Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Bertemu dokter bayu


__ADS_3

Aku memperhatikan penampilan semua anak anak yang sudah berdandan rapih, aku pikir ini berlebihan karena kami hanya akan pergi ke toko sepatu yang ada di pinggir jalan.


"Ayok anak anak semua masuk ke dalam mobil!"Raihan berseru di belakangku dan di sambut bersorak ria oleh mereka. Setelah itu mereka berlarian ke luar rumah. Aku melirik Raihan ternyata dia sedang memperhatikan ku sembari tersenyum.


"Seru ya kalau punya anak banyak? anggap saja kita sedang belajar menjadi orang tua yang memiliki banyak anak. Jadi nanti kalau kita sudah menikah dan memberikan beberapa adik lagi untuk Zain kita sudah siap dan tidak...."


"Rai...."ku besarkan bola mataku. Raihan tersenyum lebar melihat ekspresi ku. Setelah itu, aku menyusul anak anak ke luar dan Raihan mengekor sembari tersenyum.


Anak anak masih ricuh di teras karena Raihan belum membuka kunci pintu mobil sehingga mereka tidak dapat masuk lebih dulu. Bang Supri belum nampak padahal kami sudah siap siap hendak pergi.


"Bang Supri..... cepetan kami sudah siap siap mau pergi,"teriak ku di teras depan. Aku sengaja berteriak agar terdengar olehnya, sepertinya dia masih berada di dalam kamarnya dan entah sedang apa dia di sana lama sekali seperti wanita saja.


"Tunggu sebentaarrr..."sahutan bang Supri terdengar dari dalam.


Selang beberapa menit, bang supri muncul di ambang pintu dengan penampilan yang membuat aku ingin tertawa kencang namun ku tahan. Sepatu putih, celana borju lengkap dengan sabuk rantai yang menjulur ke bawah, kaos ketat warna putih kontras sekali dengan warna kulitnya yang cenderung hitam dan tak tertinggal kacamata hitam bertengger di hidungnya. Raihan dan anak anak pun ikut memperhatikannya.


"Kenapa kalian melihatku seperti itu? kalian pangling ya melihat ku jadi keren seperti ini?" kata bang Supri sok narsis.


"Bukan keren bang Supri tapi aneh,"celetuk Ria.


"He'eh, harusnya baju nya tukeran sama uncle Raihan."Rio menambah kan.


Aku melirik ke arah Raihan dan memperhatikan kaos yang sedang di kenakan olehnya, benar kata Rio, Raihan memakai kaos berwarna hitam kontras sekali dengan warna kulitnya yang putih, sementara bang supri memakai kaos warna putih kontras sekali dengan warna kulitnya yang hitam. Meskipun demikian, Raihan selalu cocok menggunakan kaos warna apa saja karena warna kulitnya yang putih apa lagi memakai kaos hitam terlihat kulitnya semakin terang saja. Sementara bang Supri, ingin rasanya aku tertawa tapi ya sudah lah biarkan saja terserah dirinya.


"Tidak apa apa bang supri nampak keren kok itu. Sudah yuk, semua masuk ke dalam mobil nanti keburu malam," kata Raihan menggiring anak anak untuk masuk mobil kecuali Zain sedang berdiri di sampingku karena dia akan duduk bersama ku di jok depan.


Setelah semua naik mobil, Raihan mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumahku.


"Sudah keren begini ujung ujungnya memangku bocah,"gerutu bang Supri.


Aku melirik ke belakang, nampak Ria memangku fatan dan bang Supri memangku Rio yang postur tubuhnya cukup besar.


"Aku kan sudah bilang sama Abang kalau jok nya hanya empat jadi ya sudah terima saja," ucap ku.


Raihan tersenyum."Lebih baik mangku Rio dari pada nyelip di bagasi bang,"ledek nya.


Aku dan Ria tertawa. Sementara bang Supri memajukan bibirnya.


Raihan melirik jam yang melingkar di tangannya lalu melirik ku.


"Mba..."panggilnya kemudian.

__ADS_1


"Kenapa Rai?"


"Apa tidak sebaiknya beli makanan untuk teman mba sekarang saja soalnya aku takut kita pulang kemalaman dan tidak sempat membawakan makanan untuk nya."


"Memang kamu mau bawa kami kemana Rai?"


"Mau bawa anak anak main di mall sekalian Beli sepatunya di sana saja."


"Ya sudah kalau begitu."


Sebelum ke rumah sakit kami mampir di sebuah rumah makan sebentar hanya untuk membelikan Sumi makanan. Setelah itu, aku juga membelikan cemilan serta buah buahan untuknya.


Dua puluh menit kemudian. Raihan memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit. Aku meminta bang supri dan anak anak untuk menunggu sebentar di dalam mobil saja sementara aku dan Raihan serta Zain akan masuk ke dalam rumah sakit mengantar makanan untuk Sumi dan mereka menyetujui.


Aku dan Raihan berjalan beriringan memasuki gedung besar itu. Sementara Zain di gendong oleh Raihan. Setelah tiba di depan pintu ruang paru paru kami menghentikan langkah kami.


"Rai..Apa kamu mau ikut ke dalam atau menunggu disini?"


"Aku..."


Ceklek


Pintu ruang paru paru tiba tiba terbuka, nampak pria tinggi berjas putih keluar dari ruangan itu. Dia menatap bengong ke arah kami entah apa yang sedang dia pikirkan tentang kami.


Kemudian dia mengubah raut wajahnya dari bengong menjadi senyum ke arahku.


"Hai, Nuri..!"dia menyapa balik. Setelah menyapa, dia menatap ke arah Raihan dan menelisik.


"Kamu...kamu..bukannya Raihan pacar nya Nura?"tanya nya, seperti memastikan.


Deg


Jantung ku seperti berhenti berdetak mendengar pertanyaan dokter Bayu pada Raihan. Dia mengenal Raihan dan mengetahui jika Raihan adalah pacar Nura. Dalam hati aku bertanya siapa dokter Bayu ini? kenapa dia mengenal Raihan meskipun sepertinya mereka tidak dekat.


Aku melirik Raihan yang diam dan bersikap santai saja seolah olah pertanyaan dokter bayu bukan lah sesuatu yang mengejutkan.


"Kalian saling kenal?" tanya dokter bayu pada kami. Aku melirik Raihan yang hanya mengangguk kecil.


"Iya dokter, kami berteman dan kami bertetangga di kampung." Aku tidak peduli jika Raihan akan marah karena aku mengakuinya sebagai teman di depan dokter bayu. Aku tidak mungkin mengakui bahwa hubungan kami sangat dekat dan lebih dari sekedar teman mengingat dokter Bayu mengenal Nura, bisa saja dia memberitahu pada Nura tentang Raihan yang sedang dekat denganku.


"Oh, jadi kalian bertetangga?"tanya dokter Bayu memastikan.

__ADS_1


Aku mengangguk cepat dan berusaha bersikap setenang mungkin agar dokter Bayu tidak curiga. Raihan melirik ke arahku dan memancarkan wajah datar saja seolah olah dia tidak menyukai atas pengakuanku pada pria berjas putih itu.


"Wah, kebetulan sekali kalau begitu. Terus ini anak siapa yang kamu bawa Rai?"tanya dokter bayu. Tatapannya tertuju pada wajah tampan zain yang sedang di ciumi oleh Raihan. Raihan yang merasa mendapat pertanyaan lagi dari dokter Bayu menghentikan pergerakan ciumannya dan melirik ke arah dokter itu namun dia tidak menjawabnya.


"Ini....ini anak saya dok."Aku segera menjawabnya tanpa malu.


"Anak kamu Nuri?" tanya nya dengan kening yang mengkerut.


Aku mengangguk."Iya dok anak saya."


"Kamu sudah menikah dan memiliki seorang anak?"


Ceklek


Pintu terbuka dan Sumi menyembulkan kepalanya di balik pintu dan berteriak.


"Nuri....!"


Kehadiran Sumi memutus pembicaraan tentang Zain. Aku tersenyum ke arahnya dan Sumi mendekati kami.


Kemudian lirikan Sumi mengarah pada Raihan lalu bertanya dengan sedikit ketus."Kamu datang sama Zain juga.....sama pria sombong ini lagi?"


Aku melirik Raihan, wajah nya terlihat semakin datar saja. Kemudian dia membuang pandangannya ke arah lain.


"Jangan bicara sembarangan Sum, namanya Raihan bukan pria sombong."Aku sedikit tidak enak hati padanya karena ucapan Sumi yang asal bicara saja.


Sumi memajukan bibirnya.


"Sebenar nya aku tidak datang hanya bertiga tapi sama bang Supri, fatan, Rio dan Ria tapi mereka sedang menunggu kami di mobil."


"Serius Nur? tapi kenapa kamu tidak mengajak mereka? aku kangen banget sama anak ku."


"Dilarang menjenguk bergerombolan sama satpam Sumi."


"Tapi bukankah Bu Mariam dua hari lagi boleh pulang ya dok?" tanya ku pada dokter Bayu yang sedang memperhatikan ku tanpa mengedipkan matanya. Entah apa yang sedang dia pikirkan tentang aku.


"Oh, ya ya.."dia nampak gugup.


"Langsung kasih saja itu makanannya sama dia, kita tidak punya banyak waktu lagi,"titah Raihan dengan ketus.


"Ish, kayak orang penting saja,"Sumi mengumpat lirih.

__ADS_1


Raihan terlihat semakin kesal kemudian ngeloyor pergi tanpa permisi pada dokter Bayu apalagi Sumi. Aku merasa tidak enak hati pada mereka melihat sikap Raihan yang kurang bersahabat.


__ADS_2