
Kami meninggalkan rumah mantan mertua ku setelah mendapat informasi dari Elis bahwa Zain dibawa ke Jakarta oleh mas Surya.
Kenapa mas Surya senekat itu membawa Zain ke Jakarta? bagaimana keadaan Zain, apa dia baik baik saja dan tidak ketakutan? aku takut sekali jika hal itu terjadi karena meskipun mas Surya merupakan ayah biologisnya tapi Zain tidak dekat dengan nya.
"Apa sekarang kita akan menyusulnya langsung ke Jakarta Nuri?"tanya dokter Bayu di sela sela mengemudi. Dan pertanyaannya membuyarkan lamunanku yang sedang memikirkan keberadaan Zain saat ini.
Aku melirik pria yang nampaknya masih ingin menolong ku untuk mencari Zain."Apa dokter tidak lelah mengantar ku ke sana kemari?"
Dokter Bayu nampak tersenyum."Apa kamu pikir aku lelah mengantar mu?"dia balik bertanya.
Aku menggeleng."Aku tidak tahu dok, tapi aku rasa dokter sudah lelah karena cukup lama kita mencari anak ku."
"Jangan di pikirkan Nuri, aku sama sekali tidak lelah. Terus sekarang kita langsung ke Jakarta atau...."
"Kita pulang saja dok, saya harus memberi tahu orang orang di rumah terlebih dahulu sebelum ke Jakarta. Lagi pula dokter pasti lapar kan dari tadi siang belum makan?"
Nampak dokter Bayu tersenyum lebar dan menggaruk kecil keningnya.
Setelah kami tiba di rumahku, terlihat Sumi dan bang Supri sedang menunggu kedatangan kami.
"Nuri.."panggil Sumi, nampak cemas saat aku baru turun dari mobil.
"Gimana Zain Nuri, apa kalian sudah menemukannya?"tanya bang Supri saat aku sudah berdiri di hadapan mereka.
"Belum bang, tapi aku dapat informasi dari adiknya mas Surya kalau Zain dibawa ke Jakarta sama mas Surya."
"Jadi orang yang diam diam nyulik si Zain itu si Surya? kurang ngajar banget si Surya, gara gara dia se isi rumah jadi gempar nyari si Zain sampai aku tidak bisa menelan makanan. Jangankan menelan nasi, bubur pun tidak bisa tertelan," kesal bang Supri, kedua tangannya bertolak di atas pinggang.
Nampak Sumi tertawa namun mulutnya di tutupi oleh tangan nya agar tidak mengeluarkan suara.
"Terus apa kalian tidak menyusulnya ke Jakarta?"tanya Sumi kemudian.
Aku melirik ke arah mobil dimana dokter Bayu belum turun, dia terlihat sedang mengobrol lewat telpon. Kemudian, aku mengalihkan pandanganku kembali pada dua orang yang sedang mengintrogasi ku.
"Mau Sum, tapi kami mau istirahat dulu sebentar, lagian kami belum makan dari siang,"ucap ku kemudian.
"Emm....emm.." Sumi nampak berpikir.
"Kenapa Sum?"tanyaku dengan heran.
"Kalian mau makan apa? soalnya aku tidak masak."
"Lho, kenapa tidak masak? di kulkas banyak bahan makanan kok. Kalau kamu tidak masak terus ibumu dan anak-anak makan apa?"
"Aku sudah membelikan mereka bubur Bu Minah Nur,"lapor bang supri.
"Oh, ya sudah kalau gitu. Aku mau masak dulu." Kemudian aku bergegas masuk dan langsung menuju dapur.
__ADS_1
Setengah jam kemudian masakan ku sudah selesai dan terhidang di atas meja. Ada goreng ayam ungkep, goreng tempe tahu, sambal, lalapan dan cah kangkung. Kemudian aku bergegas memanggil dokter Bayu yang sedang menunggu di depan rumah.
"Dok, kita makan dulu yuk! saya sudah masak,"ajak ku, dokter Bayu mengangguk lalu mengekor menuju dapur.
Setelah di meja makan.
"Maaf ya dok, aku hanya bisa masak makanan kampung,"ucap ku sembari mengambil nasi di dalam penanak nasi dan meletak kan nya di atas piring milik dokter Bayu.
Dokter Bayu nampak tersenyum."Mau masakan kota atau kampung bagi ku sama saja Nuri, asal makanan itu tidak mengandung racun semua jenis makanan aku suka."
Aku tersenyum."Ya sudah dok, mari makan dulu." Dia mengangguk.
Kami makan dalam diam, hanya suara kecapan lidah dan denting sendok saja yang berbunyi. Ku lirik dokter Bayu dia nampak lahap menikmati makanannya. Bagaimana tidak lapar, kita melewati waktu makan siang selama tiga jam dan sekarang waktu sudah mulai sore.
Setelah selesai makan aku bergegas membersihkan tubuhku yang terasa lengket sekali. Karena setelah ini aku akan melanjutkan pencarian Zain ke Jakarta.
"Apa sudah siap? tanya dokter Bayu padaku yang sedang berkemas.
"Oh, ya dok, sebentar lagi.
Kemudian Sumi menghampiri kami."Nuri, ibu ku minta pulang ke rumah sore ini juga,"lapor nya.
Aku menghentikan pergerakan tanganku lalu berdiri tegak.
"Oh, ibu mu minta pulang, ya sudah Sum, tidak apa apa kalau ibumu kekeh ingin pulang ke rumah kalian. Kamu bawa motorku saja dulu untuk mengantar adik adik mu sekolah besok."Setelah berkata, aku mengambil uang dua juta di dompet ku lalu menyodorkan nya pada Sumi.
Nampak Sumi menitik kan air mata, dia menatap nanar pada uang yang sedang aku sodorkan padanya.
"Kamu baik banget sama aku serta keluargaku Nuri, aku tidak tau bagaimana cara membalas Budi nya."
"Sudah Sum, jangan ngomongin pak Budi mulu. Ambil lah, kasihan ini dokter Bayu dari tadi menunggu aku belum kelar," ucap ku sembari melirik ke arah pria yang sedang aku bicarakan. Dia nampak tersenyum saja melihatku.
Sumi mengusap air matanya lalu mengambil uang yang aku berikan. Setelah itu aku pamit pada nya, bang supri serta Bu mariam untuk berangkat ke Jakarta.
Di perjalanan menuju Jakarta aku hanya duduk diam dengan pikiranku sendiri, sementara dokter Bayu fokus mengemudi. Hari nampak gelap dan aku yakini waktu sudah memasuki Maghrib. Dokter Bayu memberhentikan roda duanya di sebuah rest area tepat di depan sebuah coffe shop, Starbuck.
"Nuri, kita istirahat dulu ya Sebentar." Aku mengangguk.
Kemudian kami turun lalu berjalan memasuki coffe shop yang terlihat tidak terlalu ramai. Setelah berada di dalam, dokter Bayu menawariku dua pilihan, mau ikut mengantri dan memilih jenis kopi serta roti sendiri atau menunggu di sebuah meja dan dokter bayu yang memesan sekalian, dan aku memilih untuk menunggunya saja. Meskipun aku tau jenis kopi di coffe shop ini terbilang mahal tapi aku tidak tau bagaimana rasanya karena aku sendiri belum pernah.
Beberapa menit menunggu akhirnya dokter Bayu datang membawa dua cup kopi panas ukuran medium dan dua piring berisi roti yang berukuran cukup besar.
"Ayok di minum? malam gini enak nya ngopi," ucap nya, lalu menyeruput kopinya dengan nikmat.
Aku yang tak pernah mengopi masih diam dan memperhatikan nya saja. Dia menyadari kediamanku lalu menghentikan pergerakan tangannya yang sedang memotong roti di atas piring nya.
"Kenapa diam saja? apa kamu tidak suka minum kopi?"
__ADS_1
"Bukan tidak suka dok, tapi aku belum pernah nyobain minum kopi mahal."
Dia nampak tersenyum mendengar pengakuan jujur ku dan terkesan kampungan." Enak kok, cobain deh, lagi pula yang aku pesan untuk mu bukan kopi hitam tapi kopi late. Aku tau wanita itu sangat jarang minum kopi hitam. Atau kamu mau mencoba coffe late yang dingin?"
Aku menggeleng." Tidak usah dok, ini saja sudah cukup." Setelah berkata, aku segera menyeruput kopi itu meskipun rasanya aneh di lidahku yang tak biasa.
"Itu rotinya di makan juga, enak lho," titah nya. Aku pun menurut kemudian mengikuti cara dokter Bayu memotong roti ukuran besar itu menggunakan pisau dan garpu. Aku memakan roti itu secara perlahan menggunakan garpu. Setelah berada di dalam mulutku benar kata dokter Bayu bahwa roti yang ku makan rasanya enak dan aku menyukainya. Selain itu kopi itu pun membuatku ketagihan yang awalnya rasanya terasa aneh di lidahku tapi semakin lama semakin terasa enak dan menjadi candu. Pada akhiran satu cup coffe late dan satu roti ukuran besar itu habis juga.
"Apa mau pesan lagi untuk di jalan?"tanya dokter Bayu, menawarkan kan kopi serta roti itu kembali.
Aku menggeleng cepat."Tidak dok, aku sudah sangat kenyang." Dia nampak tersenyum, kemudian mengangkat tangan nya lalu mengambil sesuatu di bibirku. Aku terkejut di buatnya.
"Kayak anak kecil saja makannya sampai belepotan,"ledek nya dan aku menunduk malu.
Setengah jam berlalu dan waktu untuk istirahat rasanya sudah cukup. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan menuju Jakarta.
Sebuah tepukan halus terasa di bahu kanan ku, aku membuka kelopak mata dan nampak pemandangan asing di depanku.
"Kita sudah sampai di Jakarta,"ucap dokter Bayu, lalu aku meliriknya.
"Kok cepat banget ya?"ucap ku.
"Cepat? iya untuk orang tidur sangat cepat tapi untuk pengemudi sangat lama,"sindir nya, aku tersenyum malu mendengar sindiran dokter bayu. Perut kenyang ternyata membuatku mengantuk dan tertidur selama di perjalanan.
"Ayok turun,"ajak dokter bayu dan aku mengangguk.
Setelah turun aku tercengang melihat rumah besar di depan ku. Saking kagumnya pada rumah besar itu tak terasa mulut ku terbuka dua senti. Dokter Bayu berdiri di samping ku sembari berkacak pinggang menatap rumah itu.
Aku meliriknya."Dok, ini dimana?"
"Di rumah ku, ayok masuk!"ajaknya.
Aku merasa tidak heran jika rumah besar ini milik keluarga dokter Bayu karena tanpa mengaku orang kaya pun aku tau dokter Bayu memang orang kaya.
Dokter Bayu menarik pelan lenganku sambil berkata,"dingin di luar ayok masuk." Aku pun menurut mengikuti langkahnya.
Tiba di depan pintu yang ukuranya besar, dokter Bayu memencet sebuah bel dan tak lama kemudian pintu itu terbuka dan nampak seorang wanita paruh baya tersenyum padanya.
"Den Bayu baru pulang?" tanya wanita itu dengan lembut.
"Iya bi, apa Oma sudah tidur?"dokter Bayu balik bertanya.
"Sudah den."Kemudian wanita paruh baya itu melirik ke arahku."Den Bayu dengan siapa?" sambungnya, dia bertanya kembali.
"Oh, ini temanku bi."
Aku yang dari tadi menunduk mengangkat wajahku lalu memberikan senyuman pada wanita itu. Dia tidak membalas senyumanku melainkan nampak terkejut dengan mata sedikit membesar dan bibir sedikit terbuka melihat ku.
__ADS_1