
Aku sangat terkejut mendengar berita dari bang Supri jika Zain hilang. Kemudian aku melangkah lebar mendekatinya agar lebih jelas.
"Apa...apa maksud abang?"tanya ku, dan aku berharap apa yang aku dengar hanya salah mendengar saja.
"Iya Nur, maafin aku. Zain hilang tiga jam yang lalu di bawa pergi oleh orang," ucap bang Supri lalu menunduk dan menyeka air matanya.
"Bagaimana bisa bang, kenapa bisa hilang?" Aku menaik kan suaraku satu oktaf. Tubuh ku gemetar, Kedua lututku mulai melemas, aku tumbang di tempat dan terduduk di atas tanah. Aku membayangkan jika Zain benar benar di culik lalu di jual atau di ambil organ tubuhnya seperti isu yang sedang merebak tentang penculikan anak saat ini.
Aku takut sekali lalu geleng-geleng kepala membayangkan nya."Tidak, itu tidak boleh tejadi. Zain...Zain..Zain.."aku berteriak seperti orang gila tanpa menghiraukan keberadaan dokter Bayu.
Dokter Bayu berjongkok lalu memeluk dan membawa kepalaku pada dada bidangnya. Air mataku tumpah ruah mengalir deras membasahi baju yang di kenakan olehnya. Dia mengusap punggungku menenangkan aku yang sudah seperti orang kurang waras.
"Sabar Nuri, tenang kan pikiran mu, kalau pikiran tidak tenang bagaimana bisa berpikir untuk mencari keberadaan anak mu,"kata dokter Bayu, di sela sela mengelus punggungku.
Cukup lama aku menangis dan berada di pelukan dokter Bayu, entah mengapa aku merasa begitu nyaman berada di pelukannya. Dan di sela sela menangis aku pun berucap lirih."Bagaimana aku bisa tenang dok kalau anak ku hilang dan tidak tau dimana keberadaannya sekarang."
"Iya Nuri, aku mengerti perasaan mu. Tapi dengan menangis saja anak mu tidak akan di temukan. Oleh karena itu kita butuh pikiran yang tenang agar bisa memikirkan bagaimana cara mencari keberadaanya."
Aku menjauhkan kepala ku dari dadanya lalu menuruti sarannya. Aku berpikir apa yang dikatakan olehnya adalah benar bahwa menangis tidak akan mendatangkan Zain begitu saja tanpa bergerak untuk mencarinya. Perlahan aku berusaha menghentikan tangisanku dan mengusap kasar air mata yang masih saja mengalir hingga tangisan ku menyisakan isakan saja.
Setelah itu, aku berdiri tegak menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya perlahan berharap hati dan pikiranku tenang kembali. Setelah tangisan ku benar benar mereda dan pikiran ku mulai waras aku bertanya kembali pada bang Supri yang sedang duduk di lantai.
"Bagaimana ceritanya bang? dimana Zain hilang?"
"Tadi Zain dan Fatan bermain di halaman aku pun turut menjaga mereka, tapi karena aku ingin buang air besar aku meninggalkan mereka bermain berdua sebentar dan setelah kembali ke luar aku hanya melihat fatan sedang bermain sendirian. Pada saat aku tanyakan sama fatan dia bilang Zain di ajak sama om om untuk beli es krim."
"Om Om!"
"Iya Nuri fatan bilang seperti itu."
Aku berpikir jika penculiknya adalah om om berarti dia adalah seorang laki laki tapi siapa?
Aku menoleh pada fatan yang sedang di gendong dan di peluk oleh Sumi di samping mobil dokter Bayu, dia nampak terisak. Aku berpikir aku harus menanyakan pada fatan ciri ciri orang yang membawa Zain.
__ADS_1
"Sum, aku ingin tanya tanya sama fatan,coba bawa kemari."
"Tapi Fatan masih nangis Nur,"ucap Sumi.
"Ya sudah, tenangin saja dulu anak mba Sumi,"kata dokter Bayu.
"Apa tidak lapor polisi saja Nur?" saran bang Supri.
"Polisi hanya akan menanggapi laporan setelah menghilang lebih dari dua puluh empat jam bang," jelas dokter Bayu.
"Lantas apa yang harus kita lakukan untuk mencari Zain?"tanya bang Supri pada dokter Bayu.
"Untuk sementara kita tunggu anak mba Sumi tenang dulu, karena dia satu satunya saksi ketika Zain dibawa orang tidak di kenal itu. Saya rasa anak berusia empat tahun empat daya ingatnya kuat atas apa yang dilihat atau di dengarnya."
Sambil menunggu fatan tenang, aku sempat berpikir apa mas Surya yang telah membawa pergi Zain karena kemarin dia sempat mengatakan dirinya rindu pada Zain saat mengantar sekolah Ria. Tapi untuk memastikannya lebih baik aku tanyakan dulu ciri ciri orang yang membawa Zain pada fatan dan semoga dugaan ku benar jika mas Surya yang membawa Zain setidaknya dia tidak akan menyakiti anaknya sendiri.
Sepuluh menit kemudian nampak Fatan sudah kembali tenang. Kemudian aku mulai bertanya padanya yang sedang berada di pangkuan Sumi. Aku menanyakan ciri ciri yang mudah di ingat oleh fatan saja karena tidak mungkin fatan mengerti tentang ciri ciri fisik orang itu.
"Euh...euh.."nampak Fatan berusaha mengingat lalu menoleh ke sana kemari seperti mencari sesuatu. Tak lama kemudian pandangan nya mengarah pada kaos warna merah dan celana Levis milik bang Supri yang sedang di jemur di pinggir rumah namun masih terlihat dari teras.
"Itu Wawa, warna baju itu!"tunjuk Fatan, lalu aku mengikuti arah telunjuk nya.
"Baju warna merah!"gumam ku lirih. Seketika aku teringat pada baju yang di kenakan oleh mas Surya tadi pagi ketika tanpa sengaja bertemu di sekolah Ria. Sekarang aku yakin yang membawa Zain pergi adalah mas Surya."
"Aku...aku mau ke tempat mas Surya sekarang." Ucapan ku membuat orang orang menoleh padaku.
"Aku yakin Zain pasti dibawa sama mas Surya," sambungku.
"Kenapa kamu bisa yakin Nur?"tanya bang Supri.
"Karena tadi waktu aku mengantar Ria ke sekolah nya aku bertemu dengannya memakai kaos warna merah."
"Sebenarnya siapa Surya itu Nuri?"tanya dokter Bayu.
__ADS_1
"Surya itu mantan suaminya Nuri pak dokter."Bang Supri lebih dulu menjawabnya.
Dokter Bayu nampak tercengang.
"Kalau begitu biar aku antar kamu ke sana Nuri."
Aku mengangguk. Kemudian aku menoleh pada Sumi dan Bu Mariam.
"Bu Mariam istirahat saja di dalam dan kamu Sum, tolong jemput adik adik mu ke sekolah pakai motorku saja. Dan bang Supri tolong jagain fatan dan Bu mariam selama Sumi menjemput adik adiknya."
Mereka semua mengangguk.
Aku dan dokter Bayu bergegas masuk ke dalam mobil kemudian mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.
Tujuan pertama pencarian ku adalah ke rumah Ipah Saripah siapa tahu mas Surya membawa Zain ke sana. Sebenarnya aku sendiri tidak tau dimana letak rumahnya aku hanya tau daerahnya saja namun tidak dengan rumahnya.
Satu jam kemudian, kami sudah berada di kampung dimana Ipah Saripah tinggal. Aku pikir kami akan kesulitan mencari keberadaan dimana rumahnya namun ternyata sangat mudah mencarinya karena rata rata orang di kampung itu mengenal sosok Ipah sebagai seorang rentenir ulung.
Ku tatap rumah bercat biru tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar. Dengan rasa tak sabar aku segera turun dari mobil lalu melangkah mendekati pintu rumah yang tertutup rapat. Berulang kali aku mengetuk pintu itu hingga keluar lah seorang anak kecil berbadan kurus dan ku yakini dia anak kedua mas Surya.
"Mau mencari siapa Tante?"
"Apa papa sama mamanya ada?"
"Papa..tidak ada tapi mama...."
"Ada siapa Dul?" tanya seorang wanita di dalam rumah itu, dan ku yakini itu adalah suara Ipah.
"Ada tamu mama," jawab bocah kurus di hadapanku.
Dalam hitungan menit nampak ipah sudah berdiri di ambang pintu dengan penampilan yang cukup se xi dan muka penuh make up. Rambutnya yang mengembang mendekati kribo di sanggul ke atas, memakai tang top hitam memperlihatkan bentuk perutnya yang terlipat, celana pendek moka di atas lutut memperlihatkan betis dan paha nya yang terlihat besar serta dempul kehitaman. Aku berpikir apa karena penampilan Ipah yang sehari harinya seperti ini yang membuat mas Surya memilih kembali dengan nya dan menceraikan aku yang selalu berdaster lusuh dan tanpa make up.
Jangan di tanya bagaimana ekspresi nya ketika melihat keberadaan kami apalagi di sampingku ada seorang pria tampan.
__ADS_1