
Raihan melepaskan pelukannya setelah menyadari keberadaan pak Bagas di sekitar kami lewat suara dehemannya. Kami menoleh ke arah belakang nampak pak Bagas sedang berdiri memperhatikan kami.
"Pak!" ucap Raihan sembari tersenyum canggung padanya. Sementara aku hanya menunduk malu. Aku malu telah ke pergok pak Bagas tengah berpelukan dengan Raihan.
"Apa saya menggangu kalian?" Tanya pak Bagas sembari menumpukan kedua tangannya di atas dadanya.
Raihan menggeleng cepat.
"Aku hanya mau ijin numpang memakai kamar mandi kamu, Rai."
Raihan mendengus." Ya ampun pak, saya pikir mau apa. Pakai saja pak, kenapa harus ijin segala. Peralatan mandi yang baru serta handuk sudah saya sediakan di sana."
"Oh, kamu perhatian sekali Rai, ya sudah saya mandi dulu. Kalian lanjutkan lagi saja." Setelah berucap pak Bagas masuk kedalam kamar Raihan kembali.
Raihan geleng-geleng kepala melihat nya." Ish, ganggu kesenangan anak muda saja orang tua." Umpat Raihan.
Aku tidak menghiraukan umpatan nya melainkan berdiri hendak ke kamar.
"Kamu mau kemana sayang?"
"Ke kamar lihat Zain."
"Zain sedang anteng kenapa harus di lihat?"
"Aku mau mandi dulu bentar lagi Maghrib."
"Oya, aku juga belum menyelesaikan masakan ku." Raihan ikut berdiri lalu kami jalan terpisah. Aku ke kamar sementara Raihan ke arah dapur.
Setelah selesai membersihkan tubuhku dan berganti pakaian ku lirik Zain masih anteng bermain sendiri di kamar. Aku pun membiarkannya dan keluar kamar untuk membantu Raihan mempersiapkan makan malam kami.
Nampak Raihan sedang sibuk menata makanan di atas meja lalu dia menoleh ke arahku yang sedang melangkah ke arahnya.
"Calon istriku sudah terlihat segar dan cantik sekali." Raihan mulai menggombal. Aku hanya memajukan bibir bawahku.
"Apa sudah selesai, Rai?"
"Apa kamu sudah lapar sayang? apa mau makan sekarang? aku sudah buatkan sup salmon campur sayuran untuk mu dan Zain."
"Aku hanya bertanya saja, Rai."
"Oh." Lalu Raihan melihat pada jam yang melingkar di tangannya."Sebentar lagi Maghrib. Aku mau mandi dulu nanti setelah sholat Maghrib kita makan bersama."
Aku mengangguk.
Raihan melepaskan apron yang menempel di tubuhnya lalu berjalan ke arah kamarnya namun tak lama dia balik lagi.
"Kenapa Rai?"
"Sayang, aku numpang mandi di kamar mu ya? aku lupa kalau di kamar ku ada pak Bagas. Hehe."
Aku mengangguk dan tersenyum padanya kemudian Raihan memasuki kamarku. Setelah Raihan masuk ke dalam kamarku, aku berjalan ke arah meja makan dan nampak bermacam macam menu yang terlihat menggiurkan lidahku tersaji di atas meja itu.
Aku tersenyum melihat hidangan yang membuatku merasa tidak sabar untuk segera menyantapnya. Selama sakit tiap hari aku hanya mengkonsumsi bubur saja agar mudah di cerna namun sekarang lidahku sudah tidak terasa terlalu pahit dan lambung ku pun sudah dapat menerima asupan makanan dengan baik maka kali ini aku ingin sekali memakan semua menu yang terhidang.
Beberapa saat kemudian suara adzan Maghrib terdengar berkumandang dari arah masjid yang paling terkenal di Jakarta. Aku dapat mendengarnya karena pintu balkon di biarkan terbuka agar aku dapat mendengar suara adzan yang sangat merdu sekali terdengar di telingaku. Karena kebetulan apartemen Raihan sangat dekat dengan masjid tersebut.
Aku menutup pintu balkon terlebih dahulu setelah suara adzan itu menghilang dari udara. Kemudian aku memasuki kamarku dan nampak raihan sedang memakai celana pendeknya aku pun segera menutup pintu itu kembali dan berdiri di depan pintu menunggunya selesai memakai pakaian nya.
Pintu terbuka, Raihan menyembulkan kepalanya keluar." Kenapa tidak langsung masuk sih sayang!"
"Kamu kan sedang pakai celana."
"Memang kenapa? takut kelihatan ya?"
"Rai.."
"Padahal tidak apa apa sayang, sebentar lagi kan kita akan menjadi pasangan suami istri."
"Rai, jangan mulai deh. Ini sudah Maghrib lho." Bersamaan dengan berucap pak Bagas melintas.
"Pak!" panggil Raihan. Aku menoleh ke belakang nampak pak Bagas dengan penampilan casual memakai celana serta kaos milik Raihan. Dia nampak lebih muda dari usianya jika memakai pakaian seperti itu.
Pak Bagas menoleh ke arah kami." Ya Rai, kenapa?"
"Em, mau ikut sholat berjama'ah sama kami tidak?" Kata Raihan.
__ADS_1
"Sholat!" pak Bagas nampak bengong.
"Iya sholat Maghrib."
Pak Bagas nampak masih terdiam.
"Kalau bapak tidak mau juga tidak apa apa kami tidak akan maksa."
Pak Bagas belum saja merespon.
"Sebentar ya sayang aku ambil peralatan sholat di kamar ku dulu." Aku menyingkir memberi jalan Raihan yang akan ke luar dari kamar ku.
"Ehm, Rai !" Tiba tiba pak Bagas bersuara ketika Raihan sudah berjalan menuju kamarnya begitu pula aku sudah berdiri di ambang pintu hendak masuk ke dalam kamar.
Aku dan Raihan menoleh ke arahnya.
"Saya...saya mau ikut sholat berjamaah dengan kalian." Ucap pak Bagas. Raihan nampak menyunggingkan senyum begitu pula dengan aku ikut tersenyum.
"Ya sudah pak, ayok kita ambil air wudhu dulu." Ajak Raihan dan pak bagas mengangguk lalu ikut bersama Raihan memasuki kamarnya.
Aku menggelar tiga sajadah di ruang TV dan duduk menunggu dua lelaki yang belum kunjung datang. Tak selang lama mereka datang dengan penampilan yang berbeda. Pak Bagas maupun Raihan memakai sarung dan kopiah dan mereka terlihat tampan sekali.
"Ayok, kita mulai." Raihan menjadi imam sholat kami. Awalnya Raihan meminta pak bagas yang menjadi imam sholat kami namum dia menolak dengan alasan tidak bisa dan terpaksa Raihan yang menjadi imam kami.
Setelah selesai sholat aku melihat pak Bagas yang sedang duduk bersila di hadapanku nampak bahunya bergetar dan terdengar isakan tangis. Raihan membalik kan posisi tubuhnya sehingga duduknya menjadi berhadapan dengan beliau.
"Bapak kenapa?" Tanya Raihan halus.
"Saya...saya malu sama tuhan. Setelah tiga puluh tahun lamanya saya baru menghadapnya kembali. Apa..apa tuhan akan menerima ibadah saya ini, Rai." Ujar pak Bagas sembari terisak.
Raihan terdiam namun tak lama dia memegang bahu pak Bagas." Tidak ada yang tidak di terima oleh Allah taubatnya seseorang yang benar benar bertaubat pak, kecuali dua hal yaitu yang pertama adalah taubatnya orang yang sudah mendekati ajalnya dan yang kedua, meninggal dalam keadaan musrik atau menyekutukan Allah. Oleh karena itu, mumpung bapak masih sehat bugar serta umur panjang gunakan semua itu untuk mendekatkan diri sama Allah. Bapak tau sholat itu bukan saja kewajiban yang harus di jalankan oleh umat muslim setiap lima waktu tapi sholat juga bisa jadi penangkal dari perbuatan perbuatan syirik. Menjauhkan diri dari santet, teluh, pelet dan sebagainya. Selain itu, melaksanakan sholat juga dapat menenangkan hati dan pikiran yang sedang kacau. Bapak bisa curhat sama Allah dan berkeluh kesah padanya. Kalau ingin lebih jelas lagi lebih baik bapak datangi seorang ustad atau kyai yang ilmunya lebih mempuni tentang agama. Saya mah apa atuh sekolah agama saja tidak pernah hehe."
Aku tersenyum mendengar kalimat jawaban panjang Raihan atas pertanyaan yang di ajukan oleh pak Bagas. Lagi lagi dia membuat aku kagum.
"Benarkah Rai?"
"Benar pak. Sekarang lebih baik kita makan dulu yuk, saya sudah lapar banget ini hehe." Kemudian raihan langsung berdiri tanpa melepas sarung dan kopiah nya. Aku pun ikut berdiri setelah melepas mukena terlebih dahulu. Setelah itu, pak Bagas pun ikut berdiri. Aku menggulung tiga sajadah itu terlebih dahulu sementara pak Bagas dan Raihan lebih dulu berjalan ke arah meja makan.
Setelah menyimpan sajadah dan mukena, aku melihat ke arah Zain yang sedang asik bermain mobilan di lantai. Kemudian aku membiarkannya saja. Nanti setelah aku selesai makan aku akan menyuapinya.
Aku dan Raihan tersenyum.
"Ini siapa yang masak? apa beli di restauran?"
"Semua ini masakan chef Raihan pak." Ucap ku lalu melirik Raihan. Dia nampak tersenyum tipis.
"Benarkah Rai, kamu bisa masak selezat ini?" Tanya pak Bagas pada Raihan.
"Jangan dulu memuji lebih baik makan dulu nanti setelah memakannya bapak boleh memuji atau mengkritiknya."
"Oh ya, baik pasti semua ini enak enak." Kemudian pak Bagas menyendok beberapa makanan dan meletak kan nya di atas piringnya lalu memakannya.
"Bagaimana pak, apa enak?" Tanya ku.
"Luar biasa enak sekali, Nuri." Jawab pak Bagas sembari manggut manggut kecil menikmati cita rasa masakan Raihan. Sementara yang di puji hanya menyunggingkan senyum tipis saja.
Aku tersenyum melihatnya karena apa yang di katakan olehnya merupakan bukan hanya omong kosong semata . Masakan Raihan memang benar benar enak sekali. Rasanya aku tidak salah jika sering memujinya dengan sebutan pria sempurna karena Raihan memang sempurna. Muda, tampan, mapan, pintar, baik, penyayang, pengertian, perhatian, sholeh dan pandai memasak.
Kami makan dalam diam dan hanya terdengar dentingan sendok saja di atas meja makan.
"Rai, apa saya boleh menginap di sini?"Kata pak Bagas setelah kami selesai makan.
Aku dan Raihan saling pandang lalu tersenyum padanya." Iya pak, boleh banget." Jawab ku tanpa menunggu persetujuan si Pemilik apartemen.
"Serius Nuri?"
Aku melirik lagi pada Raihan karena Raihan belum memberi Jawaban."Iya kan Rai, pak bagas boleh tidur di sini?"
Raihan mendongak menatapku dengan wajah bengong."Oh ya, ya pak Bagas boleh tidur di sini." Jawab Raihan kemudian
seperti terpaksa tapi aku tidak mempedulikannya.
Setelah selesai makan dan pak Bagas ke kamar Raihan, aku membantu Raihan membereskan bekas makan kami.
Raihan yabg sedang mencuci piring di wastafel melirik ketika aku mengantarkan piring kotor padanya.
__ADS_1
"Sudah sayang, biarkan saja. Kamu masuk saja ke kamar."
"Tidak apa apa. Oya, besok kamu mau antar aku pulang kan?"
"Apa fisik mu benar benar sudah fit?"
Aku mengangguk.
"Iya aku akan antar kamu pulang sayang sekalian mau melamarmu secara resmi pada keluarga mu."
Aku memeluk punggung Raihan dari
belakang." Makasih ya Rai, i love you."
Raihan menghentikan gerakan tangannya lalu membersihkan tangannya dari sabun kemudian berbalik dan memeluk ku.
"I love you too."
"Ehem." Suara deheman mengagetkan kami dan spontan kami melepaskan pelukan.
"Pak!" ucap Raihan. Sementara aku menunduk malu.
"Aku hanya mau mengambil air minum." Setelah berucap pak Bagas menuang air minum dari teko beling ke dalam gelas lalu meneguk nya.
"Silahkan lanjutkan lagi." Setelah itu dia pergi dari dapur."
"Ishh, mengganggu saja." Raihan mengumpat.
Kemudian aku berjalan kearah balkon." Mau kemana?"Tanya Raihan.
"Mau ke balkon."
"Jangan keluar sayang, cuaca dingin. Lebih baik masuk ke dalam kamar saja." Cegah Raihan. Cuaca memang sedang hujan meskipun tidak besar tapi cukup mendinginkan hawa apalagi kami tinggal di atas gedung yang menjulang tinggi dan rasa dingin pun akan sangat terasa. Aku mengurungkan niat yang awalnya ingin melihat city light dan masuk ke dalam kamar.
Di kamar nampak Zain sudah tidur pulas di atas ranjang. Melihat nya tidur nyenyak aku merasa mataku ikut mengantuk. Aku memutuskan untuk tidur lebih awal karena selain mata yang sudah mulai mengantuk besok pagi aku akan melakukan perjalanan panjang pulang kampung.
Di tengah terpejam aku merasa ranjang yang ku tiduri bergerak lalu sesuatu menindih perut ku. Aku menggeliat Kemudian berbalik dan seketika itu pula aku merasakan hembusan nafas hangat terasa di wajahku aku pun membuka mata. Setelah terbuka aku cukup terkejut ternyata Raihan sedang menatapku sembari memeluk ku.
"Rai, kok kamu tidur disini?"
"Salah kamu sendiri kenapa menyetujui pak Bagas nginap di sini. Jangan menolak kalau aku tidur satu ranjang sama kamu."
"Tapi..kamu kan bisa tidur di kasur lantai."
"Tidak mau dingin. Sudah tidur lah besok kan kita akan pulang kampung."
"Apa harus tidur dengan posisi seperti ini?"
"Iya, kamu tenang saja aku masih bisa menahan adik kecil ku agar tidak bangun."
Aku menelan saliva ku kemudian bergerak mengalih posisi memunggunginya lalu memejamkan mata. Dalam hitungan menit pikiran ku pun beralih ke alam bawah sadar. Sepanjang malam aku tidur dalam posisi di peluk Raihan. Ternyata Raihan benar dia masih mampu menahan hawa nafsunya hingga kami terbangun subuh.
"Aku mau bangunin pak Bagas untuk sholat jamaah bareng." Raihan duduk tegak lalu menurunkan kakinya ke lantai.
"Tapi, apa tidak akan mengganggunya tidur Rai."
"Biar menjadi kebiasaannya sayang. Kan dia yang bilang ingin mendekat kan diri sama Tuhannya."
Kemudian Raihan keluar kamar dan aku segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Aku menunggu Raihan di ruang TV dalam keadaan sudah memakai mukena. Namun bukan Raihan yang datang melainkan pak Bagas. Dia sudah nampak rapih memakai sarung, baju Koko dan peci.
Pak Bagas menyungging kan senyum sembari berjalan ke arahku yang sudah duduk di atas sajadah.
"Nuri!" sapanya lalu duduk di sajadah yang sudah ku bentangkan.
Aku tersenyum padanya." Iya pak."
"Apa seperti ini rutinitas kalian ketika kebanyakan orang masih nyenyak dengan tidurnya?"
Aku mengangguk.
"Orang tua kalian orang tua yang hebat ya mengajarkan anak anaknya untuk taat pada tuhannya."
Aku tersenyum getir, andai saja pak Bagas tau jika orang tuaku tidak pernah mengajarkan aku tentang apapun termasuk untuk taat pada Tuhanku.
__ADS_1