
Kami berjalan beriringan memasuki mall. Zain di gendong oleh Raihan, aku menuntun Fatan dan bang Supri menuntun Rio. Setelah berada di dalam mall, bang Supri tercengang dengan mulut terbuka lebar, dan tak lama kemudian terdengar gumaman nyaring.
"Adem banget ya, jadi pengen tiduran."
Aku melirik dengan ekor mataku."Jangan kampungan deh bang meskipun berasal dari kampung,"sindir ku.
"Ish, kamu meledek ku terus Nur."
"Lagian ngapain ke mall kalau hanya mau tiduran. Di rumah juga bisa, tidur saja di dalam kulkas kalau mau adem.
Bang Supri memajukan bibirnya, sementara Raihan tersenyum lebar.
"Katanya tadi bang Supri lapar mau belanja dulu apa mau makan dulu?"tanya Raihan.
"Makan..."bang supri dan Ria menjawabnya dengan serempak.
"Ya sudah kita cari restauran dulu,"ucap Raihan.
Setelah berada di lantai dua kami mencari restauran yang cocok untuk di singgahi. Namun ketika melintasi restauran jepang, bang Supri meminta untuk makan di restauran tersebut. Dia bilang dia ingin merasakan makanan ala Jepang. Raihan pun menuruti keinginannya, sementara aku ikut saja.
Raihan memesan makanan apa saja yang di inginkan hingga meja kami penuh dengan bermacam macam makanan yang terlihat aneh di mataku karena aku sendiri belum pernah makan di restauran ini.
"Enak banget ya, nanti bisa nambah lagi kan Rai kalau aku masih kurang,"celetuk bang Supri di sela sela makan dan mulut nya penuh makanan.
"Jangan norak bang, makan saja dulu yang ada di meja ini, makanan masih banyak gini masih saja ngomongin mau nambah,"tegur ku.
"Iya, iya."
Aku sendiri tidak makan melainkan sibuk menyuapi Zain dan Fatan. Di sela sela menyuapi dua balita ku, sebuah udang di bungkus tepung berada di depan mulut ku. Aku mengernyitkan dahi lalu melirik pada si empunya tangan ternyata Raihan hendak menyuapiku.
"Ayok aak....buka mulutnya,"ucap Raihan.
"Rai..."
"Biar aku yang menyuapi mba."
"Aku bisa makan sendiri nanti setelah menyuapi mereka."
"Untuk menghemat waktu. Ayok mulutnya di buka." Lagi lagi Raihan memaksa dan mau tak mau aku pun menurutinya untuk membuka mulut ku.
Sambil menyuapi dua balita, perlahan Raihan menyuapiku dan sesekali mengelap ketika ada makanan yang menempel di bibirku dengan tisu. Tak sedikit pengunjung yang memperhatikan kami dengan pikiran mereka masing masing.
"Romantis sekali kalian, serasa dunia milik berdua saja dan yang lain hanya ngontrak,"goda bang Supri.
Raihan tersenyum lebar dan aku menunduk malu.
Raihan masih terus saja menyuapi ku meskipun aku sudah berulang kali menyuruhnya untuk menyudahi, karena aku sendiri merasa malu telah menjadi pusat perhatian pengunjung restouran.
Namun Raihan masih saja memaksa dan memintaku untuk mengabaikan mereka yang memperhatikan kami dan aku terpaksa menerima suapan darinya hingga aku merasa kenyang.
"Sudah Rai, aku sudah kenyang,"tolak ku.
"Benar sudah kenyang?"
Aku mengangguk.
"Ya sudah kalau begitu, sekarang giliran aku yang makan."
__ADS_1
Aku mengerutkan dahi ku melihat Raihan memakan sisa makanan bekas aku makan tanpa ada rasa jijik. Padahal di meja masih banyak makanan yang masih utuh namun dia memilih makanan sisa ku.
"Rai..itu bekas aku makan kenapa di makan lagi?"
"Sayang mba,"jawab Raihan di sela sela mengunyah dan terlihat menikmati.
"Sayang, tapi itu bekas aku Rai."
"Tidak apa apa, enak kok."
"Jadi kamu tidak mau makan yang masih pada utuh ini Rai? kalau tidak mau ya sudah mau ku bungkus untuk di rumah," kata bang Supri.
"Bungkus saja," jawab Raihan dengan santai.
"Asiik,"seru bang Supri lalu tersenyum lebar.
Aku geleng-geleng kepala saja melihat bang Supri mengumpulkan semua makanan yang masih utuh lalu di masukan ke sebuah wadah berbentuk kotak.
Setelah selesai makan kami berjalan mencari toko sepatu dan setelah menemukannya kami memasuki toko yang lumayan besar. Setelah menemukan sepatu yang cocok untuk Ria dan Rio aku menyuruh bang Supri serta anak anak untuk menunggu di luar toko kecuali Zain.
Kemudian sambil menggendong Zain aku mengikuti seorang SPG yang membawakan sepatu itu menuju kasir dan setelah di meja kasir SPG itu pun kembali lagi menyambut pengunjung yang lain.
"Berapa totalnya mba?"tanya ku pada kasir tersebut.
"empat ratus lima belas ribu."
Aku segera merogoh tas ku untuk mengambil dompet. Ketika aku akan membuka dompet, Raihan lebih dulu mengulurkan tangannya memberikan sebuah kartu debit pada mba kasir.
Aku sedikit terkejut karena aku pikir Raihan ikut keluar bersama bang Supri tapi ternyata dia mengekor di belakangku.
Ku alihkan kembali pandanganku pada Rai yang dari tadi menatapku namun tangannya menyodorkan kartu debit pada mba kasir. "Rai, biar ak...."
"Aku saja yang membayarnya mba," ucap nya.
"Tapi Rai.."
"Tidak apa apa, uang ku tidak akan habis kalau hanya sekedar membayar dua sepatu ini."
"Tapi kamu sudah mengeluarkan uang banyak untuk makan kami tadi."
"Uang ku juga tidak akan habis kalau hanya sekedar mentraktir kalian makan."
"Sombong sekali, mentang-mentang bos banyak duit."
"Ha ha ha" Raihan tertawa renyah.
Mba kasir tidak langsung melakukan transaksi melainkan bengong saja melihat Raihan dengan mulut sedikit terbuka, sepertinya dia terpesona oleh ketampanannya. Wanita mana yang tidak akan terpesona pada sosoknya, sekalipun Raihan hanya memakai pakaian sederhana tapi penampilannya itu tidak akan mengurangi kadar ketampanannya.
"Kenapa melihat saya seperti itu mba? cepat itu di proses, kami buru buru."protes Raihan.
"Ah, ya maaf mas, tunggu sebentar,"ucap mba kasir, dia terlihat gugup ke pergok telah memperhatikan pria tampan di depannya.
Raihan melirik ke arahku yang berdiri di sampingnya."Sayang, apa kamu tidak ingin beli sesuatu untuk mu sendiri gitu?"
"Tidak, aku tidak perlu apa apa lagi. Apa yang aku mau sudah aku miliki,"ucap ku dengan sedikit sombong. Bukan tanpa alasan aku bicara demikian karena memang demikian adanya dan aku tidak ingin Raihan terus menerus membelikan aku sesuatu karena aku belum menjadi istrinya. Aku sendiri sudah memiliki penghasilan yang menurutku lebih dari kata cukup karena aku bukan tipe orang yang ambisius untuk memiliki banyak harta. Aku juga sudah memiliki beberapa kebutuhan primer mau pun kebutuhan sekunder. Meskipun motor dan ponsel Raihan sendiri yang membelikannya dan semua itu menurutku sudah lebih dari cukup.
Raihan mengelus pucuk kepalaku sembari berkata,"calon istri idaman ku ini luar biasa."Aku menunduk malu.
__ADS_1
Perlakuan manis Raihan padaku ternyata mendapat lirikan tak suka dari mba kasir itu.
Plak..
Mba kasir meletak kan kartu debit Raihan di atas meja kasir dengan kasar hingga kartu itu terjatuh di atas lantai.
"Silahkan ambil kartunya transaksi sudah selesai,"ucap nya dengan wajah ketus lalu merobek kasar kertas struk yang keluar dari sebuah mesin transaksi dan meletakkannya di atas meja dengan wajah masam.
Raihan tidak langsung mengambil kartunya yang tergeletak di lantai tepat di bawah kaki nya melainkan menatap tajam pada mba kasir itu.
Brakk..
Tiba tiba Raihan menggebrak meja kasir dan perbuatannya cukup membuat aku serta mba kasir itu terkejut.
"Apa begini cara anda melayani customer?" tanya Raihan, dia terlihat marah pada mba kasir yang tiba tiba kasar itu.
Bukan nya meminta maaf melainkan mba kasir itu menantang balik."Memang nya aku kenapa? aku sudah melayani kalian dengan baik."
"Baik katamu?memberikan kartu orang dengan cara melemparnya hingga terjatuh ke lantai apa itu di sebut pelayanan yang baik?"
"Aku tidak melemparnya, kartu itu jatuh sendiri, kenapa kamu menyalahkan aku?"
"Tidak usah banyak berkelit, dimana bos mu?"
"Mau apa kamu tanya tanya bos ku? seperti orang penting saja."
"Aku mau membeli toko ini sekaligus membeli harga diri karyawan songong sepertimu," ucap Raihan dengan kesal.
Mba kasir itu terlihat tercengang namun tak lama dia memiringkan sebelah bibirnya lalu tertawa mengejek.
"Mau membeli toko ini? jangan mimpi deh, mana sanggup kamu membeli toko besar ini."
Brakk..
Raihan menggebrak meja kembali sehingga membuat aku terperanjat serta menyita perhatian beberapa pengunjung dan seorang SPG sehingga SPG itu pergi entah mau kemana. Aku sendiri tidak bisa mencegah Raihan untuk menyudahi perdebatannya.
"Dimana bos mu? cepat panggil," bentak Raihan.
Mba kasir itu terdiam, dia terlihat seperti ketakutan mendapat tatapan tajam serta bentakan lagi dari Raihan.
Selang beberapa menit, seorang pria bertubuh gempal tergopoh gopoh mendekati kami serta di ekori oleh SPG yang tadi sempat menghilang dan ternyata dia memanggil pria gempal itu.
Dengan nafas tersengal sengal dia bertanya pada mba kasir."Elis, ada apa ini kenapa ribut ribut?"dia bertanya tanpa melihat ke arah kami."
"Mereka yang mulai bikin gara gara pak," bohong wanita yang baru ku ketahui bernama Elis, sembari menunjuk dengan mulutnya.
Pria bertubuh gempal itu menoleh ke arah kami lalu mendongak tinggi agar wajah orang yang di sebut Elis bikin gara gara dapat terlihat olehnya. Namun kemudian pria bertubuh gempal itu mengernyitkan dahi lebarnya setelah melihat wajah Raihan dengan jelas.
"Lho, bukannya....Anda ini bapak Raihan pendiri sekaligus pemilik saham terbesar di R&N Group yang baru sebulan ini berdiri?"
Mba kasir itu terlihat terkejut sekali, bola matanya tiba tiba membelalak lebar. Aku tersenyum miring saja melihat ekspresi nya. Dia mengira Raihan adalah pemuda biasa pada umumnya hanya karena melihat penampilannya yang terkesan sederhana dan sama sekali tidak mencerminkan seorang bos besar.
Raihan menyipitkan matanya seolah olah berusaha mengingat siapa pria gembul yang telah mengenalnya ini namun dia sama sekali tidak mengingatnya.
"Maaf anda sendiri siapa ya?"
Pria gempal itu tertawa."Pak Raihan mana mungkin mengenal saya karena saya ini hanya pengusaha kecil, tapi saya mengenal pak Raihan sebagai pengusaha muda yang sukses."
__ADS_1