Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Ziarah kubur


__ADS_3

Pak Bagas nampak tercengang ketika aku menawarkan diri untuk menjenguk makam istri dan anaknya.


"Tidak, tidak usah nak Nuri. Saya tidak mau merepotkan kalian. Lagi pula kamu belum sehat betul."


"Kami sama sekali tidak merasa di repotkan pak, saya sendiri sudah sehat." kemudian aku menoleh pada Raihan yang sedang fokus mengemudi." Rai, kita ziarah ke makam keluarga pak Bagas dulu."


"Iya, sayang. Pak Bagas di sebelah mana pintu masuknya?" Tanya Raihan sembari mengemudi.


"Lurus terus Rai, Sebentar lagi akan ketemu gapura di depan. Terima kasih nak Nuri, terima kasih Rai !"


"Sama sama pak."


Setelah sampai pada gapura akses masuk ke pemakaman Raihan memarkirkan mobilnya di depan. Di sana juga nampak berjejer mobil sepertinya mobil para penziarah pemakaman tersebut.


"Sayang, tunggu biar aku bantu kamu turun." Raihan sembari melepaskan sabuk pengamannya mencegah aku turun sendiri.


"Rai, aku sudah sehat. Aku bisa turun sendiri."


Raihan tidak menghiraukan tolakan ku dia buru buru turun lalu berjalan cepat dan membukakan pintu mobil. Selain itu dia juga membantu aku turun. Pak Bagas tersenyum saja melihat kami.


Sebelum memasuki pemakaman aku mendekati salah satu pedagang bunga lalu membeli satu keranjang bunga tabur dan dua buket bunga yang masih segar. Selain itu aku juga membeli satu botol air.


Raihan menuntun ku memasuki gapura itu sementara Zain di gendong oleh pak Bagas. Tiba di dalam aku tercengang melihat pemakaman yang nampak sangat rapih dan bersih. Raihan mengatakan pemakaman ini di rawat sangat baik karena dikelola oleh seorang pengusaha dan siapapun yang di makam kan di sini pihak keluarga yang masih hidup harus membayar tiap bulan sebagai biaya perawatannya. Dan aku rasa pemakanan ini merupakan pemakaman khusus orang yang memiliki kelebihan uang jika tiap bulan harus membayar.


"Di belah mana makam nya pak?"Tanya Raihan.


Pak Bagas tidak langsung menjawab melainkan ekor matanya melirik kesana kemari seperti kebingungan. Namun tak lama kemudian dia menjawab."Kalau tidak salah di ujung belah sana, Rai?" Tunjuk nya pada suatu arah.


Aku dan Raihan saling pandang. Pak Bagas mengira ngira letak makam istri dan anaknya. Apa dia benar benar tidak pernah menziarahi makam mereka hingga dia lupa dimana letak makamnya.


Ketika kami tengah terdiam tiba tiba seorang pria berusia lanjut melintasi kami dengan jarak lima meter.


"Pak, bapak!" Aku memanggilnya. Dia menoleh ke arah kami lalu mendekat.


"Iya mba, apa ada yang bisa saya bantu?"Tanya pria lansia yang nampak masih bugar itu.


Aku diam bingung harus bertanya apa. Namun ternyata Raihan mengerti kenapa aku terdiam.


"Em, maaf pak sebelumnya, kami hanya ingin bertanya apa bapak tau siapa yang merawat pemakaman ini?"


"Saya sendiri pak."


"Oh, bapak. Alhamdulilah. Gini pak kedatangan kami kesini ingin menziarahi makam..." Raihan menoleh pada pak bagas."Maaf pak, istri bapak siapa namanya ya?"


"Ha...Hanum, Hanum de Neffee."


"Oh, Makam almarhumah mba Hanum yang meninggal setelah melahirkan kalau tidak salah dua puluh tujuh tahun yang lalu?"


"Iya, benar, benar sekali pak." Ucap pak Bagas dengan bibir nampak gemetar.


"Tapi maaf kalau boleh saya tau bapak sendiri siapa nya mba Hanum ya?"


"Saya....suaminya pak."


"Oh, maaf ya pak. Soalnya saya tidak pernah melihat bapak. Yang saya tau keluarga mba Hanum itu hanya Ibu Melisa dan den Bayu. Kalau mereka sangat sering berkunjung kemari makanya saya hafal."


Nampak jakun pak Bagas naik turun seperti kesulitan menelan Saliva nya.


"Kalau begitu apa bapak bisa antar kami ke makam ibu Hanum sekarang." Kata Raihan.


"Bisa pak, bisa mari saya antar."


Setelah kami melewati jalanan cukup panjang akhirnya kami tiba di tiga buah makam yang letak nya terpisah dari makam lainnya. Bahkan tiga makam itu di pagar yang tingginya hanya sebatas paha orang dewasa. Ku perkirakan luas tanah di dalam pagar itu sekitar dua ratus meter persegi. Di sisi kanan kiri samping depan pun nampak luas dan hanya berupa rumput hijau serta beberapa pohon pendek.

__ADS_1


"Apa bapak yakin ini makamnya?" Tanya pak Bagas.


"Benar pak. Ini makam khusus keluarga De Neffe. Ibu melisa sendiri yang membeli tanahnya sejak suaminya meninggal. Bahkan Bu melisa sudah berpesan kalau dia meninggal ingin di makam kan di samping makam suaminya."


Kami terdiam. Aku tau siapa yang di sebut ibu melisa oleh bapak ini yaitu Oma nya dokter Bayu. Oma sudah menyiapkan lahan kuburan untuk keluarganya bahkan untuk dirinya sendiri.


Bapak itu membuka pagar kami pun memasukinya dan mendekati tiga makan itu.


"Ini makam suami ibu Melisa." Tunjuk nya pada sebuah makam sebelah kanan. Aku membaca nama yang tertera di batu nisan." William de Neffee bin Federic de Neffe."Ucap ku dalam hati.


"Dan ini...makam mba Hanum." Tunjuk nya pada makam bagian tengah. Aku pun membaca nama yang tertera di batu nisannya." Hanum de Neffe binti William de Neffe." Tiba tiba jantungku rasanya berdetak hebat hingga aku memegang dadaku yang terasa mulai sesak.


Raihan menyadari aku yang sedang memegang dadaku."Sayang kamu kenapa?" Tanya nya dengan cemas.


"Tidak, a..aku tidak apa apa."


"Apa kita kembali ke mobil saja?" Usul pak Bagas.


Aku menggeleng cepat." Ja...jangan dulu pak. Kita belum mendoakan ibu Hanum dan..." Mataku tertuju pada makam kecil di sampingnya.


"Oh, itu makam Puteri ibu Hanum yang baru di lahir kan." Jelas bapak itu. Aku membaca nama yang tertera di nisan mungil itu. Meskipun kecil namun masih bisa terbaca.


"Nuri Aisha Bagaskara." Ucap ku dengan suara sedikit besar lalu menyipitkan kedua mataku. Setelah itu, aku melirik Raihan ternyata Raihan pun sedang menatap ku.


"Iya, Nuri. Nuri Aisha Bagaskara itu nama Puteri kami yang sudah saya dan istri saya siapkan sebelum kelahirannya. Kalau dia hidup mungkin usianya sama dengan mu Nuri." Kata pak Bagas menjelaskan keheranan ku. Pantas saja pak Bagas baik padaku ternyata selain wajahku mirip dengan istrinya nama ku pun sama dengan nama putri nya yang sudah meninggal.


"Wah, ternyata namamu pasaran juga sayang hehe." Raihan meledek ku disaat aku terdiam dengan pikiran ku sendiri.


"Emm, gimana kalau kita mulai berdoa saja. Kasihan Zain kalau berlama lama di tengah kuburan." Usul Raihan. Aku melirik pada Zain yang sedang di gendong oleh pak Bagas. Matahari pun nampak mulai tinggi dan jika semakin tinggi akan semakin panas. Kasihan Zain jika harus berpanas panasan.


Kemudian aku mengangguk. Menyetujui usulan Raihan. Setelah itu kami pun duduk di atas rumput beralaskan sandal yang di pakai. Raihan duduk paling depan sebagai pemimpin doa sementara aku dan pak Bagas di belakangnya.


"Rai !"ucap ku.


"Emm, apa bisa namanya di bawa semua? jangan hanya nama ibu Hanum saja tapi bapak Wiliam dan...." Rasanya sulit sekali aku menyebut nama yang ada di nisan makam kecil itu. Nama yang sama denganku.


"Iya sayang, aku akan membawa semua nama yang ada di makam ini."


Aku tersenyum. Raihan memang benar benar mengagumkan. Dia tidak hanya pandai mencari uang tapi juga pandai dalam hal doa ziarah kubur dan aku benar benar sangat beruntung.


Setelah selesai berdoa. Aku menyiram kan air yang ada di botol untuk ketiga makam itu. Setelah itu menaburkan bunga di atasnya dan terakhir meletak kan buket bunga di depan nisan atas nama Hanum dan William namun tidak pada makam kecil itu.


Aku dan Raihan membiarkan pak Bagas menangis di atas makam istrinya dan aku tidak tau apa yang dia bicarakan pada makam itu karena aku dan raihan sudah keluar pagar dan menunggunya di luar.


"Zen haus papa." Keluh Zain dalam gendongan raihan.


"Sebentar ya nak, tunggu opa berdoa dulu sebentar lagi kita pulang."


Di tengah Zain kehausan ekor mataku melirik ke sekitar siapa tau ada penjual minuman tapi rasanya tidak mungkin ini pemakaman yang luas hanya ada kuburan tidak mungkin ada penjual.


Namun disaat ekor mataku melirik ke sekitar aku melihat seorang wanita memakai baju putih melambai lambaikan tangan nya sembari memegang air minum di bawah pohon beringin. Aku pikir mungkin itu salah satu penziarah makam disini dan ingin memberikan air minum itu untuk kami.


Tanpa ijin raihan dan tanpa pikir panjang aku pun berjalan ke arah wanita itu. Namun baru beberapa langkah menjauh dari Raihan, dia menyadarinya.


"Mau kemana sayang?"Tanya Raihan.


Aku menoleh padanya." Wanita itu mau ngasih minum, Rai."


"Wanita mana?" Tanya Raihan lagi.


"Wanita itu yang....." Tunjuk ku pada pohon beringin dengan ucapan menggantung setelah menyadari tidak ada siapa siapa di bawah pohon beringin itu.


Raihan melangkah ke arah ku lalu menarik pelan tanganku dan membawaku ketempat semula kami berdiri." Jangan pergi kemana mana tetap di samping ku."

__ADS_1


Aku terdiam namun ekor mataku melirik lagi pada pohon beringin besar itu." Apa aku hanya berhalusinasi saja." Ucap ku dalam hati.


Pak Bagas keluar pagar dan mendekati kami. Wajahnya nampak sayu setelah menangisi makam istrinya. Aku mengerti perasaan pak Bagas, istri nya meninggal setelah berjuang melahirkan anaknya tapi ternyata yang di perjuangkan nya pun ikut meninggal. Jika aku berada di posisi pak Bagas mungkin aku tidak sanggup menjalani hari hari ku tanpa ada orang orang yang aku sayangi. Oleh karena itu, aku selalu berdoa pada Tuhan semoga tuhan memanjangkan usia ku serta orang orang yang aku sayangi.


"Apa sudah selesai pak?" Raihan bertanya ketika pak Bagas sudah berdiri di hadapan kami.


"Sudah Rai, terima kasih sudah Sudi menziarahi makam keluarga saya."


"Sama sama pak. Kalau begitu kita pergi sekarang?"


Pak Bagas mengangguk.


Raihan melirik ke sana kemari seperti mencari sesuatu.


"Kamu mencari siapa, Rai?"


"Bapak yang mengantar kita tadi perginya kemana ya? kita belum memberi uang."


"Mungkin ke tempat dimana kita tadi bertemu dengan beliau Rai." Kata pak Bagas.


"Ya sudah kalau begitu kita pergi sekarang." Kemudian kami melangkah meninggalkan tiga makam itu. Namun ketika melangkah aku menyempatkan diri menoleh ke belakang dimana letak tiga makam itu dan lagi aku berhalusinasi melihat wanita yang akan memberi air minum sedang berdiri di pintu pagar.


Raihan menarik pinggangku hingga aku sedikit terkejut." Kalau sedang jalan itu lihatnya ke depan sayang jangan ke belakang nanti kalau tersandung bagaimana?" Setelah Raihan berkata aku pun meluruskan pandanganku dan fokus menatap depan.


Raihan memberikan sejumlah uang pada bapak yang mengantar kami setelah bertemu dengannya di samping gapura. Setelah itu, kami meneruskan langkah kami menuju parkiran. Pak Bagas lebih dulu masuk ke dalam mobil begitu pula dengan Raihan sembari menggendong Zain masuk ke dalam mobil sementara aku membeli air minum di pedagang asongan terlebih dahulu.


"Nuri, Nuri!" Suara seseorang berteriak memanggil namaku. Aku mencari arah sumber suara itu. Dari kejauhan nampak seorang wanita lanjut usia yang nampak masih bugar tergopoh gopoh berjalan ke arah ku sembari membawa bunga tabur di ranjang kecil dan di belakang wanita lansia itu mengekor seorang pria tampan sedang berjalan cepat untuk menyeimbangkan langkahnya dengan wanita lansia itu. Dua orang yang sangat aku kenal dan sudah lama juga tidak bertemu dengan mereka.


"Nuri!" Ucap Oma setelah berada di hadapanku dengan nafas tersengal sengal.


"Oma!" Aku langsung mencium tangannya dan Oma memeluk ku.


"Oma kangen sekali sama kamu Nuri. Kemana cicit Oma yang tampan itu?" Tanya Oma sembari merangkul tanganku.


"Ada di mobil Oma."


"Nuri!" Ucap dokter Bayu setelah berada di hadapanku dan Oma.


"Dokter Bayu." Aku pun langsung bersalaman dengannya.


"Kamu apa kabar Nuri? Lama kita tidak bertemu. Tiga hari yang lalu aku ke rumah mu tapi kata orang yang ada di rumah mu kamu sedang ke Jakarta. Sebenarnya ada yang ingin saya katakan sama kamu tentang...."


"Sayang!"


Kami segera melepaskan tautan tangan kami ketika Raihan menghampiri kami. Dokter Bayu mengalihkan pandanganya pada Raihan."Oh, ada boss besar ternyata."


Raihan tidak menghiraukan candaan dokter Bayu melainkan memasang wajah datar. Aku tau dia sedang cemburu.


"Sudah dapat minumannya? Zain sudah kehausan."


Aku memberikan dua botol air mineral padanya namun Raihan tidak mengambil nya melainkan meraih pinggang ku hendak di giringnya. Namun ketika Raihan menggiring pelan tubuhku tidak di sangka Oma yang awalnya diam saja tiba tiba menyingkirkan tangan Raihan dari pinggangku.


"Kamu ini jadi laki laki tidak ada sopan sopan nya sama perempuan. Apa kamu mau menyakiti cucu saya lagi seperti waktu itu, hah?" Bentak Oma. Raihan menyipitkan matanya melihat kemarahan Oma padanya.


"Saya...!"


"Apa apa! kamu mau mengelak?


"Bu..bukan begitu..say.."


"Apa! dasar laki laki tidak punya rasa tanggung jawab."


"Bu..!"

__ADS_1


"Mau ngomong apa lagi kamu, hah?"Oma nampak marah sekali pada Raihan sehingga tidak memberi celah padanya untuk angkat bicara. Mungkin Oma masih ingat pada sikap Raihan yang dulu pernah menelantarkan aku dan Zain di mall.


__ADS_2