Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Menghajar Surya


__ADS_3

Mas Surya membawa kami keluar dari kantor lalu menaiki sebuah tangga yang berada di belakang kantornya. Setelah tiba di atas aku tercengang ternyata belakang gedung berbentuk ruko itu berdampingan dengan sebuah pusat belanja atau di sebut dengan mall. Selain mall gedung itu juga berdampingan dengan beberapa gedung perkantoran yang menjulang tinggi, sebuah apartemen serta hotel. Sementara belakang gedung berbentuk ruko itu sendiri berdempetan dengan jejeran gedung berupa kos kosan kelas atas. Pak Riyadi memberitahu jika kos kosan itu cukup mahal tarifnya yaitu di atas empat juta perbulan dengan fasilitas hanya berupa kamar mandi di setiap masing kamar, tempat tidur, lemari pakaian dan AC. Oleh karena itu dia memberikan tempat tinggal gratis untuk mas Surya karena jika kos gaji delapan juta lima ratus itu tidak ada apa apanya. Tempat tinggal mas Surya sendiri awalnya berupa gudang lalu di sulap jadi tempat tinggal karena selain bekerja di kantor itu mas Surya juga di percayakan untuk menjaga dan memegang kunci kantor tempat kerjanya.


Mas Surya membawa kami menaiki tangga kembali hingga tiba di lantai empat dimana letak tempat tinggal mas Surya. Aku berpikir kenapa mas Surya tega sekali meninggalkan Zain sendirian di kamarnya yang letak nya di lantai empat.


"Tega sekali kamu mas, mengurung anak ku sendirian di kamarmu."Aku memakinya saat tiba di depan pintu kamarnya. Emosi ku meluap lagi membayangkan betapa ketakutannya Zain berada sendirian di dalam kamar mas Surya.


"Aku tidak meninggalkannya sendirian Nuri, tapi aku meminta seseorang untuk menjaga Zain di dalam." Dia menyangkal nya.


"Seseorang, kamu meninggalkan Zain dengan seseorang siapa maksud mu mas?"maki ku kembali. Aku benar benar kesal sekali dia mempercayakan Zain di asuh oleh orang yang tak di kenal Zain. Raihan merangkul pundak ku agar aku tenang dan aku pun tidak mempedulikan tatapan orang orang baik itu mas Surya, pak Riyadi dan dokter Bayu terhadap kami.


"Cepat buka pintunya!" titah Raihan dengan nada membentak.


Dengan muka terkejut mas Surya segera membuka pintu itu lalu masuk. Aku di gandeng raihan pun ikut masuk begitu pula dengan dokter Bayu dan pak Riyadi mengekor di belakang kami.


Setelah berada di dalam, nampak ruangan yang memiliki ukuran sama besarnya dengan ukuran dapur rumah ku itu dalam keadaan acak acakan. Juga, kami tidak menemukan keberadaan Zain.


"Mami...mami!" teriak mas Surya, lalu membuka kamar mandi dan juga kamarnya Namum kosong.


Aku melepaskan diri dari rangkulan Raihan lalu berjalan ke sana kemari sembari berteriak memanggil nama anak ku. Pikiran ku kalut setelah mendapati ruangan itu dalam keadaan kosong serta acak acakan.


"Zain, Zain dimana kamu nak?mama datang jemput Zain, kita pulang nak. Kamu dimana nak?"


Begitu pula dengan Raihan dan dokter Bayu


serta pak Riyadi ikut mencari Zain.


Aku langsung berpikir terjadi hal buruk sedang menimpa anak ku di luar sana. Aku menangis meraung dan terduduk di lantai. Aku masih bisa tegar dan berdiri tegak ketika seseorang menyakiti hati serta fisik ku. Tapi aku akan begitu rapuh ketika anak ku telah disakiti orang lain.


"Dimana Zain bajingan?"bentak Raihan. Di tengah menangis aku menoleh nampak wajah Raihan merah padam menatap mas Surya dan tangannya mengepal.


"Aku..aku tidak tau, tadi aku..aku meninggalkan nya dengan seorang pengasuh disini." Dia nampak ketakutan melihat ekspresi Raihan.


"Siapa pengasuhnya? cepat hubungi dia Bajingan."Raihan kembali membentak.


"Aku..aku tidak tau nomernya, aku..aku baru mengenalnya kemarin."


"Hei, bagaimana bisa anda memberikan Zain pada orang yang baru anda kenal pak Surya?"Dokter Bayu ikut mengintrogasi nya, dia nampak marah namun masih bisa menahannya.

__ADS_1


"Aku...aku mengenalnya lewat perantara temanku."


"Cepat hubungi teman mu itu sekarang juga,"titah Raihan dengan nada membentak.


Mas Surya buru buru merogoh ponselnya dan mengutak atik berulang kali mencoba menelpon teman nya yang di maksud namun nomer temannya itu dalam keadaan tidak aktif.


"Bagaimana?"tanya dokter Bayu.


Mas Surya menggeleng lemas."Nomernya tidak aktif."


"Kalau begitu kau antar kami ke rumahnya sekarang,"kata dokter Bayu.


"Aku...aku tidak tau dimana rumahnya."


"Apa!"ucap dokter Bayu dan Raihan bersamaan. Nampak Raihan mengepalkan tangannya dan wajahnya kembali memerah.


"Dasar laki laki bajingan dan bodoh." Bersamaan dengan ucapannya Raihan melayangkan tinjuan ke arah mas Surya.


Bugh


Bugh


Raihan masih nampak geram tangannya pun masih mengepal, dia melangkah maju dan hendak melayangkan tendangan namun dokter Bayu menahan tubuhnya agar tidak melakukan tendangan.


"Tahan Raihan tahan, memukul dia sampai mati pun tidak akan mengembalikan Zain jika kita tidak melakukan pencarian,"kata dokter Bayu. Raihan terdiam, namun nafas nya masih naik turun dan menatap nyalang pada pria yang sedang terduduk kesakitan.


"Cih, sampai segitunya kamu khawatir sama Zain, atau jangan jangan si Zain itu memang anakmu. Kalian sudah berselingkuh di belakang ku makan nya si Zain tidak mirip denganku."Mas Surya menuduh kami selingkuh, benar benar brengsek sekali dia. Aku pun tak dapat lagi menahan emosiku. Dia sudah menghilangkan anak ku di tambah lagi dia menuduh aku berselingkuh dengan Raihan. Tanpa sepengetahuan mereka, aku berdiri dan ku ambil sapu lantai yang sedang berdiri menyempil di pojokan pintu lalu berjalan ke arah mereka.


"Apa kau bilang, kamu nuduh aku dan Raihan berselingkuh?"setelah berucap satu pukulan gagang pintu ku labuh kan di punggungnya.


Bugh


"Aww." Mas Surya tidak dapat menghindari kekesalan ku karena aku yang datang tiba tiba lalu memukulnya, Selain itu dia juga kesulitan berdiri.


"Aku tidak peduli kamu mau mengakui Zain anak mu atau bukan brengsek, karena bagi Zain dia tidak punya seorang ayah."


Bugh

__ADS_1


"Aww"


"Lagi pula Zain tidak butuh seorang ayah yang tidak memiliki rasa tanggung jawab seperti mu keparat."


Bugh


"Aduhh"


"Sudah ku katakan berulang kali jangan pernah lagi mengganggu hidup kami, tapi kenapa kamu masih saja mengganggu hidup damai kami brengsek? aku benci sekali sama kamu...benci..benci...benciiiiiiii."


Bugh, bugh, bugh, bugh.


"Aduh, aww, ampun, ampun Nuri...ampuuuun."Mas Surya mengaduh dan memohon sembari melindungi tubuhnya dengan tangannya agar pukulan ku tidak mengenai tubuhnya. Tapi tetap saja gagang sapu itu berulang kali menyentuh tubuhnya terutama punggungnya.


"Aku tidak peduli sekali pun kamu mati Surya karena kamu sudah membuat hidupku dan anak ku menderita selama ini." Sambil berkata lantang aku masih terus saja memukulinya dan sudah berulang kali dia memohon ampun namun aku tidak menggubrisnya. Aku benar benar kalap dan tidak bisa menahan emosiku lagi. Ku tumpahkan rasa kecewa, kesal, benci dengan cara memukulinya menggunakan gagang sapu meskipun tenagaku tidak sekuat Raihan tapi pukulan ku cukup sakit.


Ditengah aku memukuli mas Surya dengan membabi buta di sertai linangan air mata, Raihan memeluk ku lalu mengambil sapu di tangan ku.


"Cukup mba, cukup jangan kotori tangan mba ini untuk membunuh laki laki brengsek ini." Seketika aku luluh lalu merapatkan tubuhku membalas pelukan Raihan sembari menangis.


"Zain dimana Rai, Zain dimana? aku takut terjadi apa apa sama dia Rai..."


Raihan mengusap usap punggung ku dan pucuk kepalaku menenangkan pikiranku yang sedang kalut dan berkata.


"Zain pasti baik baik saja, kita pasti akan menemukan Zain secepatnya, mba tenang ya."


"Kita lapor polisi saja pak Raihan."Pak Riyadi yang dari tadi hanya menonton saja tiba tiba mengusulkan.


"Benar kata pak Riyadi, kita harus lapor polisi sekarang, biar langsung di tindak lanjuti." Dokter Raihan menyetujui.


Raihan mengangguk."Tolong seret laki laki brengsek itu dan bawa ke kantor polisi,"titah Raihan.


Dalam keadaan lemah setelah ku pukuli, mas Surya nampak terkejut mendengar kata polisi.


"Tidak, aku tidak bersalah kenapa kalian mau membawaku ke kantor polisi. Aku tidak menculik Zain aku hanya membawanya karena dia anak ku wajar saja kalau aku bawanya," tolak mas Surya dengan beralasan.


"Apa, anak ku? cih, bukan kah kamu sudah mengatakan kalau kami selingkuh dan mengatakan Zain adalah anak ku? Dan satu lagi, bukan kah semenjak Zain lahir kamu sudah tidak menganggapnya anak mu? kamu tidak pernah menafkahi Zain dengan layak? tidak pernah menggendongnya apalagi memeluknya? ya sudah, mulai detik ini Zain adalah anak ku, anak kandung ku. Dan kamu telah menculik anak ku. Jadi sebagai ayahnya Zain rasanya wajar jika aku membawa kamu ke kantor polisi."Setelah berkata dengan geram, Raihan menoleh ke arah pak Riyadi.

__ADS_1


"Pak Riyadi, bawa paksa saja orang itu." Pak Riyadi mengangguk.


Aku di tuntun Raihan keluar lebih dulu kemudian menoleh ke belakang pak Riyadi dan dokter Bayu sedang menarik paksa mas Surya yang menolak di bawa ke kantor polisi.


__ADS_2