Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Kedatangan Raihan 2


__ADS_3

Ekor mataku memperhatikan Raihan yang sedang menyuapi Zain makan dengan telaten di ruang TV namun kedua tangan ku sibuk menata beberapa menu di atas meja makan hasil olahan ku bersama Raihan tadi. Karena jarak dapur dan ruang TV berdekatan dan hanya di batasi pintu penghubung yang terbuka maka tak susah aku melihat mereka. Tidak menyangka ternyata Raihan pandai memasak dan hasil olahan nya pun terasa enak di lidahku. Bisa dikatakan Raihan seorang laki laki yang serba bisa, bisa mencari uang, bisa mengerjakan pekerjaan rumah, bisa memasak dan juga bisa mengurus seorang balita. Satu kata untuk nya sempurna.


Setelah selesai menata menu makanan, aku menghampiri mereka dan ikut duduk di atas karpet tebal di hadapan keduanya kemudian bertanya pada Zain."Makan nya belum selesai sayang?" Zain melihat ke arah ku dengan mulut yang masih penuh makanan sehingga pipinya terlihat mengembung.


"Sebental lagi mama!" Raihan yang menjawab pertanyaan ku menirukan suara Zain sehingga aku tertawa kecil karena merasa lucu dan Raihan pun ikut tersenyum lebar.


"Apa mba mau ku suapi makan seperti Zain?" goda Raihan.


"Aku bukan anak kecil lho Rai!"aku menolaknya.


"Memang nya hanya anak kecil saja yang boleh suap suapan? orang dewasa seperti kita yang sedang kasmaran pun boleh melakukannya."


"Siapa yang sedang kasmaran Rai?"


"Siapa lagi kalau bukan aku dan mba."


Aku tertawa, apa iya aku sedang kasmaran? rasanya kata itu terdengar berlebihan dan aneh sekali.


"Kenapa tertawa mba? apakah lucu?"


Aku menggeleng. Kemudian melirik ke arah piring yang sedang di pegang olehnya. Ternyata benar makanannya tinggal dua suapan lagi.


"Terima kasih ya Rai, sudah membantuku memasak dan menyuapi Zain makan hingga habis,"kata ku kemudian.


"Aku membantu mba masak karena aku juga akan ikutan makan mba he he."Raihan tersenyum nyengir dan aku ikut tersenyum.


Setelah selesai menyuapi Zain, aku hendak mengambil piring kosong bekas Zain makan yang masih di pegang oleh Raihan namun dia tidak memberikannya.


"Biar aku saja yang simpan mba, sekalian mau cuci tangan."Raihan beralasan kemudian beranjak pergi menuju dapur. Aku hanya menatap punggungnya saja sembari tersenyum. Setelah itu, aku memberikan beberapa mainan untuk zain agar dia bermain sendiri karena kami akan makan bersama di dapur.


Aku dan Raihan duduk berdampingan di meja makan. Setelah itu aku mengambilkan satu centong nasi ke atas piring Raihan yang sedang aku pegang karena setahu ku makan Raihan tidak banyak. Kemudian menaruh ayam goreng bumbu laos, capcay sayur, sambal goreng dan tahu serta tempe goreng sehingga piringnya terlihat penuh oleh lauk pauk padahal nasinya hanya satu centong saja. Setelah dirasa lengkap, aku meletakkan nya di hadapan Raihan.


Raihan geleng - geleng kepala melihat piring nya yang penuh dan berkata," too much mba."


"Biar cepat besar makannya harus banyak," canda ku, sembari menaruh nasi di atas piring untuk ku.


"Apa aku ini masih terlihat kecil ya sehingga mba memberi ku makan banyak?"Raihan bertanya dengan tatapan kesal.


Ku hentikan pergerakan tanganku lalu meletak kan piring terlebih dahulu. Aku segera meraih sebelah tangannya."Im sorry, aku hanya becanda saja Rai, please jangan marah ya?" kata ku dengan wajah memelas agar dia tidak marah. Aku lupa jika Raihan tidak suka di sebut yang berhubungan dengan kata sifat kecil meskipun hanya becanda.

__ADS_1


"Kalau aku terlalu besar aku takut mba tidak akan kuat menahan tubuh ku di atas ranjang nanti, apa mba mau aku menambah bobot ku lagi agar besar seperti yang mba inginkan?"


"Rai...."aku mencubit gemas perut sixpack nya.


"Aduh....geli mba," Raihan mengaduh sambil memegang tangan ku yang sedang mencubit perutnya.


"Mba harus tanggung jawab kalau adik kecil ku bangun," sambungnya.


Aku semakin gemas di buatnya, ku tambah lagi kekuatan ku untuk mencubit perutnya yang terasa keras.


"Aduh mba...aduh...aduh, ampun ampun." Raihan mengaduh, mungkin cubitan ku kali ini terasa sakit dan akhirnya dia menyerah.


Aku melepaskan tangan ku."Awas saja kalau berani menggodaku lagi aku akan....."


"Jangan di cubit lagi mba di cium saja."


"Rai..."mata ku membesar namun Raihan tak merasa takut dan sebalik nya dia tersenyum lucu lalu mengusap lembut belakang kepalaku dan berkata," sudah jangan ngambek lagi sayang, kita makan yuk! suami mu sudah lapar banget ini." Hati ku terasa menghangat, suami? indah sekali di dengarnya namun aku berfikir realistis saja apa yang di ucapkan oleh Raihan hanya sebuah gurauan semata.


Kami makan dalam diam namun sesekali Raihan melirik ke arah ku lalu memberikan senyuman manisnya. Aku juga selalu membalas senyuman yang dia berikan padaku.


Setelah itu, aku menuangkan air putih ke dalam gelas kosong lalu meletakkan nya di hadapan Raihan.


"Terima kasih sayang. Begini rasanya memiliki seorang istri apa apa di layani, di layani di meja makan maupun di atas kasur." Raihan bicara ngaur atau mungkin dia sedang berkhayal memiliki seorang istri.


"Jangan ngambek mba, aku hanya sedang berkhayal, he he." Aku yang tadinya merasa malu jadi tertawa.


"Aku senang banget kalau liat mba tertawa," ucap Raihan tiba tiba.


"Oh ya! kenapa begitu?"


"Ya seneng saja, dari pada melihat mba menangis dan sedih. Ehm, mba, aku minta maaf ya?"


"Minta maaf untuk apa?"


"Sudah sering membuat mba sedih dan menangis."Raihan menatap lekat wajahku dengan posisi menyamping. Begitu pula dengan ku ikut menatapnya.


"Kamu tidak pernah membuat aku menangis Rai, justru sebaliknya."


"Katakan padaku mba, apa mba sayang aku?"

__ADS_1


"Aku....aku," aku gugup namun kemudian aku mengangguk pelan.


Raihan tersenyum kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah ku dan hendak menempelkan bibirnya pada bibirku namun sebelum itu terjadi aku menghalanginya dengan jariku dan berkata," kita sedang makan Rai."


Raihan tertegun kemudian menegak kan kembali duduknya lalu mengusap wajahnya dan mengumpat." Beginilah kalau setan sudah berbisik tidak tau tempat..hampir saja." Aku tertawa kecil mendengar umpatannya.


Kami melanjutkan makan kami kembali namun kali ini benar benar fokus makan tanpa ada lirik lirikan atau bicara sampai makanan kami habis.


"Rai, apa kamu mau menambah lagi?"aku menawarkan dan siapa tau Raihan ingin menambah makanan lagi.


"Iya mba, aku masih ingin makan tapi...ingin makan yang lain," jawab Raihan dengan wajah serius.


Aku mengernyitkan kening ku, tumben Raihan makan nya banyak. kemudian aku bertanya dengan serius."Memangnya kamu ingin apa Rai? biar aku buatkan atau..."


"Aku ingin makan mba Nuri," kata Raihan, memotong ucapan ku.


Aku mendengus."Tapi aku bukan makanan Rai, apa jangan jangan kamu seorang kanibal pemakan daging manusia? aku jadi takut lho sama kamu Rai." Raihan tidak membalas ucapan ku melainkan tersenyum lebar saja. Aku sendiri sebenarnya mengerti apa yang di maksud olehnya tapi aku pura pura tidak mengerti saja atas apa yang dia inginkan.


"Mba, apa tadi malam Andre menginap di sini?" tanya Raihan setelah selesai makan dan aku sedang membereskan piring piring kotor bekas kami makan.


"Iya Rai, memang kenapa?"aku menjawabnya dengan jujur dan balik bertanya.


"Tidak apa apa hanya bertanya saja. Semalam dia tidur di kamar siapa?" Raihan bertanya dengan nada menyelidik.


"Memang kenapa Rai?"


"Jawab saja mba." Kata Raihan, terlihat wajahnya mulai kesal.


"Aku tidak pernah tidur satu kamar dengan laki laki selain dengan mantan suamiku dan....kamu Rai."Aku tau Raihan pasti memiliki pikiran negatif padaku oleh karena itu aku menjawabnya saja dengan jujur, dan kalau masalah percaya atau tidak itu terserah dirinya.


"Maaf mba bukan aku bermaksud menuduh mba tapi...."Aku segera mengangkat piring kotor dan meninggalkan Raihan yang belum sempat selesai bicara. Aku sedikit kesal padanya dia seperti tidak mempercayaiku.


Ketika aku sedang mencuci piring di wastafel, Raihan merangkul ku dari belakang. Hal itu sudah sangat sering dia lakukan tanpa sepengetahuanku seolah olah tubuhku ini sudah menjadi candu untuk di peluknya.


"Rai, lepasin kita bukan pasangan halal." Aku menolak dan mengingatkan.


Namun Raihan tidak menanggapi ucapan ku melainkan membahas masalah tuduhan. "Maafin aku mba, aku tidak bermaksud menuduh mba yang bukan bukan. Aku hanya cemburu karena mba terlalu dekat dengannya."


"Kami hanya berteman."

__ADS_1


"Iya, tapi aku merasa dia menyukai mba apalagi dia sering mengatakan kalau mba calon istrinya."


"Dia hanya becanda Rai." Sebenarnya ingin rasanya aku mengatakan jujur pada raihan bahwa Andre pun meminang ku, dia juga mencintaiku sama hal nya dengannya Namun aku tidak memiliki keberanian untuk bicara terus terang karena aku takut dua sodara sepupu itu bertengkar karena aku.


__ADS_2