Nafkah Lima Ratus Ribu

Nafkah Lima Ratus Ribu
Nuri dan Andre


__ADS_3

Drtt..


Bunyi Ponsel bergetar, aku menghentikan pergerakan tangan ku yang sedang menyisir rambut lurus sebatas pinggang kemudian menoleh ke arah laci dimana biasa aku menyimpannya. Setelah itu, aku melangkah tiga langkah mendekati laci untuk mengambilnya. Ternyata sebuah pesan dari suamiku mas Surya, aku segera membukanya.


"Aku rindu kamu sayang, tapi sepertinya libur ini aku tidak bisa pulang karena ada urusan kantor. Salam sayangku untuk Zain."


Senyum tersungging dibibir ku, bukan karena aku senang karena mas Surya tidak pulang hari ini melainkan kata kata manisnya yang mampu menghangatkan hatiku. Kemudian aku membalas pesannya.


"Iya mas, tidak apa apa. Salam rindu serta sayang kami kembali untuk mas Surya."


Mas Surya membalasnya kembali.


"Makasih ya sayang atas pengertiannya."


Selama satu bulan lebih ini, mas Surya kerap kali mengirim pesan pesan manis untuk ku bahkan komunikasi kami sangat lancar meskipun tinggal berjauhan. Tidak seperti dulu yang sangat jarang sekali bertukar kabar serta berucap kata kata manis.


Aku menyimpan kembali ponsel ku di dalam laci kemudian melanjutkan kembali menyisir rambut yang sempat tertunda. Ketika aku baru saja hendak meletak kan sisir di atas kepalaku, Zain menyembulkan kepalanya di balik pintu yang terbuka sedikit.


"Mama..!"sapa Zain sembari tersenyum ke arah ku.


Aku menoleh ke arahnya."Hei, anak ganteng mama."


"Zen, mau minyum cucu ma!"rengek Zain.


Aku terdiam, bagaimana aku baru ingat di saat Zain minta susu padahal susu Zain sudah habis dari tadi malam? Aku segera menggulung rambut panjang ku dengan asal kemudian menghampiri Zain dan berjongkok.


"Sayang maafin mama ya? mama lupa kalau susu Zain sudah habis."


"Habis!" Zain mengulang, mata beningnya mulai berkaca kaca. Mungkin dia sedih susunya sudah habis.


Aku segera merangkulnya. Dalam rangkulan ku Zain mulai menangis namun tidak bersuara dia hanya menetes kan air matanya.


"Kita beli dulu ya nak susunya? Zain jangan menangis ya?"aku menenangkannya, dan Zain mengangguk. Setelah itu, aku bergegas mengganti pakaianku dengan pakaian yang lebih layak.


Baru saja aku mengunci pintu, sebuah mobil Toyota berhenti di halaman rumah ku, sambil menggendong Zain aku memperhatikan siapa pengemudi mobil tersebut. Selang beberapa menit kemudian, seorang pria tinggi serta tampan keluar dari mobil sembari tersenyum ke arahku.


"Andre!"gumam ku. Aku heran, bukan kah kemarin dia bilang akan pulang ke Jakarta namun kenapa sekarang dia datang lagi ke rumah ku.


Andre melangkah lebar ke arah ku yang masih berdiri mematung di tempat. Kemudian dia menyapa," hai mama muda, hai tampan pada mau kemana ini sudah terlihat rapih?" kemudian mencubit gemas pipi Zain.


"Kenapa kamu bisa ada disini lagi Dre? bukan nya kemarin kamu bilang akan kembali ke Jakarta?"


Andre menyunggingkan senyum manis di bibirnya kemudian menjawab," rencananya sih begitu, tapi entah mengapa rasanya berat sekali untuk meninggalkan kampung ini apalagi meninggalkan sosok yang selalu ada di hati," ucapnya, sorot matanya tak lepas dari wajahku. Aku memalingkan wajah ku ke arah lain, karena aku tidak ingin menatap balik tatapannya.


Jujur saja, Andre memiliki pesona yang tak kalah jauh dari Raihan. Wajah tampan, tubuh tinggi tegap dan jika di perhatian mereka seperti ada kemiripan.


"Anyway, kamu mau kemana Nuri?"tanya nya kemudian.


Aku menoleh lagi ke arah wajahnya."Mau beli susu ke mini market."

__ADS_1


"Owh, kalau gitu aku antar saja mau tidak?" Andre menawarkan diri.


Aku terdiam memikirkan bagaimana baiknya, dan selang beberapa detik aku mengangguk menyetujuinya karena aku pikir jika berjalan kaki maka membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sampai di minimarket.


Andre melajukan mobilnya dengan pelan, sepanjang perjalanan aku banyak diam sementara sebaliknya Andre banyak bicara serta bertanya.


"Aku boleh bertanya sesuatu tidak Nuri?" tanya Andre serius.


Aku yang sedang memandang jalanan melalui kaca samping menoleh ke arahnya."Mau bertanya apa Dre?"


"Eemm, apa..apa kamu bahagia menjalani pernikahan mu?"Andre bertanya namun pandangan nya fokus ke depan.


Aku terdiam, bingung untuk menjawabnya. Di satu sisi aku senang melihat perubahan sikap mas Surya padaku namun di sisi lain aku belum sampai ke arah yang namanya bahagia. Ku pejamkan mata sejenak kemudian mengangguk saja karena aku sendiri tidak tau harus menjawab apa. Tidak mungkin pula aku mengatakan padanya bahwa aku tidak bahagia. Meskipun aku belum merasakan bahagia berumah tangga untuk saat ini tapi aku berkeyakinan bahwa lambat laun mas Surya pasti akan menciptakan kebagian untuk rumah tangga kami.


Andre terlihat tersenyum kecut melihat respon ku meskipun hanya dengan sebuah anggukan saja.


"Beruntung sekali yang menjadi suamimu Nuri, aku datang disaat waktunya sudah terlambat,"ucapnya lirih.


"Apa maksud mu Dre?"


Andre memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Aku kebingungan atas apa yang Andre lakukan padahal aku sedang buru buru untuk membeli susu, kasihan Zain sudah ingin meminum susunya. Di tengah kebingungan aku pun bertanya." Kenapa berhenti Dre?" Pandangan ku mengarah ke wajah tampan Andre.


Andre memandang balik wajahku, menatap lekat ke dua bola mataku, sorot matanya seperti mengoyak jantung dan hatiku. Sorot mata teduh itu mengingat kan aku pada masa lalu, masa dimana dia mengatakan akan menikahi ku setelah dewasa namun kenyataannya tidak, dia malah menikahi wanita lain. Ku paling kan wajah ku dari tatapannya karena tak sanggup rasanya melihat sorot matanya yang menyisakan kekecewaan.


"Apa kamu lupa pada apa yang pernah aku katakan dulu padamu sebelum orang tua ku membawaku ke Padang Nuri?" Ternyata Andre masih mengingatnya, mengingat perkataanya sendiri yang membuat diriku menunggunya bertahun tahun lamanya.


Aku menelan saliva ku, aku pikir mungkin sudah saatnya Andre tau bagaimana dulu aku menunggunya, bagaimana dulu hidupku setelah kepergiannya. Kemudian aku menjawabnya.


"Ka..kamu serius masih ingat Nuri?" tanya nya dengan sedikit terbata. Meskipun pandanganku lurus tapi aku tau bahwa Andre sedang menatap ku antusias. Aku mengangguk.


"Kalau kamu masih ingat kenapa kamu menikah dengan pria lain? kenapa tidak mau menungguku Nuri?"Andre bertanya dengan suara sedikit keras. Mungkin dia kesal padaku karena mengira aku tidak ingin menunggunya dan memilih menikah dengan pria lain.


Aku tersenyum kecut kemudian menatapnya dengan tatapan tajam."Apa menurutmu aku demikian Dre? apa kamu menyalahkan aku, hah? kemana saja kamu selama ini Dre? apa kamu tidak tau berapa tahun aku menunggumu? Apa kamu ada memberikan kabar mu padaku? tidak kan Dre? kamu tidak tau bagaimana kerasnya aku mencari keberadaan mu saat itu? namun setelah aku menemukan mu di sosial media, aku sangat kecewa Dre, aku kecewa karena pria yang aku tunggu selama ini telah menikahi wanita lain." Aku berbicara menggebu gebu, menumpahkan rasa kecewa serta kekesalan ku padanya.


Andre tersentak mendengar pengakuan jujur ku, mungkin dia tidak mengira aku yang dia anggap lebih dulu menikah dan tidak ingin menunggunya ternyata dia sendirilah yang menikah lebih dulu.


"Jadi...kamu..!"


"Ya, tapi sudah lah Dre, aku juga menganggapnya itu hanya ucapan anak kecil yang belum mengerti sebuah komitmen." Aku memotong ucapan Andre, sebenarnya aku juga sudah malas membahasnya dan sudah melupakannya sejak aku kenal dengan Raihan.


"Tapi Nuri, kamu harus mendengarkan penjelasan ku terlebih dahulu kalau aku..!"


"Aku sudah tidak ingin membahasnya lagi Dre, itu hanya masa kanak kanak dan sekarang kita sedang menjalani hidup kita masing masing. Kamu tau kan sekarang aku sudah bersuami dan memiliki anak, lantas kenapa harus di bahas? tuhan mentakdirkan kita hanya sebagai sebatas sahabat tak lebih. Dan aku berdoa untuk mu semoga kamu mendapatkan wanita yang lebih baik lagi dari mantan istrimu."


"Begitu, jadi kamu benar benar tidak ingin mendengar penjelasan ku?"


Aku menggeleng kan kepala sebagai isyarat aku tidak ingin lagi membahasnya.


"Okey...okey...!" Andre mengalihkan pandangannya ke depan kemudian melajukan kembali mobilnya.

__ADS_1


Lima belas menit kemudian, kami tiba di depan mini market.


Aku melirik Andre yang sedang diam dan menatap lurus ke depan. Seperti nya Andre sedang kesal padaku terlihat dari raut wajahnya.


"Apa kamu mau menunggu atau mau langsung pulang saja dre?"


Andre tidak menjawab pertanyaan ku melainkan membuka pintu mobil lalu ke luar. Aku yang masih di dalam geleng - geleng kepala melihat sikapnya.


Sambil menggendong Zain aku melangkah hendak masuk ke dalam mini market namun Andre memanggilku. Aku menoleh ke arahnya yang tengah berada di pojokan, aku pikir Andre sudah masuk ternyata dia sedang merokok terlebih dahulu. Andre menginjak putung rokok yang masih terlihat utuh mungkin baru beberapa hisapan saja sebelum aku keluar dari dalam mobil.


Andre berjalan ke arah ku dan setelah berdiri di hadapanku dia menyodorkan tangannya sambil berkata,"sini biar aku yang gendong Zain, kamu mau belanja kan?"


"Apa aku tidak merepotkan mu?"tanya ku memastikan.


Andre tidak menghiraukan pertanyaan ku melainkan mengambil paksa Zain dalam gendonganku, sementara Zain hanya diam saja. kemudian dia berjalan lebih dulu ke arah pintu minimarket. Aku menatap punggung nya sembari geleng - geleng kepala ku.


Ketika aku hendak membuka pintu ternyata Andre lebih dulu membukakannya untuk ku. Aku tersenyum ke arahnya dan mengucapkan terima kasih. Baru saja kami masuk, aku mendapati dua wanita dan seorang pria paruh yang sangat aku kenal sedang menatap sinis ke arah kami. Awalnya aku terdiam melihat mereka yang jaraknya hanya lima meter dari kami namun setelah itu aku mengabaikannya.


"Nuri, ambilah barang apa saja yang di butuhkan oleh Zain jangan hanya susu," titah Andre sembari pandanganya mengarah ke segala arah.


"Zain hanya butuh susu Dre, bukan yang lainnya," protes ku.


"Ya sudah terserah mu!" kemudian Andre mengambil dua keranjang. Satu dia berikan padaku dan satu lagi dia pegang. Kemudian aku dan Andre mulai memilih barang apa saja yang hendak di beli.


Aku hanya mengambil tiga box susu ukuran satu kilo, sementara Andre ku lihat ranjang nya penuh sekali dengan barang berupa cemilan roti, Snack, dan minuman. Aku berpikir mungkin Andre suka mengemil, oleh karena itu, dia hanya membeli makanan saja.


Setelah merasa cukup, kami menyudahi dan berjalan ke arah kasir lalu meletak kan barang belanjaan kami di atas meja kasir. Bersamaan dengan itu seorang wanita memakai jilbab panjang menyerobot ke hadapan kami dan meletak kan barang belanjaannya di atas meja kasir. Aku kesal sekali melihat wanita yang dengan percaya dirinya berdiri tegak sambil menunggu kasir menghitung belanjaannya. Begitu pula dengan Andre terlihat kesal dengan sorot mata tajamnya.


"Maaf ibu mohon mengantri di belakang mas dan mba nya soalnya mereka yang lebih dulu!" kasir di hadapan kami memintanya untuk mengantri. Rasanya ingin sekali menertawakan wanita memakai hijab panjang itu.


"Tidak mau, saya buru buru, cepat hitung!" Wanita itu menolak nya dengan ketus. Dari suaranya aku bisa menebak siapa wanita di hadapan kami yang tak lain adalah bu Rida, karena dari pakaiannya saja aku bisa mengenalinya.


"Apa anda pikir kami tidak buru buru Bu? jangan merasa sok sibuk, kalau ibu tidak ingin mengantri belanja saja di warung."Andre tiba tiba buka suara dengan nada mengejek. Wanita Itu menoleh ke belakang lalu mendongak tinggi melihat pada wajah Andre dan benar saja wanita itu adalah Bu Rida.


"Tidak sopan sekali kamu bicara sama orang tua!" protes nya pada Andre.


Andre terlihat tersenyum miring lalu menimpalinya,"untuk apa saya bersikap sopan pada orang yang juga tidak memiliki rasa sopan pada orang lain. Saya tidak peduli ibu ini sudah tua atau masih anak anak, kalau sudah menyalahi aturan ya harus di tegur."


Bu Rida terlihat kesal sekali pada Andre jika melihat raut wajahnya. Kemudian dia mengalihkan pandanganya ke arah ku dan menatap kesal pula padaku padahal aku diam saja tidak ikut protes. Setelah itu, dia menghentak kan kakinya kemudian berjalan dan berdiri di belakang ku dengan jarak tiga meter.


Kemudian kami maju ke depan lebih dekat dengan meja kasir.


"Maaf mba mas, mba apa ini di jadikan satu atau...!"


"Jadikan satu saja mba!" Andre menjawab cepat dan memotong pertanyaan sang kasir yang belum selesai bertanya. Aku baru saja hendak membuka mulutku hendak protes karena aku ingin membayar belanjaan ku sendiri. Namun Andre terlebih dulu melototi ku agar aku tidak protes kemudian aku pun terdiam.


Ketika sang kasir memberi tahu jumlah totalnya, Andre segera mengeluarkan kartu debitnya lalu memberikannya pada sang kasir. Aku hanya geleng - geleng kepala saja melihatnya.


Setelah selesai transaksi Andre menyerahkan Zain padaku karena dia hendak membawa barang belanjaan yang berjumlah empat kantong. Tingkah laku kami tak luput dari pandangan sinis Bu Rida dari awal hingga selesai transaksi.

__ADS_1


Ketika kami hendak beranjak pergi, kami mendengar Bu Rida menyindirku."Kasihan suaminya, laki nya sedang banting tulang mencari nafkah, istrinya yang tidak tau diri malah enak enakan sama laki laki lain.


__ADS_2