
Aku menjalani hari hari ku mengasuh Zain serta memproduksi kerupuk lalu menjualnya. Sangat bersyukur sekali kerupuk buatan ku laku keras bahkan aku menambah tiga warung lagi. Ku hitung lembar demi lembar uang yang ada di tangan hasil penjualan kerupuk bulan ini.
"Delapan juta dua ratus ribu,"ucap ku lirih. Kemudian senyum mengembang di bibirku mendapati keuntungan bulan ini lebih besar dari pada keuntungan bulan lalu.
"Tiada hasil yang mengkhianati usaha. Alhamdulilah, semoga usaha ku selalu lancar."
Hari ini aku tidak memiliki kegiatan hanya menunggu jemuran kerupuk yang telah di produksi tadi malam. Sambil menunggu kerupuk kering dan Zain sedang main anteng sendirian, aku duduk bersantai sambil memainkan ponsel yang sudah lima tahun ini belum tergantikan oleh yang baru. Terlintas di pikiranku untuk menggantinya dengan yang baru tapi aku merasa sayang sekali dengan ponsel ini karena ponsel ini merupakan satu satu nya benda yang tersisa hasil jerih payah ku saat bekerja di perusahaan kimia dan ku anggap sebagai kenang kenangan. Selagi belum rusak dan masih berfungsi dengan baik maka pakai saja.
Dengan iseng aku membuka akun Facebook yang jarang sekali di buka. Status pertama yang muncul di berandaku adalah foto kebersamaan Ipah dengan mas Surya serta anak anaknya di wahana pemandian.
Semenjak bertemu dengan Ipah di acara ulang tahun Nano anaknya Elis, dia tidak pernah lagi mengirim pesan dan menghinaku melainkan sering meng-upload kebersamaannya dengan mas Surya serta ke dua anaknya. Entah apa maksudnya meng-upload foto ke bersamaan mereka di Facebook dengan caption yang lebay. Apa mungkin dia sengaja memanas manasi ku agar aku cemburu atau marah? tapi sayangnya tidak ngefek sama sekali. Aku merasa tidak pernah cemburu atau marah ketika melihat foto mereka mampir di berandaku. Entah karena pikiranku yang sibuk memikirkan usahaku serta memikirkan Raihan yang menghilang begitu saja sehingga aku melupakan perasaan ku bahkan nyaris tak punya rasa lagi sama mas Surya.
Jika dulu aku sedikit takut kehilangan mas Surya karena selain memiliki rasa sayang padanya juga aku membutuhkan nafkah darinya untuk membeli susu Zain. Tapi sekarang perasaan sayang itu berangsur menghilang seiring dengan sikapnya yang tidak pernah mau berubah. Bisa di katakan mungkin aku sudah lelah lalu ingin menyerah karena aku sendiri tidak ingin menghabiskan sisa hidupku dengan pria yang tak pernah peduli padaku serta anak ku. Terpikir oleh ku untuk menggugat cerai mas Surya, tapi aku berpikir ulang apakah tidak berdosa jika aku duluan yang menggugat? Mungkin aku harus bertanya terlebih dahulu pada orang yang paham akan hukum perceraian.
Ku abaikan foto Ipah kemudian mengecek inbox. Ada beberapa pesan salah satunya dari Andre arivu lalu aku pun membacanya.
"Hai mahmud, apa kabar? Kenapa jarang sekali online?"
Kemudian aku mengetik kalimat sebagai balasan untuk pesan Andre.
"Alhamdulilah baik, maklum sibuk he he!"
Ketika aku hendak menutup akun, Andre membalas pesanku.
"Sibuk mengurus anak dan suami kah?"
Aku hanya membalasnya dengan emoticon senyum tipis.
"Oya, rencananya bulan depan aku mau balik ke indonesia."
"Benar kah?"
"Benar dong, kenapa? senang ya dengar aku mau balik?"
__ADS_1
Sambil mengetik terlintas di pikiranku. Apakah Andre masih ingat dengan ucapannya sendiri tentang mengajak menikah setelah dewasa?" Tapi daya ingat seseorang berbeda beda. Bisa saja dia ingat atau sebaliknya.
"Percaya diri sekali," balas ku kemudian.
"Ha ha ha. Apa kamu tidak tau kalau kepercayaan diriku memang sudah tertanam sejak masih SD? aku saja sudah berani melamar seorang anak perempuan di sekolah SD dulu."
Aku tercengang, Andre mengingatnya dan sekarang dia sedang menyindir ku dan mungkin dia pikir aku tidak mengingatnya. Dia tidak tau saja bagaimana dulu aku sangat mengharapakan nya datang menemui ku dan menikahi ku sebelum aku menikah. Tapi sekarang keinginan itu menghilang begitu saja apalagi setelah melihat foto foto pernikahan dengan mantan istrinya rasanya kecewa sekali saat itu dan hingga sekarang.
"Terus?" aku masih pura pura tidak tau.
"Anak itu menerima lamaran ku. Makannya aku mau pulang ke Indonesia ingin menikahinya."
Aku terbatuk membacanya. Apakah yang di ucapkan Andre hanya sebuah gurauan atau seriusan?" Aku menggoyangkan kepalaku agar tak lagi memikirkannya.
"Owh."
"Hanya, oh? apa kamu tidak ingin tau siapa wanita itu?"
"Tidak perlu, itu privasi mu aku hanya orang lain."
"Kenapa menyuruh ku untuk mengingat sesuatu?" tanya ku, namun dalam hati aku merutuki nya," sudah terlambat Dre, semua sudah terlambat."
"Masa kamu tidak ingat apa yang dulu pernah aku katakan padamu?
Ketika aku sedang mengetik untuk membalas pesan Andre terdengar suara motor berhenti di halaman rumah ku. Kemudian aku berhenti mengetik tidak lagi membalas pesan Andre melainkan keluar dari akun Facebook lalu menyimpan ponselku di dalam laci. Setelah itu, aku berjalan ke arah pintu akan membukanya namun sebelum sampai di pintu ternyata mas Surya lebih dulu membuka pintunya lalu menerobos masuk tanpa salam. Cukup terkejut di buatnya. Bagaimana tidak, tiba tiba saja dia masuk tanpa salam seperti seorang perampok yang hendak merampok rumah seseorang. Aku terdiam di tempat sambil melihat dengan wajah terkejut.
"Nuri!" sapa nya, sambil tersenyum nyengir ke arahku.
Aku hanya diam. Tidak menyapa balik, tidak tidak mendekatinya, tidak menyalami bahkan tidak pula tersenyum padanya.
"Nuri...suamimu datang kok tidak di sambut sih? memang nya kamu tidak rindu sama suamimu ini?" Mas Surya protes karena aku mengacuhkan nya.
Dia berjalan ke arahku dan hendak memeluk ku namun aku menghindarinya dan berkata dengan kesal."Jangan coba coba sentuh aku, suami macam apa dua bulan tidak pulang dan tidak pernah memberi nafkah. sekali nya pulang ingin menyentuhku. Kau pikir aku ini apa mas?"
__ADS_1
"Aku baru datang sudah kamu omeli Nuri, bukannya kamu sendiri yang tidak butuh nafkah dari ku? aku tidak pulang pulang karena aku sibuk kerja sayang." Mas Surya menyangkal tuduhan ku.
"Ck, jangan pura amnesia mas, kamu sendiri yang bilang tidak akan sudi lagi memberi nafkah untuk ku. Terus tadi apa yang kamu bilang, sibuk kerja? Iya kali sibuk kerja karena hasilnya untuk mengenyangkan perut mantan istri mu benar tidak?"
"Nuri kamu...!"
"Apa? mau menyangkal? apa kamu pikir aku tidak tau apa yang kamu lakukan dengan mantan istri tua mu itu mas?"
Terlihat wajah mas Surya memerah dan sambil berkacak pinggang mas Surya berkata dengan suara lantang." Jangan menghina dia Nuri, memang kenapa kalau aku memberikan uang pada Ipah? apa kamu lupa dia itu ibu dari anak anak ku?"
Baru menyebut mantan istrinya tua saja dia tidak terima. Apa dia tidak tau bahwa mantan istrinya telah menghina istri sah nya ini dengan kata kata lebih menyakitkan. Aku menyebutnya tua memang kenyataan nya demikian bukan sekedar asal bicara.
Kemudian aku memberanikan diri menantang balik." Aku tidak lupa mas. Aku tau dia mantan istrimu. Tapi apa pantas kamu memperlakukan dia secara istimewa? mengajak jalan jalan, makan di restauran serta belanja dan itu sangat sering kau lakukan padanya. Sementara aku istri sah mu apa pernah kau lakukan itu padaku? jangan kan melakukan itu semua, memberikan nafkah saja tidak. Aku capek hidup dengan mu mas dan aku juga tidak ingin menghabiskan masa mudaku dengan pria tidak tau diri sepertimu."
"kau...!" mas Surya hendak menampar namun dengan sigap aku menangkisnya.
Sambil menahan tangannya dan menatap tajam balik ke dua sorot matanya aku berucap," cerai kan aku sekarang juga!"
Mas Surya menarik tangannya dari cengkraman ku lalu tertawa terbahak bahak dan aku benci sekali melihatnya.
"Apa kau pikir aku akan menceraikan mu? ha ha, tidak semudah itu sayang ku. Aku tidak akan pernah menceraikan istri secantik dan se mo lek tubuhmu."
"Brengsek kamu mas, kalau kamu tidak ingin menceraikan aku kenapa sikap mu seperti ini padaku mas?apa salahku sama kamu mas?ucap ku dengan geram.
"Karena sikap mu sendiri yang tak pernah ikhlas menerima ku menjadi suami mu Nuri. Apa kau lupa saat malam pertama kita? kau menyebut nama pria lain di tengah aku menggauli mu. Apa kau tidak tau bagaimana rasanya jadi aku? sakit....sakit sekali. Wanita yang aku cintai dan baru saja aku nikahi masih mencintai pria lain," Ujar mas Surya dengan dada naik turun serta wajahnya yang memerah.
Aku membekap mulutku lalu menggeleng, rasanya tidak percaya atas pengakuan mas surya bahwa aku menyakitinya di malam pertama. Aku sendiri tidak ingat apa apa saat mas Surya pertama kali merenggut mahkotaku. Siapa nama pria yang aku sebut namanya? karena aku sendiri sedang tidak dekat dengan pria mana pun kecuali Raihan. Tapi rasanya aku tidak mungkin menyebut nama Raihan.
"Aku tidak peduli dengan Zain karena dia tidak mirip denganku. Aku tau kenapa dia tidak mirip dengan ku karena kamu tidak ikhlas ketika aku menyetubuhi mu dan aku yakin kamu membayangkan bercinta dengan pria lain benar kan?" tuduh mas Surya. Lagi, aku menggelengkan kepalaku. Mas Surya menuduhku sementara aku tidak merasa demikian.
"Dan satu hal lagi yang harus kamu ketahui dan mungkin ini akan membuatmu sok Nuri," ucap mas Surya dan aku menatapnya serius menunggu pengakuan apa lagi yang akan mas Surya katakan padaku.
"Aku menikahi mu bukan dengan tangan kosong dan tidak bermodal Nuri, melainkan aku menikahi mu dengan uang tiga ratus juta. Tiga ratus juta bukan uang yang sedikit bukan? Jika kamu tidak percaya tanyakan saja pada ibumu serta kakak mu Supra," sambung nya. Aku tercengang dan benar benar terkejut mendengarnya. Padahal waktu aku menikah dengan mas Surya hanya berupa pesta yang sangat sederhana bahkan untuk mahar pun berupa mas tak lebih dari lima gram.
__ADS_1
"Aku tidak akan meminta uang itu padamu Nuri, karena aku tau kamu tidak mungkin memiliki uang sebanyak itu. Aku hanya ingin kamu melayaniku dengan baik serta menerima berapa pun uang yang aku berikan padamu tanpa harus protes."
Aku memegang dadaku yang terasa sesak sekali. Air mataku mulai berderai dengan deras. Aku tidak menyangka ibu serta kakak pertama ku telah tega memperlakukan aku seperti seorang anak dan adik yang telah di jual dengan harga tiga ratus juta.