Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Kelaparan


__ADS_3

Kruk kruk kruk


Cacing cacing di dalam perut ku mulai berteriak. Aku baru menyadari bahwa dari tadi siang belum ada makanan apa pun yang masuk ke dalam perutku. Ku lihat Zain sudah tertidur pulas di sampingku. Ku seret ke dua kakiku menuju dapur untuk mencari sesuatu yang bisa di makan olehku. Aku membuka tudung saji di atas meja makan terlihat kosong lalu ku tutup kembali.


Setelah itu, aku membuka penanak nasi dan ternyata tempat itu pun sudah kosong tak ada lagi sisa nasi di dalamnya. Ibu sudah memakannya tanpa menyisakan sedikitpun untuk ku, tega sekali dia.


Aku berjalan ke arah wadah tempat penyimpanan beras lalu ku buka penutupnya. Aku menatap nanar ke dalam wadah karena di dalamnya sudah tidak ada lagi sebutir beras pun yang tersisa. Air mataku luluh ketika melihat beras telah habis. Bagaimana kami akan makan setiap harinya kalau beras habis. Ku hapus air mataku lalu berjalan menuju pintu kamar ibu yang sudah tertutup rapat.


tok tok tok


"Bu.....ibu...!" aku memanggil ibu namun tidak ada sahutan dari dalam kamar. Berulang kali aku memanggilnya dengan suara di keras kan agar dia terbangun tapi masih saja tidak ada sahutan. Lelah aku memanggilnya lalu aku memutuskan untuk kembali saja. Namun, ketika hendak berbalik pintu kamar terbuka.


"Apa sih malam malam teriak teriak ganggu aku tidur saja kamu Nur?" Ibu mengomeli ku. Aku tau jam sudah menunjukan pukul sembilan malam tapi bagaimana lagi aku harus meminta uang untuk membeli beras.


"Aku mau minta uang untuk beli beras Bu. Berasnya sudah habis." jawabku tanpa basa basi.


"Lho, beras habis kok minta duitnya sama aku? ya beli lah pakai duit kamu sendiri."


"Aku berani minta ke ibu karena uang kebutuhan buat beli bahan pangan kan ibu yang pegang."


"Kan kamu tau sendiri sudah ibu kasihkan ke si Supri buat istrinya. Apa kamu sudah pikun?"


"Itulah ibu, uang buat makan sehari hari saja di kasih kan ke orang. Lantas ke depannya kita mau makan apa Bu?"


"Heh, kamu berani sekali memarahiku. Si Supri itu anak ku dan si Yati itu mantu ku bukan orang lain. Kalau aku ngasih duit ke mereka ya hak aku lah. Lagian kamu itu kan punya duit dari suamimu. belikan beras kek, pelit banget jadi orang kamu Nur."


Aku terdiam. Lagi lagi ibu menyebutku pelit. Begitulah jika berdebat dengan ibu kalau masalah uang dan belanja, ujung ujungnya akan menyinggung masalah uang nafkah dari suamiku. Mungkin dia mengira suamiku memberi nafkah uang banyak kepadaku. Wajar saja aku rasa sebab, aku sendiri tidak pernah cerita padanya. Aku tidak ingin merendahkan martabat suamiku di depan keluargaku.

__ADS_1


Aku bergegas pergi dari hadapan ibu sebelum ibu berbicara kemana mana karena sampai mulut berbusa pun ibu tidak akan mau memberikan uangnya padaku dan lebih baik aku mengalah saja.


Aku memasuki kamarku sambil memegangi perut ku yang lapar serta terasa perih sepertinya magh ku kambuh.


"Aku mohon jangan kasih aku penyakit ya Allah....karena kalau aku sakit bagaimana dengan anak ku Zain." Air mataku luluh. Aku menangis sambil mengusap pipi anak ku yang sedang tidur.


Ku usap air mataku lalu berdiri dan mengambil uang sisa nafkah dari suamiku yang aku simpan. Ku hitung jumlahnya dan tersisa tujuh puluh ribu lagi. Masih harus menunggu dua puluh dua hari lagi baru mendapat uang nafkah dari suamiku. Ku ambil uang dua puluh ribu untuk membeli beras. Aku tidak ingin anak ku kelaparan besok karena tidak ada nasi untuk di makan.


Aku bergegas pergi ke warung sebelum warung di tutup karena waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Aku pergi ke warung yang paling dekat saja.


"Eh Nuri, tumben malam malam ke warung?" tanya Bu Endang setelah melihatku baru datang dan berdiri di hadapannya.


Aku tersenyum padanya." Iya Bu, mau beli beras."


"Oh, iya Nuri tiga hari yang lalu Bu Retno mengutang telur dua biji."


Aku terperangah lalu melihat ke uang dua puluh ribu yang ku genggam untuk membeli beras.


Bu Endang menakar beras satu liter lalu dia berikan padaku. Aku memberikan uang dua puluh ribu padanya.


"Apa hutang ibumu mau di bayarkan Nur? soalnya Bu Retno suka melupakan utangnya kadang nyampe berbulan bulan baru di bayar." Keluh Bu Endang.


Aku tersenyum kecut." Iya Bu, potong saja."


"Ini Nur kembaliannya." Bu Endang menyodorkan kembaliannya dan aku menerimanya. Ku tatap uang kembalian di tanganku satu lembar lima ribu dan satu uang receh seribu. Aku melirik ke arah tumpukan roti di sebuah wadah.


"Bu Endang kalau roti itu harganya berapa ya satuannya?"

__ADS_1


"Oh, itu seribuan Nur."


Aku tersenyum senang lalu ku ambil satu bungkus roti itu lalu memberikan uang receh pada Bu Endang.


"Terima kasih Bu, saya permisi dulu."


"iya Nur, silahkan."


Aku melangkah kan kakiku dengan langkah lebar agar cepat sampai di rumah karena aku ingin segera menikmati roti yang baru aku beli dengan harga seribu rupiah.


Tiba di rumah. Aku segera menyimpan beras ke tempat wadah beras lalu berjalan ke arah kamarku. Ku buka roti itu dengan cepat lalu segera memakannya untuk menghilangkan rasa lapar di perutku. Satu tetes dua tetes sampai tak terhitung sudah berapa tetes air mataku menetes hingga aku benar benar menangis sambil memakan roti.


Waktu sudah menunjukan jam dua belas malam tapi mataku tak bisa terpejam. Pikiranku menerawang kemana mana. Aku memikirkan tentang esok hari, esok lusa dan seterusnya. Apakah aku dan anak ku akan bisa makan dengan uang nafkah yang tinggal tersisa lima puluh ribu?" Aku berfikir bagaimana caranya mencari tambahan uang? aku tidak mungkin mengandalkan hasil kerupuk yang sudah tentu di kuasai oleh ibuku.


Tiba tiba aku punya ide untuk jualan gorengan keliling. Uang lima puluh ribu itu bisa aku gunakan untuk modal membuat gorengan. Seulas senyum tersungging di bibirku. Ku pejamkan mataku menyambut hari esok karena aku memiliki semangat baru.


Pukul setengah empat subuh aku terbangun. Ku lihat Zain masih tidur pulas. Subuh ini aku hendak pergi ke warung sayuran satu satunya warung yang sudah buka waktu subuh di kampung ku.


Ku tinggalkan Zain seorang diri di kamar. Mudah mudahan dia tidak bangun selama aku tinggal ke warung. Ku langkahkan kakiku dengan cepat. Selain berburu dengan waktu, aku tidak ingin meninggal kan Zain terlalu lama di rumah karena aku takut dia menangis lalu mengusik tidur ibuku dan membuat ibuku memarahinya seperti yang sudah beberapa kali terjadi.


Aku melangkahkan kakiku dengan semangat melewati jalanan yang masih dalam keadaan gelap. Cuaca dingin tidak aku hiraukan yang penting aku segera sampai di tempat tujuan.


Setelah tiba di tempat yang ku tuju aku segera membelanjakan uang lima puluh ribu sisa nafkah dari suamiku. Aku membeli tepung satu kilo, minyak goreng satu liter, tahu dua bungkus, sayuran sop dua bungkus, toge serta penyedap rasa. Total belanjaku empat puluh delapan ribu. Aku menyodorkan satu lembar uang lima puluh ribu pada penjual, satu satunya uang terakhir yang ku miliki. Kemudian, sang penjual memberikan kembalian uang dua ribu kepadaku. Aku menatap uang dua ribu yang ku pegang dengan mata berkaca kaca.


"Inilah sisa uang nafkah dari suamiku, dua ribu rupiah."


Ku genggam uang itu. Lalu, aku bergegas pulang ke rumah sambil menenteng belanjaan di tanganku.

__ADS_1


Tiba di rumah, ku letak kan belanjaan di atas meja. Setelah itu, aku masuk ke kamar untuk melihat Zain terlebih dahulu. Aku tersenyum melihat anak ku yang masih tidur dengan pulas.


Suara adzan berkumandang. Aku bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Aku harus sholat subuh terlebih dahulu sebelum membuat gorengan untuk di jual keliling kampung.


__ADS_2