Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Fitnah Nura


__ADS_3

Tidak terasa sudah dua setengah jam kami menghabiskan waktu bersama di private dining room dan menyisakan sisa setengah jam lagi masa booking habis.


"Apa mba mau menikmati suasana outdoor?"Tanya Raihan tiba tiba.


"Outdoor, apa lagi itu Rai?"


"Menikmati suasana malam di tempat yang terbuka. Mba mau?"


Meskipun tidak mengerti tempat yang di bicarakan oleh Raihan aku mengangguk menyetujui nya lagi pula aku penasaran tempat apa itu.


"Mari nyonya Gemilang." Raihan menautkan lengan ku pada lengannya lalu kami berjalan menuju sebuah lif kaca.


"Rai.."Ucap ku di saat sudah berada di dalam lif untuk turun ke lantai enam puluh tujuh.


"Kenapa sayang?"


"Apa kamu tidak malu jalan dengan wanita yang berpenampilan jelek dan dekil seperti ku?"


"Tidak. Kenapa harus malu? aku tidak jalan dengan istri orang atau dengan pacar orang."


"Bukan itu maksudku."


"Aku tau sayang. Memang kenapa dengan penampilan mba?"


"Kan kamu lihat sendiri bagaimana penampilan ku, Rai."


"Tidak apa apa. Aku tidak malu justru aku lebih senang mba berpenampilan sederhana supaya tidak ada pria yang melirik hehe."


"Aku sedang bicara serius lho."


"Aku juga serius sayang. Dengar, mba itu seperti berlian. Berharga dan istimewa, bukan batu kerikil yang dapat di temukan dimana mana. Sekalipun mba memakai pakaian robek atau lusuh tidak akan menutupi nilai mba sebagai wanita yang tidak hanya cantik secara fisik melainkan kecantikan hati mba."


"Kamu berlebihan sekali memujiku, Rai."


"Tidak berlebihan sayang tapi memang begitu adanya."


Di tengah mengobrol lif terbuka." Ayok sayang." Raihan memegang telapak tanganku sebelum keluar dari lif.


"Rai!" Aku ragu sekali. Aku takut akan mempermalukan nya.


"Tidak apa apa. Ayok." Raihan menarik sedikit memaksa dan mau tak mau aku pun menurutinya keluar dari lif.


Setelah di luar Raihan tidak melepaskan tautan tangannya melainkan memegang tangan ku lebih erat melewati beberapa pasang mata yang sedang memperhatikan kami. Raihan terus saja menuntun ku tanpa ada rasa malu hingga sampai di tempat yang kami tuju.


Aku cukup tercengang melihat tempat yang sedang kami kunjungi sekarang. Sebuah tempat terbuka, bukan lagi di dalam gedung melainkan di atap gedung tanpa penutup. Ada banyak kursi serta sofa dan cukup banyak pengunjung di tempat ini. Tempat yang sangat menarik jika ingin menikmati udara terbuka di atas gedung dengan ketinggian enam puluh tujuh level.


Raihan menjelaskan tempat ini merupakan sebuah lounge dan bar. Jika ingin menikmati minuman yang mengandung alkohol seperti cocktail dan sebangsanya tersedia di tempat ini. Namun selain itu, minuman non alkohol pun tersedia pula tergantung permintaan pengunjung bar.


"Kita duduk di sana sayang." Ucap Raihan sembari menunjuk pada sofa kosong yang letak nya di pinggir samping kaca pembatas.


Aku mengangguk menurutinya saja.


"Mas!" panggil Raihan pada seorang waiter yang sedang berkeliling dan di saat kami sudah duduk di sofa yang tadi Raihan tunjuk.


Waiter itu pun mendekati kami." Ada yang bisa saya bantu pak."


"Sayang, kamu mau minum apa?" Tanya Raihan padaku.


"Terserah kamu saja."


"Emm, cemilannya?"


"Aku sudah kenyang."

__ADS_1


"Ya sudah pesan minum saja ya?"


Aku mengangguk.


Raihan mengalihkan kembali pandanganya pada waiter itu." Kami pesan mocktail dua ya!"


"Baik pak di tunggu."


Selama menunggu minuman datang raihan bercerita tentang perusahan nya yang mengalami kemajuan pesat. Aku senang sekali mendengar ceritanya. Rasanya tidak menyangka saja seorang siswa memakai seragam putih abu abu yang pernah ku tolong saat dia terjatuh dari moge nya sekarang sudah menjadi seorang bos besar dan sebentar lagi akan menjadi suamiku.


"Sekarang giliran mba yang cerita bagaimana usaha kerupuk mba?"Tanya Raihan setelah dia selesai bercerita bagaimana perkembangan usahanya.


"Emm, yang pasti usaha kerupuk ku masih sangat jauh levelnya dari usahamu, Rai."


"Tapi aku yakin suatu saat nanti usaha mba pasti akan menjadi usaha yang sangat besar. Sekarang saja jumlah ordernya meningkat dan sudah memiliki beberapa karyawan bukan?"


Aku mengernyitkan dahiku." Kok kamu bisa tau, Rai?"


"Aku kan punya empat mata hehe."


"Empat mata. Maksud mu?"


Raihan tidak menjawab pertanyaan ku melainkan hanya tersenyum lebar saja. Benar benar membuatku penasaran kenapa dia bisa tau.


"Permisi pak." Sang waiter menyapa kami sembari membawa dua minuman lalu meletak kan minuman itu di atas meja kami.


"Terima kasih mas." Ucap Raihan.


"Sama sama pak. Permisi."


"Pak, pak, memangnya aku ini sudah terlihat bapak bapak apa ya!" Raihan menggerutu setelah waiter itu pergi dari hadapan kami.


Aku tersenyum geli. Baru kali ini dia protes masalah panggilan." Kamu itu kan seorang bos Rai, jadi wajar saja kalau dia panggil kamu bapak."


"Dari pada di panggil adek. Memang nya kamu mau dia panggil kamu adek?"


"Kamu ini mba berani meledek. Apa mau ku cium lagi?"


Aku tidak membalasnya melainkan memajukan bibir bawahku lalu mengambil minuman dingin di dalam gelas berbentuk panjang ramping namun memiliki bibir yang lebar. Rasanya tenggorokan ku haus sekali padahal sedang berada di rooftop dan cuaca nya mulai terasa dingin.


Sebelum meminumnya ku perhatikan terlebih dahulu minuman itu." Ini minuman apa Rai?"


"Itu namanya mocktail sayang."


"Mocktail." Ulang ku.


"Iya, kalau orang Indonesia bilang es buah hehe."


Aku tersenyum lebar. Raihan benar bahwa minuman yang akan aku minum ini memang seperti es buah karena terdapat bermacam macam campuran buah dan di taburi sedikit sirup lalu di beri es.


"Enak kok sayang cobain deh. Lagi pula itu berbeda dengan cocktail. Kalau cocktail di tambah alkohol kalau yang ini non alkohol."


"Benarkah?"


"He'em."


"Raihan.." Saat aku akan meminum nya tiba tiba suara seorang wanita di belakangku menyapa Raihan. Aku meletak kan kembali gelas yang sedang aku pegang.


"Rai, kamu ada di sini juga?" Tanya wanita yang suaranya sudah tak asing di telingaku. Aku melirik sedikit dengan ekor mata kiriku dan meskipun di bar ini pencahayaannya remang remang aku dapat melihat siapa wanita yang sedang berdiri memakai dress di atas lutut tanpa lengan sedang tersenyum menatap Raihan sembari memegang sebuah gelas berisi minuman di tangannya. Mungkin wanita itu belum menyadari keberadaan ku atau pura pura tidak tau keberadaan ku. Tiba tiba saja perasaan takut atas kejadian beberapa waktu yang lalu itu akan terjadi lagi saat ini.


Nampak Raihan menyipitkan kedua matanya lalu menyunggingkan senyum miring."Iya, seperti yang kamu lihat."


"Kamu dengan siapa disini?"Tanya wanita itu kembali.

__ADS_1


"Dengan calon istriku, tuh." Jawab Raihan sembari menunjuk ke arahku dengan daku nya.


Wanita itu menoleh ke arah ku. Begitu pula dengan aku menunjukan wajah ku dengan jelas pada wanita itu. Dia nampak sedikit terkejut dan aku meyakini bahwa dia baru menyadari keberadaan ku. Mungkin dia terlalu terkesima melihat kehadiran Raihan ada di bar ini hingga aku yang besar seperti ini pun tidak terlihat olehnya.


"Oh, ada mba Nuri ternyata. Hai mba apa kabar?" Tanya wanita itu.


Entah dia benar benar tulus menyapa ku atau hanya sekedar basi basi saja karena ada Raihan. Tapi entah mengapa aku merasa wanita itu hanya pura pura baik saja. Apalagi aku tau bahwa Nura tidak menyukai ku bahkan dia pernah menghinaku.


"Hai Nura." Aku balik menyapa sembari memberikan senyuman.


"Emm, aku boleh gabung tidak dengan kalian soalnya aku sendirian disini?" Tanya Nura pada Raihan lalu melirik ke arah ku.


Raihan menoleh ke arah ku." Bagaimana sayang apa Nura boleh gabung dengan kita?"


Aku diam bingung harus menjawab pertanyaan Raihan. Sebenarnya aku tidak ingin ada Nura di tengah tengah kami namun nampaknya Raihan tidak keberatan jika ada Nura gabung dengan kami meskipun dia meminta persetujuan aku terlebih dahulu. Aku pun tidak mungkin menolak nya mengingat tempat ini merupakan tempat umum.


"Ya, silahkan." Dengan berat aku menyetujuinya.


Nura tersenyum lebar lalu duduk di sofa samping kami karena aku dan Raihan duduk saling berhadapan.


"Oya bagaimana kabar ibu mu, Rai?"


"Alhamdulilah baik."


"Syukurlah. Oya ada salam dari papa sama mama ku untuk kamu. Mereka bilang kapan kamu mau main lagi ke rumah."


"Salam kembali. Nanti kalau aku ada waktu aku pasti main."


Nura terus menerus mengajak ngobrol Raihan tanpa menghiraukan keberadaan ku seolah olah aku ini hanya benda mati dan Raihan pun nampak meladeninya. Mereka membicarakan masalah perusahaan, keluarga, kegiatan, teman teman dan sebagainya. Yang pasti obrolan mereka merupakan obrolan para orang kaya. Sementara aku hanya diam dan menyimak pembicaraan mereka saja hingga aku merasa jenuh sendiri.


"Emm, Rai maaf aku menyela obrolan kalian. Dimana Zain? kayak nya aku harus pulang sekarang." Ucap ku di tengah mereka asik mengobrol. Benar dugaan ku kejadian waktu itu terulang lagi dan Raihan tidak pernah pekak bagaimana perasanku melihat pria yang baru saja melamar ku asik ngobrol dengan wanita lain di depan mataku meskipun Raihan hanya menganggap nya teman tapi apakah Nura demikian? Aku rasa tidak. Wanita itu mengharap lebih dari nya dan aku bisa merasakan hal itu.


"Sebentar sayang aku hubungi mereka saja biar datang kemari sekalian kita pulang setelah ini." Kemudian Raihan merogoh ponselnya namun sebelum Raihan menelpon dua orang yang mengasuh Zain Nura berdiri.


"Maaf ya Rai, mba Nuri aku sudah menggangu kalian! kalau gitu aku permisi dulu." Ucap Nura lalu hendak beranjak namun tiba tiba dia terjatuh dan duduk di bawah kakiku.


"Nuraaa!" Raihan nampak terkejut begitu pula dengan aku.


"Aduhh Rai, sakit." Keluh nya sembari memegang lututnya yang nampak lecet.


Aku hendak membantunya berdiri namun dia menepis kasar tanganku."Jangan sok baik deh kamu mba." Bentak nya. Sementara aku mengernyitkan dahiku bingung apa salah ku dan kenapa Nura tiba tiba marah padaku.


"Nura kamu tidak apa apa?" Raihan bangun lalu membantu Nura bangun." Kamu kok bisa jatuh gini sih?"Tanya Raihan.


"Mba Nuri menjegal kakiku, Rai."Tuduh Nura padaku. Aku cukup terkejut di buatnya tiba tiba saja dia menuduhku.


"Kok kamu nuduh aku Nura? aku sama sekali tidak melakukan apa apa ke kamu."


"Aku mana mungkin terjatuh kalau bukan kamu yang menjegal ku." Nura kekeh menuduh ku.


"Jangan asal fitnah Ra, aku sama sekali tidak melakukannya."


"Mana ada maling ngaku. lagi pula kalau ngaku kamu takut kan di putusin sama raihan?"


"Lihat ini luka ku Rai, calon istri mu ini berhijab tapi ternyata jahat. Apa salahku ke dia padahal aku sudah merelakan kamu untuk dia. Tapi apa balasannya dia malah melukai aku serta membuat aku malu."


"Demi Allah aku tidak melakukannya, Rai."


"Halah jangan bawa bawa nama Allah deh. Dasar wanita miskin dan munafik yang tidak tau berterima kasih. Apa wanita jahat sepertinya yang kamu inginkan untuk menjadi pendamping hidup mu, Rai? Level mu rendah sekali Rai. Sudah jahat, jelek, kampungan, miskin seorang janda lagi."


Aku geleng-geleng kepala. Nura persis seperti ular betina. Di depan Raihan dia tega memfitnah aku mencelakainya padahal aku tidak melakukan apa pun. Selain itu dengan lidah tajamnya dia juga tega sekali menghina kekurangan ku.


Raihan menatap ku tanpa ekspresi dan aku tidak tau apa yang ada di pikirannya tentangku. Apakah Raihan percaya perkataan bohong Nura atau dia lebih mempercayaiku.

__ADS_1


__ADS_2