
Dokter tampan sekilas mirip Rey mbayang itu melangkah lebar ke arah ku. Aku sendiri masih setia menunggu kedatangannya karena aku fikir mungkin dokter itu akan membicarakan hal yang penting mengenai Bu mariam.
Setelah mendekat, dokter Bayu tersenyum dan aku membalas senyumannya. Aku tidak bicara atau bertanya dulu melainkan menunggunya bicara terlebih dahulu.
"Ehm, mba mau pulang ya? boleh saya ikut jalan bareng?"tanya nya.
Astaga, aku pikir dia memanggilku ada hal yang sangat penting ternyata dia hanya ingin ikut jalan bersama denganku. Aku terbengong di buatnya.
"Mba, mba..!"dokter Bayu mengibas kan tangannya di wajah ku hingga aku tersadar.
"Ah, maaf, silakan mas dokter!"
"Seperti nya lebih enak dipanggil mas saja ya tidak usah pakai embel dokter biar lebih akrab."
Aku tersenyum tipis."Okey kalau itu maunya.
"Oya, kita belum kenalan lho, saya Bayu, Bayu Bagaskara." Dokter Bayu mengulurkan tangannya dan aku dengan ragu membalas uluran tangannya. Saat bersalaman aku merasa seperti ada yang menjalar di tubuhku entah apa. Saat pandangan kita bertemu dan ketika aku menatap manik matanya aku merasa begitu dekat dengannya, dekat sekali. Aku tidak tau kenapa aku merasakan seperti ini.
"Saya Nuri,"ucap ku kemudian.
"Nuri?"
"Nuri Aisha."
"Wah, nama yang cantik, secantik pemilik namanya,"goda dokter Bayu, senyumnya mengembang dan aku hanya menyunggingkan senyum tipis saja.
Kemudian kami melepaskan jabatan tangan kami dan melanjutkan melangkah. Di sepanjang melewati koridor dokter Bayu banyak bertanya mengenai usiaku, kegiatanku dan keluargaku namun satu hal yang tidak dia tanyakan adalah tentang status ku. Aku tidak tau alasan dia tidak menanyakannya padahal biasanya laki laki itu jika berkenalan dengan seorang wanita pasti yang di tanyakan terlebih dahulu adalah status si wanita tapi hal ini tidak berlaku untuk dokter Bayu. Selain itu, dia juga membahas masalah penyakit yang di derita oleh ibu Mariam dan aku menyimak saja hingga tidak terasa langkah kami yang di selingi obrolan itu sudah sampai di lobby rumah sakit.
"Dok, seperti nya kita harus berpisah, saya mau permisi pulang dulu ya?"pamit ku padanya.
"Kamu mau pulang sekarang? terus pulangnya naik apa?"dokter Bayu balik bertanya. Sekarang pun dia sudah tidak lagi memanggilku dengan sebutan "mba" setelah dia mengetahui jika usiaku lebih muda darinya. Dokter Bayu sendiri tidak mempercayai jika usiaku sudah cukup dewasa karena menurutnya wajah ku ini wajah baby fresh.
"Motor dok."
"Kalau begitu kita bareng saja ke parkirannya Nuri,"kata dokter Bayu.
Aku mengernyitkan dahi ku."Lho, kok..."
"Saya ada pasien di rumah sakit lain." Dokter bayu menjawab keheranan ku.
"Oh, jadi dokter tidak hanya bertugas di rumah sakit ini saja?"
"Tidak, saya kerjanya mengikuti jadwal tugas jadi ya bolak balik ke sana kemari saja."
"Kayak setrikaan saja bolak balik,"canda ku.
Kami tertawa bersamaan.
__ADS_1
Kemudian kami melanjutkan langkah kami menuju parkiran yang kebetulan letak parkirannya berdampingan dan hanya di batasi oleh sebuah penyekat yang melintang.
"Kalau saya boleh tau rumah mu dimana Nuri?"tanya dokter Bayu di sela sela melangkah menuju parkiran.
"Jauh dok."
"Panggil mas saja, kita sudah berada di luar rumah sakit."
"Emm, jauh mas."Aku meralat ucapan ku.
Dia tersenyum lebar.
"Jauh nya?"tanya nya kemudian.
"Di sebuah kampung dan jaraknya sekitar kurang lebih dua jam tapi tergantung kecepatan mengemudi juga."
"Jadi kamu tiap pagi dan sore bolak balik ke rumah sakit ini menggunakan motor dengan jarak tempuh dua jam?"
"Iya, mas. Tapi kadang hanya satu setengah jam kalau jalanan lancar.
"Wah, keren sekali kamu,"puji nya dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya.
"Kalau mas sendiri?"Aku mulai berani bertanya karena aku merasa nyaman dan dokter Bayu sendiri enak di ajak ngobrol.
"Saya tinggal di Jakarta," jawab nya.
"Hah."Bola mataku membulat.
Aku segera menyipitkan mata besar ku rasanya malu sekali telah di ledeknya.
"Jadi mas orang Jakarta?"tanyaku kemudian.
"Iya, papa saya asli Jakarta, sementara almarhum mama saya blasteran Sunda Belanda."
"Mama mas Bayu sudah Almarhum?"
Dokter Bayu mengangguk.
"Kata oma, mama saya meninggal setelah melahirkan adik perempuan namun adik saya pun ikut meninggal juga. Saat itu usia saya baru dua tahun dan sejak saat itu pula saya tidak pernah lagi merasakan kasih sayang seorang mama meskipun saya memiliki mama tiri." Dokter Bayu cerita dengan mata berkaca kaca. Kemudian dia melihat ke atas agar air matanya tidak tumpah. Mungkin dia pikir gengsi sekali jika seorang pria menangis di depan seorang wanita.
Aku jadi tidak enak hati padanya, gara gara aku yang banyak tanya dia jadi sedih. Padahal itu bukan ranah ku untuk mengetahui latar belakang keluarganya. Tapi anehnya, aku yang selama ini tidak pernah ingin tau urusan, masalah atau hal hal yang mencakup kepribadian orang lain tiba tiba saja ingin tau saat ini terutama pada dokter Bayu.
"Ma..maaf dok, saya..."
"Tidak apa apa Nuri, saya saja yang cengeng. Seorang laki laki menangis di depan wanita itu hal yang memalukan bukan?"kata dokter Bayu sembari menyeka air mata yang keluar sedikit dari sudut matanya dan bibirnya menyunggingkan senyum.
Aku tersenyum canggung.
__ADS_1
"Tapi....saya tidak tiap hari bolak balik antara Serang Jakarta kok." Dokter Bayu melanjutkan penjelasannya.
"Terus?"
"Ketika saya tugas di kota ini saya kost di daerah ini dan saya memiliki waktu dua hari dalam satu Minggu di kota ini."
"Hanya dua hari? terus hari berikutnya tugas dimana mas?"
"Di Jakarta, di klinik saya sendiri."
"Mas punya klinik sendiri tapi kenapa masih bekerja di rumah sakit lain apalagi rumah sakitnya jauh."
"ehm, mulanya memang saya bekerja di rumah sakit ini dan kebetulan saya punya rezeki lebih maka saya mendirikan klinik paru paru di Jakarta. Klinik saya sendiri belum lama baru sekitar kurang lebih tiga tahun berdirinya.
"Oh, begitu."
Setelah itu, aku tidak banyak tanya lagi karena rasanya sudah cukup dan kami melanjutkan langkah kami hingga tiba di parkiran.
"Dimana motormu Nuri?"tanya nya.
"Di sana," tunjuk ku pada jejeran motor yang terparkir dan salah satu nya adalah motorku.
Dokter Bayu melihat pada jam yang melingkar di tangannya.
"Ya sudah kalau gitu kita pisah disini saja. Kamu hati hati bawa motornya dan jangan ngebut ngebut bahaya,"ucapnya kemudian.
Aku mengangguk."Terima kasih."
Ketika aku hendak melangkah pergi, dokter bayu memanggilku.
"Iya mas?" sahutku.
"ehmm, saya harap ini bukan pertemuan dan perpisahan kita yang terakhir kalinya ya Nuri, dan saya harap di lain waktu kita masih bisa bertemu lagi,"ucap dokter Bayu.
Aku tersenyum dan mengangguk. Setelah itu, aku melanjutkan langkahku menuju parkiran motor dan ku lihat dokter bayu berjalan ke arah parkiran mobil.
Aku melajukan motorku ke jalanan arah pulang dengan senyum yang terus mengembang di bibirku. Rasanya aku senang sekali hari ini dan aku tidak tau apa penyebabnya.
Setelah tiba di rumah dan baru saja turun dari motor, dua balita berlari ke arahku.
"Mama...Wawa...."teriak Zain dan Fatan secara bersamaan. Kemudian tubuh mungil mereka memeluk kedua kakiku, Zain sebelah kanan dan Fatan sebelah kiri. Aku tersenyum lebar melihat sikap dua balita yang kompak ini. Meskipun dua balita ini memiliki perbedaan usia dua tahun tapi mereka nyambung jika berbicara bahkan ukuran tubuhnya pun sama. Fatan yang usianya dua tahun di atas Zain mestinya ukuran tubuhnya lebih tinggi tapi tidak, justru sama dengan Zain. Aku mengerti kenapa pertumbuhan Fatan sedikit lamban karena dulu hidup Sumi susah sama halnya dengan aku. Namun aku sedikit lebih beruntung dari Sumi karena walaupun mas Surya seperti itu dia masih mau menafkahi ku meskipun hanya lima ratus ribu, sementara Sumi, sudah sejak dari usia kandungan empat bulan dia tidak lagi di nafkahi oleh suaminya. Setelah melahirkan pun Sumi harus berjuang mencari uang karena selain harus membesarkan fatan ada beberapa mulut yang harus dia beri makan, ibu serta kedua adiknya. Bisa dikatakan Sumi adalah tulang punggung keluarganya.
Sulitnya mencari pekerjaan di daerahku membuat Sumi harus merantau ke kota apa lagi Sumi hanya tamatan SD. Beruntung dia memiliki keahlian merias sehingga dia bisa bekerja di sebuah salon kecantikan meskipun bergaji kecil.
Zain masih bisa ku rawat dengan tanganku sendiri dan di berikan susu formula meskipun sehari hari ku hanya memakan tahu, tempe, kangkung, ikan asin dan garam cabai. Tapi Fatan, sejak dari bayi merah dia sudah di tinggal oleh Sumi bekerja di kota dan hanya diberi susu kaleng yang mengandung gizi nya hanya secuil. Apalagi yang merawatnya adalah ibunya yang notabenenya tidak mengerti masalah gizi. Bahkan Bu Mariam pernah cerita padaku bahwa setiap hari fatan hanya diberi makan nasi campur garam. Saat itu aku sama sekali tidak bisa membantunya karena aku sendiri sudah tidak bekerja dan di tambah aku sedang hamil Zain dan aku dalam keadaan yang sulit pula.
Aku berjongkok lalu ku peluk mereka berdua dan menciuminya secara bergantian. Setelah itu, aku menggendong mereka melalui tangan kiri dan kanan ku dan membawanya masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Aku melihat jam yang menempel di dinding sudah menunjukan pukul sebelas lewat. Sebelum aku menjemput Ria dan Rio di sekolah mereka aku berinisiatif untuk menyuapi kedua balita itu terlebih dulu karena aku takut akan memakan waktu yang lama dan membuat mereka kelaparan.
Lima belas menit kemudian, mereka sudah selesai ku suapi lalu aku menoleh ke arah jam yang menempel di dinding sudah menunjukan pukul setengah dua belas lewat dalam arti aku harus menjemput kedua bocah di sekolahnya.