamarnya.


"Bang!"


"Apa kamu dengar teriakan orang minta tolong juga Nur?"tanya bang Supri sembari membenarkan sarungnya.


"Iya bang. Ayok kita lihat keluar bang."


"Sebentar Nur, aku mau ngambil golok sama senter dulu." Kemudian bang Supri berjalan ke arah dapur. Setelah mendapatkan apa yang dia cari kami bergegas keluar.


"Bang, sumber suaranya di arah sana!" tunjuk ku pada bangunan produksi kerupuk.


"Iya Nur, ayok kita ke sana." Lalu kami berjalan ke arah pabrik. Setelah berdiri di depan pabrik kami tidak menemukan orang yang berteriak itu.


"Tidak ada siapa siapa Nur." Ucap bang Supri sembari mengarahkan senternya ke arah sekitar kebun yang di tanami singkong dan ubi jalar.


"Kita periksa ke samping dan belakang bang."


"Iya, ayok!"


Bang Supri berjalan di depan ku karena dia membawa senter penerang. Bagian samping dan belakang pabrik memang sengaja tidak ku beri penerang sehingga nampak gelap.


Dug


"Aduh." Bang supri mengaduh seperti menginjak sesuatu di atas tanah. Kemudian sorot lampu senter miliknya di arahkan pada sesuatu yang dia injak. Nampak jerigen putih berisi cairan tergeletak di atas tanah dan bagian isinya dalam ke adaan sebagian sudah tumpah.


"Jerigen apa ini Nur."ucap bang Supri.


"Tidak tau bang."


Tiba tiba terendus bau bensin menguar dari jerigen itu.


"Kok bau bensin." ucap ku pelan.

__ADS_1


"Iya Nur, bau bensin. Eh, lihat itu ada korek gas." tunjuk bang Supri pada korek gas yang letaknya tidak jauh dari jerigen dan ku yakini berisi bahan bakar.


Kami saling pandang."ada bahan bakar dan ada korek gas jangan jangan ada yang mau membakar pabrik kita bang."


__ADS_2