
Raihan menceritakan apa yang sudah terjadi dan sedang berlangsung. Mulai menceritakan tentang bagaimana sikap dan perlakuan keluarga angkat dari aku kecil hingga tumbuh dewasa, tentang pengakuan mereka, kalung, pembongkaran makam sampai mencari orang orang yang ikut serta saat menangani Bu Hanum melahirkan aku. Raihan juga menceritakan bahwa kami sudah bertemu dengan orang-orang itu dalam kondisi yang berbeda beda. Dan satu hal yang membuat pak Bagas benar-benar shock yaitu saat Raihan menceritakan tentang kematian ibu Hanum yang sebenarnya di bunuh bukan meninggal secara wajar.
Pak Bagas shock, dia menangis histeris, berteriak teriak menyalahkan dirinya sendiri. Dia menganggap dirinya benar-benar bodoh yang sama sekali tidak mengendus bau kejahatan mengintai keluarganya.
Pak bagas nampak rapuh sekali saat ini. Dan ini merupakan untuk pertama kalinya aku melihat nya demikian. Dia sangat menyesali atas kebodohan yang menimpa di keluarganya selama puluhan tahun lamanya.
Di tengah aku memeluk nya yang terus menangis dan mengumpati dirinya sendiri, Raihan mengajak kami untuk melaksanakan sholat Dzuhur berjamaah. Selain kewajiban juga agar dapat menenangkan perasaan kami terlebih perasaan pak Bagas yang rapuh.
Kami pun melaksanakan sholat berjamaah. Setelah sholat selesai, bahu pak bagas nampak bergetar kembali. Aku memeluk nya dari belakang dan memintanya untuk terus beristighfar. Dalam tangis dia mengikuti saran ku mengucapkan kalimat istighfar berkali kali hingga perasaanya sedikit tenang.
"Sayang!" panggil Raihan ketika aku sedang membereskan peralatan sholat kami.
Aku menoleh padanya.
"Kamu temani pak Bagas biar dia tidak terus menerus melamun. Aku mau mempersiapkan makan siang kita dulu."
Aku menoleh pada pak bagas yang sedang duduk diam di atas sofa dan memperhatikan Zain yang sedang bermain mobilan di atas lantai lalu mengangguk menyetujui permintaan nya.
Ku tatap punggung Raihan yang sudah menjauhi ku. Dia memang calon suami yang sangat pengertian sekali. Bukan saja pengertian terhadap ku melainkan pengertian pada calon mertuanya.
Aku mendekati pak Bagas setelah menyimpan peralatan ibadah terlebih dahulu. Kemudian duduk di sampingnya dan memberanikan diri menyenderkan sebelah pipiku pada bahunya.
Aku tau pak Bagas tersenyum melihat sikap manja ku, sikap yang pernah aku lakukan pada ayah angkat ku saat aku masih kecil. Pak Bagas mengecupi pucuk kepalaku lalu sebelah tangannya melingkar di pinggang ku, dia memeluk ku.
"Emm." Aku bingung harus memanggilnya apa. Pak Bagas, bapak, papa atau ayah. Rasanya canggung sekali.
"Panggil saya papa, sayang." Tiba tiba dia berucap demikian seolah olah mengerti atas kebingungan ku.
__ADS_1
Senyum pun mengembangkan di bibirku. Betapa aku bersyukur tuhan masih memberiku kesempatan bertemu dengan orang tua kandungku meskipun hanya tinggal papa. Dan aku berharap semoga tuhan menempatkan mama di sisi yang terbaik karena aku yakin mama adalah seorang istri dan seorang mama yang sangat baik.
Berulang kali mama hadir di mimpiku seolah olah memberi petunjuk atas ketidak tahuan ku selama ini dan berulang kali jin qorin menampakan wujud seperti mama di hadapanku bahkan beberapa kali pernah menolongku ketika bahaya mengintai ku. Mungkin itu cara nya menunjukan dan membuktikan bahwa dia menyayangiku di alam sana. Entah lah aku tidak paham masalah makhluk berwujud mama dan mungkin aku harus bertanya pada seorang kyai nanti.
"Maafkan papa ya sayang, maafkan atas kebodohan papa yang terlambat mengetahui semua ini. Andai saja papa tau kalau kamu masih hidup, papa akan selalu menjaga mu dan merawat mu hingga tumbuh besar dan papa tidak akan menyia nyiakan kesempatan untuk memperhatikan proses tumbuh kembang mu."
"Kalau tidak seperti ini tidak akan ada cerita manis pahit di cerita kehidupan keluarga kita, pa. Dan mungkin memang harus jalannya seperti ini. Tuhan menemukan kita di saat Nuri sudah tumbuh dewasa dan papa sudah menua. Di sisa usia kita, Nuri harap kita tidak berpisah lagi ya, pa."
"Iya, iya sayang. Papa janji kita tidak akan pernah berpisah lagi selain maut yang memisahkan. Tapi papa berharap Tuhan memberikan papa umur yang panjang agar papa bisa merasakan dan melihat perkembangan hidupmu, cucu serta cicit."
Aku tersenyum mendengarnya."Amin."
"Ehem." Di tengah aku mengobrol dengan papa menceritakan tentang perjalanan hidupku, Raihan menghampiri kami.
Aku dan papa menoleh padanya.
Aku tersenyum begitu pula dengan papa.
"Terima kasih ya Rai, kamu memang calon suami dan calon menantu yang luar biasa sekali."
Raihan tersenyum mendengar pujian papa." Pak Bagas bisa saja. Saya memang harus menjadi sesuatu yang luar biasa untuk calon istri saya. Pak Bagas tidak tau kan bagaimana perjuangan saya menaklukan hatinya Nuri? membuat dia yakin dan percaya sama saya? Butuh ratusan bab untuk menampung cerita saya mengejar Nuri, pak Bagas."
"Berarti bisa di bentuk menjadi sebuah novel romance dong kalau butuh ratusan bab?"
"Betul sekali pak."
Tawa pun menggema di ruangan itu.
__ADS_1
"Rai, terima kasih ya kamu sudah menyayangi dan menemani perjalanan hidup Nuri serta Zain disaat tidak ada orang yang menyayangi mereka dan tidak ada keluarga kandung yang menemani hidup mereka. Saya sangat bersyukur anak saya telah di cintai oleh laki laki penyayang dan bertanggung jawab seperti mu. Dan saya harap kamu tidak akan pernah menyakitinya secuil pun karena kalau itu terjadi kamu akan berhadapan dengan saya."
Raihan nampak tersenyum lebar." Pak Bagas tenang saja. Tadi kan saya sudah cerita kalau mengejar cinta Nuri itu butuh ratusan bab untuk di ceritakan. Artinya, perjuangan menaklukan hati nya sangat sulit. Dan saya tidak akan menyiakan nyiakan kesempatan yang telah dia berikan pada saya dan saya tidak akan pernah menyakiti nya secuil pun pak. Jika hal itu terjadi pak Bagas boleh membunuh saya."
Aku tersenyum menatap Raihan. Dia memang tidak pernah menyakiti ku secuil pun. Jika ada hal yang membuat kami bertengkar itu merupakan bukan kesalahan nya sepenuhnya melainkan aku yang egois. Aku yang tak pernah ingin mendengar penjelasannya hingga menimbulkan misunderstanding di antara kami atau konflik yang cukup berlarut. Justru akulah yang selalu menyakitinya secara sadar atau pun tanpa sadar.
Setelah itu, kami pun melanjutkan obrolan di atas meja makan. Sebelum aku makan, Aku menyuapi Zain terlebih dahulu. Raihan memilih untuk menunggu ku selesai menyuapi Zain begitu pula dengan papa, mereka sama sama menunggu ku padahal aku sudah menyuruh mereka makan duluan tanpa harus menungguku tapi mereka tidak mau.
"Sudah sampai sejauh mana pencarian mu dan bayu atas orang yang menjadi dalang kekacauan keluarga saya, Rai?"
Aku dan Raihan saling pandang.
"Cukup sulit pak, Mak Ninih hanya menyebutkan seorang wanita yang memiliki tanda tahi lalat di atas bibir sebelah kanan."
"Tahi lalat di atas bibir sebelah kanan !" papa mengulang kalimat.
Raihan mengangguk." Iya pak, cukup sulit bukan? soalnya wanita yang memiliki tanda itu pasti banyak tidak hanya satu atau dua orang."
Ku perhatikan raut wajah papa yang nampak sedang berpikir.
"Apa papa pernah melihat tanda itu pada wajah seorang wanita?" Aku sengaja memancingnya.
Dan yang membuat aku kecewa adalah, papa menggeleng dalam arti papa tidak pernah melihatnya. Aku terbengong menatap papa. Bagaimana mungkin papa tidak melihat tanda itu di wajah istrinya sendiri? apakah selama ini wanita itu menutupi nya dari papa selama puluhan tahun? begitu pula dengan Raihan, kenapa dia pun tidak menyadari nya?padahal mereka sering berbicara dengan jarak yang cukup dekat dan kenapa hanya aku yang melihatnya?
Sempat terpikir kan untuk membicarakan ini pada papa dan Raihan agar mencurigai nya namun aku berpikir ulang bagaimana jika bukan dia pelakunya maka jatuhnya fitnah.
Aku tidak ingin mereka terseret ke lembah dosa fitnah. Karena masih abu abu dan hanya praduga ku saja. Ya, aku rasa mungkin aku sendiri yang harus mencari bukti yang kuat dan jika dugaanku sudah terbukti baru aku akan katakan pada mereka.
__ADS_1