
Kemudian wanita itu mengantar kami ke lantai dua. Namun sebelum menaiki tangga sebagai akses menuju lantai dua itu aku menoleh ke arah pintu, dokter Bayu belum saja kembali masuk. Aku berpikir biarkan saja nanti pasti dia akan menyusul kami ke atas.
Wanita itu membawa kami melewati lorong dan ketika sudah tiba di sebuah pintu paling pojok wanita itu mengetuk lalu membukanya dan menyembulkan kepalanya ke dalam."Oh, maaf pak, maaf." Kemudian wanita itu menutup pintu itu kembali lalu memegang dadanya.
"Astaga, astagaaa,"gumam wanita itu.
Aku mengernyitkan dahi ku melihat nya."Ada apa mba, kenapa di tutup lagi?"tanya ku dengan heran.
"Anu mba, anu..." tiba tiba pintu terbuka dan keluar lah seorang wanita dengan penampilan cukup se xi, kancing kemeja atas terbuka dan rambutnya sedikit acak bahkan rok span nya pun sedikit terangkat. Dia memandang kesal ke arah wanita yang mengantar kami, setelah itu berpindah menatap aku lalu berpindah ke arah Raihan.
"Apa anda lihat lihat?"bentak Raihan sehingga dia terkejut lalu beranjak pergi dengan jalan sempoyongan.
Aku langsung berpikir bahwa wanita itu sedang berbuat mesum di dalam sana dengan mas Surya. Aku menyunggingkan senyum tipis, entah mengapa aku merasa senang melihat mas Surya bermain serong dengan wanita lain. Bukan tanpa alasan aku merasa senang, karena aku ingin apa yang aku rasakan dulu terjadi pada Ipah Saripah agar dia merasakan bagaimana rasanya jika suaminya di rayu oleh seorang pelakor lalu sang suami hanya memberikan nafkah sisa setelah mengenyangkan isi perut serta gaya hidup sang pelakor terlebih dahulu. Jika Ipah tau suaminya main serong selama ini apa yang akan terjadi padanya? apa kah dia akan stres atau gila?atau bunuh diri mengingat dia yang sepertinya sangat mencintai mas Surya. Aku geleng geleng kepala saja membayangkannya.
"Kenapa sayang?"tanya Raihan, memanggil sayang di depan wanita itu.
"Tidak," jawab ku, lalu tersenyum.
Kemudian wanita itu memasuki ruangan mas Surya setelah kepergian wanita se xi tadi. Sementara aku dan raihan menunggu di luar.
"Kamu menggangu ku saja Lusi,"omel mas Surya terdengar nyaring hingga sampai ke telinga kami melalui pintu yang terbuka.
"Maaf pak, saya tidak tau. Saya hanya mengantarkan tiga orang tamu yang ingin bertemu dengan bapak."
"Tiga orang tamu, siapa maksudmu?"
"Pak Raihan CEO dari R&N GROUP dan.." Raihan langsung melangkah masuk sebelum wanita itu melanjutkan kalimatnya. .
"Aku yang ingin bertemu dengan mu,"ucap Raihan, sembari berjalan ke arah mas Surya yang sedang duduk di kursi goyangnya.
"Saya permisi!"wanita itu buru buru keluar ruangan melewati ku.
Mas Surya nampak tercengang melihat keberadaan kami, secara reflek dia berdiri.
"Nu..Nuri," ucap nya dengan gugup.
__ADS_1
"Kenapa? kaget melihat aku ada disini dan memergoki langsung kamu sedang main serong. Ck, kasihan sekali istri tercintamu itu di khianati sama suami tercintanya," ledek ku.
"Aku...aku tidak seperti yang kamu pikirkan Nuri."
"Terserah, kamu mau main serong sama banyak wanita atau mengawini banyak wanita terserah. Kedatangan aku kesini hanya satu dimana kamu sembunyikan anak ku brengsek?"Emosi ku mulai muncul setelah melihat muka menyebalkan mas Surya.
"Apa maksud mu Nuri, kenapa kamu tuduh aku menyembunyikan Zain? aku mau tau dimana keberadaan Zain, kamu saja larang aku bertemu dengannya."
"Jangan bohong, jangan kamu pikir aku tidak tau. Banyak saksinya kalau anak ku dibawa sama kamu." Suara ku naik kan tiga oktaf, aku sangat kesal sekali karena dia tidak mau mengaku padahal sudah jelas dia sendiri yang membawa Zain.
Bugh
Tiba tiba Raihan mendaratkan sebuah pukulan pada perutnya hingga mas Surya terjungkal dan mengenai tembok.
"Aarrrgg,"erang mas Surya sembari memegang perutnya.
Kemudian Raihan maju lalu meraih kerah kemeja nya dan menarik paksa.
"Dasar brengsek, dimana kau sembunyi kan Zain?" Raihan nampak marah sekali hingga dia tidak dapat mengendalikan emosinya
Mas Surya masih saja belum mau mengaku hingga Raihan semakin kesal dan hendak melayang kan tinjuan kembali namun aku segera menahannya karena aku tidak ingin ada kekerasan apa lagi ini di kantor orang.
"Uhuk uhuk, bukan kah kamu..pria yang... dulu menemani Nuri..di..rumah sakit? jadi..
kamu bernama..Raihan?"ucap mas Surya di tengah menahan sakit.
"Kenapa..aku tidak menyadarinya kalau..kau adalah...pria yang...selalu di sebut namanya...ketika aku..menggauli Nuri..."
Aku terkejut mendengar kalimat yang di lontar kan oleh mas Surya. Sempat sempatnya dia membahas masalah yang tak seharusnya di bicarakan. Apa dia sengaja mempermalukan aku di depan Raihan? Aku melirik Raihan dia pun melirik ku lalu memberikan senyuman penuh arti. Aku segera menunduk, rasanya malu sekali padanya.
Apa yang aku tutupi selama ini pada Raihan akhirnya Raihan tau langsung dari mulut mas Surya.
Di tengah situasi seperti itu, tiba tiba dokter Bayu dan seorang pria paruh baya masuk, aku pun berani mendongak kan wajah ku kembali namun Raihan masih saja menyunggingkan senyum padaku.
"Nuri bagaimana?"tanya dokter Bayu.
__ADS_1
"Dia belum mau mengaku dok!"tunjuk ku pada mas Surya yang sedang berdiri dan memegang perutnya.
Dokter Bayu menoleh padanya."hei, katakan dimana kamu sembunyikan Zain?"
"Percuma dia tidak akan mau mengaku,"ucap Raihan.
Kemudian dia menoleh pada pria paruh baya." pak Riyadi!"panggil Raihan pada pria itu.
"Iya pak Raihan,"sahut nya kemudian mendekat.
"Apa dia karyawan terbaik bapak?"
"Kalau dikatakan terbaik sih tidak pak Raihan hanya saja dia sudah cukup lama bekerja disini."
"Apa dia memiliki pretasi?"
"Saya rasa tidak pak."
"Kalau misalkan saya mengajukan dua pilihan pada bapak antara mempertahankan karyawan yang tidak berprestasi ini lalu membatalkan kerja sama kita dan mengeluarkan orang ini namun kerja sama kita tetap terjalin, bapak akan pilih yang mana?"
"Saya..saya memilih untuk tetap bekerja sama dengan pak Raihan dan mengeluarkan dia dari perusahan saya karena saya butuh modal banyak dan kalau untuk tenaga kerja saya masih bisa mencari orang yang lebih berkompeten."
Mas Surya nampak tercengang, mungkin dia tidak menyangka jika bos nya memilih untuk mempertahankan kerja sama dari pada mempertahankannya.
"Maaf pak Surya, saya terpaksa untuk mengeluarkan bapak dari perusahaan saya. Bapak tau sendiri kan perusahan saya sedang pailit."
"Tidak bisa begitu pak Riyadi, saya ini sudah sangat lama bekerja disini." Mas Surya menolak untuk di pecat.
"Kalau pak Surya masih ingin kerja disini kenapa membuat masalah dengan pak Raihan pemilik R&N Group satu satunya perusahaan yang saat ini bekerja sama dengan perusahaan saya?"
Lagi lagi mas Surya nampak tercengang, mungkin dia tidak menyangka pria yang pernah di sebut anak kecil oleh nya adalah seorang bos besar.
"Dimana kamu sembunyikan anak ku mas?" teriak ku tiba tiba karena aku sudah tidak tahan menahan rindu pada Zain.
"Aku..aku akan beritahu kalian asal kan kalian tidak mengeluarkan aku dari perusahaan ini." Akhirnya mas Surya mengaku tapi dengan syarat.
__ADS_1
"Ya tergantung, jika Zain sudah benar benar berada di tangan kami aku akan memikirkan nya ulang,"kata Raihan.
Akhirnya mas Surya mengakui dan menyetujui untuk mempertemukan kami dengan Zain setelah di ancam terlebih dahulu oleh Raihan. Kejadian ini membuat aku baru menyadari bahwa mas Surya itu tipe laki laki yang tidak memiliki harga diri.